Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 49. I'll Give You All


__ADS_3

I'll Give You All


(Akan kuberikan segalanya untukmu)


-diambil dari judul lagu yang dipopulerkan oleh Lee Seung Gi-


***


Jakarta


Tama


Seumur-umur, baru kali ini ia merasa gelisah. Sebelumnya, semua selalu berakhir mudah dalam satu kedipan mata. Apa yang diinginkan pasti bisa digenggam.


Tetapi Pocut adalah perkecualian. Sangat berbeda. Bahkan tak pernah terbayangkan sebelumnya. Pocut bagai kemilau yang berada jauh di luar jangkauan. Di mana ia harus menempuh jalan terjal berliku. Menembus onak dan duri. Menerjang arus paling deras. Hanya sekedar untuk bisa berjalan mendekat. Luar biasa.


"Mengapa memperlakukan saya sebaik ini?" Pocut menatapnya dengan mata berkaca. "Semua tahu ... saya bukan orang yang pantas menerima semua kebaikan ini ...."


Ia tersenyum. Bisa dipastikan, ini adalah kali pertama ia bisa memandangi wajah (cantik) Pocut dalam jarak yang cukup dekat. Meski di tengah balutan kesederhanaan, namun penuh nuansa syahdu. Berlatar kesejukan selasar masjid dengan iringan lantunan ayat suci. Semakin memantapkan hatinya untuk tak bisa berpaling lagi.Terkunci sempurna.


Sekarang ia menyadari. Jika Pocut ternyata memiliki sepasang mata indah dengan manik berwarna cokelat terang. Pantulan dirinya bahkan bisa tergambar sempurna dalam jernihnya manik menawan itu.


"Karena bagi saya ... kamu sangat istimewa," jawabnya yakin.


"Seandainya semua orang tahu, usaha seperti apa yang harus saya lakukan ...." Ia menatap Pocut lekat-lekat. "Untuk mendekati kamu."


"Orang pasti nggak tahu, kalau saya harus memantaskan diri dulu sebelum berani ngomong begini ke kamu." Ia tak bisa menahan senyum saat mengucapkannya.


"Jadi ... siapa yang pantas dan tidak pantas di sini?" Ia mengangkat bahu.


"Ini bukan soal pantas dan tidak pantas." Ia menggeleng sambil menepuk dadanya sendiri. "Ini soal hati."


Pocut terlihat jengah karena sedari tadi ia terus menerus menatap lekat-lekat.


"Saya tidak tahu harus menjawab apa." Suara Pocut terdengar lebih seperti gumaman.


"Cukup dengan menerima keberadaan saya," ujarnya yakin.


Pocut kembali menatapnya, namun terpancar jelas kecemasan di sana. "Saya ... terus terang ... saya masih ...."


Pocut menghentikan ucapan hanya untuk mengembuskan napas panjang seraya memejamkan mata. "Masih ada seseorang di hati saya. Saya merasa ...."


"Saya minta maaf," sergah Pocut cepat seraya menundukkan pandangan. "Karena bersikap tidak sopan ...."


Raut halus di hadapannya terlihat begitu tertekan. Jelas menampakkan kegundahan hati yang tak mampu terucap. Kembali mengingatkannya pada nasehat mama tempo hari.


"Ditinggal pergi suami selama-lamanya itu rasanya tak terbayangkan."


"Sampai kapanpun, kenangan bersama orang tercinta akan tetap tersimpan di hati."


"Tidak ada yang bisa menggantikan, sosok yang pernah menjadi separuh hidup kita."


"Saya mengerti." Ia mengangguk. "Almarhum suami kamu ... sudah menjadi bagian hidup jauh sebelum kita bertemu."


"Sampai kapanpun dia tetaplah ayah Icad, Umay, dan Sasa ...." Ia berusaha tersenyum. "Memang sudah seharusnya memiliki tempat spesial di hati kamu."


"Sangat manusiawi. Bukan untuk diperdebatkan atau dikawatirkan." Ia bersungguh-sungguh. "Saya nggak masalah."


