Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 99. Tanpamu Apa Artinya, Tanpamu Serasa Hampa (2)


__ADS_3

Tanpamu Apa Artinya, Tanpamu Serasa Hampa


-diambil dari lirik lagu berjudul "Tanpamu" yang dipopulerkan oleh Tetty Kadi-


***


Hari-hari Tanpamu


Jakarta


Pocut


Dengan tangan gemetaran ia langsung menghubungi Tama. Sebisa mungkin mengalahkan rasa gugup (dan takut) agar bisa menjelaskan secara singkat dan jelas tentang bagaimana kotak susu UHT yang dipenuhi lembaran uang berwarna merah bisa berada di ruang tamu. Kemudian (tanpa sengaja) dibuka oleh Umay.


Tama mendengarkannya berbicara. Tak memotong ucapan meski penjelasannya bertele-tele dan kemungkinan besar terdengar membingungkan. Tama bahkan tak mengatakan apapun meski ia telah selesai berkisah. Tama hanya menghela napas panjang lalu terdiam sejenak. Namun ia bisa merasakan aura kegeraman yang begitu nyata.


"M-ma'af ...." Ia tahu telah melakukan kekeliruan yang bisa berpengaruh buruk terhadap Tama. Dan semua berawal dari kegamangannya dalam bersikap.


Ia pun teringat kembali pada ucapan Ingrid saat sesi konseling tempo hari. Bahwa batasan antara tak kuasa menolak sebab merasa tak enak hati terhadap orang lain dengan naif cenderung bo doh sangatlah tipis. Bahwa terlalu memprioritaskan orang lain hingga berdampak buruk pada diri sendiri itu bukanlah sifat dan sikap yang dibenarkan. Harus segera diakhiri.


"Empati bisa menjadi bukti hati seseorang masih hidup. Tapi empati yang terlalu tinggi akan membuat kita kewalahan. Lama kelamaan kita bisa menjadi emotional sponge, terlalu mudah menyerap energi negatif orang lain," terang Ingrid.


"Akibatnya kita menjadi terlalu sensitif lalu kelelahan sendiri. Sangat tidak baik bagi keberlangsungan kesehatan mental. Harus ada batasan jelas. Harus berani bilang tidak. Harus bisa menolak permintaan orang lain jika terasa memberatkan. Jangan pernah memaksakan diri untuk orang lain."


Di posisi inilah ia sekarang. Hal sesederhana tak sampai hati menolak pemberian orang lain namun berakibat fatal. Sangat tak mengenakkan sekaligus menggelisahkan.


"Aku mau siap-siap," ujar Tama singkat dan kaku. Sama sekali tak tertangkap niatan untuk membahas kejadian ini lagi. "Seminarnya besok pagi."


Beberapa malam lalu melalui sambungan video call Tama sempat bercerita, jika suaminya itu mendapat tugas memaparkan tulisan ilmiah yang telah dirumuskan bersama. Mewakili para peserta didik perwira tinggi dalam kegiatan kejuangan bersama antara TNI/Polri yang dihadiri oleh pejabat tertinggi Polri dan Panglima TNI.


"Tunggu Devano datang. Biar dia yang urus." Menjadi kalimat terakhir sebelum Tama menutup sambungan telepon secara sepihak.


Kini ia terduduk di ruang tamu dengan pikiran teraduk kecamuk. Menatap kosong kardus susu UHT yang telah koyak hingga bisa memperlihatkan isinya. Uang panas.


Baru kali ini ia merasakan ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, dan penyesalan campur aduk menjadi satu. Mengepung dan mengelilinginya lalu menggulung dan menghempasnya tanpa ampun. Teramat menakutkan. Ia sampai tak tahu harus berbuat apa, melakukan apa, atau bersikap bagaimana.


Dan sejatinya bukan sikap diam penuh amarah Tama yang membuatnya tiba-tiba merasa begitu lelah. Namun keberadaan bara api berupa uang upeti di dalam rumahlah yang menghempaskannya pada ketakberdayaan.


Kini harapan hanya satu dan tinggal satu-satunya. Bahwa semoga takdir baik masih menaungi mereka. Dan semoga apa yang telah digariskan tak semenakutkan yang dibayangkan.


