
Malam ini, Eca berniat untuk membaca materi yang akan dipelajari di les. Selesai makan malam, dia segera ke kamar. Membuka kembali buku catatan dan buku paket. Belum lama Eca membaca buku, ponselnya bergetar. Ada pesan masuk.
Nehan:
Vc yuk Ca. Kangen.
Ini adalah ujian terberat bagi Eca. Dia ingin belajar tapi dia juga mau video call dengan Nehan. Lama Eca berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk vc dengan Nehan dulu. Selesai vc dia bisa lanjut belajar. Segera saja dia menghubungi Nehan.
"hai Ca. Udah makan?"
"udah dong. Kalau kamu?"
"barusan aja selesai."
"aku juga sekitar 10 menit lalu baru selesai makan."
"Ca, aku rencana mau beli handphone baru. Menurut kamu apa yang bagus?"
"loh? Kenapa beli baru? Handphone kamu yang sekarang rusak?"
"gak. Cuma mau beli aja. Bosan ini mulu."
"ah kirain tadi, hp kamu kenapa-napa. Ngapain sih beli hp baru kalau hp sekarang masih bisa dipakai."
"karna bosan Eca sayang. Kalau gak bosen pasti gak mau beli." kata Nehan sedikit tergelitik dengan perkataan Eca.
"buang-buang duit tau. Mending kamu tabung."
"ini juga uang yang aku tabung buat beli hp. Aku menang dari slot."
"apa kamu bilang??!! Kamu main slot??" tanya Eca sangat terkejut.
"i-iya. Kenapa sih Ca? Biasa aja kali. Udah banyak juga yang mainin."
"itu judi Nehan!!"
"ya gak lah. Yang pentingkan gak langsung."
"aku gak habis pikir sama kamu. Bisa-bisanya masih SMA kamu udah main slot!" Eca sulit percaya dengan apa yang didengarnya.
"seru tau Ca. Aku menang kok. Kalau aku sering main lagi pasti lebih banyak untung nanti."
Eca menghembuskan nafas dengan kasar. Saat ini rasanya pengen membanting kepala Nehan di dinding, supaya laki-laki itu sadar. Main slot bukanlah pilihan yang tepat apalagi dia masih SMA. Belum ada penghasilan. Dapat uang dari mana main slot?
"Han, aku gak suka kamu main slot. Bagaimana pun itu judi Han." jelas Eca mencoba untuk mengatur bicaranya agar tidak menggebu-gebu.
"apaan sih Ca? Aku sering menang kok."
"kamu dapat uang dari mana main slot?"
"bapak aku kaya kalau kamu tidak lupa."
__ADS_1
"uang bapakmu bisa habis kalau kamu main slot terus!" Eca menaikan nada suaranya.
"kamu doain uang bapakku habis Ca?!"
"gak gitu Nehan. Aku cuma mau peringati kamu sebelum hal buruk terjadi."
"apaan sih Ca kok kamu pikirannya negatif mulu daritadi. Udah ah tadikan kita cuma bahas hp. Aku minta pendapat kamu. Gak usah lagi bahas tentang slot kalau kamu sensitif terus mendengarnya."
"gak gitu,-" Eca menjawab dengan kesal.
Eca dan Nehan sama-sama diam. Eca membuang pandangannya dari layar hp. Dia benar-benar kesal dengan Nehan yang tidak mengerti dengan perkataannya. Padahal dia hanya tidak mau hal buruk akan menimpa Nehan kedepannya.
Nehan juga ikutan kesal karna Eca selalu berpikiran buruk padanya. Susah sekali menyakinkan perempuan itu tentang pilihannya. Padahal dia yakin dia pasti menang lagi. Dia juga masih sesekali memandang layar hp untuk melihat Eca. Namun yang didapat hanya sisi samping wajah Eca yang cemberut.
"kamu masih marah Ca?"
"iya aku marah banget!" tekan Eca.
"iya iya aku minta maaf."
"kamu jangan main slot lagi"
"iya iya"
"janji?"
"iya."
"iya janji. Yaudah aku matiin dulu ya. Selamat malam."
Eca masih memikirkan pembicaraan mereka tadi. Bagaimana pun dia masih ragu. Tapi dia akan mencoba percaya pada Nehan. Kekasihnya sudah berjanji juga tadi. Dia hanya berharap semua akan baik-baik aja ke depannya.
Tok tok tok . . .
Eca membuka pintu. Dia melihat kedatangan kakaknya. Betapa terkejut Eca. Sudah seminggu mereka tidak bertemu. Eca mulai kangen dengan wanita di depannya. Dia pun memelukmya dengan erat.
