
Sudah sejak tadi gadis itu datang. Bukannya masuk ke dalam gedung, dia malah bersembunyi di balik tirai yang sangat besar. Wajah yang sudah dipoles make up, rambut dijalin dan digulung ke atas, menyisahkan beberapa helai dibagian depan. Memamerkan lehernya yang jenjang. Gaun merah panjang dengan tali spageti melekat sempurna membentuk tubuh Eca. Siapa pun yang melihat penampilannya saat ini akan pangling. Tidak ada yang akan mengira bahwa Eca yang penampilannya sangat biasa di sekolah akan berubah menjadi gadis yang menawan malam ini.
Namun sayang, kecantikan gadis itu harus disembunyikannya. Dia tidak punya pasangan yang mau menemaninya di pesta perayaan kelulusan. Disaat orang lain memiliki pasangan, tersisa Eca yang berdiri sendiri mengintip dengan iri setiap pasangan yang datang melewati karpet merah yang digelar di depan pintu. Kalau begini untuk apa kak Erna sangat heboh mendandaninya tadi. Bukannya sama saja dia tidak bisa masuk ke dalam sana dengan percaya diri.
Sebenarnya tidak harus berpasangan untuk bisa memasuki pesta perayaan kelulusan. Namun mayoritas siswa membawa pasangan. Ini adalah pesta santai yang diadakan khusus untuk kelas dua belas. Sebelumnya mereka sudah melakukan acara kelulusan secara formal di sekolah. Namun malam ini, waktunya untuk siswa kelas dua belas menikmati waktu sejenak dari kegiatan belajar dan ujian yang terasa mencekik.
Terdapat siswa yang datang sendiri tanpa pasangan. Misalnya kumpulan siswa kutu buku atau pun introvert. Eca tidak ingin dipandang kasihan dengan masuk dalam jejeran siswa seperti itu. Tapi sepertinya dia tidak punya banyak pilihan karna pesta akan dimulai.
Eca keluar dari tempatnya bersembunyi. Sambil menenteng tas ditangan kanan dia melangkah dengan pelan menuju karpet merah. Saat hendak menginjakkan kaki ke karpet merah seseorang berdehem dari samping. Eca menoleh dan mengernyit. Dia tidak berpikir kalau pernah mengenal pria itu sebelumnya. Namun ada satu hal yang terbesit dipikiran Eca kalau pria itu tampan. Rambutnya dioleh minyak rambut yang dibuat naik keatas dengan rapi. Dia memakai pakaian serba hitam, mulai dari kemeja, jas, celana bahkan pantofel.
"kamu tidak punya pasangankan? Aku juga. Bagaimana kalau kita melakukan simbiosis mutualisme. Kita jadi pasangan malam ini. Setidaknya kita bisa beruntung tidak malu masuk ke dalam sana sendirian. Bagaimana?"
"o-oke."
Pria itu mengulurkan lengannya. Namun Eca tidak kunjung mengaitkan lengan. Pria disebelahnya berinisiatif mengaitkan lengan Eca. Lalu mereka berjalan masuk ke dalam gedung.
Saat mereka masuk, seluruh perhatian teralihkan pada mereka karna kedatangan mereka termasuk terlambat. Banyak siswa yang terkejut dengan penampilan keduanya. Mereka menutup mulut menatap tidak percaya pada sosok pasangan yang berjalan dengan bergandengan tangan.
"jangan gugup. Angkat kepalamu." bisik pria itu tepat ditelinga Eca.
"i-iya." ucap Eca sambil mengangkat kepalanya.
"ngomong-ngomong namamu siapa? Kita sudah bergandengan dari tadi tapi tidak tau nama masing-masing."
"namaku Eca, kamu?"
"aku Fandi. Salam kenal Eca." ucap Fandi pelan dengan senyum lebar.
Eca terpana melihat senyum Fandi. Pria itu jauh lebih tampan dua kali lipat saat tersenyum. Apalagi dengan matanya yang menyipit, sangat lucu bagi Eca.
"wow!!! Kamu bukan Eca babi yang biasa kukenal!" seru Cio dari arah depan dan menatap wajah Eca sambil melotot.
"jaga matamu! Kucungkil nanti baru tau rasa!"
__ADS_1
"selow . . . Selow. . . Eh ini siapa? Mentang-mentang penampilanmu berubah udah dapat mangsa baru aja"
"Bisa diam tidak?!"
"hai bro, aku Cio." kata Cio sambil menyodorkan tangannya.
"Fandi." ucap Fandi menyodorkan tangannya dengan hangat.
Perhatian kembali berpusat pada pembawa acara yang memandu acara malam ini. Diatas meja sudah tersedia berbagai makanan dan minuman. Eca mendekat pada salah satu meja makanan yang menyajikan kue mangkok. Dia mengambil satu dan memakannya. Oleh karena persiapan dirinya yang sangat panjang, Eca tidak sempat makan di rumah. Erna terus melakukan berbagai hal untuk tubuhnya.
"hai Ca, kamu cantik banget malam ini! Aku tadi bahkan tidak bisa mengenali kamu. Sumpah ya Eca ternyata kamu seksi parah!" ungkap salah seorang teman Eca.
"hehehe . . . Makasih" Eca melemparkan senyum canggung entah dia harus bersyukur atau malu karna dikatakan seksi.
"kamu sih Ca. Kebiasaan pake baju longgar mulu. Jadinya asetmu kurang kelihatan. Emang sih meskipun kamu pakai baju longgar masih kelihatan besar tapi sekarang jauh lebih besar. Bagaimana cara membesarkannya??? Beritahu aku dong!" kata teman perempuan Eca yang lain.
"ya Tuhan lindungi aku dari perempuan-perempuan gila ini." ucap Cio sambil menutup matanya.
