
Proses perceraian kedua orangtua Eca berjalan dengan lancar. Hanya membutuhkan 3 bulan untuk menuntaskan perceraian sampai sah dinyatakan berpisah oleh hakim. Masih terekam dalam ingatan Eca saat mama keluar dari sidang, dia berjalan dengan senyum yang mengembang di wajahnya yang sudah tidak muda lagi, sudut matanya ikut menyipit. Tidak dapat dipungkiri, itu adalah senyum paling bahagia yang dilihat Eca selama 1 tahun belakangan. Entah mengapa dengan senyum itu aura mama lebih keluar dan dia tampak beratus kali lipat lebih cantik dari biasanya. Meskipun tidak bisa dikatakan muda lagi tapi mama Eca tidaklah tampak tua. Beban pikiran yang ditanggung wanita itu selama satu tahun menutupi kecantikan yang selama ini tersembunyi.
Kini senyum mama yang indah muncul kembali. Sudah lama sekali Eca tidak melihat senyum itu, mungkin saat mereka masih remaja dia masih menyaksikan senyum itu. Wajah mama jauh lebih berseri dan anggun. Dia berjalan ke arah Eca dan Erna yang sudah menunggu dari luar. Tidak segan-segan mama menubruk keduanya dan memeluk mereka dengan erat sambil berbisik mama menyampaikan bahwa dia ingin hidup lebih bahagia. Eca dan Erna yang awalnya sangat sedih tidak bisa menahan senyum mereka. Sekarang mereka sadar bahwa kebahagian mama adalah kebebasan yang mungkin sudah dinanti sejak dulu.
Tidak lama mama berpelukan dengan anak-anaknya, papa keluar seperti memikul beban berat dipundaknya, dia terus menunduk. Lalu dia mengangkat kepala dan menatap ketiga perempuan di depannya. Wajah papa sangat kusut, lingkaran hitam dibawah mata tampak sangat jelas, badan papa menjadi lebih kurus dan rambutnya kelihatan lebih banyak berkurang. Pria di depan mereka seperti bukan papa yang mereka kenal. Penampilan sosok itu sangat berbeda jauh dari yang terakhir kali mereka lihat sebelum memutuskan keluar dari rumah.
"Pa" lirih Eca menatap iba sang papa.
"hai sayang. Apa kabar?" tanya papa dengan suara pelan yang serak.
"baik. Papa?"
Papa tidak menjawab. Dia hanya tersenyum kecil. Tidak perlu menjawab pun Eca sudah tau kalau papanya tidak baik-baik saja. Tapi Eca tidak bisa berbuat banyak. Papanya sudah memilih jalannya sendiri jadi tidak ada yang perlu disesali lagi mungkin ada kekecewaan tapi tidak bisa melakukan apa-apa lagi.
"kabar kamu bagaimana kak?" tanya papa sambil menatap Erna dengan senyum tulus.
Erna tidak menjawab. Dia memalingkan wajah dari sang papa. Rasa kesal dan kecewa kepada papa sangat besar. Meskipun dia masih menyayangi papa tapi pria itu juga yang telah menyakiti mamanya dengan begitu dalam. Pria tersebut juga memilih menghancurkan keluarga mereka dengan berselingkuh. Oleh karena itu, mengabaikan pria di depannya saat ini bukanlah masalah besar. Papa telah menentukan pilihannya maka Erna berpikir perlu menentukan pilihannya juga meskipun dengan mengabaikan papa.
Papa tersenyum kecut saat melihat putri sulungnya yang enggan berinteraksi dengannya. Dia menghela nafas dalam. Jantungnya terasa disobek dan ditabur dengan garam disaat bersamaan. Diabaikan oleh putri yang telah dia rawat dari kecil, yang sejak kecil selalu bermanja-manja dengannya, yang menunggu kepulangannya dengan kaki yang baru belajar berjalan, atau menyambutnya dengan tawa hangat sambil memamerkan gambaran baru dari TK. Sungguh papa tidak sanggup untuk mengingatnya, rasa bersalah menyebar diseluruh sel dalam tubuhnya hingga menekan dadanya dengan kuat yang membuat papa kesulitan bernafas. Sekali lagi dia mengambil nafas dalam dan mengeluarkannya.
Papa menggeser pandangan pada wanita yang pernah dipanggilnya istri setidaknya sampai sebelum sidang tadi, wanita yang pernah menjadi tulang rusuknya, wanita yang telah menemaninya dari masih menjadi pengawai tidak tetap sampai menjadi direktur di perusahaan, wanita yang melahirkan dua putri yang cantik dan hebat bagi mereka, dan wanita yang pernah menyambutnya setiap hari pulang dari kantor. Rasa bersalah yang begitu besar seperti menghantam kepala papa dengan sangat kuat hingga matanya mulai buram. Banyak air yang menggenang dibola matanya, sekali saja dia berkedip mungkin akan mengalir seperti derasnya air hujan. Dia menatap mama dengan sangat dalam, menyesapi bola mata wanita belahan hatinya. Tapi tidak lagi, setelah mama membalas dengan tatapan tidak nyaman. Papa menundukkan kepala sebentar untuk mengusap sudut matanya, dengan mata memerah dia berbicara dengan mama.
