
~7 tahun kemudian~
Seorang wanita tengah mengejar anaknya yang berlari sambil membawa kabur mainan anak lain. Dengan gesit sang ibu melewati beberapa orang untuk menangkap pria kecil yang berlari dengan kencang. Nafasnya mulai pendek karna kelelahan. Dengan segenap kecepatan dan kelincahan tangannya dia menangkap bagian belakang baju sang anak.
Sembari membopong sang anak yang masih meronta-ronta dalam pelukan, dia kembali ke tempat semula. Dia menegur anak lelakinya dan menyuruh anak itu untuk mengembalikan mainan. Namun sang anak tidak bergeming.
"Edo!" peringat sang mama.
"ini. Maaf." ucap Edo tidak rela pada anak tersebut.
"maaf ya ibu karna anak saya sudah mengambil mainan anak ibu. Ibu boleh menghukum anak saya supaya dia sadar dengan kelakuannya." kata sang ibu kepada wanita lain yang sedang menggandeng anaknya.
Edo langsung menatap mamanya dengan wajah terkejut. Dia tidak setuju dengan perkataan mamanya. Dia tidak mau dapat hukuman. Dia memasang wajah protes pada sang ibu.
"tidak apa-apa bu. Anak ibu sudah minta maaf."
"terima kasih banyak bu. Kami permisi."
Wanita muda menyeret anaknya keluar mall. Dia melirik sang anak dengan tajam. Namun balasan Edo hanya menyengir sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"maaf ma, tapi dia deluan ma. Dia mengejek Edo. Katanya papa Edo tidak sayang sama Edo karna tidak pernah mengantar Edo ke sekolah." tutur Edo menundukkan kepalanya dengan sedih.
"sayang, mama dan papa pernah beritahu alasan papa tidak pernah antar kamu kan? Jarak sekolah kamu dan papa itu sangat jauh. Lagipula mama mengantar kamu, apa kamu tidak senang?"
"tidak mama, tapi Edo juga mau diantar papa sekali saja." celetuk Edo mulai berkaca-kaca.
"baik. Nanti kita beritahu papa ya."
Wanita itu memeluk Edo dengan erat. Dia juga mengusap kepala Edo dengan lembut. Perasaannya ikut sedih saat anak lelakinya merasa sedih karna tidak pernah diantar papanya ke sekolah. Mereka tidak bermaksud untuk mengabaikan permintaan Edo dari dulu, tapi kondisi yang tidak memungkinkan.
"kenapa lama sekali kak? Tanganku mulai pegal gendong Erni." cetus sang adik perempuan menghampiri mereka.
"Astaga Eca, maaf. Kakak tadi tangkap si bocah dulu. Dia ambil mainan temannya di dalam. Kamu tidak tau perjuangan kakak mengejar dia." kata Erna mengambil alih Erni dari gendongan Eca.
"ya ampun Edo! aunty sudah pernah bilang kurangi nakalnya!"
"anak itu yang deluan, aunty can!" jelas Edo tidak terima.
__ADS_1
"kamu parkir mobil dimana Eca?"
"itu di depan. Buruan kak! Banyak endorsan yang harus aku video sore ini."
"iya iya. Ayo berangkat."
Eca mengendari mobil dengan kecepatan sedang. Dia melirik ke kaca. Ada Erna dengan memangku Erni dan Edo yang duduk sambil memakan kebab. Dia meratapi miris keadaannya yang sudah seperti sopir untuk mereka bertiga.
Sesampainya di depan rumah Erna, Eca membantu menurunkan Edo. Dia membersihkan mulut Edo dari sisa makanan terlebih dahulu. Saat mengandeng Edo, Erna memanggilnya dari depan.
"Eca, kamu bawa aja Edo ke apartemen kamu. Nanti sore mas Lintang jemput dia."
"kenapa kak?"
"hari ini suster izin jadi tidak ada yang jagain dia. Kakak tidak sanggup menjaga mereka berdua seorang diri." ucap Erna sambil menatap Edo dan Erni.
