RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 38


__ADS_3

Kelas sudah berakhir sejak setengah jam lalu tapi Eca singgah di kantin kampus untuk menikmati pecal dan kerupuk kulit. Seperti menemukan air di tengah gurun sahara, Eca juga kesampaian mengisi perut yang sudah meronta-ronta sejak mata kuliah kedua.


Eca makan sangat lahap melupakan kamera yang sedang mengambil videonya. Biasanya dia akan berinteraksi tapi kali ini perhatiannya terdistraksi dengan makan lezat yang ada di atas meja.


"hehehe maaf Ecis, makanannya terlalu enak sampai kelupaan buat berkomentar. Ini pecalnya aku rating 9/10 dan jangan lupa kerupuk kulitnya 10/10, tidak ada duanya deh!"


Sejenak Eca meminum air es lalu menatap ke kamera kembali. Dia tersenyum dengan lebar sambil memperhatikan sisa makanan yang tertinggal disekitar wajah. Untung saja tidak ada makanan yang menempel.


"oke Ecis, aku mau cabut setelah ini. Bye!"


Eca menutup kamera ponselnya. Dia tersenyum lega serangkaian kegiatannya mulai dari pagi sampai saat ini sudah terekam beberapa bagian. Dia sudah menyusun jadwal hari ini untuk mengambil video a day in my life pada channel yout*be-nya. Sebenarnya channel Eca berfokus dengan segala hal yang berhubungan dengan kecantikan tapi demi memenuhi permintaan para penonton yang sering dia panggil 'Ecis' untuk membuat video keseharian makanya Eca rela merekam kegiatannya hari ini.


Drrt . . .


"halo ma."


"datang ke tempat kerja mama sekarang. Bos mama membutuhkan kamu untuk mencoba resep barunya."


"siap ma, Eca siap menampung."


"cepetan dia dari tadi rewel mulu tanyain kamu. Udah tua juga banyak maunya!"


"hehehe . . . Jangan ejek Om Surya ma! Dia itu partner bisnis aku."


"bisnis apaan yang ada kamu habisin semua isi tokonya. Udah cepat ke sini. Hati-hati di jalan jangan main hp mulu!"


"iya ma, iya."


Eca tersenyum lebar. Mama-nya sangat bersemangat hari ini terbukti dari dia yang sangat semangat mengomeli Eca. Dia bersyukur sekarang mama jauh lebih baik. Tidak ada lagi bayang-bayang perceraian yang menghantuinya setiap malam yang membuat mama sulit tidur di malam hari. Berkat bekerja di toko kue dan rutin melakukan meditasi membuat kondisi mama pulih dengan cepat.


Selama beberapa bulan terakhir banyak hal yang telah terjadi. Eca memutuskan membuat akun yout*be setelah selesai kursus salon. Erna mulai menjalin hubungan dengan mantan partner kerja perusahaannya setelah wanita itu mengabaikannya berbulan-bulan. Mama rutin melakukan meditasi setiap hari minggu untuk menenangkan dirinya. Sedangkan mereka sudah putus komunikasi dengan papa. Mereka tidak tau bagaimana kondisi pria itu sekarang dan tidak terlalu mau tau juga. Mereka memutuskan untuk menjalani hidup masing-masing.


Eca sampai di dalam toko Om Surya sambil menenteng tripod dan ponsel. Dia menyapa pria itu sebentar lalu diseret menuju dapur kebanggaan Om Surya. Dengan senyum lebar dia memamerkan mahakarya yang tersaji lengkap dengan hiasan dipinggir kue.


"silahkan nona. Dessert terbaru saya akan membuat anda sulit untuk tidak memejamkan mata demi menikmati rasanya yang meleleh di dalam mulut." celetuk Om Surya sambil menyodorkan sendok.


"ehem! Jangan membuat aku kecewa Bapak Surya tapi sebelum mencicipinya biar aku videokan dulu hehehe . . ."


"ck dasar"


Tiga menit Eca asik memvideokan visual dari dessert di atas meja dapur. Dari kanan ke kiri, atas ke bawah, semua sudut sudah Eca ambil gambarnya. Dia puas saat sudah selesai memvideokan makanan yang tampak menggugah selera.

__ADS_1


"cepatlah makan Eca"


"hehehe. . . siap om"


Eca menyuapkan satu sendok besar ke dalam mulut. Dia seketika membolakan matanya. Alisnya terangkat ke atas. Saat mulutnya terus mengunyah makanan sekuat tenaga dia menahan untuk tidak menutup mata. Namun apalah daya ketika makanannya pecah dan isinya melumer dalam mulut, Eca reflek memejamkan mata dan menikmati rasa yang seperti kembang api di dalam mulut. Eca mau menangis rasanya sudah dipercaya untuk menikmati makanan lezat dihadapannya saat ini.


"om pasti sudah memasukkan jampi-jampi ke dalam makanan ini kan?? Ayo ngaku!"


"dasar! Om ini Chef bersertifikat! Masa buat makanan pake jampi-jampi yang ada pakai cinta supaya pelanggan naksir." ucap Om Surya dengan senyum mengembang.


"cih! Dasar om-om! Udah tua juga!"


"yang sopan bicara sama orang yang lebih tua Eca!" seru mama dari samping sambil memukul lengan Eca cukup kuat.


"sakit ma!"