Eca jadi kikuk sendiri. Dia menatap pada dadanya yang membusung besar. Kenapa dia jadi malu ya? Dia tidak pernah memperhatikannya sebelumnya tapi setelah diberitahu teman-temannya di semakin menyadari ukurannya yang diatas rata-rata gadis seumuran mereka. Wajah Eca mulai memerah. Dia mengipas wajahnya dan memalingkan wajah. Tepat saat memalingkan wajah tatapannya bertemu dengan Gian. Mereka saling menatap dalam waktu lama. Eca lalu mengalihkan pandanganya. Namun Gian seolah membakar tubuh Eca dengan terus menatap gadis itu seperti laser.
Berulang kali Eca meminum air yang ada di atas meja untuk menghilangkan kegugupannya. Tatapan mata Gian sangat dalam. Kenapa juga dia sangat tampat malam ini? Bahkan ratusan kali lipat lebih tampan dari Fandi. Eca sibuk menenangkan diri karna jantungnya yang berdetak tak beraturan. Jantungnya mulai berulah sekarang.
Tiba saatnya dansa pasangan. Seluruh pasangan mengambil tempat dibagian tengah. Ada Gian yang berpasangan dengan Rani dan ada juga Eca yang berpasangan dengan Fandi. Kepala Eca mulai pening akibat meminum banyak air. Entah air jenis apa yang mereka letakkan di atas meja yang jelas Eca sedikit pening. Dia juga beberapa kali menginjak kaki Fandi. Di lain sisi Gian terus mencuri pandang ke arah Eca. Mengikuti kemanapun dan apapun yang gadis itu lakukan saat berdansa dengan Fandi. Rahangnya mengeras melihat Eca mulai menyandarkan kepalanya di dada Fandi.
Gian melihat Eca dan Fandi tidak melanjutkan dansa. Mereka mengambil tempat duduk di meja paling pinggir. Tidak lama kemudian Fandi pergi meninggalkan Eca entah kemana.
"maaf Ran. Aku ke toilet dulu." kata Gian langsung berlari dari tempat dansa.
"ta-tapi" ucap Rani dengan sendu menatap Gian yang sedang berlari.
Gian dengan cepat menghindari beberapa pasangan yang menghalangi jalannya. Dia mempercepat langkah saat menuju kearah Eca. Dia duduk di sebelah gadis itu dan menyampirkan jasnya dibahu Eca.
"kamu kenapa Ca?"
__ADS_1
"Gi-gian?"
"ck! kamu minum alkohol berapa banyak?" celetuk Gian saat menghirup bau alkohol dari Eca.
"kita pergi"
Gian memapah Eca keluar dari gedung. Namun kaki Eca berdiri dengan tidak benar yang membuatnya hampir nyungsep ke depan kalau Gian tidak menahan pinggangnya. Gian lalu menggendong Eca di bagian depan. Membawa tubuh gadis itu ke dalam mobilnya. Selesai memasang sabuk pengaman, Gian menatap Eca yang sedang memejamkan mata.
"cantik"
Gian sangat tergoda dengan bibir Eca yang dipoles dengan lipstik berwarna merah terang. Sejak kedatangan Eca melalui pintu masuk acara tadi, Gian mati-matian menahan dirinya untuk segera berlari ke arah gadis ini. Dia tidak bisa mengalihkan pandangan ke arah lain. Hanya Eca yang selalu dalam pengawasannya. Dia sangat marah saat melihat pria lain menjadi pasangannya. Bagaimana bisa penampilan Eca yang menawan harus bergandengan dengan pria lain? Kenapa bukan dia? Persetan dengan Rani yang akan kecewa. Sudah sejak tadi Gian menahan cemburu pada siapa pun yang bisa berinteraksi dengan Eca, memuji Eca harusnya dia bisa melakukannya. Namun dia hanya bisa menatap dari jauh dengan api yang membara dalam dirinya.
Gian mulai mendekatkan wajahnya pada Eca. Dia terus mendekat hingga hanya berjarak 2 cm dari wajah Eca. Dengan jarak sedekat ini dia dapat merasakan nafas Eca yang berhembus mengenai permukaan wajahnya. Jantung Gian semakin menggila. Kewarasannya mulai memudar saat menatap bibir yang merah menyala itu lagi.
"bahaya . . . Sadarlah Gian!" ucap Gian frustasi sambil menjauhkan badannya.
Gian menyenderkan kepalanya pada stir mobil. Menoleh ke arah Eca. Dia meraih jemari gadis itu dan mengaitkan jari mereka. Dia menautkan tangan mereka dengan erat untuk menyalurkan perasaannya yang ditahan dengan kuat. Kontrol diri yang harus dikuasai oleh Gian.
"Gi-gian?" ucap Eca lemah membuka matanya.
"hai." Gian tersenyum dengan tulus.
"i-ini?" tanya Eca pada tangan mereka yang bertautan.
Gian mengangkat kedua bahunya. Dia masih tersenyum dengan dalam pada Eca. Perempuan itu jadi canggung melihat Gian yang terus menatapnya dengan dalam dengan tersenyum apalagi kaitan tangan mereka yang erat. Bisa Eca rasakan percikan yang mengalir dari telapak tangan mereka yang menyatu.
"kenapa aku di sini?" kata Eca sambil melempar pandangan kearah samping menghindari tatapan Gian.
"kamu memang harus di sini." ucap Gian dengan suara serak lalu mengecup tangan Eca dengan sangat lama.
Eca langsung saja menoleh. Matanya melotot melihat aksi Gian yang tidak pernah terbayangkan olehnya. Jantungnya semakin berdegup dengan kencang. Bisa-bisa Gian mendengar suara jantungnya yang sedang berdemo. Namun entah mengapa Eca menyukainya.
***
__ADS_1