
Eca berjalan menyusuri kelas di tempatnya les. Tas tersampir dibahu dengan menenteng satu payung ditangan sebelah kiri. Tidak ada satu orang pun siswa yang berlalu lalang. Hanya beberapa pengajar yang terlihat sibuk dengan urusannya. Ada sekitar 10 menit Eca terlambat. Namun dia memilih berjalan santai. Dia terlalu lelah untuk berlari. Sepulang dari sekolah Eca makan, mandi, telfonan sebentar dengan pujaan hati, menyusun buku les dan berangkat ke tempat les. Dia tidak sempat tidur siang. Makanya sore ini dia sedikit lemas. Terlalu malas untuk membuang-buang energi untuk berlari ke kelas. Toh tetap saja dia terlambat.
"permisi Miss. Maaf saya datang terlambat."
"mmm. Silahkan duduk Eca"
Eca berjalan dengan pelan ke kursinya. Dia bertatapan mata dengan Cio. Langsung saja dia membuang muka. Dibalas Cio dengan berdecak kecil.
"Eca babi, kau terlambat sekali hari ini. Ketiduran pasti. Dasar kebo." bisik Cio dari belakang.
Eca mengatur nafas. Melupakan omongan setan yang ada di belakangnya. Dia menatap ke sebelah dan tersenyum manis pada Yuyu. Yang dibalas Yuyu dengan tersenyum lebih lebar.
"kenapa terlambat Ca?"
"aku terlambat pulang sekolah tadi."
"pasti pacaran dulu dia Yu di sekolah. Bukannya langsung pulang." bisik Cio.
Eca tidak menjawab tapi memberikan lirikan maut. Mengangkat kepalan tangannya ke arah Cio. Bukannya takut, Cio malah memeletkan lidah sambil memasang wajah konyol.
***
Anak-anak les berhamburan keluar saat pelajaran selesai. Kelas berjalan cukup menegangkan hari ini karna kuis dadakan dari Miss Fika. Hal itu sukses membuat kepala Eca terasa mau pecah. Soal-soal diambil dari Ujian nasional tahun lalu. Eca pasrah tidak bisa menjawab soal kuis. Mau bagaimana pun dia berusaha memikirkan jawabannya tetap saja buntu. Dia hanya mencoret-coret kertas sambil berpura-pura berpikir agar tidak kelihatan bodoh saja. Padahal dia asik memikirkan martabak yang mau dia beli sepulang les. Rasa apa yang pas untuk dimakan malam ini.
"Ca, ngapain bawa payung? kan udah gak hujan lagi."
"oh iya untung kamu ingatkan Yu. Ini milik Gian. Btw, Gian kemana?"
"udah jalan. Coba lihat ke depan kalau masih ada."
"oke, deluan ya."
Eca berlari mencari keberadaan Gian. Jangan sampai pria itu pergi deluan. Dia harus mengembalikan payung ini. Dia malas terus-terusan membawa payung pria itu.
"Gian!"
"Gian stop!"
Gian hanya menoleh sebentar, lalu melangkah menjauh lagi. Eca mengumpat kecil. Nafasnya sudah putus-putus. Resiko punya berat badan berlebih jadi lebih gampang capek. Namun dia harus mempercepat gerakkan kakinya. Setelah sampai di sebelah Gian dia menahan pria itu.
"i-ini p-payung kamu tadi." kata Eca ngos-ngosan.
"ambil aja."
__ADS_1
"gak ah! Ini payung kamu."
"kan aku udah bilang. Payung itu udah kamu pegang. Aku gak mau pegang lagi."
"wah! Segitu jijiknya kamu sama aku?! Aku gak punya penyakit tertular kalau kamu mau tau!" Eca menaikan nada suaranya. harga dirinya ikut tersentil.
"sayangnya iya."
"sialan!" Eca menolak Gian dengan kuat sambil menatap pria itu geram.
"AKU BILANG JANGAN SENTUH" balik Gian menyerang dengan menekan setiap kata-katanya.
Eca sedikit takut mendengar kalimat Gian yang terdengar tidak main-main. Ternyata pria itu jijik padanya. Dia secara terang-terangan membenci Eca.
"o-oke, payung nya buat aku aja. Gak apa-apa payung gratis ini. Wleee makasih payung gratisnya jadi uang aku gak habis beli payung. Aku akaaaan gunakan payung ini dengan baik." ucap Eca setenang mungkin meskipun jantungnya mulai bergemuruh karna pelototan Gian.
"cih!" Gian pergi meninggalkan Eca.
Eca menatap punggung itu dengan penuh kebencian. Tidak pernah dia diperlakukan seperti ini sebelumnya. Serius, dianggap jijik oleh orang lain sangat melukai harga diri Eca. Memang banyak yang menghina Eca tapi tidak pernah ada yang terang-terangan seperti Gian. Memang banyak yang menjauhi tapi tidak pernah mengatakannya dengan langsung. Entah mengapa, mendengar kalimat itu di depan wajahnya seperti meremas jantung Eca. Sakit sekali. Dia merasa tidak ada harga dirinya sebagai manusia. Padahal dia sudah berupaya menghargai pria itu dengan mengembalikan baik-baik. Bukannya dihargai dia malah dihina. Segala hal baik yang ada pada pria itu seakan rontok dari pemikirian Eca semenjak mendengar kalimat Gian.
