RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 21


__ADS_3

Buku-buku berserakan diatas meja. Ada beberapa stabilo dan pena warna warni yang ikut berserakan. Namun hal itu tidak mengganggu Eca sama sekali. Dia asik mencatat bagian penting yang dijelaskan Gian. Sesekali dia mengganti pena pada tulisannya. Selain lebih menarik, hal itu membantu Eca untuk dapat membedakan beberapa bagian dari catatannya.


Selesai mencatat, Gian menyodorkan soal kepada Eca. Perempuan itu menerimanya dan mengerjakan soal. Eca mencoba mengingat rumus yang sebelumnya sudah dicatat. Kemudian, dia menggunakan rumus tersebut untuk menjawab soal. Eca membutuhkan waktu 45 menit untuk mengerjakan 20 soal.


Selesai mengerjakan soal, Gian memeriksa lembar jawaban Eca. Dari 20 soal, terdapat 6 yang salah. Gian memberitahukan kesalahan Eca. Dia juga memberitahukan cara cepat mengerjakan soal supaya Eca tidak banyak membuang waktu. Saat Gian menjelaskan sesekali Eca mencatatnya dalam buku. Dia perlu menulisnya segera atau dia akan lupa.


Gian kembali memberi soal. Pria itu ingin memastikan materi hari ini benar-benar tuntas. Kepala Eca mulai pusing tapi dia tertantang juga untuk mengerjakannya. Dia mencoba menggunakan cara cepat yang Gian telah ajarkan. Tidak lupa dia kembali memeriksa jawabannya. Dia tidak mau ada yang salah kali ini.


Barulah senyum Eca mulai lebar saat Gian menceklis benar semua pada lembar jawabannya. Dia melakukan peregangan kecil. Otot-ototnya mulai kaku karna duduk cukup lama.


"udah selesai belajarnya?" tanya mama dari pintu.


"udah tan."


"jangan langsung pulang dulu ya, Gian. Tante udah masak nasi bakar. Makan dulu ya bareng Eca."


"oke tan."


Eca segera membereskan buku dan berbagai alat tulis lainnya. Kemudian berjalan menuju meja makan yang di ikuti Gian dari belakang. Dia atas meja sudah tersedia dua nasi bakar beserta sendok dan garpu.


"ambilin air Ca buat kalian."


"iya ma."


Eca berjalan mengambil dua gelas. Secara bergantian dia menekan tombol di dispenser ke dalam gelas. Dia mencampur air dingin dan air hangat. Meletakkan satu gelas di samping piring Gian dan satu gelas lagi disamping piringnya.


"makan yang banyak ya Gian. Kalau kurang masih ada dilemari."


"iya tan, makasih."


"tante menonton dulu ya."


"oke tan."


Baik Eca dan Gian makan dalam diam. Selain menikmati makanan, mereka juga masih canggung jika hanya berdua kalau bukan urusan belajar. Suasana sangat hening. Hanya terdengar pergerakkan sendok. Lama-lama Eca bosan juga. Akhirnya dia memilih berbicara untuk memecah keheningan.


"kok kamu mau ngajarin aku les?"


"terpaksa. Kan aku pernah bilang."


"karna mama aku teman mama kamu jadi kamu terpaksa melakukan?"


Gian berdehem sebentar. Lalu dia minum. Setelah dirasa makannya sudah turun, barulah dia mulai bicara lagi.


"waktu itu mama kamu datang kerumah sambil nangis-nangis. Katanya dia sedih karna anak terakhirnya tidak mau belajar sungguh-sungguh. Akhirnya mama aku sok ngide buat bantu anak mama kamu."


"kamu gak nolak?" tanya Eca menghentikan suapannya.


"aku nolak waktu mama aku bilang kayak gitu. Tapi aku gak bisa nolak lagi saat mama kamu memohon sambil nangis-nangis."


Eca menghembuskan nafas pelan. Dia kembali merasa bersalah. Dia mengingat kejadian waktu mamanya marah dan menangis karna nilai Eca tidak ada perkembangan sama sekali. Mengingat itu mata Eca berkaca-kaca.

__ADS_1


"aku sempat heran kamu mau ajari aku, padahal kamu benci banget sama aku."


"iya. Tapi terpaksa. Mau bagaimana lagi?."


"hahaha . . . diiyain lagi." tawa Eca pada kejujuran Gian.


Gian tersenyum kecil. Eca menatap makananya. Tapi bukan nasi bakar yang ada dipikirannya saat ini.


"kamu kok bisa benci sama aku?" tanya Eca sambil menatap Gian.


"mungkin karna kamu tidak menarik?"


