
Malam ini suasana rumah keluarga Eca sangat dingin. Mereka sudah mengetahui kejadian yang terjadi hari ini. Mereka memasuki kamar masing-masing. Sibuk dengan pikiran mereka. Baik mama dan papa sama-sama berbaring saling berlawanan arah. Mereka belum tidur. Kedua mata mereka masih terbuka lebar.
Mama memilih keluar dari kamar. Mengambil makanan dan air. Hari ini mama tidak memasak. Eca berinisitif sendiri untuk memasak sore tadi. Mama menyendok makanan dengan pelan. Rasanya lumayan. Tidak terlalu enak dan tidak buruk juga. Setidaknya masih bisa dimakan untuk mengganjal perutnya yang sudah meronta-ronta minta diisi dari tadi sore.
Hanya lampu dapur yang menyala. Sedangkan lampu di ruangan lain dibiarkan padam. Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Biasanya sekarang waktunya tidur untuk mereka.
Makanan mama terasa terperangkap di dalam kerongkongan. Mama tidak sanggup untuk menelannya. Dia meminum air. Tapi dia terbatuk karna makanan yang tidak turun dengan sempurna. Mama menepuk dadanya.
"kenapa tidak mau turun?!"
Makanan yang mengganjal mencekik pernapasan mama. Wanita itu menyalahkan makanan yang tidak bisa turun dengan sempurna. Rasa sakit yang tidak tertahankan karena makanan yang mengganjal membuat mama menjatuhkan air mata. Sekarang makanan mama sudah turun dan tidak sakit lagi. Tapi air matanya terus mengalir. Sekarang menjadi lebih banyak hingga sesegukan.
"ah gara-gara makanan ini." lirih mama sambil mengambil tisu.
Kepala mama menunduk. Dengan tangan bergetar, wanita dewasa itu menarik rambutnya kuat. Menyalurkan perasaan yang dia tahan sejak tadi. Lalu dia meremas dadanya yang seakan ditikam palu. Entah karna makanan atau mengingat perbuatan suami yang membuat tangis mama semakin menjadi. Di malam yang sunyi, suara tangisan mama menjadi nyanyian lirih.
Eca sudah menutup wajah dengan selimut dengan pipi yang penuh dengan air mata. Tangannya bergetar dengan kuat saat mengusap pipi. Rasanya jantung Eca seperti ditarik dari tempatnya mendengar suara tangisan mama yang pecah dari arah dapur. Dia mengigit bibirnya kuat hingga berdarah untuk mengalihkan perasaan. Tidak lama pintu kamarnya diketuk. Eca tidak menghiraukan. Kembali ketukan itu terdengar tapi kali ini sambil membuka kunci dari arah luar. Seseorang melangkah ke arah kasur. Dia langsung membuka selimut. Menarik lengan Eca dan memeluknya dengan erat. Sekarang tangis mereka berdua pecah. Mereka berlomba-lomba menangis dalam pelukan.
"ke-kenapa papa melakukan itu kak?" tanya Eca masih sesegukan.
Erna menggelengkan kepalanya. Pikirannya penuh dengan cerita papa yang selingkuh. Tidak ada anak yang akan baik-baik saja saat orangtuanya selingkuh. Tapi di posisi ini Erna harus menenangkan Eca dulu. Dia bisa merasakan bagaimana syoknya Eca saat melihat kejadian itu secara langsung. Eca masih terlalu muda untuk memahami persoalan orang dewasa. Dia tidak ingin hal itu akan berdampak buruk bagi Eca. Dia sebagai kakak merasa memiliki tanggung jawab untuk mendampingi sang adik. Mengesampingkan perasaannya yang sama hancurnya.
Malam itu, Eca dan Erna tidur bersama. Sepanjang malam Erna mengelus kepala Eca hingga adiknya terlelap. Namun Erna tetap terjaga hingga pukul 3 pagi. Dia memikirkan banyak hal yang membuat dia kesulitan untuk terlelap.
