RECYCLE LOVE

RECYCLE LOVE
Bab 20


__ADS_3

Sepanjang perjalanan dipenuhi oleh suara Cio dan Yuyu. Mereka membahas berbagai topik yang melintas diotak mereka mulai dari kenapa nama Yuyu itu Yuyu bukan Yaya sampai memperdebatkan siapa yang lebih deluan, ayam atau telur. Eca malas bergabung dengan obrolan mereka. Cio dari tadi ngomongnya pake urat mulu. Gak ada mengalahnya sama perempuan. Hebatnya lagi Yuyu mampu meladeni bacotan Cio.


Eca melihat kearah jendela. Memperhatikan beberapa kendaraan yang berlalu lalang. Ada motor yang lincah dalam menyalip mobil hingga badan motornya ikut miring seperti pembalap saat melewati tikungan. Ada juga pasangan yang membawa motor dengan santai sambil haha-hihi. Ada pula anak-anak kuliah yang berebutan naik angkot. Pemandangan itu membuat Eca tersenyum kecil. Eca menyadari satu hal bahwa kehidupan orang berbeda-beda meskipun ada diwaktu yang sama.


Eca menatap langit orange di senja hari ini. Matahari hampir terbenam dengan awan berkumpul disekitarnya. Bentuk awan yang beragam seakan melukiskan langit sore ini. Sangat cantik. Eca sampai terpana melihatnya. Tidak lupa Eca mengeluarkan handphone dan mengabadikan beberapa gambar langit di handphone-nya. Eca tersenyum puas saat melihat hasil jepretannya.


"Gi, berhenti bentar di al*amart. Tante kamu minta dibelikan tisu. Ah tante kamu merepotkan sekali." ucap Cio menunjuk market yang hampir mereka lewati.


"itu mama mu asu!" umpat Gian.


"hehehe iya lupa."


Sepeninggalan Cio, tinggal Gian, Yuyu dan Eca. Yuyu penasaran karna percakapan Cio dan Gian barusan. Apakah mama Cio adalah tante Gian? Daripada tidak menemukan jawaban sendiri akhirnya Yuyu memberanikan diri bertanya pada Gian.


"Gian, mama Cio tante kamu?"


"iya."


"wah jadi kalian saudara?"


"ya begitulah."


"wah aku gak nyangka. Pantes setiap ke les kalian sering bareng."


Bukan hanya Yuyu yang terkejut. Eca pun terkejut. Dia sampai memalingkan wajah pada Gian. Menatap pria itu dengan mata yang membesar. Padahal selama ini dia mengira Cio dan Gian hanya teman yang tidak terlalu akrab. Tapi siapa sangka mereka justru memiliki hubungan darah. Sifat mereka sangat berkebalikan.


"aku gak nyangka si Cio yang otaknya miring itu punya saudara terlalu waras seperti kamu."


"aku juga heran" kata Gian sambil tersenyum kecil.


Tak lama kemudian, kaca mobil ditempat Eca duduk diketuk oleh Cio dari luar. Dia mengetuk kaca sambil sesekali menoleh kebelakang. Eca segera menurunkan kaca mobil.


"kenapa?"


"Ca, itu cowokmu kan?" tanya Cio menunjuk kearah Nehan.


"eh, apa kalian udah putus?" tambah Cio.


"ha?? Gak kok." ucap Eca heran.


"tapi tadi aku lihat dia sama cewek itu gandengan tangan di dalam al*amart. Cewek itu bahkan menyandarkan kepalanya di bahu Nehan beberapa kali." adu Cio dengan semangat.


Eca memperhatikan Nehan dan Tia yang nampak sedang berbicara. Mereka berdiri disamping motor Nehan. Yang membuat Eca panas saat Tia *******-***** salah satu tangan Nehan. Mereka berbicara sambil tertawa.


"gila! Cowokmu main api Ca!"


"ck," Eca berdecak kesal.