"kapan pulang?"
"setengah jam lalu."
"loh? Kenapa gak langsung temuin aku sih kak." kata Eca merajuk.
"tiadi bicara bentar sama mama papa."
"papa udah pulang?"
"yah menurut kamu dia gak pulang apa?"
"bukan gitu kak Erna, sekarang bukan jam pulang papa. Biasanya dia baru pulang jam 10-an. Katanya sih lembur."
"ha? Masa sih? Apa kantor lagi sibuk kali ya."
__ADS_1
"mungkin aja." Eca menaikan bahunya.
Eca menggiring Erna masuk ke dalam kamarnya. Kalau dibandingkan dengan Eca, kakaknya adalah versi terbaik dari anak perempuan keluarga ini. Badannya tinggi langsing hasil dari gym rutin dan pola hidup sehat. Sedangkan Eca, tinggi rata-rata dan badan gemuk. Kalau kakaknya putih maka Eca lebih gelap karna jarang perawatan tidak seperti kakaknya. Terkadang Eca iri karna dia akan dibanding-bandingkan. Tapi satu hal yang paling dia syukuri kakaknya sangat menyayangi Eca. Dia akan maju paling depan kalau adeknya di ejek. Meskipun sering menghina Eca, Erna tidak akan membiarkan orang lain menghina Eca.
"kakak mau balikkin laptop kamu juga. Ini"
"oke."
"eh Ca, kok kamu makin gemukkan dari yang terakhir kakak lihat?"
"gak kok kak. Berat badan aku masih sama."
"mulai besok nge-gym bareng kakak yuk"
"gak kak malas."
"dasar anak satu ini! Itu badan kamu makin lebar Ca! Nyaingin badak tau!"
"ck apaan sih!" kata Eca sambil menabok kakaknya.
"kakak serius Ca. Itu payudara kamu makin besar aja. Olahraga ya biar sehat. Badan kamu bakal bagus kalau berat badan kamu ideal karna punya kamu lebih besar."
"apaan sih kak! Malu tau"
"udah besar juga. Gak apa-apalah itu aset berharga. Harusnya bangga kamu itu"
"mata tolong" balas Eca dengan malas saat kakaknya mulai melihat dengan penasaran.
Nah ini kekurangan Erna menurut Eca. Dia terlalu frontal. Kadang jika lagi kambuh dia bisa lebih parah lagi. Untung sekarang masih agak waras. Eca sedikit bersyukur.
"btw, masih lanjut kamu sama si nehi-nehi itu?"
"Nehan kak"
"terserahlah"
"masih lanjut kak. Dia kan gak bisa lepas dari pesona ku hahahaha. . ."
"dih, bisa lari dia kalau badan kamu naik terus. Mampus."
"ck apaan sih kak. Jangan bicara gitu lah. Aku udah bucin sama dia tau."
"makan tuh bucin! Udah ah kakak masuk kamar dulu. Bye."
"bye."
Eca mengedarkan pandangannya kearah meja belajar. Masih ada bukunya yang terbuka. Karna vc dari Nehan tadi jadinya dia berhenti belajar. Naas, sekarang Eca tidak minat lagi belajar. Dia masih kepikiran dengan Nehan. Eca pun menutup bukunya. Dan memilih berbaring di ranjang.
Sebelum benar-benar tidur, dia melangkah keluar kamar. Turun ke lantai satu dan mengambil air di dapur. Saat hendak melewati dapur, Eca mendengar suara tangisan dengan samar. Tapi suaranya cukup jauh dan sepertinya bukan berasal dari dalam rumah. Kalau di dalam rumah suaranya pasti terdengar lebih dekat. Eca mulai merinding. Siapa orang yang sedang menangis? Itu bukan suara bayi tapi suara perempuan. Siapa wanita dewasa yang menangis malam-malam begini? Jantung Eca mulai bertalu-talu dengan kuat. Dia memberanikan diri melihat di jendela untuk memastikan. Baru sekilas, dia melihat bayangan itu sedang berdiri membelakangi. Eca mengucek matanya sebentar untuk memastikan penglihatan. Supaya dia membedakan apakah itu manusia atau bukan. Namun sosok itu perlahan memalingkan wajahnya ke belakang hendak melihat kearahnya. Eca menahan napas. Sebelum sosok itu menangkap basah dirinya, Eca langsung lari terbirit-birit menuju kamar. Ditutupnya kamar dengan rapat. Dia berdiri membelakangi pintu dengan ngos-ngosan. Kemudian melangkah ke ranjang dan menutup diri dengan selimut berharap dia segera tertidur sekarang juga.
***
__ADS_1