RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 26


__ADS_3

Hari-hari ujian datang juga. Seluruh siswa kelas dua belas menjalani serangkaian ujian. Mulai dari UTS, Ujian akhir semester, ujian akhir jenjang, dan berbagai ujian masuk universitas. Yang masing-masing akan dijalani oleh siswa tingkat akhir sekolah menengah atas.


Eca semakin rajin belajar, selain niat dari dalam dirinya dorongan kuat dari mama juga yang mempengaruhi. Kini ia tengah mempersiapkan ujian akhir jenjang. Sembari belajar untuk ujian akhir disekolah dia juga belajar untuk persiapan tes masuk perguruan tinggi.


Setelah galau beberapa malam, Eca memilih dua jurusan yang menarik minatnya, yaitu teknik informatika dan digital marketing. Dia memilih kedua jurusan itu karna sangat strategis di era sekarang yang semuanya serba digital. Eca ingin ketika selesai kuliah dia memiliki banyak kesempatan kerja.


Persiapannya juga tidak main-main. Setiap malam dia belajar. Bahkan malam senin pun dia masih belajar. Meskipun Gian jarang ke rumah untuk mengajarinya karna pria itu sibuk untuk tes diberbagai universitas, dia tetap semangat untuk belajar sendiri.


Saat dia tidak bisa menjawab soal latihan dia akan membuka youtube atau aplikasi belajar. Jika masih belum paham juga, dia akan video call Gian. Barulah pria itu menjelaskan dengan sabar dan berulang-ulang kali. Kadang dia juga geram saat Eca susah sekali mengerti soal yang terlalu rumit. Dan jawaban Eca selalu "sekali lagi ya, please" dengan tatapan memohon dan kedua tangan menyatu di depan dada. Bagaimana Gian tidak luluh? Jurus itu adalah senjata andalan Eca. Dan Gian selalu gagal mempertahankan amarahnya saat Eca sudah mengeluarkan jurus itu.


Eca tidak pernah menyerah untuk belajar dari pagi sampai malam. Pernah sekali Eca sampai drop dan harus dilarikan ke rumah sakit. Efek kecapekan dan kurang tidur membuat daya tahan tubuh Eca menurun drastis. Bahkan berat badannya ikut menurun juga. Satu rumah sampai kelimpungan, papa Eca bahkan membatalkan kepergiaannya keluar kota untuk menemani Eca yang mendadak manja malam itu. Dia tidak mengizinkan papanya pergi barang sedetikpun kecuali makan atau ke kamar mandi. Dia terus memegang tangan papanya sambil bergumam "pa, aku tidak boleh sakit. Sebentar lagi ujian.". Sang papa yang mendengar suara anak bungsunya, berusaha menenangkan dengan mengelus kepala Eca lembut dan membisikkan kalimat penyemangat.


Saat itu, Eca sangat lengket dengan sang papa. Minum dan makan harus disuap oleh sang papa. Jika tidak, dia tidak mau menyentuh makanannya. Mama dibuat jengkel dengan sifat Eca. Sesekali dia akan memukul kepala Eca pelan untuk menyalurkan kegeramannya.


Sang papa tidak masuk kerja selama seminggu. Selama itu juga papanya cukup kerepotan karna harus menangani pekerjaan secara online. Memang kurang efektif. Tapi apa boleh buat. Itupun dia baru memegang pekerjaannya saat sudah memastikan Eca tidur.


Setelah sembuh, rutinitas mereka kembali seperti semula. Mama mengurus rumah. Papa dan Erna bekerja dan Eca sibuk belajar. Terkadang mama merindukan saat Eca sakit karna barulah mereka dapat berkumpul secara lengkap. Tapi bukan berarti dia mau Eca sakit lagi.


Berkat kegigihan belajar Eca, nilainya meningkat pesat. Beberapa gurunya takjub dengan perubahan signifikan dari Eca. Mereka selalu menyemangati Eca supaya perempuan itu tidak menyerah. Berkat dukungan itu juga, Eca semakin berambisi untuk menuntaskan sekolahnya dan masuk universitas terbaik.


Saat ini Eca berada di mobil bersama Gian. Hanya berdua. Mereka menuju salon langganan mama Gian. Gian meminta untuk ditemani saat pulang sekolah supaya dia tidak bosan menunggu sang mama di salon sendirian. Sebagai teman yang baik, Eca menemani Gian.


Sesampainya di salon, mama Gian yang sedang di curly rambutnya menyambut Eca dengan semangat. Dia menyuruh pekerja salon untuk berhenti sebentar supaya bisa cipika-cipiki dengan anak sahabatnya. Tidak lupa dia memesan makanan untuk Gian dan Eca supaya tidak bosan menunggu. Kebetulan disamping salon ada kafe bergaya vintage. Mama Gian menelepon pemilik kafe untuk mengantarkan pesanan di salon.


"makan Ca." kata Gian menyadarkan Eca.