"Ayo, kita makan dulu. Keburu masakannya dingin." Mamak langsung menggiring anak-anak menuju ke ruang makan begitu melihatnya terduduk lunglai di sofa ruang tamu.


"Mama nggak makan?" Tapi Sasa malah menggelayut manja di pangkuannya. "Sasa mau makan sama Mama."


Ia baru hendak menjawab namun Icad lebih dulu meraih tangan Sasa. "Eh, Sa! Mau digendong nggak?"


Sasa langsung mengangguk setuju dengan wajah berbinar. "Digendong sambil lari ya, Bang? Terus keliling meja makan dulu, baru Sasa mau!"


Suara kikikan Sasa diiringi tawa riang Icad juga Umay perlahan terdengar menjauh dari ruang tamu. Sementara mamak, sebelum beranjak sempat mengusap lengannya perlahan. "Perbanyak istighfar."


Ia duduk termangu menunggu kedatangan Devano dengan perasaan gelisah yang tak bisa ditutupi. Hatinya mencelos seperti sedang disayat-sayat. Berulangkali menggumamkan istighfar berusaha menenangkan diri. Ditemani suara gemericik air yang berasal dari akuarium ikan hias milik Tama. Sama sekali tak menyadari jika sedari tadi ada seseorang yang memperhatikan dari balik tirai pembatas ruang tamu.


"Selamat malam, Ibu. Maaf, macet di jalan." Devano dan Alfian muncul hampir satu jam kemudian. Ketika ia hampir putus asa didera perasaan gelisah.


Tanpa banyak bicara, dua pemuda tersebut langsung merapikan kembali kardus yang telah terkoyak.


"N-nggak dihitung dulu?" Tanyanya gugup campur bo doh. Toh ia tak pernah tahu jumlah yang sebenarnya, jadi mengapa harus dihitung segala?


"Ada yang diambil nggak, Bu?" Devano balik bertanya.


"A-ada." Ia semakin gugup dan bertambah bo doh. Teringat segepok uang yang sempat diangkat Umay tinggi-tinggi. "Tapi langsung dimasukkan ke kardus lagi."


"Kayaknya nggak perlu, Bu." Devano menggeleng. Bersiap menutup bekas koyakan dengan selotip. "Lebih sedikit tahu lebih baik."


Tapi Alfian berpendapat lain. "Buat mastiin."


Dan lututnya langsung lemas ketika Alfian menyebut total jumlah uang di dalam kardus. Banyak sekali.


Ia masih mencerna nominal yang disebutkan Alfian dengan kepala pening sementara Devano memvideokan seluruh aktivitas Alfian menghitung isi kardus sekaligus merapikannya kembali.


"Ibu, kami mohon izin mengembalikan ke pengirim dulu." Devano mengangkat kardus susu UHT yang kini telah rapi seperti semula. "Setelah itu baru kembali ke sini."


Dan ia hanya bisa terbengong-bengong ketika Devano menjelaskan perintah Tama, yang memberi tugas khusus pada dua pemuda itu untuk berjaga di rumah.


"Mulai hari senin minggu depan, ada petugasnya sendiri, Bu," terang Devano. "Selama itu, saya dan Alfian yang gantian berjaga. Menyaring mana tamu yang boleh bertemu dengan Ibu, mana yang tidak."


Ia menunggu kepulangan Devano dengan gelisah. Dan mulai bisa bernapas lega ketika pemuda itu berkata dengan penuh keyakinan. "Tugas selesai, Bu. Sudah saya laporkan langsung ke bapak."


"Ibu itu mau menerima?" Tanyanya penuh rasa ingin tahu. Masih tersisa kecemasan meski tak berdasar.


"Awalnya menolak. Tapi setelah kami jelaskan, akhirnya bisa menerima," terang Devano meyakinkan. Namun ucapan selanjutnya terdengar cukup mengejutkan. "Kejadian seperti ini sudah sering, Bu."


"Selama bertugas mendampingi bapak, kami sudah terbiasa mengurus pengembalian gratifikasi," sambung Devano seraya tersenyum. "Bapak memang komandan panutan."


Ia tentu sangat bersyukur karena akhirnya masalah terselesaikan. Namun hingga tengah malam, matanya tak kunjung bisa terpejam. Bahkan meski ia telah mengenakan kaos warna biru gelap milik Tama yang pernah dipakai suaminya itu saat berkunjung ke rumah beberapa waktu silam.


