
Hari liburan telah tiba. Eca, Yuyu, Gian dan Cio sedang mengangkat barang-barang masuk ke dalam vila. Mereka sibuk keluar masuk kamar dan menata barang masing-masing. Eca dan Yuyu sekamar sedangkan Gian dan Cio sekamar. Kamar mereka berjarak dua kamar.
Eca sangat semangat mengepak pakaian dalam lemari kayu yang baru divernis. Dia mengingat waktu mamanya memberikan empat tiket liburan karna Eca berhasil menurunkan berat badan hingga 4 kg. Berat badan Eca sudah lumayan banyak berkurang. Dia berhasil diet sehat dan rutin pergi Gym bersama Erna.
Sejak itu juga, Erna tidak henti-hentinya menyuruh Eca rutin nge-gym tiga kali dalam seminggu. Dia sangat gemas karna tinggal menurunkan tiga atau empat kilo lagi badan Eca akan body goals. Bukan seperti badan model yang tinggi kurus. Tapi body goals yang di damba-dambakan oleh para pecinta gym. Besar dibagian-bagian tertentu.
Saat Eca masih asik melamun ria, Yuyu menyentak bahu Eca. Memberi peringatan dengan mengerakkan kepala kearah sepatu Eca yang hendak dia masukkan kedalam lemari baju. Sontak Eca buru-buru menurunkan sepatunya.
"taruh disamping lemari aja Ca." kata Yuyu sambil menata tas dan beberapa perlengkapan lainnya.
"oke. Setelah ini kita makan ya. Aku udah lapar nih. Belum sempat makan siang tadi."
"ya ampun Ca! Kok kamu tidak bilang dari tadi sih? Tau gitu aku bilang Gian dan Cio buat titip makananmu. Mereka barusan pergi."
"aduh. Aku tidak tau kalau mereka mau beli makanan."
"bentar Ca aku telfon Cio dulu buat beli kamu makanan. Kamu mau makan apa?"
"nasi bakar kalau ada. Kalau tidak ada samain aja dengan mereka."
"sip."
Yuyu menelepon Cio dan memberitahukan pesanan makanan Eca. Sesudahnya dia merebahkan diri diatas kasur. Badannya terasa rontok karna duduk terus di dalam mobil selama beberapa jam. Dia memejamkan mata mencoba untuk terlelap sebentar.
"jangan langsung tidur Yu. Mandi dulu sana." ucap Eca sambil menarik-narik tangan Yuyu.
"kamu deluan deh Ca. Aku istirahat bentar. Capek banget."
Eca segera mandi. Barulah setelah mandi, badan Eca terasa segar. Pegal selama perjalanan seakan berkurang. Yuyu juga mandi setelah Eca selesai mandi. Mereka berdua asik menggosokan rambut dengan handuk. Yuyu lalu mengambil hair dryer dan mengeringkan kepalanya. Saat Eca ingin mengambil hair dryer yang sudah selesai di pakai Yuyu, pintu kamar mereka diketuk dari luar.
"misi paket. Mbak ini paketnya. Tolong uang pas ya." kata Cio sambil mengetuk-ngetuk pintu.
"berisik! aku udah lapar banget. Langsung ke meja makanan aja." kata Yuyu saat membuka pintu.
Eca juga ikutan pergi menuju ruang makan. Disana sudah ada Gian yang sedang menata makanan yang sudah mereka pesan. Tidak lupa dia menyediakan air hangat empat gelas. Cio yang melihat Gian berinisiatif mempersiapkan makanan lengkap dengan minuman menatap Gian dengan terharu sambil melayangkan ciuman jauh. Tentu saja dibalas Gian dengan memutar matanya.
"servis Gian memang paling best!" kata Yuyu sambil menyendokkan makanannya.
"setuju" ucap Eca sambil memberikan dua jempolnya.
"sebagai sepupunya aku sangat bangga punya saudara seperti Gian. Tidak sia-sia aku mengajarinya." kata Cio dengan bangga.
"bacot!" balas Eca dan Yuyu bersamaan.
__ADS_1
"rambut kamu masih basah Ca." kata Gian saat dia memperhatikan rambut Eca.
"iya. Tidak sempat tadi. Rencana mau aku keringin pake hair dryer tapi keburu makanan datang. Yaudah aku makan dulu."
Gian menganggukkan kepalanya. Mereka melanjutkan makan dengan hikmat. Sangking laparnya, mereka tidak berbicara lagi selama makan. Mereka asik menikmati makanan yang terasa sangat lezat karna sedang kelaparan.
Selesai makan, masing-masing membuang sampah ke tempat sampah. Yuyu berinisiatif mencuci piring dan gelas yang mereka pakai. Cio bertugas membersihkan meja makan.
"Ca, dimana hair dryer? Aku mau pake." kata Gian saat melihat Eca duduk di ruang tamu sambil menghidupkan TV.
"ada di kamar kami. Tadi ada diatas tempat tidur. Mau aku ambilin?"
"tidak apa-apa. Aku aja."
"oke."
Gian kembali lagi ke ruang tamu sambil membawa hair dryer. Dia duduk disamping colokan. Selesai memanaskan hair dryer, dia memanggil Eca.
"Ca, kesini bentar."
"kenapa?" tanya Eca sambil berjalan kearah Gian.
