RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 6


__ADS_3

"oke, bisa kamu jelasin ngapain kamu peluk Gian?" tanya Nehan sewot.


"bukan meluk Han, tapi tidak sengaja. Tidak sengaja." Eca menekan suara diakhir kalimat.


"iya kenapa kamu tidak sengaja peluk Gian?"


"kemarin aku masuk les, mama yang nyuruh. Ternyata di les itu ada Gian sama Cio juga. Waktu pulang les, si Cio gangguin aku. Kamu tau kan gimana Cio punya dendam kusumat sama aku? Terus kita main kejar-kejaran. Sebenarnya aku kejar dia karna mau mukul. Nah si Cio asu itu gunakan Gian sebagai tamengnya untuk menghindari aku. Saat aku mau nangkap dia otomatis Gian yang ada diantara kami jadi ikut terperangkap. Jadinya gitu deh, orang-orang pada ngira kami pelukan. Tapi bener Han aku gak maksud gitu."


"bener apa bener?" tanya Nehan curiga.


"ya ampun Han serius. Bahkan kemarin aku dorong dia sangat kuat jadinya dia jatuh berdua ke lantai hampir aja ciuman sama Cio hahahah . . ." Eca tertawa renyah kemudian menutup mulutnya.


"terus Gian marah sama kamu gitu?"


"yap! Dia ngambek kemarin. Makanya kita minta maaf tadi."


"sekali lagi hati-hati ya Ca. Si Gian orangnya emang gitu, nyebelin habis. Sebelas dua belas sama si Rani, ambis bener."


"Rani yang marah sama kamu waktu itu kan?"


"iya yang itu."


"mereka pacaran?"


"gak tau. Gak jelas juga. Tapi bagus deh kalau mereka pacaran. Mereka kan satu spesies."


Eca menganggukkan kepalanya. Sambil membayangkan Rani dan Gian. Memang beberapa kali dia melihat mereka bersama. Eca kira mereka pacaran, ternyata belum ya.


Suara lonceng berbunyi, semua siswa masuk ke dalam kelas. Termasuk Nehan dan Eca. Sebelum benar-benar masuk dalam kelas, Eca melangkah lagi menuju toilet. Dari tadi dia tidak sempat karna terlalu banyak yang diurus. Memasuki bilik toilet, terdengar suara pintu tertutup dari bilik sebelahnya.


"kamu berani bilang sama Gian?"


"berani dong." jawab si perempuan dengan yakin.


"Gian itu gak mudah loh."


"makanya aku melakukan pendekatan pelan-pelan sama dia. Kami udah dekat banget sekarang. Kami bahkan sering chat."


"Ha?? Yang bener? Wah gila gila." seru perempuan lain dengan semangat.

__ADS_1


"Gian itu aslinya lembut bangetttt"


"wah aku bener-benar iri Ran. Andai aku juga sama pintarnya sama kamu, aku pasti udah gaet dia."


"sorry sayang. Dia udah jadi target aku." kata Rani bangga.


"wah parah. Jadi kapan kamu nembak dia?"


"rencana kalau pengumuman lulus masuk perguruan tinggi."


"kenapa gak sekarang aja?"


"tidak perlu buru-buru. Aku sedang menikmati waktu kami berdua sekarang. Perlu waktu yang tepat untuk hasil yang lebih memuaskan."


"beruntung banget kamu Ran. Aduh, kapan lagi bisa dekat dengan si Gian yang badannya sangatttt hot. Dia nge-gym gak sih Ran?"


"kayaknya iya deh. Bahkan lengannya benar-benar terbentuk. Rasanya aku ingin merobek baju sekolah sialan itu."


Tak mau mendengar pembicaraan kedua gadis itu lagi. Eca memutuskan keluar dari toilet. Menutup pintu toilet dengan sangat pelan. Dia tidak mau ketahuan menguping pembicaraan orang lain. Apalagi itu adalah Rani. Entah mengapa dia merasa perempuan itu sangat membencinya. Dia juga gak tau penyebabnya. Atau perempuan itu aja yang aneh.