"oke. Edo, kita ke apartemen aunty ya. Tapi jangan nakal, hari ini aunty kerja."
"hore!!"
***
"saat sampai di unit aunty, kita makan dulu lalu kamu ke kamar bermain ya." tutur Eca sambil menekan tombol 7 di dalam lift.
"oke aunty can!"
"eittt tunggu-tunggu" kata seseorang menahap pintu lift yang hampir tertutup.
"Ca, kamu tau kalau ada penghuni baru di sebelah apartemen kamu?" ucap perempuan tersebut sambil menekan tombol 8.
"tidak, aku baru tahu. Kapan pindahnya?"
"sekitar 2 jam yang lalu. Tadi dia mondar-mandir angkut barangnya. Dia juga sempet sapa aku di bawah. Gila! Dia ganteng banget! Serius deh Ca, badan dan wajahnya seperti dewa!"
"hahaha. . . Berlebihan!"
"betulan Ca. Aku tidak melebih-lebihkan. Kamu lihat aja nanti kalau ketemu dia. Pasti kamu langsung klepek-klepek."
__ADS_1
"ngaco kamu Dinda." ucap Eca sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"eh Edo sudah datang!" seru Dinda menyapa Edo.
"dari tadi tante tapi tante tidak lihat Edo! Tante asik cerita terus sama aunty can."
"aduh ngambek. Maaf tante tidak lihat kamu."
Eca dan Edo berpisah dengan Dinda. Mereka memasuki apartemen Eca. Edo langsung berlari menuju kamar bermain. Dia mengambil pistol mainan dan menembak kearah mainan tentara. Dia juga berguling-guling seakan menghindari tembakan.
"makan dulu Edo!" teriak Eca dari luar.
"iya aunty!"
Edo dan Eca makan dengan lahap. Sesekali Eca mengusap pipi Edo yang menempel makanan. Eca tersenyum lembut melihat Edo sangat lahap makan. Selesai makan, dia membebaskan Edo untuk bermain di kamar.
Eca segera melakukan pekerjaannya. Dia mengambil alat-alat make up dan memvideokan dirinya. Dia tengah memberitahukan tutorial make up graduation. Berbekal pengalaman dan terus belajar dari yout*be, Eca akhirnya semakin mahir menggunakan alat-alat make up. Bahkan beberapa brand kosmetik bekerja sama dengannya.
Selesai mengambil video kurang lebih satu jam setengah. Eca memastikan keberadaan Edo di kamar bermain. Ternyata keponakannya sudah terlelap di atas kasur dengan pistol mainan di tangan. Eca mengambil mainan tersebut dan membetulkan posisi tidur Edo.
Eca kembali ke ruang kerjanya dan mulai mengedit video. Dengan serius dia mengedit video sambil sesekali menerima telefon dari pihak yang ingin bekerja sama dengannya. Eca sangat menikmati pekerjaannya sekarang karna dia menyukai hal tersebut. Meskipun lelah, tapi jerih lelahnya terbayarkan saat bayarannya masuk dalam rekening.
Drrtt . . .
"halo Ca, mas udah di bawah." ucap mas Lintang dari seberang sana.
"oke mas. Tunggu bentar ya."
Eca kembali ke kamar tempat Edo. Sang keponakan sudah bangun dan sedang bermain bola. Dia memanggil Edo dan memberitahu keberadaan papanya di bawah.
"papa sudah datang Edo. Ayo turun."
"oke aunty can!"
Dengan semangat Edo menggandeng tangan Eca. Melihat Edo yang masih semangat membuat senyum Eca terbit. Dia mengayunkan genggaman tangan mereka. Saat mengangkat kepalanya karna lift sudah terbuka, matanya membelalak. Dia sangat terkejut melihat sosok yang sudah bertahun-tahun tidak dia jumpai.
"h-hai."
__ADS_1
"Gian?"
____bersambung____