Pocut memandangnya ragu.


"Kita sama-sama punya masa lalu. Dan di belakang saya ... ada Kinan."


"Komunikasi kami berdua bahkan masih sangat intens."


"Kami harus sering duduk bersama untuk membahas banyak hal tentang Reka dan masa depannya."


"Mungkin sampai ... seumur hidup?" Ia mengangkat bahu. "Kinan akan selalu ada di antara kita."


"Semoga kamu nggak merasa terganggu dengan kenyataan hidup saya yang satu ini."


Pocut kembali menunduk. "Bukan itu maksud saya."


Ia menunggu.


"Saya hanya ...." Pocut menatapnya gelisah. "Mengapa menempatkan saya di posisi sulit seperti ini?"


Ia tersenyum. Lalu berseloroh. "Jadi istri saya memang harus tahan banting."


Dan sebelum Pocut melancarkan protes ia buru-buru menjelaskan, "Karena tugas dan pekerjaan saya cukup beresiko."


"Saya sering pulang malam bahkan pagi."


"Bisa jadi nggak pulang berhari-hari. Atau pulang ... tapi tinggal nama."


Pocut hanya terdiam menatapnya.


Suasana di antara mereka mendadak hening. Hanya terdengar suara orang mengaji dan gumaman lalu lalang jemaah yang baru berdatangan.


"Begini saja ...." Ia tak ingin Pocut merasa terbebani. "Kamu nggak perlu melakukan apapun."


"Dan nggak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Sampai nanti saya datang."


"Saat itu ... semoga kamu sudah bisa menerima saya."


Pocut tak menjawab. Pocut bahkan tak mengucapkan sepatah katapun. Sampai mereka berdua berjalan menuju Taxi yang telah menunggu di depan masjid.


"Pak Wiratama, Basmol?" Sapa pengemudi Taxi ramah.


"Ya." Ia membukakan pintu untuk Pocut. Kemudian segera menyusul masuk ke dalam Taxi.


Ia dan Pocut sama-sama terdiam. Pocut bahkan sengaja mengambil duduk di ujung terjauh darinya.


Ia hanya menggeleng sambil tersenyum. Memilih mengambil ponsel untuk melihat sejumlah pesan masuk yang dikirimkan oleh anggotanya. Tentang pra pelaksanaan operasi ketupat jaya bersama tim gabungan dari TNI.


"Sasa nggak nyariin?" Tanyanya usai membalas pesan terakhir. "Jam segini mama belum pulang ke rumah?"


"Tadi sudah pamit," jawab Pocut singkat.


Ia mengangguk. "Sasa tahu nggak ... kalau sekarang kamu lagi sama saya?"


Pocut menoleh dengan kening mengerut.


Ia langsung tertawa begitu mendapati reaksi defensif yang ditampilkan Pocut. "Cuma nanya."


Pocut kembali melemparkan pandangan ke kaca samping dan mengacuhkannya.


"Nanti mampir dulu ke minimarket. Kita beli oleh-oleh untuk anak-anak di rumah," ujarnya seraya tersenyum.


Pocut kembali menoleh ke arahnya. "Tidak usah repot-repot. Sasa hanya titip susu."


"Oke." Ia tersenyum lebar karena berhasil mengetahui pesan rahasia dari gadis cilik periang. "Kita beli susu dan teman-temannya."


"Susu saja," imbuh Pocut cepat.

__ADS_1


Ia terkekeh. "Oke. Susu saja." Namun kembali menambahkan. "Dan permen ... crackers ... cokel ...."


Pocut memberi tatapan memperingatkan. "Cukup yang dipesan anak-anak. Tidak perlu membelikan yang lain."


Ia mengangkat bahu. "Kita lihat nanti."


Dan tawanya langsung meledak begitu mendapati kening Pocut yang semakin mengerut. Ternyata, menggoda Pocut tak sesulit yang dibayangkan.


