
Eca melewati pagar sekolah sambil menenteng dua buku paket. Sengaja tidak menaruh buku-buku ke dalam tas supaya pundaknya tidak sakit. Eca berjalan sambil menghindari tabrakan dari murid lain yang asik bercanda.
"Eca babi dipanggil si Gian" Cio menghampiri Eca dan berjalan beriringan.
"kenapa?"
"gak tau. Coba aja tanya langsung."
"mana dia?"
"itu di belakang."
Benar saja, Gian ada di belakang mereka. Bukan dengan jarak yang jauh. Eca bisa pastikan bahwa Gian mendengar pembicaraan mereka. Gian tepat ada dibelakang mereka berdua.
"Gi! Si Eca mau ngomong sama kamu."
"ha?" Eca kebingungan.
Gian tidak menjawab hanya melirik Eca sekilas. Lalu mengambil jalan disamping dan melewati mereka. Eca dan Cio kompak memandang kepergian Gian.
"gila ya! Mana ada aku mau ngomong sama dia!" Eca langsung saja memukul Cio dengan kuat.
Cio tertawa terbahak-bahak. Puas sekali melihat muka cengo Eca dan muka galak Gian pada Eca. Entah mengapa mengerjain Eca merupakan kesenangan tersendiri bagi Cio.
"sumpah Ca. Muka mu tadi, hahahaa. . . ."
"gak lucu asu!" sekali lagi Eca menabok Cio.
"si Gian benci banget sama kamu. Ada apa sih? Tapi kok aku senang yah buat mengerjain kalian."
"emang otakmu itu udah bergeser."
__ADS_1
Bukannya mereda, tawa Cio menggelegar. Tidak lucu sama sekali. Cio tertawa seperti medusa di film princess. Ingin sekali Eca melempar kepala Cio dengan sepatunya.
Saat hendak memasuki kelas, Eca mendapati Nehan berjalan menuju lantai atas padahal kelas mereka berada di lantai yang sama. Eca mulai curiga saat Nehan menoleh ke kanan dan ke kiri berulang kali seolah memastikan tidak ada yang melihatnya. Eca membuntuti Nehan dengan jarak yang cukup jauh. Dia melangkah dengan pelan tapi pasti mengikuti kemana kaki Nehan berjalan. Ternyata kekasihnya menuju rooftop. Baru membuka pintu rooftop. Bunyi bel pertanda masuk berbunyi. Tapi Nehan tidak ada niatan untuk turun. Eca dilema antara melanjutkan membuntuti Nehan atau masuk kelas. Dengan sangat terpaksa Eca memilih turun untuk masuk ke kelasnya.
Sepanjang pelajaran Eca memikirkan untuk apa Nehan ke rooftop dan tidak masuk kelas. Apa yang hendak dilakukan kekasihnya diatas sana. Eca juga khawatir Nehan ketahuan bolos karna dia akan dihukum.
Tepat bel istirahat berbunyi, Eca segera berlari keluar. Tidak mempedulikan tatapan bertanya teman sekelasnya melihat aksi Eca. Tujuan Eca cuma satu saat ini, rooftop. Dia akan menyuruh pacarnya untuk masuk kelas. Eca tidak mau Nehan sampai membuat masalah.
Eca menaiki tangga sambil berlari. Dia lelah sebenarnya. Tapi keinginan untuk melihat pujaan hati sangat besar. Eca mengesampingkan nafasnya yang mulai putus-putus. Sesampai di depan pintu rooftop, Eca berhenti dan mengatur nafasnya. Barulah dia membuka pintu saat di dengarnya suara dari arah balik pintu. Dia melihat sang kekasih tengah duduk bersandar di dinding. Untunglah Nehan hanya beristirahat diatas sini. Dia mencoba melangkah lagi. Kali ini langkahnya berhenti saat dilihatnya seorang gadis duduk tidak jauh dari Nehan dengan rokok berada di kaitan kedua jari. Eca bersembunyi dan mengintip. Jantungnya berdetak dan rasa tidak nyaman menghinggapinya.
Eca dibuat tahan nafas saat perempuan itu menyentuh tangan Nehan. Namun pria itu tidak langsung menepis. Melihat reaksi Nehan yang tidak menolak, perempuan itu semakin berani dengan naik dipangkuan Nehan. Kali ini Nehan terkejut dan mencoba menggeser perempuan itu. Seakan keras kepala, perempuan itu tidak mau bergeser. Dia membuang rokoknya dan mengalungkan kedua tangan di leher Nehan.
"Nehan, bantu aku. Aku sangat ingin." ucap perempuan sambil menyenderkan kepalanya di dekat leher Nehan.
"ta-tapi. Aku sudah punya pacar Tia."
"aku tidak peduli. Aku sudah bilang kita hanya saling melampiaskan. Soal pasangan kita tetap jalan dengan pasangan masing-masing."
Eca mengepalkan tangan dengan kuat. Dia tidak menyangka Nehan tega berbuat demikian dan tidak menolak perempuan itu. Eca juga emosi dengan si Tia itu, bisa-bisanya di menggoda pacar Eca.