"labrak Ca! Enak aja diselingkuhi. Kalau aku jadi kamu udah aku jambak rambut mereka berdua." ucap Cio memanas-manasi.


"tapi," kata Eca ragu.


"tapi-tapi. Mau cowok kamu main api terus? Langsung sikat Ca. Hajar! Jangan kasih ampun!" seru Cio menggebu-gebu.

__ADS_1


Entah karna perkataan Cio atau naluri dari diri Eca yang membuat perempuan itu membuka pintu mobil dengan kasar. Mengambil langkah lebar untuk segera sampai di tempat Nehan dan Tia berada. Jantungnya juga ikut berdetak lebih kencang seiring jalannya yang semakin cepat.


"Nehan!"


Sontak Nehan melepas genggaman tangannya pada Tia. Nehan melempar senyum canggung pada Eca. Dia mulai berjalan mendekat kearah kekasih.


"kamu kenapa bisa ada disini Ca?"


"ya, maksudmu supaya dia gak mergokin kamu lagi selingkuh Han?" tanya Cio sewot. Ternyata dari tadi dia mengikuti Eca.


"Cio?"


"iye. Ini aku. Siapa ni? Yang baru?"


"diam!" bentak Nehan.


"kamu ngapain sama dia sambil berpegang tangan dengan mesra?" tanya Eca sewot.


"gak gitu Ca. Tadi kita habis beli hadiah buat kamu. Karna capek keliling kita beli minum dulu disini. Aku kasihan sama Tia dari tadi temanin aku cari kado buat kamu."


"aku udah bilangkan aku gak mau kado. Apalagi sama dia!" tegas Eca sambil menunjuk Tia.


"Ca jangan gitu lah. Kita udah capek-capek cari kado sama kamu ini." kata Nehan sambil menunjuk hadiah yang sudah dibungkus dalam plastik. Digantung dibagian depan motor Nehan.


"gak butuh! Aku gak mau terima hadiah dari perselingkuhan kalian."


"siapa yang selingkuh Ca?!" kata Nehan mulai frustasi.


"itu apaan tadi pegang-pegang tangan. Aku daritadi lihat ya."


"diam! Aku gak bicara sama mu Cio!" kesal Nehan.


"Ca. Kamu hanya salah paham. Aku bisa jelasin,-"


"kita udahan aja." potong Eca.


"Ca?? Enggak Ca. Enggak." Nehan menggeleng tidak terima.


Eca membalikkan badan. Tidak mau mendengar penjelasan Nehan. Ini adalah waktu yang tepat. Menunggu sampai Nehan jujur padanya sepertinya tidak akan pernah terjadi. Eca lebih memilih mengakhiri hari ini juga. Lagian dia sudah jijik dengan Nehan sejak insiden ciuman di rooftop sekolah.


Padahal Eca sudah berniat untuk menunggunya sedikit lagi. Dia masih ingin memanasi Tia. Tapi provokasi Cio tadi sukses membakar perasaan Eca. Akhirnya hari ini dia memilih untuk melabrak Tia dan Nehan. Lagipula dia selalu makan hati setiap melihat kedekatan mereka berdua.


"Ca, tunggu. Aku bisa jelasin." ucap Nehan sambil menahan lengan Eca.


"gak perlu."


"sorry bro. Kita mau pergi." ucap Cio.


Cio menahan Nehan saat pria itu menahan pintu mobil. Mengetahui tangannya ditahan Cio, dia menghempas dengan keras. Menatap Cio tajam dengan nafas memburu.


"gak usah ikut campur!"


"ini mobil saudaraku. Kalau mau besok aja kalian lanjut." jelas Cio.

__ADS_1


Cio masuk ke dalam mobil dan menutup pintu mobil dengan keras. Nehan menatap kepergian mobil itu dengan nanar. Dia menggaruk rambutnya dengan kesal.


"udah Han."


"kamu gak tau gimana rasanya!" bentak Nehan pada Tia.


