
"selangkah kamu melewati rumah ini. Kamu akan menyesal." peringat mama sungguh-sungguh.
"Aku kepala keluarga di rumah ini! Apa hakmu mengatur-atur aku?!" seru papa sambil menendang koper yang tidak jauh dari jangkauannya.
Nafas papa memburu. Kedua tangannya terkepal di samping badan. Matanya menatap lurus ke arah mama. Lalu dia mengambil tas kerja dan pergi berbalik. Ditinggalnya koper begitu saja.
Eca jadi serba salah saat papanya hendak menuju ke arahnya. Eca mencoba berbalik namun melihat lagi ke arah papa. Jantungnya berdenyut dengan cepat. Kuku-kuku tangannya mulai dingin. Dia takut papa melihatnya sedang menguping pertengkaran mereka. Dia terlihat mondar-mandir sambil menggigit kukunya. Jantungnya semakin cepat bertalu saat kedua matanya bertabrakan dengan papa.
Tubuh Eca bergetar. Dia takut sang papa akan melampiaskan amarah pada Eca. Kakinya mundur satu langkah ke belakang. Tapi papa seperti maju dua kali lebih cepat. Dia menatap lurus ke arah depan. Eca menahan nafas saat papa tepat berdiri dihadapannya.
"a-aku" lirihnya terbata-bata.
Kedua mata Eca terpejam dengan kuat saat papa mengangkat tangannya. Dia mengepalkan tangan dengan kuat. Mencoba menguatkan diri dengan kemungkinan buruk yang akan menimpanya.
Kedua kelopak mata Eca terbuka cepat saat dirasakan sapuan pada keningnya dan belaian dibelakang kepalanya. Lalu setelah itu tidak ada lagi papa di depannya. Pintu berbunyi pertanda orang itu sudah keluar dari rumah.
***
Sudah beberapa hari papa pergi ke luar kota dan sejak itu suasana dalam rumah menjadi suram. Mama hanya bicara seperlunya. Kerab kali Eca dan Erna memergoki mama melamun. Saat sudah terlalu asik melamun, mama lalu menghapus sudut matanya yang berair. Tidak ada satupun diantar Eca dan Erna yang berani untuk bertanya tentang pertengkaran kedua orangtua mereka. Pernah sekali Eca mencoba untuk berbicara dengan mama tapi mama langsung mengalihkan pembicaraan. Dia enggan untuk membahas masalah tempo hari.
"menurut kamu apa yang terjadi dengan mama papa? Apa kamu pernah mendengar mereka membahas sesuatu?" tanya Erna menduduki kasur sang adik.
"aku tidak tau kak. Aku jarang melihat mereka bicara karna papa selalu pulang larut malam dan aku sudah tidur." tutur Eca menyandarkan dagu pada boneka panda dipangkuannya.
"sama aja kalau gitu. Apa papa punya masalah dikantor?"
Eca menggelengkan kepalanya. Dia memandang meja belajar dengan tatapan kosong. Pikirannya kembali berkelana pada saat papa dan mama berkelahi di ruang tamu. Dia masih takut jika memikirkannya. Dia tidak pernah menyaksikan kedua orangtuanya berkelahi sampai separah itu.
Brak!!!
Suara pintu terbanting dengan kuat mengejutkan Erna dan Eca. Keduanya langsung berlari keluar menuju asal suara. Di depan kamar orangtua mereka, mama menatap pintu dengan tatapan kosong. Tangannya terkepal dikedua sisi. Lalu tak lama badan mama merosot kebawah. Dia mulai menangis tersedu-sedu. Erna dan Eca segera berlari menuju sang mama
"kenapa ma?" tanya Eca hati-hati.
"pa-papa."
Mama tidak melanjutkan kalimatnya lagi. Tatapannya beralih kearah pintu kamar. Erna yang mengerti maksud dari mama mulai mengetuk pintu kamar.
"pa, ini Erna. Kakak mau masuk."
Tanpa menunggu lagi langsung saja Erna masuk setelah menyelesaikan kalimatnya. Dilihatnya sang papa sedang duduk di atas ranjang dengan kepala menunduk. Kedua tangannya terlipat di depan.
"ada masalah?" tanya Erna duduk di sebelah papa.
"tidak."
"kalau begitu, kenapa mama dan papa berkelahi?"
Papa menghembuskan nafas dengan kasar. Dia mengacak rambutnya dengan kasar. Lalu kedua tangannya terkepal dengan kuat. Dia menyerongkan badan ke arah Erna. Dan menatap Erna dengan lekat.
"Erna dengarkan papa. Kamu taukan kalau papa sayang kalian?"
__ADS_1
Erna mengangguk pelan. Dia mulai curiga saat papanya menjawabnya dengan pertanyaan. Erna menduga sesuatu yang besar sepertinya telah terjadi. Tapi Erna tidak bisa menebak dengan pasti.
"pa-papa sayang sekali dengan mama kalian." ungkap papa kemudian menunduk.
"papa tau bukan itu yang kakak tanya."
Papa mengangguk dengan cepat dan berkata, "papa tau, tapi papa harap kakak dan Eca mendoakan saja yang terbaik. Papa sayang kalian." kemudian papa mencium kening Erna dan memeluk putri sulungnya dengan erat.
Erna keluar dari kamar. Eca menyambutnya dengan tatapan bertanya. Erna menggelengkan kepalanya pada Eca. Kemudian sang adik menghembuskan nafas pelan.
"mana mama?"
"tidur di kamar aku. Malam ini aku tidur sama mama."