Gadis itu meremas roknya dengan kuat. Menahan air matanya untuk tidak jatuh. Dia tidak mau terlihat cengeng. Namun, dia tidak bisa menahannya lagi. Dia menunduk dengan dalam. Sebutir jatuh, Eca langsung mengusapnya. Sebutir lagi jatuh, Eca kembali mengusapnya. Sambil berjalan menuju tempat pemberhentian bus, Eca terus melakukan hal yang sama.
Sesampainya dirumah, Eca segera masuk kamar. Mengunci pintu rapat. Membanting diri ke ranjang dan menenggelamkan wajahnya dibantal. Handphone-nya bergetar tapi tidak dihiraukan oleh Eca. Hingga benda itu berhenti bergetar, Eca masih belum mau beranjak dari posisinya. Perlahan matanya mulai berat dan kantuk menyerang.
"Eca bangun Ca."
"Eca bangun! Kata mama kamu belum makan daritadi!"
"iya iya bentar." jawab Eca serak, berusaha mengembalikan nyawanya.
"cepat Eca!"
"iya iya" sambil membuka pintu.
"eh kamu kenapa? Habis nangis?"
"gak cuma ke capek-an aja tadi jadi mata aku gembung."
"aku lebih deluan lahir dari kamu. Gak usah sok sok berbohong."
"bener kak." rengek Eca tidak mau dibantah.
"ck cepet turun. Makan."
__ADS_1
"malas. Mau makan martabak. Kita beli ya kak?" kata Eca sambil memelas.
"yaudah siap-siap. Kakak tunggu di bawah."
"oke."
Disinilah Eca dan Erna sekarang ditaman kota sambil menikmati martabak keju coklat dengan masing-masing jus jeruk yang dibungkus. Kakaknya tetap mengingatkan untuk mengonsumsi buah karna makanan mereka mengandung banyak lemak. Eca pasrah saja yang penting keinginannya tercapai untuk makan martabak malam ini.
"bagaimana sekolah kamu?"
"lancar."
"gak ada yang hajar atau bully kamu?"
Eca terdiam sebentar. Kemudian menggelengkan kepala. Tidak mungkin dia memberitahu kakaknya kalau Gian tadi menghinanya. Bisa mampus Gian didatangi Erna ke rumah pria itu. Erna itu brutal. Jangan tertipu dengan tampang elegannya, dia akan berubah jadi binatang buas jika ada yang mengusik Eca.
"kerjaan kakak bagaimana?"
"ya gitulah. Lancar sih iya tapi tetap ada tekanan dari atasan. Bos kakak rada-rada gila. Hari ini baik besok moodnya hancur lebur. Dua hari berikutnya baik lagi eh tiga hari berikutnya hancur lagi. Setiap hari kerjaan kita menebak mood bos."
"hahahah. . . Seru yah kak."
"kepalamu yang seru!" balas Erna sewot.
"aku pengen cepat-cepat kerja deh."
"menyesal kamu nanti kalau udah di umur kakak. Nikmati waktu kamu sebaik mungkin sekarang. Belajar, bermain atau pacaran. Puasin diri kamu. Karna kalau udah masuk dunia kerja. Kalau mau liburan panjang harus cuti dulu itu pun kalau perusahaan mau proses."
"wah susah juga."
"emang!"
"hahahah. . . Kakak kayak sewot banget bicara tentang kerjaan."
Erna menghela nafas. Dia memikirkan kata-kata yang tepat. Kalimat yang tidak membuat Eca bingung tapi bisa dipahami oleh adiknya.
"begini Ca. Kalau udah dewasa. Kita dituntut bekerja secara naluri juga kita mau bekerja. Dalam bekerja kita diberikan tanggungjawab. Kita harus melakukannya dengan sebaik mungkin kalau tidak orang lain akan menyalahkan kita atau diri kita sendiri yang menyalahkan diri kita. Dimasa ini tidak semua orang sanggup menghadapinya. Aku berharap kamu puasin masa muda kamu dengan diri sendiri dan bentuk diri kamu sebaik mungkin. Jadi ketika usia kamu dewasa pemikiran kamu juga dewasa."
"meskipun dibentuk dengan cara menyakitkan."
"ya. Dalam cara menyakitkan sekalipun."
Eca menghela nafas pelan. Tapi sebagian dari diri Eca tidak menerima. Menurutnya kalau kita berbuat baik, orang itu harus berbuat baik. Sehingga terciptanya keseimbangan dan kedamaian. Tapi dia tidak menemukannya hari ini. Dan dia marah akan hal itu.
__ADS_1
***