RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 35


__ADS_3

Bunyi jarum jam disetiap detik terdengar nyaring di pendengaran Eca dan Erna. Tidak biasanya mereka bisa mendengar bunyi jarum jam bergerak mengelilingi waktu. Keheningan yang dalam mampu membuat mereka mendengar apa yang selama ini terus berbunyi tapi tidak bisa terdengar karena terendam oleh suara yang lebih besar. Pada nyatanya waktu terus berjalan.


Setiap hentakan jarum jam yang bergerak ikut menghantam perasaan Erna dan Eca. Ternyata, sudah banyak waktu berjalan. Rasa ingin menghentikan pergerakan jarum jam sangat besar. Keinginan untuk menahan waktu sebesar menahan kedua orangtua mereka yang sedang mengurus administrasi perceraian. Setidaknya mereka ingin menahan beberapa saat sebutan keluarga utuh.


Sebesar apapun rasa marah Eca dan Erna pada papa mereka, jauh dilubuk hati mereka masih mengharapkan sosok itu. Namun semua telah terjadi, keadaan memaksa mereka untuk sanggup menerima keadaan. Baik menerimanya dengan lapang dada atau terpaksa, mereka harus tetap menghadapi.


"kapan sidangnya kak?" tanya Eca yang duduk meringkuk memeluk kaki.


"setelah persiapan berkas, masih ada proses mediasi dan beberapa tahapan lagi sebelum sidang keputusan."


"lama ya"


"kakak akan ikut siapa?" sambung Eca.


Erna menghela nafas dalam. Jika diberikan pertanyaan seperti itu dia selalu merasa tertampar oleh kenyataan. Dia harus memilih salah satu orangtuanya disaat dia masih ingin bersama keduanya. Erna mengacak rambutnya dengan kasar. Mengigit bibir untuk menyalurkan rasa kesalnya.


"mungkin mama" jawab Erna.


"aku juga mama. Tapi papa?"


"mungkin bersama perempuan itu. Dia harus bertanggungjawabkan?"


Kali ini giliran Eca yang mendesah dengan dalam. Dia memukul lututnya pelan. Dia menengadahkan kepala ke atas menghitung platfon berulang kali.


Eca masih belum bisa percaya bahwa papa tega melakukan hal menjijikan hingga perempuan itu hamil. Apalagi perempuan itu seumuran dengannya. Musuhnya pula! Karna wanita itu hubungannya dengan mantan kandas karna wanita itu juga hubungannya keluarga mereka hancur. Tia adalah orang yang paling ingin dia hancurkan saat ini. Dia dendam dengan perempuan itu. Sampai kapan pun dia tidak akan melupakan apa yang dilakukan Tia padanya.


Tangan Eca terkepal dengan kuat. Nafasnya memburu dan menatap tajam ke depan. Membayangkan wajah Tia sukses membakar bara api dalam diri Eca. Dia akan memastikan perempuan itu tidak akan bahagia selama sisa hidupnya. Namun pikiran Eca membuyar saat Erna bertanya padanya.


"sekarang apa rencana kamu ke depan setelah mengacaukan ujian masuk univ pertamamu?" celetuk Erna menatap Eca dengan tajam.


"hehehe. . . Maaf. Saat itu aku tidak bisa mengendalikan diri." ucap Eca sambil mengangkat dua jari, jari telunjuk dan tengah.


"ck! Lalu apa rencanamu?"


"aku coba ujian di univ lain. Tapi baru ada 3 bulan lagi."


"oke. Kamu bisa mencoba hal lain selama tiga bulan ini atau mau kursus?"


"belajar lagi? Tidak mau kak! Otakku masih belum bisa menampung pelajaran saat ini. Dia masih terisi dengan masalah mama dan papa." cetus Eca sambil menunjuk kepalanya.

__ADS_1


"kursus tidak mesti tentang mata pelajaran Eca. Kamu bisa coba kursus memasak, menjahit, melukis, atau salon."


"aha! Kalau aku coba kursus salon bagaimana kak? Boleh??" tanya Eca penuh harap.


"boleh. Nanti kakak yang biayain. Kamu cari dulu tempat kursus yang bagus. Tidak apa-apa mahal asal ilmunya berkualitas."


"siap sugar mommy-ku!!"


Erna memutar matanya mendengar kalimat Eca. Untung saja jabatannya tinggi di kantor sempat pas-pasan UMR mampuslah dia. Belum lagi, perceraian orangtuanya. Belum tentu papanya akan memberikan mereka uang lagi. Disaat seperti ini Erna kadang pusing untuk mengelolah keuangan lagi. Ada mama dan adiknya yang menjadi tanggungannya sekarang.


