RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 45


__ADS_3

Hening menyelimuti Eca dan Gian yang saling pandang. Hanya mata yang sesekali berkedip tanpa suara. Mereka masih betah dengan kesunyian untuk beberapa saat. Satu hal yang pasti pertanyaan Gian masih berputar dalam pikiran.


Gian memiringkan kepala sedikit ke arah kanan dan menaikan kedua alis. Dia berkedip sebentar sebelum menatap Eca dengan dalam. Seolah menargetkan buruan. Dia bertekad tidak akan melewati jawaban gadis yang duduk berhadapan dengannya.


"tidak mau menjawab?" tanya Gian dengan suara berat.


Eca menghela nafas sejenak, ia menatap Gian dan menjawab dengan yakin "aku punya alasan untuk itu."


"kenapa?"


"kamu meminta aku menemuimu sebelum pergi tapi setelah aku sampai bandara aku lihat kamu dan Rani ciuman. Aku tidak ingin menjadi pengganggu diantara kalian. Lebih baik aku memblokir nomor kamu kan?"


"kamu suka menyimpulkan sendiri." ucap Gian sambil mengusap rambut ke belakang.


"aku melihat fakta di depan mataku. Apakah aku salah menyimpulkan seperti itu?"


Gian menggeleng kepala. Dia menghela nafas untuk menggendorkan otot-otot yang kaku. Melipat tangan di atas meja dan memainkan jemarinya sebentar.


"tapi kesimpulanmu salah." tekan Gian sambil menatap Eca dengan seksama.


Eca mengernyitkan alis. Badannya condong ke depan dan berkata, "apanya yang salah?"


"baik, Rani memang menciumku saat itu. Dia melakukannya tiba-tiba. Namun kami sudah tidak memiliki hubungan lagi. Jadi, kamu salah beranggapan mengganggu."


"saat itu atau saat ini?" tanya Eca ogah-ogahan sambil melihat ke arah lain.


"apaan?"


"kalian pacaran." bisik Eca menundukkan kepala.


"hahaha . . . Saat itu kami udah putus Eca apalagi sekarang. Aku sudah menjelaskan semuanya kepada Rani."


"terus kenapa dia cium kamu?!"


Wajah Eca memerah. Hal tersebut membuat Gian berusaha menahan kedutan di bibir. Dia menunduk sebentar sambil menutup mulutnya.


"tanda perpisahan katanya." seloroh Gian sambil mengangkat bahu.


"masa tanda perpisahan seperti itu?!!" teriak Eca spontan kemudian mengerucutkan bibir.


"hahahah. . . " tawa Gian pecah sampai air mata menetes sedikit.

__ADS_1


"jangan ketawa!! Aku serius!"


"haha . . . Iya iya, tapi aku tidak tau Eca."


Eca menghembuskan nafas dengan kasar. Dia melipat tangan di depan dada sambil melempar pandangan ke samping. Dia kesal melihat Gian masih saja senyum-senyum.


"dasar gila." bisik Eca pelan.


Gian semakin tidak bisa mengontrol tawanya. Beberapa kali dia mengusap mata sambil berusaha meredakan tawa. Dia berpindah duduk di sebelah Eca. Dengan perlahan dia menarik tangan Eca. Lalu menatap perempuan itu tepat di manik mata.


"tidak usah marah. Terima kasih sudah berpikir seperti itu. Tapi mengapa aku senang ya kamu marah?."


"kamu senang?!"


Gian ingin ketawa lagi tapi Eca sudah melototkan mata. Terpaksa Gian menahan senyum. Dia menghela nafas dalam sejenak.


"Ca."


"waktunya udah habis. Kamu sekarang keluar." cetus Eca sambil menarik Gian keluar.


"tunggu dulu, Ca. Aku masih mau ngomong sama kamu." tahan Gian


"aku yang tidak mau ngomong lagi!"


"yes!" ucap Gian pelan dengan mengepalkan tangan.


Hari-hari berlalu, setiap pulang kerja Gian menyempatkan membunyikan bel unit Eca untuk menyerahkan makanan. Hanya menyerahkan saja karna Eca tidak memberikan kesempatan bagi Gian untuk berbicara panjang lebar apalagi masuk. Namun Gian tetap membelikan makanan dan berusaha memancing Eca untuk berbicara meskipun hanya hembusan angin karna pintu tertutup yang didapatnya.


