RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 30


__ADS_3

Eca keluar dari mobil dengan tergesa-gesa. Dia berlari ke arah pintu masuk hotel. Dia tidak mau ketinggalan jejak dari papa dan mama Gian. Perempuan itu ingin memastikan langsung apa yang hendak mereka lakukan di dalam hotel ini. Jantungnya terasa di peras setiap pijakan kakinya ke tanah yang berlari memburu waktu.


"Eca, tunggu!" Gian menarik lengan Eca.


"lepas!"


Eca tidak menghiraukan keberadaan Gian lagi. Dia semakin cepat berlari saat melihat bayangan papa dan mama Gian yang mulai berbelok ke arah kiri lorong hotel. Tapi anehnya langkah sang papa mulai melambat. Mama Gian sampai berbalik ke belakang. Eca langsung saja sembunyi di balik tembok.


"cepat mas!"


"ta-tapi."


Eca mengintip mama Gian tengah menarik tangan papa dan menuju sebuah kamar. Mama Gian memeriksa kantong jas papa. Wanita itu mengambil kartu akses kamar. Dia menempelkannya dan pintu terbuka. Baru satu langkah mama Gian masuk dia langsung berbalik.


Plak!!


Eca membungkam mulutnya. Kedua matanya terbelalak. Bukan hanya Eca yang terkejut papanya juga ikut terkejut. Lalu sang papa lebih terkejut lagi saat melihat ke dalam kamar.


"aku sudah menduga kalau selama ini kamu main api di belakang teman aku!"


"ti-tidak. . . " ucap papa lemah.


"ya Tuhan. Kenapa sama bocah ingusan mas!" mama Gian mendorong papa Eca dengan kuat hingga pria itu terdorong beberapa langkah ke belakang.


"tante siapa?" tanya seseorang dari dalam kamar.


Jantung Eca seperti ditusuk jarum saat ini. Kenyataan apa yang di dengarnya barusan. Kenapa papanya berbuat hal kotor seperti ini.


"kamu yang siapa?!!" teriak mama Gian.


"siapa sih?! Om kenapa lama banget datangnya?" perempuan itu mengalihkan pembicaraanya pada papa.


Tubuh Eca bergetar semakin kuat. Dia penasaran siapa perempuan itu. Siapa perempuan yang memanggil papanya manja dengan sebutan om. Dan kenapa dia harus menunggu papanya di hotel?

__ADS_1


Dengan badan bergetar, Eca keluar dari persembunyiannya. Matanya melotot saat melihat sosok itu. Jantungnya seakan ditikam oleh pisau. Dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini. Kenapa takdir sebercanda ini dengan hidupnya. Tubuh Eca merosot dengan cepat ke lantai. Tidak sanggup berdiri melihat kenyataan di depan matanya. Dia sangat syok melihat perempuan muda yang hanya menggunakan lingerie berwarna putih. Siapa pun yang melihat pasti tau jika perempuan itu menggunakan dalaman yang warnanya sangat kontras.


"Eca!" Gian langsung menghampiri dan merangkul Eca.


Sekarang semua mata beralih kepada Eca. Mereka semua terkejut melihat keberadaan Eca dan Gian. Mereka tidak pernah mengira bahwa keduanya akan ada di sini sekarang.


"E-ca" lirih sang papa.


"ti-tidak!" Eca menjerit dengan kuat.


Mama Gian berlari ke arah Eca dan memeluk perempuan itu. Dia mengelus dengan sayang bagian belakang kepala Eca. Seluruh badan Eca terasa bergetar dalam pelukan mama Gian. Mengetahui hal itu mama Gian menatap papa Eca dengan tajam. Hal yang semakin meraup pasokan udara dari pernapasan papa.


"pa-pa bisa jelasin sayang." ucap papa mulai mendekat ke arah Eca.


"jangan mendekat! Kenapa papa tega melakukannya?!!"


"papa salah sayang." kata papa sambil menunduk dalam.


"kenapa harus sama dia?! Dia seumuran aku pa!! Dia satu sekolah sama aku!!!"


"maaf bapak ibu tolong dijaga ketertibannya. Perkelahian bapak ibu mengganggu kenyamanan penghuni hotel lain. Jika ingin menyelesaikan masalah tolong masuk ke dalam kamar hotel dan selesaikan baik-baik. Terima kasih atas perhatiannya." kata petugas hotel yang datang melerai.


"kita akan pergi mas. Maaf sudah mengganggu." ucap mama Gian sambil membantu Eca berdiri.


Eca, mama Gian dan Gian pergi dari hotel. Mama Gian senantiasa merangkul Eca. Sedangkan Gian mengikuti kedua perempuan itu dari belakang. Sesampainya di dalam mobil, mereka bertiga tidak ada yang mulai pembicaraan hanya tangisan Eca yang merobek keheningan dalam mobil. Tubuh Eca masih bergetar dengan kuat dia semakin mengeratkan pelukan pada mama Gian.


