
Menunggu adalah hal menyebalkan bagi segelintir orang. Tidak banyak orang rela untuk menunggu suatu hal. Entah itu merupakan sifat atau ada pengaruh lain yang tidak memungkinkan untuk menunggu. Sama halnya dengan Cio, termasuk ke dalam golongan orang yang tidak sabar. Menunggu lima menit merupakan sebuah prestasi untuk menahan diri dari rasa penasaran. Menit pertama Cio masih sangat sabar, menit kedua badannya mulai bergerak-gerak, menit ketiga dia mulai berdehem beberapa kali sebagai kode kepada Eca, menit keempat dia mulai menatap Eca dengan malas dan menit kelima dia memutuskan untuk bertanya langsung. Persetan dengan perasaan tidak enaknya. Daripada dia mati penasaran dan tidak bisa tidur malam ini. Apalagi bel istirahat akan berbunyi. Dia harus menuntaskan rasa penasarannya segera.
"Jadi Eca kenapa kamu nangis ditangga?"
"Ca?"
Eca diam tidak menjawab sama sekali apalagi melirik kearah Cio. Menghela nafas sebentar, Cio menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Menimang-nimang apakah sudah waktunya. Waktu untuk menyerang Eca dengan cepat.
"ah elah, kamu buat orang mati penasaran! Kenapa menangis tadi?!"
"oke, tidak jawab, aku beritahu wali kelas kalau kamu pura-pura nangis supaya bisa bolos les ibu itu."
"sialan!" Eca berseru sambil memincingkan matanya.
Tidak mungkin Eca mengatakan kejadian yang sebenarnya. Dengan kebiasaan mulut Cio, Eca takut masalah tidak akan terselesaikan. Bagaimana justru timbul masalah baru nantinya? Dia tidak percaya pada Cio. Siapa yang akan mempercayai teman berantam? Yang hampir setiap hari berkelahi setiap bertemu? Eca juga tidak ingin nama Nehan buruk dimata orang lain. Meski bagaimanapun sampai saat ini, dia masih mencintai kekasihnya.
Katakan saja dia bodoh tapi itulah faktanya. Satu kesalahan Nehan belum mampu melunturkan rasa sayang wanita itu pada Nehan. Walau tidak bisa dipungkiri Eca sangat kecewa dengan Nehan. Dia juga tidak yakin akan memandang Nehan sama seperti sebelumnya hanya saja banyaknya kenangan yang menumpuk didalam memori Eca mampu membuat pertahanan kuat untuk menjaga rasa sayang wanita itu pada Nehan. Tidak segampang itu melupakan kekasih saat kita sudah menyukainya dengan tulus. Entah harus dibilang bodoh tapi Eca sungguh mengakui kalau dia bodoh sekarang. Rasa kecewanya kalah dengan rasa sayang.
"tidak. Aku hanya punya masalah pribadi. Maaf aku gak bisa beritahu. Tapi ini sangat privasi. Aku harap kamu mau mengerti. Meskipun aku tidak yakin tapi kali ini tolong kamu harus mengerti Cio."
Bukannya rasa penasaran Cio terbayarkan malah ia semakin bingung dengan jawaban Eca. Pernyataan gadis itu terlalu serius dan begitu percaya kalau Cio akan mengerti dengan keadaan. Yang tentu saja tidak. Cio tidak mengerti dan tidak mau mengerti keadaan.
"Eca babi, gak usah sok privasi-privasi segala. Caramu menangis ditangga seperti habis diputuskan pacar saja.
Deg!
Eca tertegun dengan kalimat Cio. Bukan pada bagian dia memaki Eca. Dia sudah sering mendengarnya dan terbiasa tapi tidak berarti dia akan menerima begitu saja. Untuk kali ini dia mengabaikan karna ada hal lebih penting. Eca terusik dengan kata putus dari Cio. Entah masalah ini akan berujung pada kata itu atau tidak tapi Eca yakin setelah ini semua nya tidak akan mudah. Dia memang terpikirkan kata itu tadi sepanjang melihat Nehan dan Tia. Tapi masih ada yang menahannya, dia butuh penjelasan pada Nehan.
"bacot! Mana ada. Ini hanya masalah lain. Kau tau kau tidak perlu tau semuanya Cio."
"aku penasaran Eca babi." jawab Cio sewot.
"mati ajalah!"
"oke kita lihat saja nanti. Cepat atau lambat aku pasti tau Eca babi. Dan hati-hati aku adalah orang pertama yang akan menyiram minyak tanah di atas kompor. Jadi, pastikan aku tidak tau hal itu."