"Mas?" Dan untuk kali pertama, meski sedikit canggung, ia menghubungi Tama terlebih dahulu. Ingin memastikan jika Tama tak menyimpan amarah dengan kejadian hari ini.


"Ya?" Suara Tama terdengar parau seperti orang yang telah tertidur lama.


"Mas udah tidur?"


"Udah," jawab Tama singkat. "Ngobrolnya besok aja, ya. Aku ngantuk."


Namun anehnya, begitu Tama menutup panggilan, tak lama kemudian rasa kantuk mulai melanda. Ia pun segera memosisikan diri dengan memeluk tubuh mungil Sasa erat-erat. Sepertinya, mendengar suara Tama bisa menjadi obat mujarab. Hati terasa lebih tenang hingga perlahan ia pun mulai terbuai ke alam mimpi.

__ADS_1


Keesokan hari begitu anak-anak berangkat ke sekolah, ia langsung bersiap di depan layar televisi.


"Pak Agus, tolong carikan ini ...." Ia menyebutkan nama media resmi milik kepolisian yang menayangkan secara langsung kegiatan kejuangan bersama antara TNI/Polri di Sespimpol.


Dan ia bisa bernapas lega karena Tama berhasil tampil dalam seminar ilmiah dengan tanpa cela.


Namun kelegaannya bersifat sementara. Sebab sesaat sebelum berangkat ke menara Astana mengikuti sesi pertama level kedua, mamak memberinya berita yang cukup mengejutkan.


"Ella mau pinjam uang." Wajah mamak terlihat kurang nyaman.


Ia mengangguk. "Berapa, Mak? Mau ditransfer atau uang tunai?"


Cing Ella dan keluarganya bagaikan saudara meski tanpa ikatan darah. Sudah sejak lama mereka saling membantu tiap kali mengalami kesulitan.


"Sepuluh juta." Mamak menatapnya ragu. "Sangat banyak."


Ia menelan ludah. Uang hasil keuntungan kerjasama dengan Selera Persada telah melebihi angka sepuluh juta. Namun yang tersisa di saldo tak sebanyak itu. Sudah terpakai untuk perputaran modal dan lainnya.


"Aku bilang ke mas Tama dulu," ucapnya yakin. Suaminya itu kemungkinan besar takkan berkeberatan jika mereka membantu cing Ella.


Mamak masih menatapnya. "Ella perlu uang sebanyak itu untuk membantu Tamsir."


Ia mengenal Tamsir sebagai adik satu-satunya cing Anwar yang tinggal bersama sang ibu di Kalianyar, Tambora.


"Sekitar dua minggu lalu Tamsir kecelakaan." Mamak sempat terdiam sebelum kembali berkata dengan wajah menyesal. "Tapi Ella tak enak hati minta tolong kepada Tama."


Dan ia hanya bisa beristighfar ketika mamak menyebutkan jika keluarga Tamsir harus menyerahkan sejumlah uang untuk menutup kasus. Persis seperti yang dikeluhkan cing Minah beberapa waktu lalu.


Tiba-tiba saja ia semakin merindukan Tama. Tanpa keberadaan pria itu di sisi, membuatnya cukup kewalahan. Seperti terbang di angkasa namun hanya dengan satu sayap. Melelahkan.


"Jum'at ini kami ke Bandung," ujarnya ketika malam ini Tama melakukan rutinitas meneleponnya menjelang tidur.


"Wah, maju? Reka gimana? Jum'at jadwal panahan bukan?" Suara Tama terdengar ceria seperti biasa sebelum insiden kardus susu UHT terjadi. Namun Tama sama sekali tak membahas lebih lanjut. Tiap kali ia coba mempertanyakan, Tama akan menghindar dengan alasan, "Ini harus diobrolin langsung. Nggak bisa via telepon."


"Libur. Pelatih pergi mendampingi anak yang ikut kompetisi nasional di Pontianak."


"Asyiiiiik." Seloroh Tama seperti anak kecil. "Akhirnya penderitaan berakhir. Bisa ketemu sama istriku yang cantik."


Mereka berangkat selepas ashar agar tak terjebak macet. Reka bahkan dijemput langsung ke sekolah.