__ADS_1
"terimakasih banyak untuk semuanya. Aku harap kamu bahagia tapi jangan lebih bahagia" kata papa dengan tulus.
"aku-" sangat mencintaimu, lanjut papa dalam hati.
"ck makasih mas. Tolong istirahatlah setelah ini, kamu sudah seperti mayat berjalan sekarang." jawab mama dengan sedikit kesal.
"hahaha . . ." tawa papa dengan renyah.
Eca heran dengan papanya, jelas sekali pria tua itu masih mencintai mama. Eca bisa melihat dari pandangan papa yang sangat dalam dan berbeda dengan mama, seperti pria memandang wanitanya dengan mendamba. Namun Eca heran, kenapa papanya memilih selingkuh? Ah! Eca baru ingat saat itu papanya pernah bilang jika seseorang berada di puncak dia akan semakin lapar. Harusnya papanya lebih memilih memakan yang sudah dimilikinya daripada makanan orang lain. Memang keserakahan seseorang sangat menakutkan. Bukannya memperoleh lebih banyak justru dia kehilangan yang paling berharga.
Hari itu mereka berpisah, Eca, Erna dan mama pergi menggunakan mobil ke rumah sedangkan papa pergi ke tempat barunya bersama dengan seorang perempuan yang sudah menunggu di samping mobil. Eca melihat perempuan itu dengan perut yang sedikit membuncit. Wanita itu menggunakan pakaian press body yang membentuk tubuhnya sehingga siapa pun dapat melihat bahwa dia tengah berbadan dua. Dia menyambut papa dengan senyum manja dan langsung mengecup pipi papa yang membuat Eca mual melihatnya. Sebelum mobil yang membawa Eca benar-benar pergi dari sana, dapat Eca lihat wajah papanya yang tidak senang sama sekali.
***
Sudah dua bulan Eca rutin latihan menggambar alis ala korea dengan serius. Jujur dia sangat trauma pada awal-awal karna alisnya seperti sinchan. Erna dan mama tidak berhenti mengejeknya selama tiga hari penuh karna insiden tersebut. Dengan tekad yang besar, Eca memutuskan untuk mencoba menggambar alis hampir setiap hari kadang tangannya sampai kebas. Namun, seperti kata pepatah usaha tidak akan menghianati hasil, benar saja Eca mulai bisa menggambar alis ala korea meskipun masih belum sempurna.
Menggambar alis adalah suatu ritual penting bagi Eca karna dia sangat ingin membuat alis natural dengan lebih cepat. Terkadang dia iri melihat make-up artis yang sat set sat set jadi. Kalau Eca dia mesti membutuhkan banyak waktu untuk melakukannya karna tangan Eca masih suka tremor saat memegang pensil alis. Saat asik-asiknya belajar menggambar alis, handphone Eca bergetar. Dia melirik dan terkejut melihat nama kontak yang muncul langsung saja dia menekan tombol hijau.
"Ha-halo"
"Halo Eca. Maaf baru bisa hubungi kamu. Kamu baik?"
__ADS_1
"i-iya" jawab Eca dengan gugup, udah sekian lama dia tidak mendengar suara pria itu yang suaranya terdengar semakin berat.
"syukurlah. Aku dengar orangtua kamu pisah, kamu tidak apa-apa?" tanya Gian dengan nada khawatir.
"awalnya aku sangat sedih tapi setelah melihat mama yang jadi lebih bahagia, aku akhirnya menerimanya dengan lapang dada. Kamu sendiri bagaimana? Ma-maksudku-"
"tidak apa-apa. Aku tidak akan tersinggung. Emang kenyataannya papaku korupsi. Justru aku sangat malu."
"yang melakukannya adalah papa kamu bukan kamu, Gian. Jangan sedih begitu! Ingat, kamu jangan down karna hal ini."
"i-iya makasih. Eh bentar Ca." kata Gian mulai berbicara dengan orang lain disana.
Eca dapat mendengar keributan dari handphone-nya. Sepertinya Gian berada ditempat banyak orang. Eca dapat mendengar beberapa orang berbicara. Dengan sabar Eca menunggu hingga dia sedikit tersentak dengan bentakan orang lain dari arah sana.
"Gi-gian kamu tidak apa-apa?" tanya Eca khawatir.
"maaf Eca, kamu terkejut?"
"tidak, tapi-"
"aku harap bisa bertemu kamu lagi. Udah dulu ya wartawan sudah semakin banyak." potong Gian dengan suara tergesa-gesa.
__ADS_1
Setelah Gian menyelesaikan kalimatnya, langsung saja dia mematikan sambungan telepon. Eca menatap handphone-nya dengan nanar. Apa yang sedang terjadi dengan pria itu? Kenapa wartawan mengejarnya padahal papa Gianlah yang salah harusnya mereka mengejar papa Gian saja. Kadang Eca tidak habis pikir dengan tindakan para wartawan.
***