
Tiga hari berlalu sejak kejadian Eca dan mama saling menangis. Selama itu juga mama kurang berinteraksi dengan Eca. Dia hanya berbicara seperlunya. Eca sangat menyadari perubahan sikap mama, membuat dia merasa bersalah.
Selama tiga hari juga, Eca menangis diam-diam di kamar. Matanya selalu gembung akhir-akhir ini. Setiap malam dia menyalahkan diri sendiri karna gagal menjadi anak yang berbakti.
Eca masuk ke dalam rumah setelah pulang sekolah. Tidak langsung menukar baju atau meletakkan tas ke dalam kamar. Eca menuju dapur dan segera makan. Selama makan Eca sering sekali melamun. Membuat kegiatan makan yang biasanya hanya 20 menit menjadi 40 menit.
"Eca ada yang mau mama omongin. Mama tunggu di ruang tamu."
"i-iya ma."
Eca mulai memikirkan kemungkinan yang akan dibicarakan mama. Selama tiga hari ini mama cuek padanya. Tapi hari ini dia ingin bicara pada Eca. Perempuan itu jadi takut sendiri. Takut berita buruk yang akan dibicarakan mamanya lagi.
"duduk." ucap mama saat melihat Eca berjalan kearah sofa.
"mama sudah pikirkan kalau kamu perlu belajar lebih intens. Mama sudah minta anak teman mama supaya ngajarin kamu belajar. Kamu belajar di tempat les 3 kali seminggu, 3 hari lainnya kamu belajar sama anak teman mama."
Eca mengangkat kepala mendengar ide mama. Tidak habis pikir dia cuma punya waktu istirahat hari minggu. Eca mulai keberatan. Bagaimana pun istirahat sekali seminggu itu terlalu berlebihan. Dia ingin waktu istirahatnya tetap banyak. Eca pikir dia sangat lelah belajar. Karna mulai tiga hari lalu Eca mulai belajar dengan serius. Meskipun kadang dia mengabaikan setidaknya sudah ada perubahan dari Eca.
"Ta-tapi ma."
"tidak ada penolakan."
"hm."
"dia akan datang 1 jam lagi."
"iya iya."
"dia anaknya pintar. Kamu bebas bertanya apa saja padanya."
"iya ma."
Eca masuk ke kamar. Dia menghembuskan nafas pelan. Naik keatas ranjang sambil membuka handphone. Banyak sekali pesan dari Nehan yang tidak dibalas oleh Eca. Telfon tidak terjawab pun tidak kalah banyak.
Semenjak perhatian Eca teralihkan pada pelajaran, dia semakin malas berhubungan dengan Nehan. Membalas pesan atau vc dari pria itu kerab dia abaikan. Entah mengapa setiap melihat Nehan, Eca seperti mau marah. Bayangan Tia dan Nehan berciuman terus terbayang setiap dia berinteraksi dengan Nehan.
Disekolah pun, Eca berusaha menghindari Nehan. Jika Nehan menghampirinya di kelas, dia akan sibuk makan atau belajar. Dia menjadi pasif. Dia hanya menjawab singkat kalau Nehan bertanya. Kalau Nehan tidak bertanya maka akan terjadi keheningan. Begitu terus selama tiga hari belakangan ini.
Eca malas harus bertanya tentang perihal ciuman pria itu dengan Tia. Dia membiarkan sampai Nehan sendiri yang jujur. Selama Nehan tidak jujur dia akan mengabaikan Nehan terus.
Eca beralih membuka salah satu media sosial. Dan melihat beberapa informasi di berandanya. Tidak lupa juga dia melihat informasi kampus dan fakultas yang sudah dia ikuti sejak kapan hari. Selama tiga hari belakangan Eca aktif mencari informasi tentang perguruan tinggi di berbagai media sosial. Eca sudah memiliki beberapa kampus dan jurusan yang menarik minatnya. Hanya saja dia masih bingung apa universitas dan jurusan yang tepat untuknya.
Asik menggulir laman sosial media, pintu kamar Eca di ketuk dari luar. Eca segera mematikan hamdphone. Melempar selimut dan berjalan untuk membuka pintu.
__ADS_1
"anak teman mama ada di bawah. Dia lagi minum. Kamu siap-siap. Bersihkan dulu kamarnya." kata mama sambil melirik selimut Eca yang jatuh ke lantai.
"kita belajar di kamar ma?"
"iya. Biar kamu lebih fokus. Tapi pintunya tetap dibuka. Biar mama bisa pantau."
