RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 44


__ADS_3

Seminggu Eca main sembunyi-sembunyi dari Gian. Dia akan keluar apartemen saat mengintip keluar tidak ada sosok yang paling dia hindari. Eca akan aman keluar saat pukul 9 sampai pukul 5 atau 6 sore karna pria itu pergi kerja. Namun di luar jam itu, adrenalinnya terpacu dengan kuat saat tidak sengaja berhadapan dengan Gian. Dia akan lari terbirit-birit menghindar.


Bertolak belakang dengan Eca yang main sembunyi, Gian justru mati-matian ingin bertemu dengan Eca dan berbicara dengannya. Bak gayung tidak bersambut, dia mencoba berbagai cara untuk menyamakan waktu mereka bertemu. Pernah Gian sengaja telat datang ke kantor demi menunggu Eca keluar dari apartemen, tapi saat Eca mengintipnya, perempuan itu kembali menutup pintu dengan keras. Pernah juga Gian pulang lebih awal saat perjalanan dari luar kota, dia menunggu di depan unit Eca, saat kedua mata mereka bertemu, Eca kembali ke dalam unit.


Kali ini, Gian tidak ingin kehilangan Eca lagi. Dia sungguh tidak tahan bermain kucing-kucingan. Seperti sekarang dia tengah berdiri di samping pintu unit Eca. Bersender pada dinding dengan memasukkan kedua tangan dalam saku celana. Selesai olahraga di arena gym di lantai 2, dia secepat mungkin membersihkan diri dan berdiri menunggu kedatangan Eca.


Jam pergelangan tangan menunjukkan pukul 10 pagi, menandakan dia telah berdiri selama satu jam. Jika hari biasa dia pasti terlambat ke kantor, untungnya sekarang hari minggu sehingga dia bebas menunggu Eca hingga berjam-jam lamanya. Seperti kata orang-orang, menunggu bukanlah hal yang mudah. Terbukti, kaki Gian mulai pegal. Sesekali dia menekuk kaki secara bergantian. Dia juga mulai bosan. Dia menghela nafas dengan dalam. Gian mulai putus asa saat tidak ada tanda-tanda Eca keluar dari unit.


Perut keroncongan dan tenggorokan mulai kering. Gian berusaha untuk bertahan sedikit lagi. Keinginan untuk bertemu Eca lebih besar dari penderitaan berdiri dengan perut menahan lapar. Dia mulai gelisah. Sejak bangun pagi dia belum sarapan hanya minum air putih. Ditambah melakukan aktivitas fisik di gym membuat tenaga Gian terkuras banyak. Jika biasanya selesai membersihkan diri dia akan makan tapi kali ini dia seakan lupa mengisi perutnya saat mengingat keinginan bertemu dengan Eca. Dia tidak mau menyesal kehilangan waktu bertemu dengan gadis tersebut.


Di tengah penantian yang cukup panjang, kepalanya mulai pening. Namun harapannya mulai terbit saat mendengar pintu terbuka dari dalam. Gian segera menegakkan badan. Seakan lupa dengan kakinya yang pegal, kelaparan, kehausan dan pening yang baru saja melandanya, berganti dengan degupan jantung yang luar biasa bekerja lebih cepat. Rasa gugup tiba-tiba menghinggapi. Dia menatap was-was pintu yang bergerak dengan perlahan.


"ah!" teriak Eca saat menemukan sosok Gian berdiri persis di depan pintu.


Secepat kilat, Gian menahan pintu. Diselipkan kakinya diantara pintu. Sekarang terjadi tarik menarik diantara Eca dan Gian. Eca berupaya menutup pintu dan Gian berupaya membuka pintu.


"lepas!!"


"ada yang mau aku bicarakan Ca." lirih Gian menatap Eca dengan sendu.


"tidak mau. Lepas!"


"Ca, please." mohon Gian sambil menatap mata Eca tepat dimanik mata.


"ti-tidak!" cetus Eca mengalihkan pandangan.


Cukup lama Eca dan Gian tarik menarik pintu hingga bunyi yang cukup kuat mengalihkan perhatian mereka. Perlahan Eca menurunkan pandangan dengan kening berkerut. Sedangkan wajah Gian sudah merah seperti kepiting rebus. Semburat merah merambat sampai telinga. Dia melempar pandangan ke arah samping. Terlalu malu untuk menatap wajah Eca sekarang.

