RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 22


__ADS_3

Cuaca hari ini sangat bagus. Tidak terlalu panas dan tidak hujan. Ditambah angin sepoi-sepoi yang menyejukkan. Daun-daun di pohon sekitar lapangan futsal ikut bergerak searah pergerakan angin. Duduk dibawah pohon saat ini adalah pilihan terbaik.


Eca menikmati waktunya duduk dibawah pohon. Sesekali memejamkan mata untuk menghayati angin sepoi-sepoi yang memainkan rambutnya pelan. Dia tersenyum diakhir. Tidak ada yang bisa mengalahkan kedamaiannya sekarang.


Saat Eca membuka mata, senyum yang bertengger diwajahnya langsung luruh. Di depannya berdiri sosok yang sangat tidak ingin dia temui sekarang. Hari ini seperti hari suci bagi Eca, dia ingin merekam dengan baik cuaca yang indah ini tanpa gangguan orang lain. Terutama orang yang sudah dia putuskan kemarin.


"bisa ngobrol bentar Ca?" tanya Nehan sembari memasang senyum canggung.


"hm"


Nehan mengambil duduk disebelah Eca. Tidak terlalu dekat pikirnya masih ada jarak diantara mereka tapi Eca masih bergeser. Memperbesar jarak diantara mereka. Nehan menghembuskan nafas saat melihat Eca bergeser. Dia melihat kearah depan sambil mengacak rambutnya.


"maaf Ca" kata Nehan dengan lirih.


Eca tidak menjawab. Nehan memilih memberikan jeda pada pembicaraannya. Memikirkan sikap Eca membuat Nehan sedih seperti ada palu yang menghantam dadanya. Perasaannya hancur berantakan. Rasanya sakit saat seseorang yang kita sayang mulai memberikan jarak nyata di depan mata. Dia dapat merasakan Eca mulai membangun tembok tak kasat mata diantara mereka.


"jujur aku dan Tia hanya temanan." ungkap Nehan sambil meremas tangannya. Mencoba memberikan kekuatan pada dirinya.


"teman." ucap Eca pelan sambil menganggukkan kepala dan mata lurus menghadap depan dengan tenang.


Nehan menoleh ke samping. Memperhatikan reaksi Eca yang sangat tenang. Sangat berbeda saat dia dilabrak oleh Eca sore itu. Justru hal ini yang membuat Nehan takut. Dia jadi gelisah. Nehan meremas tangannya.


"i-iya" kata Nehan mulai terbata-bata.


"kamu bohong." ucap Eca tersenyum kecil sambil menoleh kearah Nehan.


"e–e a–aku,"


"aku lihat kamu dan Tia naik ke rooftop saat itu. Aku lihat kalian melakukan yang tidak dilakukan oleh sesama teman pada umumnya." kata Eca memotong pembicaraan Nehan.


Nehan menoleh kearah Eca dengan cepat. Matanya membelalak. Mulutnya terbuka lebar. Dia terkejut sambil mengangkat kedua bahu keatas. Tiba-tiba dia diserang rasa panik. Jantungnya bekerja lebih cepat. Dia tidak pernah menduga hal ini sebelumnya.


"a-aku" ucap Nehan dengan tangan bergetar terangkat keatas kepala untuk menundukkan kepalanya.


"aku kecewa Nehan. Aku beneran sayang sama kamu dan percaya sama kamu. Tapi tidak lagi sejak aku tidak sengaja melihat kamu ke rooftop dan mengikuti kamu. Saat itu, aku mau nyuruh kamu turun. Takut ketahuan guru bolos nanti dihukum. Tapi justru aku yang harus turun dari sana."


"maaf Ca" ucap Nehan sangat pelan semakin menundukkan kepalanya.


"kalau kamu pikir hanya karna kamu gandengan tangan atau Tia senderan sama kamu sore itu aku jadi mutusin kamu. Kamu salah. Itu bukan alasan yang kuat buat aku putusin. Tapi itu salah satu pertimbangan aku putusin kamu sih."


"Ca. . ."


"aku mikirnya kayak gini, kalau kejadian di atas rooftop hanya kekhilafan pasti kejadian di al*amart tidak terjadi. Tapi aku salah. Mungkin udah banyak yang kalian lakukan dibelakang aku. Tapi hanya segitu itu aja yang ketahuan. Dan hal itu sukses buat aku untuk gak percaya kamu lagi Nehan."

__ADS_1


"Ca, maaf ca" kata Nehan dengan suara bergetar sambil mengusap kedua mata.


"aku gak bisa lanjut pacaran sama orang yang selalu aku curigai."


Nehan menganggukkan kepalanya. Setuju dengan perkataan Eca. Dia kembali mengusap air matanya yang jatuh. Sekarang dia sesak dengan fakta yang diungkapkan oleh Eca. Dia tidak dapat bernafas dengan baik yang membuat dia perlu waktu cukup lama untuk menenangkan diri supaya bisa berbicara dengan Eca.


"aku akui, aku salah Ca. Entah itu dibilang selingkuh tapi aku sudah berbuat sejauh itu pada Tia. Ta-tapi aku masih sayang banget sama kamu." ungkap Nehan merasa frustasi dengan perasaannya.