Sama halnya dengan saat ini, dia menenteng kantong makanan di tangan kiri sedangkan di tangan kanan sibuk membalas pesan dari rekan kerja. Di saat Gian fokus pada ponsel sambil masuk dalam lift, dia tidak menyadari seseorang ikut masuk. Sesampainya di lantai tempat unit mereka, Gian melangkah di depan unit Eca tapi langkahnya terhenti saat seorang pria sudah berdiri di depan unit Eca. Pria yang tadi bersamanya di dalam lift.


Sosok itu tampak menekan bel Eca, tidak lama kemudian Eca membuka pintu dan menyambut pria itu dengan senyum lebar. Dia juga mengambil kantong makanan yang berlogo salah satu junk food yang di sodorkan oleh pria itu. Kemudian mereka masuk bersama di dalam unit Eca. Gian dan Eca sempat bertatapan saat perempuan itu hendak menutup pintu. Namun Eca segera memalingkan wajah.


Gian mendesah kasar. Dia menatap pintu Eca yang tertutup rapat. Sekarang dia menunduk dan menatap kantong makanan yang ingin dia berikan pada Eca. Dia putus asa. Eca pasti tidak mau menerima makanan pemberiannya karna pria tadi sudah memberikannya makanan.


Hal yang membuat Gian sangat gelisah karna Eca membiarkan pria lain masuk dalam unit Eca. Apa yang mereka lakukan di dalam? Dan siapa pria itu? Kenapa juga Eca harus tersenyum lebar melihatnya? Hal itu membuat Gian kesal sendiri. Dia tidak tahan ingin menarik pria itu keluar sambil melemparkan makanan pemberiannya.


Setelah dipikir-pikir kembali, wajah pria itu seperti tidak asing. Gian merasa pernah melihatnya tapi dia tidak tau dimana. Dia tidak terlalu yakin dengan ingatannya tapi Gian merasa pernah melihat pria itu satu atau dua kali.


Gian memasuki unitnya dengan lesu. Dia segera membersihkan diri kemudian menikmati secangkir kopi untuk menjernihkan pikirannya dari kekalutan. Gian berulang kali mendesah kasar sambil mengacak-acak rambut. Dia juga menatap nanar pada kantong makanan yang terletak tak berdaya di atas meja.


Akhirnya Gian memutuskan keluar dan membuang makanan itu daripada tidak ada yang makan. Dia sudah mengisi perut bersama rekan kerja sepulang kerja tadi. Dia juga sudah tidak selera makan lagi. Nafsu makannya hilang begitu saja.

__ADS_1


Tepat setelah Gian keluar, ada seorang perempuan. Wanita itu tersenyum lebar. Gian sampai khawatir mulut wanita itu bisa sobek sangking lebarnya.


"selamat malam, mas."


"malam." ucap Gian sambil menganggukkan kepala pelan.


"mas yang penghuni baru itukan?"


"iya."


"kita sempat sapaan saat itu, tapi kita belum kenalan. Kan ada pepatah yang bilang 'tak kenal maka tak sayang' mana tau setelah ini kita bisa sayang-sayangan eh," tutur wanita itu malu-malu.


Gian membalasnya dengan senyum kikuk. Tiba-tiba pikirannya buntu. Dia sangat bodoh dalam hal basa-basi. Apalagi terhadap orang baru.


"kenalin nama saya Dinda. Kalau mas?" seloroh Dinda sambil mengulurkan tangan.


"Gian." kata Gian sambil membalas jabatan tangan Dinda.


"wow besar." ucap Dinda sangat pelan.


"apa?"


"hehehe tangan mas Gian besar banget."


Dengan cepat Gian melepaskan tangannya. Dia memasang wajah datar. Dia berniat pergi tapi Dinda berkata, "kantong makan buat siapa tuh mas?"


Gian menatap Dinda dengan bingung. Dinda mengkode dengan menatap kantongan di genggaman Gian. Pria itu pun paham dan mengangkat kantong tersebut.


"oh ini. Kalau kamu mau ini buat kamu aja. pemiliknya udah makan yang lain."


Setelah mengucapkan kalimat, pintu unit Eca terbuka. Terdapat Eca dan pria tadi yang sedang berdiri di luar. Gian sempat melihat ke arah mereka berdua.


"yang benar ini punya Dinda mas?"


"hm"


"makasih mas! aduh mas baik banget sampai bagi makanan sama aku!"


Dinda lalu memalingkan pandangan ke arah tatapan Gian saat ini. Dia terkejut melihat Eca . Dia tersenyum pada gadis itu sambil mengangkat kantong makanan.


"Hai Ca! Ini aku dapat dari mas Gian. Dia baik banget ya?" tutur Dinda sembari tersenyum kegirangan.

__ADS_1


"i-iya" ucap Eca tersenyum kaku.


____bersambung____


__ADS_2