"Dadah, Reka!" Seorang gadis dengan jepitan kupu-kupu terlihat melambaikan tangan ke arah mobil yang mereka tumpangi. "Met liburan di Bandung, yaaa!"


"Cie ... cie ... siapa tuh, Mas?" Anjani yang sedang membuai dekgam langsung menggoda.


Begitupun Umay dan Sasa ikut cekikikan. "Itu pacarnya Mas Reka, ya?"


"Bukan!" Jawab Reka ketus.


"Bukan apa bukaaaan ...." Anjani masih saja menggoda meski dekgam merengek dan terbangun lantaran mendengar tawa keras Umay juga Sasa.


"Bukan, Tante." Reka sempat menengok ke belakang sebelum memakai headset favorit dan tenggelam dalam dunianya sendiri.


Tepat seperti yang dipesankan Tama padanya. "Anak-anak biar istirahat di rumah mama. Jalan ke Lembang pasti macet. Kasihan anak-anak ntar kecapekan."


Sasa sempat melancarkan protes sebab tak mau berpisah darinya. Namun Agam berusaha membujuk dengan iming-iming nanti malam jalan ke Mall yang ada ice skatingnya.


"Ada trampolin raksasa juga, Sa." Anjani ikut membujuk. "Seru deh, kita bisa puas main lompat-lompatan. Mainnya bareng sama dekgam nanti."


Begitu Sasa berhasil diluluhkan, ia langsung bertolak menuju ke Lembang. Benar seperti yang Tama bilang, perjalanan ke Lembang menghabiskan waktu dua jam lebih. Ketika ia tengah menahan rasa mual usai melewati jalanan menanjak dan berkelok, barulah pak Cipto menepikan kemudi ke halaman sebuah hotel yang terletak di jalan Tangkuban Perahu.


"Terima kasih banyak, Pak," ucapnya karena pak Cipto langsung pulang ke rumah mama. "Macet-macetan lagi."


Pak Cipto tersenyum mengangguk. "Sudah biasa, Bu."


Semilir angin malam dan udara dingin yang terasa menusuk tulang langsung menyambutnya begitu pintu mobil terbuka. Ia yang hanya melapisi tunik dengan sweater tipis mulai menggigil kedinginan.


Seorang petugas hotel yang menyambutnya di depan pintu masuk tersenyum ramah. Kemudian mengarahkannya memasuki lobby menuju sofa berdesain ukiran antik berwarna cokelat di mana Tama tengah duduk menunggu.


"Kok pucat?" Menjadi sambutan pertama Tama begitu melihatnya. "Sakit?"


Ia menggeleng. "Tadi jalannya berkelok-kelok. Jadi agak mual. Sama ...." Ia merapatkan pelukan pada diri sendiri. "Dingin."


Tama tertawa seraya mengambil alih tas jinjing dari tangannya sekaligus merengkuh bahunya. "Gimana sih, belum juga dikerjain udah mual duluan. Tapi tenang aja, di dalam kita nggak bakal kedinginan."


Tama mengajaknya keluar dari lobby untuk melintasi kebun menuju bangunan-bangunan terpisah seperti cottage. Selama berjalan, Tama terus merengkuh bahunya. Sementara ia merapatkan diri ke dada Tama sebab udara dingin terasa semakin menusuk tulang.


"Dingin, ya?" Tama mengeratkan rengkuhan begitu merasakan reaksi tubuhnya yang menggigil kedinginan.


Kemudian Tama mengajaknya memasuki sebuah pintu kayu berwarna cokelat dengan tulisan suite room di bagian dindingnya. Matanya langsung disambut oleh hamparan ruangan luas berlantai kayu warna cokelat yang terasa hangat saat diinjak.


"Kita makan dulu. Biar ada tenaga." Tama sempat mengerling namun tak dihiraukan karena ia tengah serius memperhatikan keseluruhan isi kamar.


Di sana terdapat sebuah tempat tidur berukuran sangat besar. Televisi berlayar lebar. Sofa berwarna putih di sudut ruangan. Dua kursi empuk dan sebuah meja di tengahnya. Yang kini sedang diisi dengan sejumlah hidangan lezat oleh petugas hotel.


Tama langsung menyantap sup ikan gurame beserta nasi putih dengan lahap. Sementara ia hanya menyendok kuah sup sebanyak tiga kali suapan.