Tunggu sebentar, sejak kapan ia bisa bersikap secair ini?


Ia mendengus sendiri. Sepertinya kadar dopamin yang meningkat tajam tanpa sadar telah berhasil mengubahnya menjadi sosok impulsif yang cukup menggelikan.


Kening Pocut masih berlipat-lipat ketika bertanya, "Tadi itu ... ditilang sungguhan?"


Ia balik bertanya. "Memang ada ditilang bohongan?"


"Saya serius." Pocut menatapnya dengan alis saling bertaut.


Kali ini ia mengangguk. "Ditilang sungguhan."


"Saya baru melihat ada polisi kena tilang." Pocut menatapnya tak percaya.


"Jenderal saja bisa kena tilang. Apalagi saya ...." Ia terkekeh ©.


Pocut semakin menatapnya tak percaya.


"Saya serius." Ia menirukan ucapan Pocut sambil tersenyum. Alhasil, Pocut kembali melemparkan pandangan ke kaca samping. Tak lagi mengajaknya bicara.


"Ingin tahu nama jenderal yang kena tilang?" Ia kembali bertanya.


Tapi Pocut menggeleng. "Tidak, terimakasih. Lain kali saja."


"Oke." Ia manggut-manggut.


Suasana di antara mereka kembali sunyi. Hanya terdengar deru mesin kendaraan yang sedang melaju dan sayup-sayup lagu dari audio mobil.


'Geudae naege daka-oneun geu moseub


Kau muncul di hadapanku


Jakku dasi b ol su eobseul geonman gathaaseo


Rasanya aku takkan pernah melihatmu lagi


Gameun du nun tteuji mothan geoya neoreul naege Bonae jun geol


Itulah mengapa, aku tak bisa membuka mataku


Karena kau memang dikirim untukku


Gamsahal ppunya goma-ul ppunya'


Aku sangat berterimakasih dan bersyukur


(Lee Seung Gi, I'll Give You All) 💕


Ia kembali melihat ponsel. Memeriksa pesan yang baru masuk. Sementara Pocut masih memperhatikan jalanan melalui kaca samping.


'Seogeulpheun uri-ee jinan naldeureul


Kenangan tentang hari-hari sedih yang pernah kita lalui


Seoroga jogeumssik gamssajweoya hae


Mari kita sembunyikan semua itu di dalam hati kita masing-masing


Aku terlalu tidak sempurna untukmu


Da julkkeoya nae nameun modeun sarangeul'


Aku akan berikan semua cintaku yang tersisa


(Lee Seung Gi, I'll Give You All)


Lagu yang sedang diputar terdengar menyenangkan di telinga. Meski ia tak mengerti artinya, namun saat menoleh ke samping, ternyata Pocut juga sedang memandangnya.


Ia tersenyum.


Dan Pocut yang semula hanya diam membeku, akhirnya mulai membalas senyumannya meski hanya sekilas.


 -------


Ia meletakkan selembar uang di atas meja kasir. Ketika Pocut sedang kerepotan mengambil dompet di dalam tas.


"Jangan." Pocut menggeleng.


Tapi ia justru mengambil sejumlah cokelat yang tersimpan di etalase. Lalu meletakkannya di atas meja kasir.


"Sudah ... cukup." Pocut menghentikannya dari mengambil sejumlah permen. Dan ia terpaksa menurut.


"Terimakasih," gumam Pocut begitu mereka keluar dari minimarket. "Sampai di sini saja."


"Saya antar sampai rumah."


Pocut menggeleng. "Tidak ada siapa-siapa di rumah. Semua sedang salat tarawih di masjid."


"Sasa juga?"


Pocut mengangguk.


"Kalau begitu saya ikut tarawih di masjid."


Pocut terlihat keberatan. Tapi tak mengatakan apapun. Diam saja ketika ia mengekor di belakang. Berjalan menyusuri gang menuju ke rumah.