"h-han?" cicit Tia. Matanya mulai berkaca-kaca.


Melihat Tia yang mulai menangis membuat Nehan menarik rambutnya frustasi. Dia masih tidak rela diputuskan oleh Eca. Sekarang dia membentak Tia. Nehan merasa bersalah.


"ma-maaf." ucap Nehan sambil memeluk Tia.


"segitu sukanya kamu sama perempuan itu sampai kamu marahi aku."


"aku sayang sama dia Tia."


"ck aku lebih sayang sama kamu."


"kamu itu teman aku."


"kita lebih dari itu. Bahkan kita lebih dari cara kamu pacaran dengan mantan kamu tadi."


"TIA." peringat Nehan.


"ke kos aku yuk. Biar aku hibur."


"gak aku mau sendiri hari ini."


Nehan menuju motornya. Menunggu Tia menaiki bagian dibelakang motornya. Tia langsung saja memeluk Nehan saat dirasa sudah duduk dengan nyaman. Nehan melirik tangan Tia yang ada di pinggangnya dan menghembuskan nafas kasar. Di sepanjang jalan, Nehan hanya memikirkan Eca. Pria itu tidak mempedulikan Tia yang mengajaknya mengobrol dari tadi. Mereka bahkan beberapa kali hampir tabrakan karna Nehan tidak fokus. Mengetahui Nehan masih memikirkan Eca membuat dia kesal sendiri.


***


"Ca kamu gak apa-apa?" tanya Yuyu dengan lembut.


"Gak apa-apa." kata Eca sambil tersenyum.


"ih ngeri Ca. Mukamu terpaksa gitu senyumnya." ucap Cio dari depan.


Eca tidak menjawab. Pikirannya berputar saat dia memergoki Tia dan Nehan tadi. Mereka terus bermesraan di belakang Eca ternyata. Dia jadi kesal.


Waktu Eca bersama Nehan lumayan lama. Banyak kenangan mereka berdua. Nehan yang selalu perhatian terutama pada hal-hal kecil seperti menemani Eca makan. Eca juga ingat senyum Nehan yang sangat manis. Eca akan berpuluh-puluh kali lipat terjatuh dalam pesona Nehan saat pria itu tersenyum tulus padanya. Masa-masa indah itu sangat Eca sayangkan.


Andaikan Nehan tidak berciuman di rooftop dengan Tia saat itu. Andaikan Nehan tidak meremas bagian atas tubuh Tia. Andaikan Nehan tidak menemui Eca bersama dengan Tia dan andaikan Eca tidak melihat mereka berpegang tangan sambil tertawa tadi. Mungkin saja Eca masih bersama Nehan.


Tidak gampang bagi Eca untuk menghapus rasa sayangnya pada Nehan. Dia masih sangat sayang. Dalam lubuk hatinya dia masih memikirkan lelaki itu. Meskipun dia sangat sakit hati dia masih memikirkan Nehan. Meskipun dia sudah jijik dengan Nehan tapi dia masih belum rela melihat kebersaman Nehan dan Tia.


"gak usah dipikirin Ca. Kamu pasti dapat pengganti yang lebih baik." ucap Yuyu sambil mengelus punggung Eca menggunakan tangannya yang tidak terluka.


"makasih." kata Eca sambil tersenyum.


Eca menghapus air mata yang jatuh dari sudut matanya. Untung yang lain tidak memperhatikan. Tapi sepertinya Eca salah ada yang memperhatikannya dengan melihat dari kaca depan mobil. Seseorang yang Eca pikir tidak ada keberadaannya karna dari tadi pria itu hanya berperan melihat saja.


Tatapan mata Eca dan Gian bertemu. Untuk beberapa saat, mereka saling bertatapan. Tapi tidak berlangsung lama karna Eca langsung memalingkan wajah. Dia malu tertangkap basah menangis oleh orang lain. Apalagi ini Gian.

__ADS_1


***


__ADS_2