Nehan tidak menjawab. Berikutnya Tia menyatukan kedua bibir mereka. Awalnya hanya mengecup. Karna tidak ada penolakan dari Nehan, Tia memberanikan diri ******* bibir Nehan. Gadis itu memeras rambut Nehan. Geram karena tidak ada balasan dari Nehan, Tia menggigit bibir Nehan. Pria itu refleks membuka mulut. Tia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk memperdalam ciuman. Entah setan dari mana akhirnya Nehan membalas ciuman Tia. Satu tangannya menahan kepala Tia dan tangan lainnya memeluk pinggang Tia dengan erat. Mereka ciuman dengan penuh gairah.
Disatu sisi, Eca mematung melihat adegan itu. Matanya mulai berkaca-kaca. Dia sangat syok sekarang. Nehan adalah pria yang dia cintai tapi pria itu sedang ciuman panas dengan perempuan lain. Eca ingin lari saat ini juga atau menjambak dan menampar kedua orang itu tapi dia tidak bisa menggerakkan tubuhnya . Perlahan tapi pasti air mata Eca jatuh. Dirinya tidak sanggup lagi membendung kesedihan. Hatinya sangat sakit melihat hal itu.
"remas sayang." Tia mengangkat tangan Nehan kearah ***********.
Nehan tidak menjawab namun meremas salah satu payudara Tia dengan kuat. Naluri binatangnya seakan diaktifkan saat ini juga. Dia merasa tertantang. Tia mampu menaikan gairahnya dan melupakan kewarasannya. Bagaimanapun ini hal pertama bagi Nehan. Dia benar-benar gila seakan melayang dan Nehan tidak mau berhenti dengan cepat.
"kamu tidak perlu diajari lagi hanya sedikit lebih berani." Bisik Tia ditelinga Nehan.
"kamu yang mulai duluan. Jangan menyesal." ucap Nehan melanjutkan aksi jelajahnya di sekitar leher Tia.
__ADS_1
"tidak akan sayang."
Tidak sanggup melanjutkan melihat adegan menjijikan Nehan dan Tia. Eca berbalik dan menutup pintu rooftop dengan sangat pelan. Sepanjang turun tangga, dia menangis sesegukan sambil menutup mulutnya. Begini rasanya dikhianati oleh orang yang kita sayang. Berbagai pikiran mulai menghantui kepala Eca. Adegan dewasa Tia dan Nehan, pembicaraan keduanya di rooftop hingga menerka-nerka apa yang membuat Nehan tega melakukan itu. Eca tidak bisa menguasai dirinya saat ini. Dia sangat ingin menumpahkan seluruh perasaan.
"Eh Ca?"
Tidak. Jangan saat ini. Dia benci harus berurusan dengan Cio sekarang. Bisa jadi laki-laki itu tempat Eca melampiaskan amarah dan kesal. Tangisan Eca jadi semakin kuat. Dia benci dengan keadaan yang tidak berpihak padanya.
"Ca bab- eh kamu kenapa Ca?"
Eca tidak menjawab. Dia tidak punya tenaga untuk meladeni Cio berkelahi. Kalau bisa Eca ingin Cio pergi saja saat ini. Dia malu.
"si Eca kenapa Cio?" kata salah satu teman kelas mereka yang melewati tangga.
"ah i-ini"
"kamu pasti nangisin dia kan??"
"sembarangan kalau ngomong. Ini ta-tadi si Eca jatuh dari atas tangga makanya dia nangis. Untung ada aku yang selamatin kalau tidak kepala si Eca udah hancur.
"oho. Ke UKS aja kalau masih sakit Ca."
"iya aku mau antar dia ke UKS sekarang. Ayo Ca." ucap Cio sambil menarik tangan Cio pelan.
Eca ikut saja saat Cio membawanya ke UKS. Sepanjang jalan Cio ditanya akibat Eca menangis. Dengan lancar Cio menyebutkan alasan bohong pada mereka. Baru kali ini Eca merasa Cio sangat berguna sabagai manusia. Dia pikir tadi bertemu Cio adalah malapetaka namun siapa sangka justru Cio penyelamatnya saat ini.
Sesampainya di UKS, Cio membantu Eca berbaring dan memberikan selimut. Kalau dalam keadaan normal dia pasti meledek Cio karna berbuat baik padanya untuk pertama kali tapi karna situasi sedang tidak memungkinkan Eca hanya bersyukur dengan bantuan Cio. Entah dia sadar melakukan ini atau tidak.
"udah Ca. Kamu makin jelek kalau menangis."
"di-diam asu." ucap Eca sesegukan.
__ADS_1
Dia baru diingatkan kalau Cio tetaplah Cio. Sekarang dia kesal dengan ucapan Cio. Menyesal dia sudah memuji kebaikan pria itu dalam hati. Untung saja dia tidak langsung mengatakannya. Bisa besar telinga dia.
***