__ADS_1


"kalau kamu lapar cari makanan sana! Kenapa kamu malah tarik-tarik pintu orang?" ucap Eca sambil menahan cekikikan yang siap keluar dari mulutnya.


"a-aku ti-tidak punya makanan. Beri aku makanan." ucap Gian sambil meremas pintu dengan kuat.


"kamu tidak tau malu ya sekarang. Pergi sana!"


"please . . . Aku belum makan Ca." mohon Gian dengan wajah memerah.


Eca tidak kuat lagi menahan kedutan di bibirnya saat menatap wajah Gian yang memerah malu dihadapannya. Dia memalingkan wajah dan tersenyum geli sampai menutup mata. Setelah mencoba mengontrol wajahnya barulah dia menatap Gian lagi dengan wajah datar.


"setelah kamu makan, segera keluar." kata Eca melepas tangan dari pintu.


"yes!!" seru Gian kegirangan langsung menyerobot masuk ke dalam.


"kamu dengar yang aku bilang Gian? Kamu harus pergi setelah makan. Benar-benar setelah makan!"


Kegiatan Gian untuk meneliti apartemen Eca terhenti saat perempuan itu memanggilnya dari arah dapur. Dia menatap takjub melihat Eca menyiapkan makanan untuk mereka berdua. Berbagai makanan telah tersaji di atas meja. Bagaikan kucing diberi ikan, langsung saja Gian menarik kursi dan makan dengan lahap. Selama makan mereka asik menikmati makanan sampai tidak berbicara.


"biar aku yang cuci piring." tutur Gian mengambil alih piring kotor Eca.


Eca menatap punggung Gian yang sedang membelakangi untuk menyuci piring. Dia terpesona menatap bahu Gian yang tambah lebar dari yang terakhir kali dia lihat. Badan Gian juga semakin besar dan berotot. Saat diam-diam melihat wajah Gian sambil makan tadi, dia terpana dengan wajah pria itu yang bertambah tampan. Satu hal yang paling berbeda dari pria tersebut adalah tatapannya yang tajam saat tidak berekspresi. Kalau dulu matanya hanya akan menajam jika dia marah. Bertahun-tahun tidak bertemu dengan Gian memberikan pengaruh besar.


Selesai nenyuci piring, Gian kembali duduk dihadapan Eca. Dia menyelami mata gadis itu dengan dalam. Sedikitpun dia tidak ingin mengalihkan tatapan dari wajah dihadapannya. Bisa dia lihat Eca beribu kali lipat lebih cantik dan dewasa dari masa SMA. Perubahan signifikan bisa dilihat secara langsung dari cara berpakaian dan bentuk tubuh Eca. Kalau dulu Eca memakai pakaian tertutup tapi sekarang wanita itu hanya memakai celana pendek dengan baju ketat top crop. Gian sampai ketar-ketir melihatnya. Demi menjaga diri, dia tidak berani menatap dari leher sampai ke bawah tubuh Eca. Walau kadang dia tidak sengaja melihat tubuh Eca saat gadis itu berdiri.


Gian mengalihkan tatapan. Telinganya memerah kembali. Dia menarik nafas sebentar dan mengeluarkannya perlahan. Kembali lagi menatap wajah Eca. Menahan pandangannya untuk tetap menatap lurus.


"apa kabar Eca?" tanya Gian dengan sudut bibir terangkat sedikit.

__ADS_1


"baik, seperti yang kamu lihat."


Gian menganggukkan kepalanya. Dia mengetuk-ngetukan jari di atas meja seakan sedang berpikir. Gian menundukkan kepala menatap meja.


"sudah saatnya kamu pergi Gian."


"tunggu sebentar." kata Gian dengan cepat sambil mengangkat kepalanya.


"apalagi?! Kamu sudah berjanji akan pergi saat selesai makan!"


"kamu lebih pemarah ya sekarang." tutur Gian santai sambil terkekeh kecil di akhir.


"apaan sih?!"


"tapi kenapa kamu tambah cantik kalau marah?"


"Gian!!" geram Eca menatap Gian dengan tajam karna mengabaikan amarahnya.


"hahaha . . . Oke sorry."


"sebelum aku keluar, jawab pertanyaan aku dulu." sambung Gian.


"apa cepat?!"


"kenapa kamu blokir nomorku?"


____bersambung____

__ADS_1


__ADS_2