***
Sepulang sekolah, Eca langsung menuju kelas Gian. Bukan untuk bertemu Gian apalagi Nehan. Dia ingin bertemu dengan seseorang yang ikut menghancurkan keluarga mereka. Dia melipat tangan di depan dada. Melihat ke arah pintu dengan tatapan datar. Tidak dihiraukannya sapaan dari teman-teman Gian yang kebetulan dikenalnya.
Saat sosok yang ditunggu-tunggu keluar, dia langsung menghadangnya. Dia menatap perempuan itu dengan tajam. Kedua tangannya terkepal.
"aku tidak menyangka kau semurah itu Tia." ucap Eca menekan suaranya disetiap kata.
"maksudmu apa?!" seru Tia sambil menolak bahu Eca.
"setelah merebut pacar orang sekarang kamu merebut suami orang?!"
"a-apa ma-maksudmu?" tutur Tia sambil melihat sekeliling dengan panik.
"Eca?" bisik Gian yang keluar dari kelas.
Tia menjadi lebih panik saat melihat Gian. Dia mulai terserang kegugupan. Dia melihat sekelilingnya sekali lagi. Tidak banyak siswa yang ada di sekitar mereka. Bahkan sekarang anak-anak itu mulai berlari pergi setelah mendengar bisik-bisik dari siswa yang baru datang. Tia mulai tenang saat mereka bukan membicarakan tentang Tia buktinya siswa yang lain berlari pergi dari sana. Tersisa Gian, Eca dan Tia saja sekarang. Tia mulai berani lagi. Biar saja Gian tau toh kemarin laki-laki itu sudah melihatnya.
__ADS_1
"om Hadi yang deluan menggodaku. Aku hanya merespon ajakannya. Apa aku salah disitu?! Harusnya salahkan papamu yang nafsu mencari perempuan lain dari pada istrinya yang sudah tua."
Plak!
Eca menampar Tia dengan kuat. Nafasnya memburu. Badan Tia sampai menunduk ke samping karna kuatnya tampar Eca. Gian menahan Eca. Pria itu tidak ingin Eca sampai kelepasan.
"murahan! Tubuhmu semurah itu dikasih kebanyak lelaki? Setelah disentuh Nehan sekarang kamu memberikannya kepada orang yang pantas kamu panggil ayah?! Apa orangtuamu tidak mengajarimu bagaimana untuk menjaga diri?!"
Plak!!
Kali ini Tia menampar Eca tidak kalah kuat. Matanya menyala menatap Eca. Orangtua adalah topik sensitif bagi perempuan itu. Namun Eca berani mengusiknya. Gian tidak bisa mengantisipasi gerakkan Tia yang sangat cepat. Dia memeriksa pipi Eca yang memerah. Ada bekas tamparan yang terjiplak di pipi perempuan itu sekarang. Eca maju ke depan hendak membalas Tia namun ditahan oleh Gian. Pria itu bergerak maju di depan tubuh Eca.
"Hei guys! Apa-apaan ini?" celetuk Cio dengan cepat menahan gerakan Tia.
Gian menghembuskan nafas lega melihat Cio. Tidak bisa dia bayangkan harus terjebak diperkelahian dua perempuan dipuncak emosi mereka. Sudah bisa Gian tebak dia pasti kewalahan.
Eca dan Tia masih berusaha memberontak mencoba meraih satu sama lain. Mereka mencoba memukul atau pun menjambak. Sesekali Cio dan Gian terkena serangan dari kedua wanita itu. Tak jarang juga mereka terkena pukulan dari masing-masing lawan.
"ah sialan! Tenang woi!!" seru Cio dengan geram. Rambutnya dari tadi terkena jambakan Tia.
"aw!" Gian berseru mencoba melepaskan jambakan Eca dari rambutnya.
"aa!! Tenang gila!!" teriak Cio.
Sama halnya dengan Tia, Eca juga menatap Tia dengan tajam. Beruntung ada Gian yang mengelus punggungnya pelan. Pria di sebelahnya mencoba untuk menenangkan Eca. Daritadi pria itu hanya pasrah terkena pukulan dan jambakan Eca.
"kalian kenapa sih?! Kalau mau berkelahi noh di sana di lapangan. Luas! Luas!" seru Cio sambil menatap Tia dan Eca bergantian.