Mama terus berusaha memukul Eca namun perempuan itu bersembunyi dibalik badan Om Surya. Bagaikan superhero Om Surya memasang badan untuk melindungi Eca. Lalu dia menangkap kedua tangan mama dan menghembuskannya. Hal itu membuat Eca melongokkan kepala dari samping. Dia bingung dengan perbuatan Om Surya. Kenapa dia meniup tangan mama padahal tangan wanita itu tidak sedang terkena air panas atau minyak panas.


"kenapa om?"


"tangan mama-mu sampai merah karna memukul om. Sebagai lelaki gentle, om harus bertanggungjawab."


"yang sabar ya om. Mamaku itu galak." bisik Eca dari samping.


Om Surya hanya mengangguk pelan. Dia mengusap kepalanya yang kena pukulan mama Eca. Tenaga wanita itu tidak main-main. Sudah sering kali dia mendapat pukulan tapi dia masih merasa sakit juga.


Drrt . . .


Ponsel Eca bergetar, dia mengira ada telefon masuk. Namun yang muncul notifikasi pesan masuk dari nomor tidak dikenal. Eca membuka pesan tersebut dan terkejut membaca isinya.


0812xxxxxxxx:


Aku Tia. Papamu terus merengek mau bertemu denganmu. Kalau mau datang di jln. Anggrek no.50 blok B. Kalau tidak percaya tidak perlu datang.


Eca mendengus membaca pesan tersebut. Bahkan cara mengetik wanita itu masih angkuh. Dia bahkan masih bisa sombong setelah merebut suami orang. Eca berpikir kalau Tia sungguh tidak tau malu.


"om aku pergi dulu. Dessertnya bisa dibungkus saja? Aku mau makan di luar."


"kenapa tidak di sini saja?"


"ada urusan penting om."

__ADS_1


Segera Om Surya membungkus makanan Eca. Perempuan itu baru memakan satu gigit. Masih banyak tertinggal sayang jika harus dibuang. Lagipula ini makanan terlezat yang pernah dia makan. Tentu saja dia tidak mau melewatkannya. Namun menemui papa juga penting. Tumben pria itu mau menemuinya sekarang.


Dengan tergesa-gesa, Eca segera berangkat setelah berpamitan pada Om Surya dan mama. Dia sudah berdiri di depan rumah sesuai alamat yang dikirim Tia. Dengan tangan bergetar, dia mengetuk pintu.


"masuk."


Tia masih menatap Eca dengan pandangan tidak suka. Eca juga tidak repot-repot untuk memasang wajah di depan wanita tersebut. Dia malah membalas dengan memberikan tatapan tajam. Bagaimanapun dia masih dendam dengan Tia.


Eca melewati ruang tamu yang tampak berantakan. Baju berserakan di atas sofa dan makanan sisa yang terbuka di atas meja. Saat Tia membuka pintu kamar, jantung Eca terasa berdenyut lebih cepat. Dia terkejut melihat kondisi papa yang terbaring lemah di kasur. Rambut papa banyak yang rontok dan tubuhnya sangat kurus nyaris seperti orang kekurangan gizi. Eca tidak kuasa menahan air mata melihat kondisi papa yang sangat menyedihkan. Dia berlari ke samping kasur dan memegang tangan papa.


"papa sakit?" tanya Eca lemah berusaha menahan isakannya.


"papa baik-baik saja." jawab papa lemah dengan senyum yang berusaha ditarik.


Tangis Eca akhirnya pecah setelah melihat papa lebih dekat. Pipi papa terlihat cekung ke dalam, rambut putihnya tinggal tersisa sedikit di beberapa bagian, rahang dipenuhi jambang yang tumbuh berantakan. Padahal biasanya papa tidak pernah membiarkan jambangnya tumbuh, dia rutin mencukur bulu di sekitar rahang untuk memberikan kesan bersih. Namun sekarang papa-nya tidak beda dengan orang yang berantakan tidak diurus.


"kenapa Tia tidak merawat papa?!!"


"dia sakit sayang."


Eca menengadah ke atas. Dia menarik rambutnya untuk mengurai rasa pening yang melandanya. Jelas banyak hal yang berseliweran di dalam pikiran Eca seperti kenapa papa tidak terurus? Apa papa sakit? Kalau sakit, apa penyakitnya? Kenapa Tia tidak merawat papa? Kenapa Tia bahkan tidak mencukur jambang papa? Jika dia sakit kenapa dia masih bisa berjalan mengantar Eca sampai kamar ini dengan tatapan angkuhnya?!


"sekarang jujur sama Eca, kenapa papa memanggil Eca?"


"pa-papa kangen kalian." tutur papa lemah sambil meneteskan air mata dari sebelah kiri.


"papa tidak bisa tahan lagi untuk bertemu" sambung papa menutup matanya dengan sebelah tangan.


Eca menatap papa dalam diam. Dia dapat merasakan perasaan papa karna dia juga merasakan hal yang sama. Berusaha tegar dan ceria dihadapan orang lain namun saat sendiri dia akan rapuh. Seluruh permasalahan akan menari-nari dalam pikiran Eca. Ternyata dia masih belum bisa melupakan semua hal yang terjadi.


"papa sakit apa?"


Papa mengambil nafas sejenak dan memberikan jeda cukup lama, sebelum mengatakan, "Papa positif terkena HIV."


"apa?!!"


___💝___


Cuitan Author :


See you next chapter everybody!! Makasih banyak buat yang sudah baca dan dukung novel pertama aku. Semua itu sangat berarti ❣️ God Bless You!

__ADS_1


__ADS_2