"wah gila. Kenapa kejujuranmu kali ini membuatku panas ya?!"


"hahaha . . . " Gian tertawa renyah.


Melihat Gian pertama kali tertawa, membuat Eca terpana. Ternyata Gian berkali-kali lipat lebih manis saat tertawa. Matanya menyipit dan giginya yang rapi akan muncul sempurna saat dia tertawa.


'Wow' batin Eca.


"aku suka belajar. Jadi apapun yang berkaitan dengan belajar maka aku akan tertarik. Begitu juga sebaliknya. Apapun yang membenci belajar membuat aku tidak tertarik pada hal itu." jelas Gian.


"kamu benar-benar gila belajar Gian!"


"hahaha . . . Begitulah."


'Aduh jangan ketawa, gak kuat lihatnya', batin Eca.


"biasa aja."


"ck!"


"kamu mau jadi teman aku?" tanya Eca.


"boleh dicoba."


Eca tersenyum mendengar jawaban Gian. Dia menoleh kesamping dan mengulurkan tangan kepada Gian. Mengajak pria itu salaman. Tapi Gian tidak mengerti. Dia menaikan satu alis keatas dan menatap Eca penuh tanya.


"salaman. Bukti kita temanan hari ini."


"oho."


Gian menyeka tangan dengan tisu lebih dulu. Setelah dirasa bersih barulah dia menyodorkan tangan. Membalas jabatan tangan Eca dengan hangat.


"oke, kita resmi temanan hari ini."


Gian mengangguk. Mereka kemudian melepas jabatan tangan dan lanjut memakan nasi bakar. Gian meminum air. Lalu menoleh kearah Eca.


"kamu gak apa-apa tadi?" tanya Gian.


"kenapa?"

__ADS_1


"soal Nehan."


Eca menghela nafas pelan. Ada jeda sebentar. Kemudian Eca meneguk minumannya hingga habis.


"aku sedih banget sebenarnya. Dan aku juga jijik diwaktu bersamaan."


"karna dia pegangan tangan sama cewek itu?"


"tidak. Well, itu salah satunya. Tapi ada hal yang membuat aku lebih jijik atau lebih tepatnya marah pada Nehan."


"aku pernah lihat dia ciuman dengan Tia di rooftop. Bahkan mereka sampai *****-*****." lanjut Eca.


"ha?!"


"iya aku gak bohong. Aku intip mereka. Dia belum tau soal ini."


Gian mengangguk-angguk. Kemudian kembali menyuapkan nasi kedalam mulutnya. Dia mendengarkan pembicaraan Eca sambil makan.


"aku gak mau mutusin dia dulu sebenarnya. Aku mau manas-manasin Tia. Tapi aku keburu terprovokasi sama Cio. Yaudah aku putusin aja. Lagian aku benci lihat kebersamaan mereka."


"kamu masih suka sama Nehan?"


"gak tau. Bisa jadi sih. Tapi aku cuma sayang aja dengan kenangan kami selama ini."


Gian kembali mengangguk. Seolah-olah dia mengerti dengan apa yang Eca rasakan saat ini. Dia tidak banyak menjawab kali ini. Dia hanya aktif menganggukan kepala.


"gak gampang melupakan orang yang tulus sama kita."


Gian kembali mengangguk. Dia berdiri sambil membawa piring dan gelas ke wastafel. Dia menuangkan sabun pecuci piring dan menyuci piringnya.


"eh, gausah Gian biar aku aja yang cuci nanti."


"gak apa-apa. Ini piring aku yang pakai jadi aku harus mencucinya."


Eca menatap Gian yang mencuci piring. Ternyata dia bisa juga cuci piring. Eca pikir dia tidak bisa karna bagaimana pun Gian dari keluarga kaya. Bapaknya adalah salah satu pejabat di Indonesia. Gian juga sering menggunakan mobil yang berbeda-beda. Eca berpikir Gian seperti kebanyakan anak orang kaya yang apa-apa dilakukan oleh asisten rumah tangga. Tapi siapa sangka Gian bisa mencuci piring dengan bersih. Eca cukup takjub.


"mau aku cuci piring kamu sekalian?" tanya Gian saat melihat Eca udah selesai makan.


"tidak. biar aku aja."


"oke."


"eh awas Ca!" seru Gian sambil menggeser pinggang Eca.


"kenapa?"


"itu jatuh."


Ternyata dia menyenggol botol pencuci piring. Eca jadi blank karna Gian memegang pinggangnya. Untung saja botol tersebut tertutup rapat. Tapi apesnya, Eca jadi deg-degan karna entah sadar atau tidak tangan Gian masih dipinggangnya.


***

__ADS_1


__ADS_2