__ADS_1
Tepat Cio selesai mengatakan kalimatnya bel masuk berbunyi. Eca melihat saat Cio keluar dari ruang UKS. Dia mendesah pelan. Tidak salah dia menyembunyikan hal itu dari Cio. Pria itu terlalu kepo. Entah dosa apa yang sudah dilakukan Eca padanya. Atau ini karma dari kehidupan sebelumnya dapat teman modelan Cio. Benar-benar menyebalkan. Kalau saja Cio perempuan sudah dipastikan dia akan menjambak rambut Cio. Karna dia laki-laki kekuatan fisiknya lebih besar. Tapi Eca berjanji suatu saat dia bisa menjambak rambut Cio.
Sekarang Eca perlu memastikan bahwa Cio tidak boleh tau kejadian tadi. Dia harus meminta penjelasan pada Nehan dan segera menyelesaikan masalah ini. Dia tidak ingin gegabah. Dari sepenglihatan Eca tadi, Tia lah yang memulai menggoda Nehan dan Nehan tergoda. Fakta yang mulai mengobrak-abrik pikiran Eca.
***
"Nehan ada yang mau aku bicarakan sama kamu." ucap Eca saat melihat Nehan keluar dari kelasnya.
"oke, di halaman futsal aja ya?"
"emm" Eca mengangguk.
Mereka berjalan dipimpin oleh Eca. Suasana diantara keduanya tiba-tiba canggung. Baik Eca maupun Nehan tidak ada yang memecah keheningan hingga beberapa saat. Sampai Nehan memulai obrolan lebih dulu.
"kita jarang ketemu akhir-akhir ini ya Ca."
"hmm iya." Eca mengangguk membenarkan.
"nanti sore kamu sibuk?"
"sibuk. Aku les."
"oh gitu."
"iya."
"begini" Eca mulai ragu untuk menanyakan hal tersebut pada sang kekasih.
"ka-kamu juga sibuk akhir-akhir ini. Mengapa?" Eca menggigit sudut bibirnya karna kecewa pada diri sendiri yang tidak berani mempertanyakan perihal hubungan Tia dan Nehan.
"maaf Ca. Aku mau jujur"
Eca menahan nafas. Apa Nehan akan memberitahu hubungannya dengan Tia? Tiba-tiba dia tidak sanggup mendengarnya. Padahal dia juga sangat ingin mempertanyakan hal tersebut.
"sebenarnya aku lagi bantu teman aku."
__ADS_1
"siapa?" Eca bertanya dengan gugup.
"aku harap kamu jangan marah."
"iya." ucap Eca sambil meremas roknya kuat.
"Ada anak baru di kelas aku. Namanya Tia. Dia teman aku dari SMP. Dia lagi ada masalah dengan ayahnya yang kasar. Jadi selama beberapa hari ini, aku menemani dia supaya dia gak sedih dan melukai diri sendiri."
"oh gitu."
"iya. Aku harap kalau kami lagi sama, kamu tidak salah paham."
"apa aja yang kamu perbuat padanya. Ah tidak apa yang kalian berdua lakukan?"
"Ha?" Nehan terkejut. Dia seakan tertangkap basah. Jantungnya mulai berdegup dengan kencang.
"iya. Apa aja yang kalian lakukan saat bersama sehingga aku tidak perlu salah paham?"
"eee itu, kami hanya saling curhat dan memberikan solusi."
"itu aja?" Eca menatap curiga pada Nehan.
"iya hanya itu. Kami hanya teman kok. Tidak lebih. Beneran Ca." ucap Nehan berusaha meyakinkan Eca.
Bohong! Kalian bahkan sudah melakukan hal lebih, Batin Eca.
"aku harap begitu. Aku percaya pada kamu Nehan. Semoga kamu bisa menjaganya. Kalau tidak, aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya" ucap Eca pelan dengan hati yang seakan hancur berkeping-keping.
"Aku janji Ca. Cuma kamu satu-satunya."
Eca tidak sanggup untuk menjawab lagi. Dia menunduk. Mendesah pelan, mencoba untuk menatap hatinya didepan Nehan. Meski saat ini dia tidak baik-baik saja. Dia saja dibohongi. Oleh pria yang dia cintai, oleh pria yang dia sayang dengan tulus. Bahkan pria itu berjanji untuk kebohongannya.
"Ca?"
"ah iya. Aku mau pergi dulu. Bye Nehan." Eca melemparkan senyum termanis pada Nehan.
__ADS_1
Nehan menatap kepergian Eca dengan gelisah. Dia mengacak rambutnya dengan kesal dan menendang keras kerikil kecil yang ada di tanah. Entah mengapa hatinya sakit karna harus membohongi Eca. Dia tidak punya pilihan. Nehan tidak sanggup menyakiti hati Eca. Melihat tatapan curiga Eca tadi mampu memporak-porandakan hatinya.
***