"Ca. Pulang sekolah besok kamu ada les lagi?"
"lesnya udah selesai. Kenapa kak?"
"kamu bisa mengintip papa ngapain aja di kantor besok? Perhatikan apa yang dia kerjakan disana. Kakak tidak bisa karna kerja."
"buat apa??? Emang kenapa sih?!"
"papa mencurigakan dari tadi dia bilang sayang kita terus tapi tidak mau memberitahu masalahnya. Pokoknya besok kamu harus memantau papa. Foto kalau bisa lalu kirim ke kakak."
"kalau ketahuan bagaimana?"
"ya jangan sampai ketahuan. Dasar!"
***
Sepulang sekolah Eca mencegat Gian. Sudah beberapa hari ini juga pria itu menghindarinya. Dia ingin bertanya perihal pria itu lebih cuek padanya. Eca yakin pasti ada sebabnya pria itu bertingkah aneh.
"aku mau bicara."
"apa?"
"kamu marah sama aku?"
"tidak" ungkap Gian sambil melempar pandangan ke arah lain.
"iya, kamu marah."
"sok tau."
"kenapa kamu marah? Aku sudah berbuat salah sama kamu?"
Gian mengigit bibirnya. Dia tampak menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Memang selama ini dia juga penasaran mengapa Eca dan Nehan berpelukan saat itu. Tapi gengsi mengalahkan segalanya. Mungkin ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya pada Eca selagi perempuan itu menemuinya.
"tidak di sini. Kita ke mobil sekalian aku antar kamu pulang."
Eca mengangguk. Disepanjang jalan menuju mobil Gian, Eca menebak-nebak dalam hati kemungkinan yang menyebabkan Gian marah. Perempuan itu juga menebak sekiranya apa perbuatannya yang pernah menyinggung Gian hingga laki-laki itu menghindarinya. Sesampainya di dalam mobil, Eca menagih janji Gian tapi Gian masih belum memberitahu sampai mobil dijalankan.
__ADS_1
"jadi kenapa bapak Gian??" tanya Eca dengan jengkel.
"aku lihat kamu pelukan sama Nehan di depan sekolah dan kalian suap-suapan saat di kelas."
"ka-kamu lihat itu?"
"iya. Apalagi saat kalian pelukan dengan erat sekali."
"ck apaan sih?! Dia yang peluk aku tiba-tiba. Nehan pinjam duit aku. Karna aku kasih pinjam dia kesenangan sampai peluk aku. Kalau aku tau dia peluk pun pasti dia sudah kutendang."
"terus yang suap-suapan itu?"
"oho itu. Dia kasih aku coklat. Bukan. Tapi memaksa aku buat ambil coklatnya yang dia bawa sebagai tanda terima kasih udah pinjemin dia duit. Terus tiba-tiba dia main masukkan coklat dalam mulut aku saat lagi ngedumel. Untung aku tidak tersedak!"
"untuk apa dia pinjam uang kamu? Emang dia miskin?"
"tidak miskin. Hanya saja dia udah pinjam uang direntenir terus ditagih-tagih tapi papanya tidak mau kasih uang lagi karna dia udah menjual mobilnya."
"untuk apa uang sebanyak itu sampai menjual mobil?"
"ti-tidak tau." ucap Eca gelagapan. Dia ingat pernah berjanji pada Nehan untuk merahasiakannya.
"tapi kenapa kamu marah karna hal itu?" sambung Eca.
"a-aku" Gian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Tiba-tiba lidahnya terasa keluh. Tidak mungkinkan dia berkata kalau dia tidak suka Eca dekat-dekat dengan Nehan. Kalau perempuan itu tanya mengapa? Apa yang harus Gian jawab? Gian pusing memikirkan kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Eca.
"eh tunggu-tunggu. Tolong belok kanan. Ikuti mobil di depan."
Gian merasa lega saat Eca tidak membahas lagi tentang pertanyaannya. Bisa mampus Gian karna tidak bisa menjawab dengan benar. Bagaimanapun dia sadar kalu dia bukan siapa-siapa sehingga berhak untuk marah kepada siapapun pria yang mendekati Eca. Tapi kenapa Gian tetap kesal? Hal ini yang tidak bisa Gian jawab sampai sekarang.
"lebih cepat Gian. Nanti kita ketinggalan mobilnya."
Gian yang daritadi melamun akhirnya menaikan gas mobilnya. Dia memperhatikan mobil di depan dengan seksama. Cukup sulit mengendarai kendaraan yang lumayan macet siang ini.
"itu mobil siapa?"
"mobil papaku."
"kenapa kamu mengikuti mobil papamu? Ada yang mau dibicarakan?"
"tidak. Tapi aku dapat misi dari kakak untuk memata-matai papa. Sebenarnya mama dan papa aku sedang ada masalah. Nah masalah itu yang sedang kami cari tau kak Erna."
"oho. Tapi di navigasi dia menuju arah hotel. Apa aku salah?"
Perkiraan Gian tidak salah. Papa Eca benar menuju salah satu hotel. Hotel itu termasuk hotel mewah. Dengan bangunan yang berdiri dengan kokoh dan bercorak. Bagian depan hotel diukir dengan teliti seperti gaya bangunan barat abat ke-18. Mereka cukup takjub dengan bangunan yang ada di depan sana. Tapi tidak lagi setelah mereka melihat papa Eca masuk dengan seorang wanita. Wanita yang sangat mereka kenal.
"loh? ngapain mama kamu sama papaku ke hotel, Gian?" tanya Eca penuh tanya.
***
__ADS_1