"Langsung ke masjid saja," ujar Pocut ketika mereka sampai di depan pagar masjid. Melewati deretan anak kecil yang duduk-duduk di atas pagar sambil berceloteh dan memakan jajanan.


"Sebentar lagi salat dimulai," sambung Pocut.


"Masih ceramah." Ia menggeleng. Karena pengeras suara masjid jelas-jelas sedang memperdengarkan suara orang berceramah. "Saya antar dulu sampai ke rumah."


"Saya ke rumah hanya ambil mukena. Cuma sebentar." Pocut bersikeras menolak.


Matanya menyipit sebagai bentuk keberatan. Tapi Pocut malah langsung berlalu meninggalkannya. Sama sekali tak menghiraukan.


"Ya, oke ... oke ...." Ia mengangkat kedua tangan sebagai tanda menyerah.


Kemudian berjalan memasuki halaman masjid. Melewati anak-anak usia SD yang sedang ramai bermain lempar sandal. Di mana seorang anak berbadan bongsor terlihat sedang bersiap melempar tumpukan sandal.


BRUK!


Lemparan anak bongsor itu melenceng jauh. Sandal yang dilempar justru tepat mengenai kakinya.


"AH! Kelewatan!" Keluh anak tersebut dengan raut kecewa. Diikuti gerutuan teman-temannya. Sementara sebagian yang lain justru bersorak kegirangan.


"HEI! BUBAR! BUBAR! Jangan berisik!"

__ADS_1


Namun seorang pria paruh baya tiba-tiba muncul di teras masjid. Berteriak menghardik. Membuat anak-anak yang sedang riuh tercerai berai dalam sekejap. Sebagian memilih berlari keluar pagar, sebagian lainnya masuk ke dalam masjid.


Ia menggelengkan kepala dan kembali berjalan menuju ke tempat wudu. Namun baru dua langkah, matanya tak sengaja berhasil menangkap bayangan punggung kecil yang cukup familiar. Tengah membungkuk merapikan sandal bekas permainan. Yang ditinggalkan begitu saja berserakan di halaman masjid.


"Umay!" Panggilnya gembira.


Tapi Umay tetap membungkuk merapikan sandal bersama seorang temannya. Yang menoleh justru anak lain.


Anak yang baru keluar dari tempat wudu itu langsung melongo saat melihatnya.


Begitupun dirinya. Sempat terkejut namun bisa segera dinetralisir.


"Halo, Icad?" Sapanya sambil tersenyum lebar. Seperti pencuri yang tertangkap basah oleh pemilik ladang.


Icad masih terpaku menatapnya. Ketika tiga orang anak berlari menghampiri.


"Wah, Om?"


Ia menoleh dan mendapati Umay sedang menatap keheranan.


"Kok Om bisa ada di sini, sih?"


Ia tertawa ketika Umay meraih tangannya untuk memberi salam. Begitu juga dengan dua anak lain. Sementara Icad tetap berdiri mematung diam seribu bahasa.


Ia akhirnya mengambil wudu dengan ditonton oleh Umay dan dua orang temannya. Setelah sebelumnya Icad mengikuti jejak Umay memberi salam, meski dengan ekspresi kaku.


"Om mau tarawih di sini?" Tanya Umay antusias.


"Habis tarawih ke rumah aku nggak, Om?"


Ia hanya tertawa. Maunya. Tapi pasti mama kamu bakalan memasang wajah keruh berlipat-lipat. Tak sedap dipandang. Not good.


Umay dan dua orang temannya bahkan terus mengekorinya sampai ke dalam masjid. Menempel seperti perangko. Sepanjang waktu tiga anak tersebut selalu memandangnya dengan mimik takjub.


Sepintas lalu telinganya sempat mendengar Umay berbisik dengan gaya berapi-api.


"Om ini punya pistol asli lho."


"Bohong kamu."


"Kata siapa?"


"Kata aku lah. Kan om ini polisi. Pernah keluar di TV nangkap penjahat."


