RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 37 | Berpisah


__ADS_3

Suasana ujian yang hening tidak sekalipun menghentikan pikiran Eca untuk berputar. Sekuat tenaga dia memutar otak untuk menemukan jawaban yang tepat dari setiap soal. Ujian kali ini menguras banyak energi dan waktu tapi Eca sangat optimis.


Terakhir kali Eca mengikuti ujian berakhir dengan kacau. Sekarang Eca bertekad untuk menyelesaikan ujian dengan sungguh-sungguh. Bulan ini adalah terakhir ujian masuk perguruan tinggi atau dia harus menganggur satu tahun. Oleh karena itu, dia harus lewat diujian kali ini.


Dengan mantap, Eca menyerahkan soal ujian dan kertas jawaban pada pengawas. Dia keluar dari ruang ujian dengan perasaan lega. Menyelesaikan ujian tadi menguras banyak energi Eca.


Drrt . . .


Ponsel Eca berbunyi. Dia melihat tertera nama mama dilayar ponsel. Segera dia menekan tombol hijau.


"Halo ma."


"udah selesai ujiannya?"


"udah ma. Kepala aku seperti mau pecah menjawab soal-soalnya. Mama doain aku ya."


"tentu. Mama sudah berdoa tadi. Sepertinya kamu harus menurut kata mama deh selama beberapa hari ini sebelum pengumuman supaya hasilnya bagus!"


"yaelah ma. Kapan aku tidak menurut sama mama??"


"hampir setiap hari Eca! Jangan berbicara seperti anak penurut aja kamu, mama merinding!"


"hahaha . . . Siap mamaku sayang. Yaudah aku lanjut jalan dulu."


"kamu mau makan apa? Mau mampir ke tempat kerja mama setelah ini?"


"nanti sore aja ma. Aku mau me time dulu. Bye!"


"oke. Hati-hati."


Eca menarik senyum lebar. Dia sangat senang akhirnya keadaan mama jauh lebih baik setiap harinya. Apalagi semenjak bekerja di toko kue milik teman mama waktu SMA, suasana hati mama selalu bahagia.


Pasca perpisahan mama dan papa, wanita itu sering kali melamun di ruang tamu atau dapur. Kedua tempat yang sering menjadi ruang berkumpul keluarga mereka dulu. Seakan tidak mau berlarut-larut lagi dalam bayangan masa lalu, mama memutuskan menjual rumah mereka setelah mendapat persetujuan dari Eca dan Erna. Bukan tanpa alasan mama menjual rumah yang telah menyimpan banyak kenangan tapi mama selalu merasa di penjara dalam ruang masa lalu yang menyesakkan. Eca dan Erna sesungguhnya sedih sekali melepas rumah mereka tapi sama seperti mama, masuk dalam rumah itu entah mengapa memberikan nuansa suram karna kenangan-kenangan yang selalu menghantui.


Sudah beberapa hari Eca, Erna dan mama pindah ke apartemen Erna yang cukup luas. Apartemen itu adalah hadiah ulang tahun Erna yang ke-23 dari papa. Sudah berlalu tiga tahun, apartemen itu jarang ditempati oleh Erna karna sepi menurutnya. Namun sekarang tempat itu menjadi penyelamat mereka dari rumah yang tidak hangat lagi.

__ADS_1


Mama kembali menata hidupnya agar lebih berwarna. Dia setuju menjadi pegawai di toko kue setelah ditawari oleh temannya. Namanya adalah Om Surya, dia duda yang sudah bercerai lama tapi tidak memiliki anak. Pria itu selalu menawari kue gratis setiap Eca ke sana. Tentu saja kesempatan itu tidak disia-siakan oleh Eca tapi mama selalu menegur Eca untuk tidak mengambil banyak kue yang tentu saja tidak dihiraukan oleh putri bungsunya.


Drrt. . .


Ponsel Eca kembali bergetar. Dia terkejut melihat nama penelepon. Sudah lama pria itu tidak menghubunginya. Dengan tangan bergetar dia mengangkat telfon.


"ha-halo"


"halo Ca. Bisa kita ketemu di cafe dekat bandara sekarang?"


"bi-bisa tapi aku baru pulang ujian. Mungkin sekitar 45 menit baru sampai di sana. Kamu bisa menunggu Gian?"


"hm . . . Oke tapi kalau bisa dipercepat lebih baik. Nanti langsung masuk bandara aja ya, tidak sempat kalau di cafe. Keburu pesawatnya take off."


"ka-kamu mau pergi Gian?" tanya Eca terkejut.


"iya maaf baru bisa beritahu. Aku mau ketemu kamu dulu sebelum meninggalkan Indonesia. Aku tunggu ya Eca, hati-hati dijalan."


Eca sangat syok mendengar Gian akan meninggalkan Indonesia. Padahal pria itu tidak pernah bilang jika dia akan keluar negeri. Apa mungkin dia kuliah di sana? Tiba-tiba saja rasa sedih menguasai hati Eca. Dia tidak rela Gian pergi jauh.