"udah sana pulang! Pulang ngak Tia?!" bentak Cio pada Tia yang tampak tidak bergerak.
"diam!" bentak Tia balik.
Cio terkejut. Dia jadi takut melihat raut wajah Tia yang seram. Mereka menatap kepergian Tia dalam diam.
"oh iya. Hampir aja lupa. Gian kamu dipanggil tuh sama sahabatmu. Padahal dia udah panggil-panggil kamu pake toa dari tadi. Apaan sih yang mau dia bilang? Bikin heboh satu sekolah aja."
"siapa yang manggil?"
"si Rani sahabat sehidup sematimu!"
"ck apaan sih?! Kenapa dia manggil?"
__ADS_1
"mana aku tau Gian. Udah sana pergi. Biar anak-anak lain pada pulang. Ck! Aneh-aneh aja. Orang kalau mau bicara ya berdua ini malah di umumin emang pengumuman apa?!"
"yaudah aku ke lapangan. Aku titip Eca bentar ya."
"siap, udah sana pergi."
Eca dan Cio berjalan ke lapangan untuk menyaksikan kerumunan siswa yang mengelilingi lapangan. Sebagian besar siswa yang berkumpul adalah siswa yang belum pulang, sisanya siswa yang menunggu jam latihan kegiatan pengembangan diri. Di tengah lapangan ada Rani dan Gian. Mereka menjadi pusat perhatian sekarang.
"ada apa sih?" celetuk Eca sambil mengipas pipinya yang masih panas akibat tamparan Tia.
"Entah si Rani, bikin heboh aja. Dia malah bikin orang tidak bisa pulang!"
Eca melihat Rani memegang toa yang sampirkan di bahu kiri. Ditangan kanannya membawa bingkisan kado kecil. Rani juga memberikan senyum lebar kepada Gian.
"Gian, aku udah pernah bilangkan kalau aku di terima di jurusan desain grafis, ada yang mau aku beritahu sama kamu?"
Rani berbicara menggunakan toa. Mendengar kalimat Rani yang syarat akan makna membuat siswa lain bersorak heboh. Gian hanya mengangguk kepala pelan. Sesekali dia menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Tidak jarang juga dia menutup wajahnya.
"aku mau bilang sama kamu, kalau aku suka kamu Gian. Udah dari lama. Aku baru ada keberanian bilang ini saat aku lewat univ favorit aku. Aku berusaha memantaskan diri dulu sebelum mengungkapkan perasaanku." ucap Rani malu-malu.
"cieeeee" kompak semua siswa menyoraki.
"kalau kamu terima ini, artinya kamu mau jadi pacar aku." kata Rani lagi sambil menyodorkan bingkisan yang ada ditangan kanannya.
"terima terima!!" teriak siswa yang mengelilingi lapangan.
Semua siswa menyoraki. Ada yang bersiul. Ada siswa yang sibuk merekam ada juga siswa yang melenyot baper. Semua siswa tampak bersemangat melihat kedua orang di tengah lapangan.
"mereka cocok sih." kata salah seorang siswa
"iya, sama-sama pintar. Good looking lagi. Fiks couple goals!" celetuk yang lain.
Eca mendengar pembicaraan siswa-siswa yang berada di sekitarnya. Dia menundukkan kepalanya. Entah kenapa, Eca merasa kesal mendengar pembicaraan itu. Dia mengigit bibirnya dan memeras tangan.
Suasana menjadi semakin heboh. Beberapa diantara siswa sampai melompat terjingkrak-jingkrak. Eca menaikan tatapannya dan melihat Gian menerima bingkisan dari Rani. Eca melotot dia menutup mulutnya. Gian ikut melihat Eca yang berada di pinggir lapangan. Pria itu membuang tatapannya ke bawah.
"emang si Gian bego urusan hati!" cetus Cio dari samping.
"masih mau tunggu Gian pulang atau bareng aku aja?" tanya Cio melihat Eca yang tampak sedih.
Eca menggelengkan kepalanya. Dia lalu pergi disusul oleh Cio. Dia lain sisi, Gian menatap kepergian Eca. Dia diam seribu bahasa dengan banyak pikiran yang berkelana di kepalanya.
__ADS_1
***