"kak! Aku pake alat make up kakak ya? Aku mau coba tutorial ini." kata Eca sambil menampilkan sebuah video tutorial.


Erna menganggukkan kepala. Dia hanya berharap alat make-upnya masih bisa digunakan nanti. Semoga saja Eca tidak merusaknya.


"tapi janji dulu jangan sampai rusak!"


"iya iya"


"kak sini deh, biar aku praktekan di wajah kakak." sambung Eca lagi.


Erna berjalan ke arah adiknya dengan pasrah. Dia mengikuti instruksi Eca dengan mengikuti video tutorial. Saat Erna membuka mata untuk melihat hasilnya di kaca, dia terkejut bukan main. Dia seperti cosplay jadi badut.


"namanya juga belajar kak! Aku hapus lagi ya? Aku ulang buatnya, ya ya ya?? Please dukung adik kamu ini." kata Eca sambil memohon.


"sempat lebih parah dari ini ku hajar kamu!"


"hehehe. . . Iya iya"


Eca mencoba mengoles kembali foundation pada wajah Erna yang sudah dibersihkan. Nampak sekali dia masih gugup saat menekan foundation ke atas telapak tangan. Dia sampai menekan banyak foundation.


"astaga Eca! Jangan banyak-banyak! Ini kakak belinya mahal!"


"ck! Iya kak tenang dulu."


Sepanjang Eca memulai latihan make up di wajah Erna, tidak henti-hentinya gadis itu mengomeli Eca yang selalu salah. Tidak bosan-bosannya Eca juga selalu menyuruh Erna untuk tenang. Rasanya Erna ingin memukul kepala Eca. Memang berhadapan dengan amatiran sangat menguras emosi.


Saat mereka sedang berdebat, tidak sengaja Eca memencet layar handphonenya. Bukan lagi tutorial make up yang muncul tapi berita yang muncul diberanda.


Hot news!

__ADS_1


Laporan terkini Bapak Hari Wijaya selaku pejabat kementerian keuangan tertangkap melakukan korupsi dengan kerugian negara mencapai 11 miliar. Saat ini terduga sedang diperiksa di gedung KPK.


Eca terbelalak dengan berita yang di dengarnya. Dia kembali mencari berita terkait lainnya. Berita yang sama pun muncul beserta foto dari Bapak Hari. Eca menggulir video yang banyak menampilkan berita kasus korupsi bapak Hari. Berita ini masih baru dan sedang viral. Semua berita mulai mengulik sumber kekayaan dan laporan keuangan Pak Hari. Bukan hanya itu, anak Pak Hari juga ikut diperlihatkan fotonya dari salah satu akun gosip. Bisa Eca lihat wajah jelas Gian yang sedang memakai seragam SMA.


"kak! Ini bapak si Gian kena kasus korupsi!"


"siapa Gian?"


"itu anak tante Mita. Teman aku juga. Dia pernah jadi guru privat aku."


"oho si Gian. Ya ampun kasihan banget Ca!"


Eca mulai panik dan mencoba mencari nomor telepon Gian. Dia mencoba menghubungi nomor pria itu tapi tidak aktif. Dia juga mengirim pesan tapi tidak dibalas juga.


"si Gian tidak bisa dihubungi lagi!"


"dia pasti diteror banyak orang Ca. Ini kasusnya viral banget. Udah bener Gian tidak mengaktifkan nomornya."


"tapi aku penasaran itu beritanya benar tidak sih??"


"bapaknya udah dipanggil sampai KPK. Kemungkinan besar sih iya."


"astaga kasihan Gian! Mana dia lagi persiapan ujian masuk univ dalam minggu ini."


"Coba lihat ini Ca. Keluarga mereka habis dihujat dimana-mana." tunjuk Erna pada salah satu postingan di instagram.


@sii*** : pejabat anj*ng! Rakyat capek-capek bayar pajak mereka enak saja mencuri!


@nan*** : hidup elit, hidup jujur sulit.


@ciko** : anak dan istrinya hidup mewah hasil dari curian bapaknya!


@man*** : anaknya satu sekolah denganku, emang anaknya suka pamer. Setiap ke sekolah gonta-ganti mobil. Ternyata uang korupsi! Anj*nglah!


"siapa sih man-man ini?! Kapan Gian suka pamer di sekolah?! Dia pake mobil cuma satu atau paling dijemput pakai mobil keluarga mereka!"


Erna menatap Eca yang terus marah-marah. Setiap dia membaca komentar yang menghujat Gian, perempuan itu akan mengomeli tanpa ampun. Erna cukup takjub dengan jiwa pertemanan Eca. Sungguh erat sampai-sampai Erna mulai bingung ini beneran teman atau bagaimana. Bisakah seseorang memberikan clue pada Erna?


***

__ADS_1


__ADS_2