Eca berlari cukup kencang menuju kelasnya. Dia sangat lama di toilet karna menguping pembicaran Rani dan temannya. Sedangkan bel sudah berbunyi dari tadi. Kemungkinan guru sudah masuk dalam kelas. Sambil merapalkan doa supaya tidak kena semprotan guru, dia berlari ketika pintu kelas mulai dekat.


Saat menuju kursi paling belakang, dia melihat sosok yang sepertinya dia kenal. Untuk memastikan di duduk satu bangku dengan pria itu namun agak jauh. Supaya pria yang sedang membaca itu tidak terganggu. Ternyata benar kalau si Gian itu adalah orang yang menyebalkan. Bahkan di saat guru-guru rapat, dia ke perpustakaan untuk belajar disaat yang lain memilih bermain. Ah tidak, beberapa temannya di kelas juga belajar tadi. Mungkin hanya dia dan beberapa orang saja yang malas belajar. Melihat bagaimana Gian begitu serius dengan bacaannya membuat Eca kesal sendiri. Emang bisa orang tidak ngantuk membaca buku tebal itu? Buku itu bahkan bukan novel!


Eca menelungkupkan kepalanya pada lipatan tangan diatas meja dengan posisi kepala menghadap Gian. Dari jarak ini, dia men-scan tubuh Gian. Mulai dari ujung rambut sampai pinggang karna tubuh bagian bawah tidak nampak terhalangi meja. Setelah dipikir-pikir lagi, ternyata Gian ganteng juga dan badannya benar-benar bagus. Mata dan rahangnya sangat tajam. Sekali mata itu melirik, siapa saja pasti terintimidasi. Tapi sayang, Gian bukan tipenya. Eca suka pria yang sering tersenyum seperti Nehan. Kembali lagi Eca teringat pembicaraan Rani dan temannya yang membahas badan Gian. Dia bisa lihat kalau lengan pria itu tampak kekar sepertinya itu hasil dari latihan rutin.


"wah lengannya." unjuk Eca pada lengan Gian.


Tiba-tiba Gian melirik kesamping. Eca tertangkap basah. Segera Eca menarik mundur tangannya dan memalingkan kepala kearah berlawanan.


"seperti nya aku sudah bilang supaya menjauh."


Eca menahan napas dan menutup mata. Dia menyesali masuk ke perpustakaan. Terutama menyesali duduk dibangku yang sama dengan Gian. Sial.


"apa kurang jelas yang aku bilang tadi?" bisik Gian yang tau-tau sudah mendekat dengan Eca.


Sekali lagi Eca menahan nafas saat pria itu menghembuskan nafas ditelinganya. Dia tidak bisa bergerak. Tiba-tiba kemampuan bicaranya terganggu.


"kamu mau nguntit aku sampai sini Eca?"

__ADS_1


. . .


"tidak menjawab berarti benar?"


"ti-tidak" Eca memberanikan diri mengangkat kepala menghadap Gian.


"terus?"


"terus apa?" tanya Eca pelan.


"ngapain kamu disini?"


"mau tidur."


"sambil mandang aku dan nunjuk-nunjuk? mesum."


"mana ada!"


"tadi barusan apa? Mata aku masih berfungsi dengan baik ini."


"hanya, hanya lihat aja kan? Kenapa sih?!"


"oho hanya melihat" Gian sambil mengangguk-angguk.


"iya. Kamu kira apa? Kamu jelek tau!"


"kata orang karna sudah tertangkap basah."


"ihh apaan. Kamu itu jelek Gian."


"cih! Pergi sana! Ganggu orang belajar aja. Kalau main jangan di perpus! Aku cukup terkejut lihat kamu disini, gak cocok untuk orang seperti kamu" kata Gian sambil menatap tajam pada Eca.


"kenapa?! Emang ini perpustakaan milik nenekmu?? Dan apa kamu bilang? Aku tidak cocok di perpus? emang siapa kamu seenaknya aja menilai? Cih! Orang ambis!"


"ssttt!" tegur seseorang yang lewat terganggu dengan pertengkaran mereka.


Langsung aja Eca keluar. Tidak sudi melihat wajah Gian lagi. Dia benar-benar menyesal sudah memuji pria itu. Apa bagusnya punya wajah dan badan bagus tapi kelakuan minus. Itu sama saja nol besar bagi Eca.


***

__ADS_1


__ADS_2