RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 32


__ADS_3

Eca memandang datar jendela kamar. Menopang dagu melihat ke arah luar. Awan sudah gelap, suara angin yang bergesekan dengan dedaunan dan suara jangkrik yang sahut-sahutan. Malam yang merebut perhatian Eca dan membuka kembali lembaran peristiwa yang terjadi dalam hidupnya akhir-akhir ini.


Dia menghela nafas. Kali ini menatap miris pada handphone yang tergeletak tak berdaya di atas meja belajar. Dia kembali ingat saat membaca pesan dari Gian. Pria itu menjelaskan bahwa kejadian sepulang sekolah itu hanyalah salah paham. Dia terpaksa mengambil bingkisan dari Rani karna tidak ingin gadis itu malu di depan banyaknya siswa yang menyoraki mereka dengan antusias. Eca perlu mengancungi jempol untuk sikap gentle Gian. Namun disaat bersamaan Eca juga memikirkan kalau Gian adalah pria yang payah. Daripada menjelaskan perasaannya dia lebih memilih meluruskan situasi yang terjadi. Jika Gian sudah menjelaskannya, setelah itu apa? Apa maksud dari Gian melakukan itu?


Gian juga menambahkan pesan jika dia mengajak Eca untuk menjadi pasangannya dalam pesta perayaan kelulusan yang akan dilaksanakan pada malam minggu. Dengan cepat Eca menolaknya. Dia tidak ingin merusak ekspetasi banyak siswa yang sudah menantikan penampilan Gian dan Rani pada pesta kelulusan. Eca tidak mau dicap menjadi perusak hubungan orang. Bagaimana pun siswa yang lain sudah meyakini mereka pacaran. Di grup kelas saja sudah penuh dengan notifikasi kehebohan Rani saat menembak Gian.


"sadarlah Eca kau bukan siapa-siapanya" celetuk Eca sambil memukul kepalanya.


Tok. . . Tok . . .


Pintu diketuk dari luar. Eca beranjak dari tempat tidur dan membuka pintu. Dia terkejut melihat sang papa yang datang sambil menenteng martabak manis. Dari plastiknya bisa Eca tebak itu adalah martabak kesukaannya.


"bisa papa bicara sama kamu di dalam? Sambil makan." ucap papa sambil mengangkat plastik martabak.


Eca tidak berbicara. Isyarat kepalanya yang mengangguk menjadi izin bahwa sang papa boleh masuk. Mereka duduk di depan jendela yang terbuka dengan lebar. Angin malam menerpa keduanya. Dengan sigap sang papa mengambil selimut dan menyelimuti Eca. Dia juga membuka martabak dan memberikan sepotong pada Eca.


"papa merasa bersalah melihat kamu kehilangan banyak berat badan. Makanlah, ini martabak favoritmukan?"


Eca mengangguk lagi. Dia memakan martabak dalam diam. Eca mengunyah makanan sangat pelan. Entah mengapa tenggorokkannya seakan penuh. Apabila dia memakan dengan cepat sudah dipastikan dia akan tersedak.


"papa bukanlah suami yang baik." lirih papa menundukkan kepala.


Eca menelan paksa makanannya. Dia lalu meminum air yang sudah disimpan dalam botol minum. Setelah dirasa sudah menelan makanan dengan sempurna barulah Eca berbicara.


"kenapa papa melakukannya?" tanya Eca sangat pelan sambil meremas tangan.


"ketika seseorang berada di puncak dia akan terus kelaparan meskipun dia sudah memiliki makanan. Jika dia melihat ada makanan lain yang lebih menggiurkan dia pasti ingin memakannya. Entah karna mau atau naluri untuk memuaskan diri sebagai bayaran untuk jerih lelahnya yang berjalan sampai puncak. Kamu tau Eca, itu yang papa rasakan."


"apa papa tidak mencintai mama lagi?"


Papa menggeleng pelan. Dia menarik nafas dan menghembuskan dengan lambat. Menutup mata dan menikmati angin yang menyapu helaian rambutnya yang terdapat beberapa warna putih. Dibukanya kedua mata dan menatap jauh ke arah bulan sabit yang bersinar cukup terang.