"eh iya."


Sambil makan Eca memperhatikan rambut mama Gian yang di curly dengan sangat cantik. Rambutnya tidak dicatok secara medok namun dengan gaya natural. Eca juga terbius oleh sapuan tangan pekerja salon yang sedang menyapukan foundation ke wajah mama Gian. Sangat detail. Memastikan semua bagian sudah diaplikasikan secara merata.


"Ca??"


"Ca?!"


"i-iya. Kenapa?"


"kamu tidak minum?" tanya Gian sambil menyodorkan minuman di depan Eca.

__ADS_1


Eca meminum minuman yang diberikan Gian. Dia kembali menatap proses make up kembali. Dia sangat tertarik saat melihat kegiatan tersebut. Dia mengapresiasi setiap detail yang dilakukan oleh pekerja salon.


"keren banget ya, Gian?" kata Eca tiba-tiba.


"apanya?"


"tukang salon itu."


Gian menoleh dan menganggukkan kepalanya. Dia juga cukup takjub dengan cara kerja pekerja salon ditempat ini. Mereka sangat detail. Sangking detailnya Gian selalu menunggu sampai berjam-jam. Yang kadang membuat dia bosan setengah mampus. Untung ada Eca di sampingnya jadi dia tidak terlalu merasa bosan menunggu sang mama.


"kamu suka?" tanya Gian menoleh ke arah Eca yang sedang menatap proses make up di depannya dengan sangat fokus.


"aku suka banget. Seru melihatnya."


"coba aja kalau kamu tertarik."


"ha??" heran Eca sambil memalingkan wajahnya ke arah Gian yang saat ini sedang melihatnya juga.


"iya. Kalau kamu suka, kamu bisa ikut ambil kelas salon."


"hahaha. . . Tidaklah. Aku hanya takjub. Kalau untuk profesi kayaknya tidak cocok deh."


"i-iya sih."


"kalau kamu tertarik coba lihat tutorialnya di youtube. Kamu bisa coba-coba sama kamu dulu."


"hahaha. . . Aku harus belajar persiapan masuk univ. Tidak ada waktu."


"lihat sekarang siapa yang ambis." ledek Gian.


"ck!" Eca memukul lengan Gian.


Eca kembali memperhatikan proses make up. Sekarang sedang pengaplikasian eye shadow. Pekerja salon itu memilih warna natural mungkin sesuai permintaan mama Gian. Pekerja itu tampak ahli saat menyapukan kuas di kelopak mata. Pelan tapi menciptakan gradasi yang sangat cantik dengan perpaduan warna yang sangat tepat.


"serius deh Ca. Kamu bisa lihat di youtube tutorial make up kalau kamu setertarik itu."


"ta-tapi."

__ADS_1


"kamu boleh lihat diwaktu senggang kamu. Bagaimana? Tidak mengganggu waktu belajar kamu kan?"


"kamu yakin?" tanya Eca menaruh harapan pada jawaban Gian.


"iya. Lakukan apa yang kamu mau."


"o-oke." ucap Eca malu-malu.


"tidak perlu malu. Itu salah satu kemampuan Eca. Kamu harus bangga."


"iya. Makasih Gian" kata Eca sambil tersenyum lebar.


"eh bagaimana dengan ujian kamu kemarin? Lancar?" sambung Eca.


"lancar. Soalnya lumayan susah tapi untungnya aku masih bisa jawab."


"aku tidak pernah ragukan kamu sih." kata Eca sambil menepuk bahu Gian.


"baru tahap awal Ca. Masih ada ujian psikotes dan wawancara. Aku juga udah mempersiapkan ikut tes di universitas lain."


"banyak juga ya. Semangat Gian!! Aku yakin kamu pasti bisa! Karna kamu anak Bapak Hari."


"apaan deh bawa-bawa bapak."


"kan pintarnya menurun dari orangtua."


"jadi mamaku tidak pintar gitu? Makanya kamu tidak sebut mamaku? Aku beritahu sama mama ya. Ma!"


Secepat kilat Eca membungkam mulut Gian. Apesnya mama Gian sempat mendengar teriakan Gian yang memanggilnya. Dia sampai menoleh dan bertanya kenapa. Masih menutup mulut Gian Eca tersenyum canggung dan mengatakan bahwa tidak terjadi apa-apa.


"ih! Ember banget!" kata Eca sambil memukul Gian.


"hahaha. . .mukamu lucu Ca hahaha . . ."


Eca mencubit perut Gian. Tapi tidak mempan. Pria itu masih tertawa karna menganggap Eca menggelitiknya yang membuat tawa pria itu semakin kencang. Eca mencubit pipi Gian bermaksud supaya Gian berhenti tertawa.


"jangan di cubit Ca tapi di elus. Kayak gini" kata Gian sambil memperagakan elusan menggunakan jari Eca yang tadi mencubit pipinya.

__ADS_1


***


__ADS_2