"Nggak makan?" Tama mengernyit melihatnya menepikan mangkuk berisi sup ikan gurame.


"Kenyang," jawabnya jujur. Perutnya benar-benar terasa penuh meski belum terisi makanan sejak siang hari. Ketika berhenti di rest area tadi, ia hanya memesan secangkir teh hangat sementara yang lain menyantap makanan.


"Masih mual?" Tama menyorongkan sepiring pai apel yang kelihatannya masih hangat. "Makan ini coba. Enak."


Ia menurut dengan memotong sedikit bagian ujung pai apel. Ternyata rasanya memang lezat, manisnya pas, garing di luar dan lembut di dalam. Tak terasa dalam sekejap ia telah menghabiskan dua potong pai apel.


Seusai salat, ia langsung meringkuk di atas tempat tidur. Bergelung dalam selimut tebal berharap bisa sedikit meredam hawa dingin.

__ADS_1


"Hei." Ketika ia mulai tidur-tidur ayam, seseorang menyentuh bahunya. "Aku ke sini bukan mau lihat orang tidur."


Tapi ia benar-benar merasa tak berdaya. Bahkan untuk sekedar membuka mata pun sulit. Tubuhnya terasa lelah dan penat.


"Kasihan." Tama yang semula ia rasakan penuh gelora tiba-tiba menahan diri dan memilih untuk meraihnya ke dalam rengkuhan. "Kecapekan?"


Ia mengangguk. Namun sedetik kemudian menggeleng. Mendadak teringat jika mereka hampir sebulan tak bertemu. Tentu malam ini sudah sangat dinantikan oleh Tama. "Boleh, Mas. Tapi maaf ... aku begini saja, ya." Ia mempersilakan Tama menuntaskan keinginan. Namun mengisyaratkan jika ia tak bisa mengimbangi sentuhan Tama.


Tama terkekeh seraya mengecup keningnya. "Udah ... tidur. Begini aja udah bahagia."


"Tadi Sasa protes nggak waktu ka--"


Ia tak lagi bisa mendengar kalimat yang diucapkan Tama. Sebab rasa kantuk yang teramat sangat telah berhasil mengirimkannya ke alam mimpi. Ia hanya sempat merasakan seseorang kembali mencium keningnya dalam-dalam. Rasanya begitu menyenangkan sekaligus menenteramkan. Tak ingin semua kenyamanan ini berlalu.


Namun Tama tetaplah Tama. Pria gagah dengan energi luar biasa itu berhasil membuatnya bertekuk lutut berkali-kali di pagi hari.


"Nggak pernah olahraga nih, pasti." Seloroh Tama ketika ia menyerah dan lunglai hanya karena sebuah sentuhan. "Sepeda dipakai nggak?"


Ia menggeleng malu.


"Mulai besok sepedaan, ya. Minta dikawal sama Devano."


Ia menatap Tama yang keningnya dihiasi beberapa titik keringat. "Ada olahraga selain sepedaan nggak?"


Tama terkekeh.


"Yang bisa dilakukan di rumah." Ia merasa kurang nyaman bersepeda di jalan raya yang ramai dilalui kendaraan bermotor. Takut ketabrak.


"Kemarin Grace nawarin yoga bareng." Ia memberanikan diri menyingkirkan ujung rambut Tama yang jatuh di sekitar kening. "Hilda nawarin ...." Ia mengingat sejenak. "Pi la tes."


"Grace sama Hilda dari sekolah pribadi?"


Ia mengangguk.


"Boleh aja kalau kamu suka." Tama beralih membelai rambutnya. "Berenang juga bagus. Tinggal pulang ke rumah mama."


Ia menghentikan kegiatan menyingkirkan ujung rambut di kening Tama. "Nggak bisa."


"Nggak bisa apa?"


Ia meringis. "Takut air. Takut tenggelam ...." Tiba-tiba ingatannya tertuju pada seseorang. Namun buru-buru mengalihkannya kembali pada wajah gagah di hadapan.


Tama tersenyum. "Minta diajarin Reka. Punya anak atlet renang harus dimanfaatkan."