__ADS_1


"papa mencintai mama. Dia adalah perempuan spesial dihidup papa. Dia menjadi lebih tegas setelah melahirkan kalian. Sebagian besar prioritasnya terletak pada kalian. Papa yang kurang bersyukur merasa mama mulai mengabaikan papa. Lalu datanglah perempuan lain yang memberikan perhatian kecil dan melakukan setiap perkataan. Oleh karenanya semua menjadi tak terkendali hingga saat ini."


Eca melihat papa yang menatap dalam ke arah bulan sabit dengan air mata yang mengalir di pipi kiri. Dia menghapus jejak air mata. Mengernyit pelan saat melempar pandangan ke atas langit.


"maaf jika kehadiran kami membuat perhatian mama terbagi." lirih Eca sambil meremas jarinya menyalurkan rasa sakit yang menjalar disekitar dadanya.


"tidak. Kalian tidak salah. Papalah yang bersalah disini. Justru papa sangat bersyukur karna mama lebih memperhatikan kalian. Itu sebabnya kalian tumbuh luar biasa seperti sekarang."


Mereka berdua melihat langit yang dipenuhi oleh bintang dan bulan sabit. Sangat cantik. Namun tidak mampu mengisi perasaan mereka dengan kebahagiaan. Mereka menatap keindahan itu dengan air mata yang terus mengalir. Dengan pikiran yang sudah terbang jauh entah kemana. Tidak ada satu pun diantara mereka yang memuji keindahan malam ini. Berhanyut dalam kesedihan yang memeluk raga. Memenjarakan pikiran pada berbagai rasa kecewa dan amarah. Perasaan mereka melebur dan mengaburkan pandangan pada keindahan yang tersaji di depan mata.


Papa beranjak dari duduk. Mengecup kening Eca pelan. Tidak lupa menghapus air mata sang putri bungsu. Sebelum benar-benar pergi, Eca berbicara.


"papa dan mama akan baik-baik sajakan?" tanya Eca menatap papa dengan penuh harap.


"papa usahakan. Kamu habiskan martabaknya. Tolong banyak makan." ucap papa sambil tersenyum lebar.


"papa janji dulu, kalau mama dan papa akan baik-baik saja."


***


Eca memakan bekalnya dengan sangat lahap. Tidak tanggung-tanggung, Eca memakan nasi, ayam goreng, sayur, jus buah dan satu buah donat ukuran besar. Beberapa temannya dalam kelas menatap takjub dengan porsi makan Eca yang sangat banyak.


"tidak diet lagi Ca?" tanya salah seorang temannya.


"aku udah terlalu kurus begini. Aku mau menaikan berat badan sedikit."


"hati-hati Ca kebablasan. Mau kayak badan kamu yang kemarin lagi?"


"tidak sampai segitunyalah."


"Ca ada Gian nyariin kamu!" seru temannya dari luar kelas.

__ADS_1


Gian masuk dalam kelas. Tepat saat pria itu duduk di kursi depan meja, Eca sudah selesai dengan semua makanannya. Dia menatap Gian sekilas lalu kembali berkutat untuk membereskan tempat bekal.


"kenapa kamu tidak mau jadi pasangan aku di perayaan kelulusan?"


"tidak. Terima kasih Gian." cetus Eca sambil menyilangkan tangannya.


"kenapa??"


"cewekmu nanti marah."


"dia bukan pacar aku betulan Ca. Akukan sudah bilang, aku hanya kasihan sama dia kemarin." jelas Gian memelankan suaranya.


"sama aja dia statusnya tetap cewek kamu. Mending kamu bareng dia deh."


"kamu mau aku bareng dia?"


"ya seharusnya begitu kan?"


Gian menghembuskan nafas kasar. Dia mengacak rambutnya sambil berdecak. Gian menatap Eca dengan lelah. Berharap Eca mau luluh kali ini.


"Ca aku mohon."


Namun pertahanan Eca sangat kuat. Dia bahkan tidak iba sedikit pun pada raut wajah Gian yang memelas. Dia hanya menatap datar pada pria itu. Menatap lurus kedua mata pria di depannya.


"fine! Siapa pasangan kamu di sana?"


"hm . . . Rahasia."


"siapa sih Ca? Aku kenal orangnya? Atau mantan kamu?"


"kamu lihat aja hari sabtu."

__ADS_1


***


__ADS_2