Gian mengarahkan hair dryer ke kepala Eca. Pria itu mulai mengeringkan rambut Eca. Sedangkan Eca yang duduk didepan Gian menatap pria yang ada dibelakangnya dengan bertanya-tanya.
"o-oke" kata Eca pelan.
Saat ini jantung Eca kembali berulah. Tindakan Gian kali ini mempu membuat jantungnya berdebar lagi. Eca jadi duduk dengan tegang. Dia menahan nafas saat beberapa kali Gian mengusap rambutnya. Padahal itu adalah hal wajar saat akan mengeringkan rambut untuk memastikan kalau semua sisi rambut Eca kering.
Barulah Eca lumayan lega saat Gian selesai mengeringkan rambutnya. Meskipun jantungnya masih memompa dengan cepat. Dia meremas jarinya untuk meredakan kegugupan yang masih tersisa.
"aku pernah mengeringkan rambut Rani. Katanya kalau rambut tidak langsung dikeringkan pasti sakit kepala dan rambut cepat kering. Jadi, aku pikir kamu juga akan sakit kepala kalau rambut kamu dibiarkan basah."
"o-oho i-iya." kata Eca terbata-bata.
Eca merutuki dirinya sendiri karna sesukanya berasumsi dengan tindakan Gian. Padahal pria itu hanya melakukan karna dia teringat dengan Rani. Mungkin kalau tidak teringat dengan Rani mana mungkin dia melakukan itu kepada Eca.
Sekarang Eca menundukkan kepalanya. Mengigit bibir untuk menyalurkan kekecewaannya. Sayang sekali, padahal dia sempat ke-geeran. Jantungnya sampai berdebar-debar tak karuan. Rasanya malu sekali. Tidak sepantasnya dia menaruh harapan seperti itu pada Gian. Bagaimana pun sosok Rani adalah perempuan yang pantas untuk Gian.
"a-aku masuk dulu. Makasih udah bantu keringin rambutku." Eca segera beranjak dari ruang tamu sambil membawa hair dryer.
Ternyata dari tadi Cio dan Yuyu mengintip. Mereka ingin bergabung saat pekerjaan mereka selesai. Tapi Yuyu langsung menahan Cio saat pria itu ingin meledek Gian yang sedang mengeringkan rambut Eca. Hal itu adalah kesempatan untuk mengoda Gian dan Eca. Ternyata Yuyu tidak membiarkan hal itu. Dia ingin kegiatan kedua orang itu tidak terganggu supaya mereka tidak canggung. Dapat Yuyu tangkap kalau Eca canggung dan gugup diwaktu bersamaan.
"bego si Gian bicarain cewek lain di depan cewek yang sedang dia keringin rambut. Bego-nya udah tidak tertolong lagi. Malu aku sebagai sepupunya." bisik Cio.
__ADS_1
"ck macam dia tidak malu aja punya sepupu sepertimu!" seru Yuyu berusaha mengontrol volume suaranya.
"hei gini-gini aku punya banyak pengalaman sama cewek."
"playboy cap kadal! Pokoknya kamu tidak boleh menggoda mereka. Kamu lihat muka Eca tadi? aku tidak tega melihat dia malu. Kamu mengerti??" ucap Yuyu sambil mencengkram kerah baju Cio.
"iya-iya. Sesak woi!"
Barulah Yuyu melepaskan cengkraman-nya saat dirasa Cio bisa dipercaya. Walaupun dia tidak begitu yakin. Yuyu menarik nafas dalam dan membuangnya, berusaha bersikap normal. Lalu berjalan melewati ruang tamu.
"Eca dimana Gian?"
"dia barusan ke kamar."
Yuyu seakan mau menangis melihat wajah Gian yang tenang seperti tidak berdosa. Tidak taukah dia baru saja membuat anak orang sedih. Memang Gian tidak bisa diandalkan dibagian ini. Dia benar-benar payah.
"Ca." ucap Yuyu sambil berjalan pelan kearah Eca yang sudah berbaring di ranjang.
"kamu udah tidur Ca?"
"mau tidur Yu. Mata aku berat. Aku tidur deluan ya."
"o-oke. Selamat tidur."
Yuyu menatap Eca dengan iba. Dia tidak tega melihat Eca bersedih. Dia ingin sekali menghibur tapi Eca sepertinya tidak ingin diganggu saat ini. Yuyu mencari ide supaya bisa mengembalikan mood Eca. Dia tidak mau Eca bersedih selama liburan mereka. Dia ingin supaya Eca menikmati liburan ini sebelum hari-hari ujian yang panjang menghantui mereka di semester depan.
Berpikir cukup lama, akhirnya Yuyu menemukan ide. Langsung saja dia mencari handphone-nya. Entah mengapa disaat paling dibutuhkan handphone tiba-tiba menghilang. Setelah mencoba mengingat tempat terakhir dia menaruh handphone, akhirnya dia mendapatkannya di samping skincare. Dia membuka handphone dan mengirim pesan kepada Cio.
Yuyu:
Besok pagi, kita jalan ke pantai. Bawa bola voli yang kamu bawa tadi.
Cio:
Kita?? kita berdua?? Idih ogah!
Yuyu:
Bukan hanya kita berdua dodol! Tapi kita berempat. Jangan lupa bawa bola ðŸ˜
Cio:
hehehe . . . 🤠oke
__ADS_1
***