RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 41


__ADS_3

Hari demi hari, Eca senantiasa menemani sang papa yang terbaring lemah di rumah sakit. Meskipun lebih banyak melihat dari kaca ruang inap sesuai anjuran dokter untuk menghindari terkontaminasi dengan penyakit. Sistem imun papa menurun sangat drastis akibatnya berbagai penyakit yang biasanya bisa dilawan oleh tubuh sekarang menjadi lebih sensitif.


Diam-diam Eca sering menangis melihat tubuh papa yang semakin hari semakin memburuk. Tubuhnya semakin kurus seperti tulang berlapis kulit. Tangisnya kadang tidak bisa ditahan lagi saat papa memandangnya dari dalam sambil tersenyum lemah. Dengan sisa tenaga yang dimiliki papa menggerakkan mulut untuk mengatakan "I love you, sayang", lalu dia membentuk tanda love dengan jari-jari yang kurus kering. Jika Eca tidak menjawab, papa akan berpura-pura ngambek dengan memutar kepala dan melipat tangan di depan dada.


Hal yang membuat Eca semakin sedih saat tidak ada satupun yang menemani papa kecuali dirinya. Baik mama atau Erna tidak mau menjenguk papa. Tetap pada pendirian mereka yang sedari awal menolak untuk melihat papa lagi. Bahkan Tia tidak pernah menampakkan batang hidungnya di rumah sakit. Dia pun tidak repot untuk menanyakan kemana papa pergi selama dua bulan ini karna sejak Eca membawa papa ke rumah sakit, dia belum mengabari Tia. Perempuan itu seakan tidak peduli papa pergi.


"kamu ke sini lagi nak?" tanya seseorang menepuk pundak Eca dari belakang.


"iya dok. Bagaimana perkembangan papa?"


"maaf saya masih belum bisa memberikan kabar baik. Lebih baik kita berbicara di ruangan saya."


"baik dok."


Eca mengikuti langkah dokter tua yang menuntunnya ke dalam ruangan. Dia mempersilahkan Eca duduk. Dokter membuka riwayat penyakit papa dan menatap Eca dengan lekat.


"dulu papamu memohon pada saya untuk merahasiakan penyakitnya saat pertama kali mengetahui hasilnya positif. Sekitar beberapa bulan lalu. Saya tidak setuju dan membujuk dia untuk dirawat segera. Tapi dia menolak dengan alasan ingin mengakhiri hidupnya dengan cepat."


"apa?" tanya Eca terkejut.


"iya. Tapi dia kembali ke sini dan seminggu lalu dia menanyakan cara untuk segera sembuh supaya putrinya tidak menangis terus. Tapi dengan berat hati saya harus mengatakan kemungkinannya sangat kecil. Berdoalah pada Tuhan supaya terjadi mujizat."


Eca menutup mulutnya dengan rapat untuk meredam isakan. Dia menunduk dengan dalam. Kedua bahunya ikut naik turun seiring dengan tarikan nafasnya yang tidak teratur. Perasaan sedih seperti meluap begitu saja. Eca juga tidak bisa menyangkal. Dilihat secara langsung saja semuanya bisa menarik kesimpulan bahwa kondisi papa sangat memprihatinkan. Namun Eca tetap optimis disisa harapan yang dimilikinya saat ini. Dia berharap setidaknya Tuhan mau mempertimbangkan niatnya dan keinginan papa untuk sembuh. Namun harapan seperti hanya harapan karna kemungkinannya sangat kecil.


"apa tidak bisa kondisi papa sedikit lebih membaik?"


"saya tidak tau apa yang sudah terjadi dengannya selama beberapa bulan ini tapi stress membuat keadaannya semakin parah. Tubuhnya tidak mampu melawan penyakit yang paling ringan sekali pun. Lebih baik jika dia bisa mengontrol stress."


"papa dan mama saya sudah bercerai beberapa bulan lalu dok. Hal itu membuat papa sangat tertekan. Sampai saat ini dia masih merindukan mama."


"apa kamu bisa membujuk mamamu sekali saja untuk menjenguk papamu? Setidaknya kita berharap kondisinya sedikit lebih baik."


"baik dok. Saya akan usahakan."


"ah satu lagi Eca. Tolonglah istirahat. Kamu masih kuliah jugakan? Kamu perlu istirahat untuk mengembalikan tenagamu. Kalau kamu sakit siapa yang akan menemani papamu?"

__ADS_1


"baik dok. Terimakasih banyak." ucap Eca dengan lesu.


Sesampainya di apartemen Eca meminta mama dan Erna berkumpul di ruang tamu. Dia menatap keduanya dengan takut. Dia menyusun kalimat di dalam kepala terlebih dahulu supaya tidak memancing emosi keduanya. Bagaimana pun dia harus berhasil membujuk mereka demi memulihkan kondisi papa.


"ma, kak. Kondisi papa memburuk."


"jadi kalau,-" potong Erna langsung.


"tolong dengar aku dulu kak!"


"baik." tutur Erna tidak ihklas.


"seperti yang aku bilang tadi kondisi papa semakin memburuk. Dokter menyarankan supaya mama menjenguk papa supaya papa tidak stress lagi yang bisa mengakibatkan penyakitnya semakin parah. Papa sangat membutuhkan mama."


"maaf Eca, mama tidak bisa."


"ma, aku mohon. Kalau mama tidak mau melakukannya demi papa, tolong lakukan demi aku, anak yang tidak mau kehilangan sosok ayahnya." lirih Eca sambil berlutut di depan kaki mama.


"berdiri Eca! Mama tidak mau bicara kalau kamu berlutut!" ancam mama menatap Eca dengan geram.