"iya ma."
Eca segera membersihkan tempat tidurnya. Menyusun meja belajar, mengeluarkan buku dan alat tulis yang akan dia gunakan. Eca tidak lupa menggulung rambutnya ke atas supaya tidak mengganggu saat belajar.
"ayo silahkan masuk nak."
"iya tan."
"Eca ini temannya disapa dulu." ucap mama
"kamu??" Eca sangat syok saat berbalik kearah pintu kamar.
"kenapa Ca? Diakan teman kamu di sekolah."
"i-iya sih ma."
"ayo duduk di sana nak." mama menggiring pria itu duduk dikursi dekat meja belajar Eca.
"siap tante."
"apa-apaan sih ma." kata Eca kesal. Jangan kasih wewenang pada pria itu. Dia akan menjadi-jadi.
"selamat belajar." ucap mama kemudian keluar dari kamar.
Eca menatap pria disampingnya dengan beribu pertanyaan. Dia kesal mengapa harus pria ini yang mengajarinya. Bisa dia ramal kalau belajar dengan pria ini tidak akan berjalan dengan lancar. Eca tidak sanggup berhadapan dengan makhluk Tuhan paling menyebalkan di muka bumi ini.
"kamu anak teman mama aku?"
"hm."
"apa itu maksudnya."
"ck! Iya."
"kenapa gak nolak sih ah!" ucap Eca dengan frustasi.
"terpaksa. Aku tidak sudi sebenarnya."
__ADS_1
"ck, kalau tidak sudi yah makanya tolak Gian!" ucap Eca dengan kesal
"kalau bisa aku pasti gak datang hari ini!!" balas Gian tidak kalah kesal.
"pakai alasan apa kek." Eca mulai memelankan suaranya. Kena mental juga dia mendengar suara Gian yang lebih tinggi.
"mau mulai belajar gak? Kalau gak, aku pulang. Buang-buang waktu aja."
"iya iya."
Salama belajar, Eca dan Gian sama-sama adu urat. Tidak ada yang mau berbicara dengan santai. Mereka saling menghina disetiap kesempatan. Gian terus-terusan menyebutnya bodoh karna Eca tidak kunjung mengerti dengan materi yang Gian ajarkan. Eca juga membalas tidak mau kalah.
Sudah Eca duga kalau belajar dengan Gian adalah pilihan yang buruk. Eca sulit mengerti materi karna Gian terus menghinanya. Eca lebih mengingat makian pria itu dari pada penjelasan materi.
"bukan begitu bodoh! Kan sudah dapat hasilnya y\=4. Kamu tinggal kasih masuk dalam rumus dan ubah y jadi 4 bukan 1/4."
"kamu buta ya Gian di sini ada angka 1/4 tau!"
"baca soal makanya itu yang ditanya 1/4 kali suku keberapa"
"ck!"
"ngeyel sih. Udah salah tapi ngotot."
"siapa suruh dia tulis begitu, aku kira itu angka langsung dikasih masuk."
"itu supaya kamu lebih teliti. Itu gunanya mata untuk melihat soal!"
"kenapa sih harus kamu guru aku?" kata Eca sangat pelan.
"kenapa harus kamu yang kuajari? Gak ngerti-ngerti, ngeyel lagi." balas Gian.
Eca memandang Gian dengan kesal disebelahnya. Ini semua karna mama memberikan wewenang untuk memarahinya tadi. Yang tentu saja tidak disia-siakan oleh Gian. Sial sekali hidup Eca dapat guru modelan Gian. Dia tidak ada sabarnya sedikit pun. Beda jauh dengan gurunya disekolah dan les.
Ptak!!
"aw!" Eca mengusap keningnya yang disentil oleh Gian.
"rumusnya salah. Yang ini dipakai." jawab Gian sambil menunjuk buku Eca.
Eca memandang Gian dengan sangat kesal. Sentilan pria itu bukan main sakitnya. Keningnya memerah. Dia mengusap kening untuk mengurangi sakit. Bisa sakit mental dan fisik dia belajar dengan Gian. Ini bahkan baru hari pertama.
Usapan Eca terhenti saat tangannya digantikan oleh tangan yang lebih besar. Usapan pria itu dengan pelan di keningnya mampu membuat Eca tertegun. Dia mengusap dengan sangat lembut. Gian bahkan mengarahkan wajah Eca kearahnya dan meniup kening Eca. Sekarang bukan kening Eca lagi yang merah tapi wajahnya.
__ADS_1
***