Eca sibuk memikirkan apa yang harus dia perbuat setelah ini. Bagaimana keadaan keluarga mereka setelah ini? Apa dia harus memberitahukan kepada mama dan kakaknya? Pasti kedua perempuan itu akan syok. Sama seperti Eca saat ini yang masih belum bisa menerima kenyataan bahwa papanya berselingkuh.


"aku tidak berani pulang tante. Aku ti-tidak sanggup menceritakannya pada mama." lirih Eca membuat tangisnya semakin pecah saat memikirkan mamanya.


"kamu ke rumah tante dulu ya. Biar nanti tante yang membicarakan soal itu pada mama kamu."


***

__ADS_1


"Gian, panggil Eca. Kalian dari pulang sekolah belum makankan?" tanya mama Gian sambil menata makanan di ruang makan.


"iya ma."


Gian menatap ragu pada Eca yang masih menangis di ruang tamu. Dia sebenarnya merasakan sakit saat perempuan itu menangis dengan sedih. Dia tidak tau harus melakukan apa untuk menghiburnya. Dia juga tidak berpikir kalau Eca bisa terhibur di situasi seperti ini. Setidaknya dia harus memikirkan cara bagaimana supaya menyuruh gadis itu makan. Daritadi mereka belum makan. Dan jujur Gian sangat lapar sekarang.


"Ca makan."


Tidak ada sahutan. Bahkan perempuan itu tidak repot-repot untuk menoleh. Dia masih asik mengusap air matanya dengan tisu. Sudah ada beberapa tisu yang berceceran di atas meja.


"makan dulu ya. Kalau kamu sakit nanti mama kamu jadi tambah sedih."


Benar saja. Dengan kalimat tersebut Eca mampu mengangkat kepalanya. Sepertinya jika nama mama gadis itu dibawa-bawa maka Eca akan bereaksi. Gian lalu menarik tangan Eca dan menuntunnya ke meja makan.


Gian makan dengan sangat lahap bahkan dia sampai menambah porsi makan. Sangat berbanding terbalik dengan Eca yang makan sambil melamun. Baru tiga sendok yang masuk dalam mulut perempuan itu dari tadi dia asik mengaduk-aduk makanannya.


Gian menghembuskan nafas kasar. Dia sangat tidak suka melihat Eca bersedih apalagi tidak selera makan seperti ini. Dia segera menyelesaikan makan dan membawa piring ke wastafel. Barulah dia kembali duduk di meja makan. Bukan di tempat duduknya semula tapi di samping Eca. Dia mengambil alih piring dan sendok Eca.


"aaa" kata Gian sambil membawa sesendok penuh makanan di depan mulut Eca.


Eca membuka mulutnya sedikit. Tentu saja makanan yang ada di sendok tidak dapat tertampung semua dalam mulut Eca. Banyak yang jatuh mengotori mulut dan pakaian Eca. Gian segera mengambil tisu dan mengusap mulut Eca. Tidak lupa dia mengucap maaf saat akan membersihkan pakaian Eca. Sedangkan Eca sama sekali tidak peduli dengan apa yang Gian lakukan. Pikiran gadis itu udah berkelana di tempat lain.


Gian kembali menyuap Eca. Tapi kali ini dengan porsi yang lebih sedikit. Namun Eca tidak lagi menyelesaikan makanannya saat tinggal setengah piring. Tiba-tiba gadis itu merengek mau pulang. Dia ingin bertemu dengan sang ibu.


Gian dan mama Gian mengantarkan Eca pulang. Sesampainya di depan rumah, Eca mengetuk pintu sangat pelan. Akhirnya mama Gian mengambil alih untuk mengetuk pintu. Kalau ketukannya sangat lemah seperti itu mustahil mama Eca bisa mendengarnya.


"eh Gian, Mita, Eca. Ayok masuk" ucap mama.


Gian, mama Gian dan mama Eca sudah duduk di ruang tamu. Tinggal Eca yang datang paling terlambat. Mama mengernyitkan dahi saat melihat Eca dengan mata sembab seperti baru saja menangis.


"begini Ra. Tadi aku tidak sengaja bertemu dengan mas Hadi di hotel. Aku udah sering melihat dia di sana sebenarnya. Aku sering ke sana karna mau ketemu klien. Aku jadi curiga saat mas Hadi beberapa kali keluar masuk hotel itu disusul sama perempuan. Tadi aku mau membuktikan dan menantang mas Hadi untuk membuka kamar hotelnya. Kami sempat berdebat karna mas Hadi tidak mau akhirnya aku ancam kalau dia tidak beritahu aku bakal kasih tau kamu tapi kalau dia beritahu aku tidak beritahu kamu. Dia akhirnya buka kamar hotelnya dan disana ada perempuan muda. Ternyata Eca dan Gian mengikuti kami. Dan Eca syok melihat kejadian itu makanya dia menangis."


"aku sudah tau." ungkap mama dengan sangat tenang. Membuat ketiga orang itu menatap mama terkejut.

__ADS_1


***


__ADS_2