RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 14


__ADS_3

Sejak pulang sekolah, Eca menangis di dalam kamar. Memikirkan apa yang harus dia perbuat terhadap pacarnya. Tidak mudah untuk memaafkan Nehan. Perbuatan Nehan terlalu jauh. Hanya saja,a4 dia masih sangat mencintai pria itu. Tapi dia juga marah, sangat marah. Apalagi sang kekasih memilih untuk berbohong daripada jujur. Dia lebih melindungi Tia yang katanya "teman". Mana ada teman yang sampai ciuman dan *****-*****! Bahkan dengan Eca saja, Nehan tidak berani berbuat yang lebih dari pegangan tangan. Eca juga tidak mau melakukannya karna mereka masih SMA. Masih sangat muda untuk melakukan hal sejauh itu. Dia tidak mau kebablasan. Mereka berada pada usia yang masih sulit untuk melakukan batasan-batasan yang bisa dipertanggungjawabkan.


Sudah berlembar-lembar tisu habis dan berhamburan di sekitar ranjang Eca. Matanya sembab dan hidungnya memerah. Eca terus memikirkan kejadian hari ini. Kepalanya pusing dan tidak tau harus berbuat apa lagi.


"Eca, makan"


"iya ma."


"ayo! Nanti kamu les."


"iya iya."


Eca tidak berani keluar. Dia malu dilihat habis menangis oleh mamanya. Sebisa mungkin setelah mamanya tidak ada, dia baru makan. Setelah memastikan tidak adabsuara lagi. Barulah Eca keluar dari kamar. Melangkah menuju dapur dan makan dengan pelan.


"kamu habis nangis Ca?"


"e-ee" Eca terbata-bata dan berupaya menyembunyikan wajah dari mama.


"ada masalah?"


""ti-tidak"


"baiklah kalau kamu tidak mau cerita."


"maaf ma. Ini hanya masalah sekolah kok. Bukan apa-apa."


"yaudah. Pastikan kamu belajar dengan sungguh-sungguh. Jangan terlena. Senang dan sedih semasa sekolah itu wajar. Jangan membuat hal itu menghalangi mimpi kamu."


Eca menghentikan gerakkan tangan yang memegang sendok. Dia merasa sedih karna sang mama seperti tidak mau mengerti keadaannya. Mama hanya fokus pada masa depan yang bahkan Eca tidak tau dan belum ada persiapan matang tentang itu.


"Ca. Mama harap kamu lebih dewasa. Tidak ada yang bisa menebak bahwa keadaan kita akan begini terus. Keadaan kita akan aman terus. Kamu harus berjuang untuk hidupmu sendiri. Kamu harus kuat Ca. Mama sangat berharap kamu berhasil. Tinggal kamu yang masih mama khawatirkan. Kalau kamu sudah berhasil, mama tenang meskipun keadaan kita tidak akan seperti ini lagi."


"apaan sih ma. Gak usah berpikiran negatif begitu. Perkataan mama maembuat aku takut saja."


"hemm. Kamu habisin makanan kamu Ca."


Mama pergi dari dapur meninggalkan Eca sendirian. Mendengar perkataan mama tadi membuat Eca semakin sedih. Dia bahkan tidak pernah mempersiapkan masa depannya dengan serius. Dia masih sibuk memikirkan masa sekolahnya saat ini. Dan sibuk pacaran.


Mungkin bisa nanti aja masalah masuk perguruan tinggi dan masa depan. Eca harus memikirkan satu-satu. Untuk saat ini Eca harus menuntaskan masalahnya dengan Nehan terlebih dulu.


***


"hem!" Cio berdecak sambil menyenggol lengan Eca.

__ADS_1


"orang gila!"


"Ca ayo sini. Ada yang mau aku bilang." Yuyu melambaikan tangan pada Eca.


"ada apa?"


"hari ini ada kuis dadakan Ca. Aku dengar pembicaraan guru di kantor tadi. Tapi jangan beritahu yang lain. Aku hanya kasih tau ini sama kamu. Biar kita masih sempat siap-siap" bisik Yuyu.


"ha?? Kok tiba-tiba?? Aduh gimana ini, aku belum belajar."


"sama aku juga. Cepat buka buku kamu serakang. Mana tau masih ada materi yang sempat masuk di otak kita."


"aish!" keluh Eca sambil membuka bukunya dengan buru-buru.