Sekilas ia ikut tersenyum sebelum memutuskan mengganti topik. Membicarakan segala sesuatu yang menyangkut air selalu mengingatkannya pada seseorang. Dan ia tak ingin bersikap tak adil terhadap Tama dengan menghadirkan sosok tersebut meski hanya dalam ingatan.


"Kenapa Mas memilih menjadi seperti sekarang?"


Tama sempat mengernyit mendengarnya mengalihkan topik pembicaraan. Namun sejurus kemudian kembali tersenyum. "Mengikuti jejak idola."


"Pak Setyo? M-maksudku ... p-papa?"


Tama mengangguk. "Kenapa? Apa insiden kardus susu masih mengganggu?"


Dialah Tama. Yang seringkali tepat menebak arah pembicaraan seseorang. Benar-benar detektif sejati.


"Ada lagi yang datang? Anak-anak di depan kerjanya nggak becus nih kalau masih ada yang lolos nemuin kamu."


Ia menggeleng. "Enggak, Mas. Semua aman. Aku hanya ...." Ia memberanikan diri menyentuh rahang kokoh milik Tama yang dihiasi titik-titik hitam sebab belum bercukur. "Semoga Mas tetap kuat sampai kapanpun."


Tama menatapnya. "Setiap profesi pasti ada resikonya. Ini salah satu resikoku selain taruhan kehilangan nyawa."


Ia balas menatap Tama. "Adik ipar cing Ella kecelakaan."


Tama semakin tajam menatapnya.


"Keluarga dimintai sejumlah uang untuk menutup kasus." Ia menghentikan kalimat sejenak menunggu reaksi Tama. Namun suaminya itu bergeming.


"Ceritanya sama persis seperti cing Minah." Ia menatap Tama yang juga tengah memandanginya tanpa jeda. "Jumlah uangnya juga besar sekali. Padahal kecelakaan motor bukan mobil."


Ia menghela napas sebelum memberanikan diri menyebutkan angka. "Lima belas juta, Mas. Berapa harga sepeda motor sampai uang untuk menutup kasus sebesar itu? Apa nggak kasihan? Sudah jadi korban masih diperas oleh pihak yang seharusnya mengayomi?"


Tama menelusuri pipinya menggunakan ujung jari. "Kasih tahu cerita lengkapnya biar kutindaklanjuti. Pungli seperti ini harus diberangus."


"Dan bilang ke cing Ella. Jangan ragu kalau ada kesulitan. Selama aku bisa membantu." Tama masih menelusuri garis pipinya.


Ia menatap Tama dengan mata berkaca.


"Kamu harus tahu, orang-orang seperti itu selalu ada di mana-mana, apapun profesinya. Memanfaatkan kesulitan orang lain menjadi sumber pemasukan," sambung Tama sembari terus menelusuri pipinya.


"Orang yang datang ke rumah kita dan mengharap bantuan juga akan selalu ada. Meski kita berusaha menjaga diri," lanjut Tama lagi.


"Kamu harus siap. Mungkin ke depannya lebih dari sekedar kardus susu berisi uang." Tama merengkuhnya dalam-dalam. "Kita jalani dan hadapi ini semua sama-sama?"


Ia mengangguk dengan wajah menempel di dada Tama.


"Dulu waktu kecil, hampir tiap hari lihat orang datang ke rumah nyari papa." Tama melanjutkan cerita namun ia mulai tak bisa berkonsentrasi sebab rasa mual tiba-tiba menyerang.


"Mereka bawa amplop atau kardus ...." Tama terkekeh tapi ia tengah berusaha keras menahan rasa mual. "Isinya uang. Ternyata sampai tahun milenium masih pakai cara yang sama."


"Tapi aku nggak pernah sekalipun lihat papa nerima apapun dari orang-orang yang datang ke rumah." Tama mencium puncak kepalanya dalam-dalam. "Semua dibawa pulang lagi. Itulah mengapa a--"


"Mas?" Ia berusaha melepaskan diri dari lengan Tama. "M-mau ke toilet sebentar."


"Kenapa?" Tama menatapnya tajam berusaha mencari tahu.

__ADS_1


Namun ia sudah tak tahan lagi dan buru-buru berlari ke toilet. Rasanya ingin memuntahkan seluruh isi perut hanya saja masih tertahan di kerongkongan. Tak satupun berhasil keluar.


***


__ADS_2