"aku gak mau putus Ca." sambung Nehan putus asa.


"tidak bisa. Aku udah gak percaya kamu lagi. Kita selesai Nehan. Benar-benar selesai."


Eca berdiri dari duduknya. Membenarkan roknya yang sedikit terlipat. Dia menghela nafas pelan dan menghadap ke arah Nehan.


"saran aku, jangan sampai bablas Nehan. Kalian masih pelajar. Hati-hati." kata Eca.


Setelahnya, Eca pergi menjauh. Tertinggal Nehan dengan sejuta penyesalan dibenaknya. Tidak dia bayangkan sebelumnya, kalau ini akhir dari perjalanan cinta mereka. Rasanya jika dia punya kemampuan lebih dia ingin memutar waktu. Memperbaiki keadaan dan berusaha menahan dirinya dari nafsu dan rayuan maut Tia. Namun hal itu sia-sia karna tidak akan bisa kembali lagi.


***


Eca melangkah masuk kerumah. Dia merasa sangat lelah saat ini. Berbicara dengan Nehan di sekolah tadi mampu menguras banyak emosinya. Dia juga sangat menyesali yang sudah terjadi. Eca sempat goyah saat melihat Nehan menangis dan bicara dengan suara gemetar. Tapi semua sudah berlalu. Eca bersyukur dia mampu melewatinya. Atau dia akan lebih menyesal dikemudian hari.


Eca berjalan dengan langkah berat. Sambil menenteng tas dibahu, Eca melewati ruang tamu. Dia menolehkan kepala saat melihat mama yang serius melihat handphone.


"e-eh kamu udah pulang?" ucap mama dengan panik sambil menyembunyikan handphonenya.


Eca menatap mama curiga. Dia beberapa kali melihat sang mama menatap handphone dengan serius. Tapi Eca tidak tau apa yang sedang diperhatikan mama. Ini tidak seperti biasa saat dia mendapatkan gosip dari media sosial di handphonenya. Mama terlihat seperti marah karna kernyitan di dahi. Meski tidak kentara tapi nampak kalau mamanya sedang menahan amarah.


"apa sih yang mama lihat di hp?"


"bi-biasa. Gosip artis." ucap mama dengan canggung.


Eca semakin curiga dengan sikap mama yang tidak normal. Namun dia memilih untuk tidak mempermasalahkan karna saat ini perutnya mulai keroncongan. Dia berjalan menuju dapur dan makan di meja makan.


Eca makan dengan lahap. Dia sampai menambah porsi makan karna cah kangkung buatan mamanya sangat enak ditambah sambal tempe tahu yang pedas. Mampu menambah nafsu makannya bertambah dua kali lipat.


Saat sedang asik menikmati makanan, mama duduk di seberang. Lalu mama beranjak lagi dan mengambil minuman hangat dan menaruhnya di samping Eca. Tidak lupa mama membuka toples dan menaruh kerupuk di piring Eca.


"mama terbaik." kata Eca sambil memberikan jempol kepada mamanya.


"pelan-pelan. Kamu gak lagi lomba makan Ca."


Eca menganggukan kepala. Melanjutkan kegiatan makan. Dia beberapa kali menutup mata untuk menikmati makanan. Mama yang melihat tingkah Eca hanya menggeleng pelan.

__ADS_1


"kamu mulai belajar sungguh-sungguhkan Ca?" tanya mama.


"iya ma. Tanya aja Gian kalau gak percaya."


"bagus. Nanti mama tanya sama Gian. Ingat, kalau kali ini kamu bohongi mama lagi, mama bakal nambah les kamu sampai malam."


"jangan ma!" protes Eca memberhentikan suapannya.


"makanya belajar yang bener. Biar pintar."


"iya mama."


"kamu harus masuk universitas negeri ya Ca."


"aku usahain. Tapi aku gak janji ya ma."


"usaha dulu Ca. Kamu belajar lebih giat lagi. Kalau bisa hari minggu kamu berlajar sama kak Erna."


"tidak bisa. Hari minggu waktu aku istirahat ma. Kepalaku udah mau pecah belajar terus dari senin sampai sabtu."


Mama menghela nafas. Dia memperhatikan Eca yang berdiri mengisi air minumnya yang sudah habis. Ada yang berbeda dengan Eca. Mama mulai melihat dengan lebih teliti lagi.


"Ca, apa ini perasaan mama saja atau kamu kurusan?" tanya mama sambil memperhatikan badan Eca.


"bagaimana gak kurusan ma. Energi aku habis digunakan untuk berpikir."


"wah bagus dong Ca. Sekalinya belajar kamu bisa pintar dan kurus! Mau mama tambah jadwal belajar kamu biar lebih kurus lagi?" tanya mama antusias.


"Tidak!" seru Eca sambil menyilangkan tangan.


"hahaha . . . Oke-oke. Kalau kamu bisa turun 3 kg lagi, mama kasih hadiah tiket liburan saat liburan semester ini."


"wow!! Yang bener ma?! Janji ya!"


"iya. Tapi bareng Gian ya. Biar ada yang awasi."


"Lah???"


"kalau kamu mau undang teman kamu yang lain juga boleh."


"hore!!" seru Eca kegirangan.


***

__ADS_1


__ADS_2