Eca mengalah dan memilih duduk. Dia cemas menunggu respon mama yang tidak kunjung terdengar. Dia melirik sebentar dan mendapati mama sedang menatap lurus. Tampaknya dia sedang berpikir keras. Memang tidaklah mudah berada diposisi mama saat ini.


"jangan hasut mama begitu kak!"


"apanya menghasut?! Kakak cuma mau mengatakan apa yang ada di hati mama. Kamu jangan egoislah jadi anak! Tidak tau kamu dengan penderitaan mama selama ini? Dia sudah terlalu sabar menghadapi papa selama setahun. Lalu sekarang papa kena penyakit akibat perbuatannya sendiri, lantas mama harus memperhatikan dia lagi?! Kamu ingin mama menderita dengan melihat papa?? Kamu ingin menghancurkan kebahagian mama yang selama ini susah payah mama bangun?!"


"bukan itu maksud aku kak! Tolong mengerti kali ini. Papa lebih parah dari yang kalian bayangkan! Tubuhnya sangat kurus hampir seperti kekurangan gizi. Tubuhnya lebih sensitif terhadap penyakit. Pa-papa me-membutuhkan kita untuk mendampingi dia." ungkap Eca sebelum tangisnya pecah.


Tidak ada lagi yang bersuara kecuali suara tangisan Eca yang memenuhi ruangan. Raungan keras dari tangisnya mampu mengiris hati kedua orang yang sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak henti-hentinya Eca memohon supaya keduanya luluh. Dia bahkan melipat tangannya dan menggosoknya pelan sebagai isyarat permohonan. Hati Eca terasa sakit saat kembali mengingat kondisi papa dan obrolannya dengan dokter tadi. Eca hanya mengusahakan sedikit peluang yang mungkin saja terjadi mujizat.


"baik. Mama akan pergi. Erna beritahu kantor kamu cuti besok, kamu juga harus ikut."


"tapi ma,"


"ada mantan suami istri tapi tidak ada mantan anak dan orangtua. Sekecewa apapun kamu sama papamu, dia tetap papamu."

__ADS_1


***


Eca, Erna dan Mama berdiri menatap papa dari kaca ruang inap. Terlihat papa sedang berbaring tidak menyadari kedatangan dari orang-orang yang sangat dia cintai. Tidurnya sangat lelap tidak menyadari ketiga perempuan telah menatapnya selama setengah jam.


Ketiga perempuan itu, kompak diam. Mereka hanya menatap papa dari luar dengan pikiran masing-masing. Namun satu hal yang pasti, mereka tidak bisa menutupi raut wajah kesedihan yang sangat kentara. Mata mereka berkaca-kaca. Diam-diam, sejak tadi Erna mengusap airmatanya yang terus mengalir.


"selamat siang."


"selamat siang dokter" jawab mereka dengan kompak.


"sayang sekali dia tertidur, kalau dia bangun pasti dia senang sekali."


Eca tersenyum kecut. Semua pandangan mereka teralih pada sosok papa yang tertidur pulas. Namun nyawa mereka seolah bangkit saat papa perlahan membuka mata. Dia mengerjapkan mata beberapa kali. Dia mengernyit sebentar sambil memegang perut. Lalu, menoleh ke sebelah kanan.


Papa terkejut melihat tiga orang perempuan yang dia sayang tengah berdiri di luar kaca menatap dirinya. Senyumnya langsung saja terbit dengan lebar. Matanya sampai menyipit. Tidak bisa diucapkan dengan kata-kata betapa bahagianya papa saat ini. Melihat mereka bertiga adalah momen yang selalu dia haturkan pada Tuhan disetiap doanya.


Papa terlalu bahagia sampai melambai-lambaikan tangan dengan heboh. Dia juga tidak lupa membentuk love dari jemarinya yang kurus. Seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan diperutnya. Papa meneteskan air mata bahagia.


"dia kelihatan sangat senang." celetuk dokter sambil tersenyum lebar.


"hahaha . . . Aku takut kasurnya bisa roboh karna papa tidak tenang, dok." ucap Eca tertawa sambil mengusap air matanya.


"papa cinta kalian!" seru papa dari dalam ruangan.


"papa jangan teriak-teriak, ini rumah sakit!" kata Erna membesarkan suaranya supaya papa bisa mendengar.


Papa hanya tertawa. Dia sangat senang Erna mau berbicara dengannya walaupun dengan kalimat yang tidak romantis. Namun dia tau kalau putri sulungnya tidak benar-benar membencinya. Dia bisa merasakan bahwa Erna masih peduli padanya kalau tidak dia tidak akan repot-repot menegur papa supaya tidak menghabiskan tenaga untuk berteriak. Tetap saja gengsi Erna terlalu mendominasi.


Mama juga tertawa melihat respon papa yang sangat heboh. Papa menatap mama dengan dalam. Dia melemparkan senyum paling tulus. Papa menyentuh kalung pemberian mama dan membisikkan, "terima kasih, I love you istri-ku."


"nah itu kan papa jadi capek, udah kakak bilang tadi jangan teriak. Lihat akibatnya sekarang jadi tutup mata pasti capek itu." tutur Erna melihat papa menutup mata dan menghentikan lambaiannya.


Mereka terkejut saat dokter dan suster masuk ke dalam ruangan dengan cepat. Mereka juga memeriksa papa dengan sigap. Berulang kali mereka berupaya membangunkan papa tapi tidak ada respon.


Jantung mereka seakan diremas dengan kuat saat dokter selesai memeriksa nadi papa. Dokter keluar dan menggelengkan kepalanya. Dia lalu menunduk melihat jam dipergelangan tangan.

__ADS_1


"waktu kematian pasien 13.35 WIB." ucap dokter.


____bersambung____


__ADS_2