Suasana semakin tidak terkendali saat mereka melihat ada kecelakaan beruntun di depan. Harapan Eca mulai pupus saat kendaraan berhenti dan banyak orang mengerumuni kendaraan yang bertabrakan. Eca tidak henti menggigit kuku dan mengernyit melihat kejadian di depan.


"bisnya tidak bisa jalan pak?"


"maaf mbak tidak bisa lewat. Mesti menunggu dulu."


"kira-kira berapa lama pak?"


"sampai polisi dan ambulans datang untuk menangani kecelakaan itu."


Eca menghembuskan nafas kasar. Jika begini maka dia tidak akan sempat bertemu dengan Gian. Dia memutuskan turun dan membayar uang ongkos pada supir. Lalu Eca berlari berusaha mengeluarkan diri dari orang-orang yang berkumpul. Eca terus berlari melewati kecelakaan beruntun yang lumayan panjang.


Nafas Eca memburu, keringat membasahi seluruh tubuh mengiringi larinya yang kencang. Nafasnya tersengal-sengal setelah berhasil berlari dari kecelakaan beruntun. Sekarang tidak ada lagi kemacetan tapi masalahnya tidak ada kendaraan yang kosong. Bis tidak ada, ojek tidak ada dan ojol pun tidak ada. Eca mulai frustasi, dia sudah lelah berlari tapi tidak ada kendaraan yang bisa mengantarnya. Dia mulai menangis sambil melihat ponselnya yang mungkin saja ada ojol yang mampir. Sudah lima belas menit Eca menunggu tapi tidak ada tanda-tanda kendaraan lewat.


Dengan kaki yang sudah lemah, Eca kembali berlari. Sesekali Eca melihat ponselnya mengecek keberadaan ojol. Saat sedang berlari, ada mobil yang mengikuti dengan pelan di samping. Mobil itu mengklakson dan menurunkan kaca mobil.

__ADS_1


"ngapain olahraga siang-siang? Kamu mau kurus atau mau gosong?"


Tanpa basa-basi, Eca membuka pintu mobil pria itu. Dia baru merasa adem saat ac mobil menerpa tubuhnya. Dia mengambil tisu dan menyeka wajah, leher dan tangannya yang berkeringat.


"jalan Fan. Cepat! Ke bandara."


"ck main masuk aja terus suruh-suruh orang. Hebat ya."


"aku mohon nanti aja ngomelnya. Sekarang ke bandara dulu. Ngebut ya!"


"kalau begitu kencangkan sabuk pengamanmu."


Sepanjang perjalanan Eca sering menahan nafas karna Fandi membawa mobil seperti pembalap dalam arena sirkuit. Dia menyalip apa pun di depannya bahkan nyaris menyerempet kendaraan lain. Bagaimana Eca tidak serangan jantung? Tapi berkat itu juga dia bisa sampai bandara meskipun telat 10 menit dari yang dia janjikan pada Gian.


Eca berlari memasuki bandara. Dia mengedarkan pandangan sambil mencari keberadaan Gian. Dia mencoba menelepon pria itu tapi tidak diangkat. Eca berlari ke beberapa tempat tapi tidak menemukan Gian.


Harapan Eca mulai pupus saat tidak menemukan keberadaan Gian. Dia kesal bukan main pada keadaan yang tidak memihak padanya. Padahal dia sudah capek-capek berlari di terik matahari. Jika sekarang dia dibaui, tubuhnya akan tercium bau keringat dan sinar matahari. Bukti dari pengorbanan Eca untuk bertemu Gian sebelum berpisah.


"kamu cari siapa Eca?"


"Gian." jawab Eca lemah sambil menundukkan kepala.


"Gian yang itu kan?" tunjuk Fandi kearah samping.


Eca segera menoleh dan terbelalak dengan apa yang dilihatnya. Dari belakang bisa dilihatnya pria itu sedang dirangkul dipundak. Namun yang membuat hati Eca mencelos saat melihat kedua manusia itu berciuman.


Tidak salah lagi itu memang Gian. Setelah perempuan itu memisahkan diri, bisa Eca lihat bahwa dia adalah Rani. Tangan Eca terkepal di samping badan. Hujan seperti jatuh diatas kepalanya dengan deras seolah menyadarkan dia. Menyadarkan dia dari apa yang dia harapkan sebuah perpisahan yang manis dengan Gian. Namun harapan tinggallah harapan, Eca harus menelan pil kekecewaan.


"kamu mau bertemu pacar orang Ca? Yang benar aja!" seru Fandi dari samping.


"tidak lagi! Kita pulang Fandi."


Eca pergi meninggalkan bandara dengan hati yang hancur berkeping-keping. Dia membuka ponsel dan langsung memblokir nomor Gian. Lalu dia menatap kaca mobil dengan sayu. Menangisi dirinya yang begitu menyedihkan.


"selamat tinggal Gian." ucapnya dalam hati.

__ADS_1


***


__ADS_2