Eca dan Yuyu seperti membaca mantra. Mulut mereka asik berkomat kamit merapalkan rumus dengan kepala menunduk. Sesekali Eca menggaruk kepalanya kasar karna tak kunjung menghafal rumus yang sulit.


"kalian mengapa?" tanya Cio penuh selidik.


. . .


"he! kalian kesurupan??" Cio kali ini berdiri disamping meja mereka.


"tidak tidak. Udah pergi sana!" bentak Yuyu.


"sttt! Ingat jangan sebar luaskan lagi. Ini karna kamu udah nangkap basah kita. Sebenarnya aku tadi dengan percakapan guru kalau ada kuis dadakan."


"wah gila kalian gak beritahu."


"enak aja. Info itu mahal!"


"cih!" Cio segera duduk ditempatnya dan membuka buku.


Sekarang bentukan mereka bertiga sama. Mulut berkomat-kamit sambil menunduk. Tak lama kemudian, bel tanda masuk berbunyi. Kali ini yang masuk Pak Dermawan. Selesai menyapa dia menyuruh untuk menyimpan buku dan bersiap kuis dadakan. Tepat setelah lembar soal dibagikan, seseorang mengetuk pintu.


"permisi pak."


"masuk Gian dan ambil soalnya."


"baik pak."


Kelas berlangsung dengan hening. Semua murid fokus mengerjakan soal. Bahkan Eca saat ini tengah menimang rumus yang tepat untuk mengerjakan soal. Karna kebanyakan menghafal rumus dia sampai tidak tau dimana rumus itu dipergunakan. Seandainya tadi dia melihat judul sebelum mengahafal rumus mungkin dia bisa tau sedikit. Tapi saat ini Eca menggunakan rumus sesuai dengan feeling. Semoga saja tebakannya benar kali ini.


Kuispun berakhir dengan lancar. Beberapa siswa lega karna tidak lagi harus berpikir keras dan sebagian siswa lain asik membahas soal kuis tadi. Eca dan Yuyu meletakkan kepala ditangan yang dilipat. Mereka merasa lega, sepanjang kuis mereka seperti membawa beban yang sangat berat di pundak. Selesai kuis, beban itu seperti diangkat dan mereka merasa ringan.

__ADS_1


"wah gila. Tadi soalnya susah -susah yah Ca. Aku hanya tau setengah. Sisa aku jawab asal."


"kamu masih enak tau sebagian. Aku tadi hanya tau seperempat dari soal. Itupun kalau aku gak salah kasih rumus. Huffft nilai aku pasti hancur kali ini"


"bukan hanya kali ini Ca, lebih tepatnya setiap kuis." Cio tiba-tiba menjawab dari arah belakang.


"sialan."


"udahlah ngaku aja."


"ck iya sih."


"nahkan. Beda banget sama di samping aku ini, gak belajar pun dia selalu dapat nilai besar."


Eca menoleh menggangkat kepala dan melirik kearah Gian yang sedang membaca. Padahal sekarang sedang istirahat. Bukannya istirahat dia malah lanjut belajar. Eca heran apa ada orang yang suka pada Gian karna dunia pria itu hanya seputar belajar, belajar dan belajar. Benar-benar membosankan.


"tapi membosankan."ucao Eca sangat pelan.


Gian menghentikan kegiatan membacanya. Ternyata pria itu dengar. Padahal Eca sudah berupaya berbicara dengan sangat pelan. Eca langsung mati kutu. Bisa-bisa mereka adu mulut lagi.


"bukan aku yang bilang ya Gian. Itu si Eca yang bilang." tunjuk Cio pada Eca.


"Cio sialan." ucap Eca menahan geram pada Cio.


"kamu bicarain aku?" Gian bertanya dengan memusatkan pandangan pada Eca yang ada dihadapannya.


"ti-tidak kok."


"tidak salah lagi maksudnya Gi." sambung Cio.


"hm??"


"mana ada?! Kamu percaya sama si Cio ini?"


"terus aku harus percaya sama kamu begitu?"


"ti-tidak juga sih. Ya-yang penting aku bilang tidak!"


"aku udah bilangkan jangan bicara sama aku. Jauh-jauh."


Kali ini Eca tidak takut lagi. Dia memutar mata. Menatap Gian dengan pandangan jenuh. Lagi-lagi, Gian meminta Eca untuk menjauh. Eca tidak sudi juga harus dekat Gian. Kalau boleh dia ganti tempat duduk. Mengambil tempat yang jauh dari Gia.


***

__ADS_1


__ADS_2