Beberapa pria dewasa yang berada satu shaf dengannya sempat menoleh dan memberinya tatapan menyelidik. Mungkin merasa heran dengan keberadaannya yang baru pertama kali di masjid ini.


"Siapa, May?" Seorang kakek sempat bertanya pada Umay.


"Om," jawab Umay ceria.


"Om dari mane?" Selidik kakek tersebut tampak belum percaya.


Tapi Umay tak menjawab. Justru bercanda sambil tertawa-tawa dengan temannya.


"Saya kakak iparnya Cakra." Ia akhirnya memperkenalkan diri.


"Oh." Kakek bergigi palsu dengan ukuran melebihi kapasitas mulut itu tertawa lebar. "Kakak iparnya si Agam?"


"Betul." Ia tersenyum mengangguk.


Begitu salat witir berakhir, sebagian besar jemaah langsung membubarkan diri. Termasuk anak-anak yang berebutan berlari ingin menjadi yang pertama keluar.


Kecuali Umay yang masih setia duduk di sebelahnya. Tak terpengaruh suara riuh rendah anak-anak saling bercanda. Padahal dua orang temannya sudah lebih dulu melesat pergi.


"Om mampir ke rumah nggak, Om?" Bisik Umay dengan wajah penuh harap.


"Om kan belum ketemu sama Sasa," lanjut Umay. "Sasa pasti seneng ketemu sama Om."


Ia baru mau menjawab. Namun keburu seseorang mengambil peci Umay sambil berkata, "Pulang, May!"


Icad.


Tapi Umay bergeming. Tetap duduk di sebelahnya sambil berusaha merapikan peci yang sempat terlepas.


"Om mau langsung pulang," jawabnya lugas. "Salam buat Sasa sama nenek."


Umay sempat menatapnya kecewa. Tapi sejurus kemudian mengiyakan dengan wajah lemas.


"Salam juga buat mama," bisiknya kali ini dengan mata berkilat menggoda. "Spesial."


Namun Umay yang keburu bangkit hanya sempat mengangguk-angguk dan langsung melesat pergi.


Ia masih duduk menghadap kiblat di antara segelintir jemaah yang tersisa. Ketika seorang pria berbaju putih bersih berjalan mendekat dan menyapa.


"Assalamualaikum, Pak Kapolres? Apakabarnya?"


Meski sempat tertegun melihat pria berwajah segar yang sedang tersenyum di depannya. Namun ia tetap menyambut jabat tangan yang diulurkan.


"Mungkin Bapak lupa dengan saya." Pria itu masih tersenyum.


"Beberapa waktu lalu, saya sempat menghadiri undangan dari Mapolres bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya."


"Oh, ya." Ia mengerti.


Agenda silaturahim dengan toga dan tomas memang rutin dilakukan untuk menjaga situasi kamtibmas agar tetap aman dan kondusif.


"Nama saya Arif, waktu itu mewakili dari FKUB."


"Ya, ya." Ia mengangguk-angguk.


"Saya juga dulu pernah menghadiri akad nikah adik Bapak dengan Agam," sambung pria bernama Arif. "Tapi itu sudah lama ...."


Ia masih mengangguk-angguk berusaha mengingat.


"Selamat datang di masjid kami. Suatu kehormatan mendapat kunjungan dari Bapak."


Tapi ingatannya justru terfokus pada hal lain.


"Saya sedang bicara dengan Ustadz Arif ini?" Ulangnya sekedar memastikan.


Pria di depannya tersenyum bersahaja. "Arif saja, Pak."


***


Keterangan :


©. : dikutip dari artikel yang dimuat di merdeka.com edisi 21 Januari 2021.


💕. : terjemahan bahasa Indonesia dikutip dari akun YouTube milik Q2_Kdrama edisi 6 September 2020. Kamsahamnida 🙏.


Toga. : tokoh agama


Tomas. : tokoh masyarakat


Kamtibmas : keamanan dan ketertiban masyarakat

__ADS_1


FKUB. : Forum Kerukunan Umat Beragama


__ADS_2