Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 48. Bah Loen Peupah Hatee Nyo Dilee


__ADS_3

Bah Loen Peupah Hatee Nyo Dilee


(Biar kupastikan hati ini dulu -bahasa Aceh-)


***


Jakarta


Pocut


Ia sedang melipat mukena usai menunaikan salat sunah bakda maghrib. Ketika ponsel yang tersimpan di dalam tas bergetar tanda ada panggilan masuk.


Tapi ia tak langsung mengangkatnya. Lebih memilih untuk beranjak menyimpan mukena, yang telah terlipat rapi ke dalam lemari penyimpanan.


Ia juga sempat merapikan sejumlah mukena lain yang disimpan sembarangan. Bahkan belum dilipat sama sekali. Bertumpuk tak beraturan di dalam lemari.


Sebelum akhirnya mengambil ponsel. Meski harus bersusah payah merogoh isi tas. Karena hampir tak ada ruang kosong yang tersisa. Sebab telah dipenuhi oleh lipatan seragam warna cokelat. Tanpa sadar berhasil memancing helaan napas panjang. Demi mengingat si pemilik seragam.


1 pesan baru


+62811211311 : 'Saya di selasar masjid.'


Embusan napas panjang langsung lolos. Dan dari tempatnya sekarang berdiri, dibalik kaca jendela masjid. Matanya mulai menelusuri selasar, mencari-cari sosok Tama.


Suasana selasar masjid petang ini sangat ramai. Banyak orang lalu lalang hendak masuk ke dalam masjid ataupun keluar. Termasuk sejumlah anak-anak yang dengan ceria mengekori langkah orangtuanya. Juga pengurus masjid yang sibuk menyusun makanan untuk berbuka di salah satu sudut selasar.


Ia hampir mengalihkan pandangan ke layar ponsel. Berniat membalas pesan Tama, namun urung ketika matanya menangkap sekelebatan bayangan Tama di tengah keramaian.


Tama terlihat sedang berbincang dengan beberapa orang pria. Dua diantaranya berseragam cokelat. Membuatnya mengurungkan niat untuk mendekat. Lebih memilih mengambil ponsel. Bermaksud mengecek pesan yang dikirimkannya ke nomor mamak, apakah sudah terbaca atau belum.


Ia langsung tersenyum saat mendapati tulisan 2 pesan baru muncul di layar ponsel.


Mamak : 'Hati-hati di jalan.'


Tadi sebelum mengambil air wudu, ia sempat meminta izin pada mamak akan pulang terlambat. Karena ada urusan yang harus diselesaikan.


Keningnya mendadak mengerut mengingat alasan yang dibuatnya sendiri. Semoga bukan termasuk berbohong.


Mamak : 'Mama, kapan pulang?'


Pesan kedua pasti dari Sasa. Ia pun tersenyum sendiri saat mengetik pesan balasan.


Pocut : 'In syaAllah, Mak.'


Pocut : 'Sebentar lagi.'


Tak lama kemudian kembali muncul balasan pesan.


Mamak : 'Titip susu stroberi ya, Ma.'


Mamak : 'Dua.'


Mamak : 'Aku juga, Ma. Rasa moka.'


Itu pasti tulisan Umay.


Pocut. : 'Iya.'


Pocut. : 'Abang sama nenek mau titip apa?'


Ia sedang menunggu pesan balasan dari Sasa dan Umay. Ketika kaca jendela yang menjadi tempat punggungnya bersandar diketuk beberapa kali.


Ia sontak menoleh. Ternyata Tama yang mengetuk kaca jendela.


Mulut Tama komat kamit mengisyaratkan kata, 'Udah?'


Ia mengangguk. Bersamaan dengan getaran ponsel dalam genggaman.


Mamak : 'Abang sama nenek nggak titip.'


Dengan tergesa ia sempatkan untuk mengetik balasan.


Pocut. : 'Ya.'


Kemudian buru-buru memasukkan ponsel ke dalam tas. Lalu beranjak keluar. Menemui Tama yang telah menunggu di selasar.


"Makan dulu." Tama mengangkat dua kotak makanan berlogo restoran siap saji terkemuka. Menu buka puasa yang disediakan secara gratis di masjid ini. Seperti yang terlihat bertumpuk di salah satu meja. Di mana semua jemaah bebas untuk mengambilnya.


"Baru minum air putih sama kurma kan?" Tama menambahkan. Mungkin karena melihat keraguan di wajahnya.


Tadi begitu azan maghrib berkumandang, mereka bergegas menuju ke masjid terdekat. Yang hanya berjarak beberapa puluh meter di depan.


Beberapa orang pengurus masjid, langsung mempersilakan mereka untuk mengambil takjil yang telah disediakan di selasar.


Dua meja panjang yang masing-masing berada di dekat pintu masuk bagi jemaah laki-laki dan perempuan itu, tampak dipenuhi bermacam menu. Ia sempat melihat air mineral botol, teh dalam kemasan, kurma yang dibungkus per tiga biji, kolak, juga kue-kue basah.


Ia hanya sempat mengambil botol kecil air mineral dan sebungkus kurma. Sekedar untuk membatalkan puasa. Sebelum menunaikan salat maghrib berjamaah.


Tama menatapnya seraya mengangsurkan satu kotak makanan. "Atau mau buka puasa di luar? Kita bisa pilih menu. Saya tahu tempat mak ...."


Keningnya sontak mengerut. Dan tangannya langsung terulur mengambil kotak dari tangan Tama.


Tama tersenyum melihat tingkahnya. Sementara ia buru-buru mengalihkan pandangan ke arah lain.


"Mau makan di mana?" Gumam Tama. Memperhatikan seluruh sudut selasar yang sangat ramai. Hampir tak ada tempat nyaman tersisa. Hanya sedikit ruang kosong di tengah selasar. Itupun terpencar. Atau bergabung dengan orang lain.


"Terserah."


Tama sempat menoleh ke arahnya. Sebelum melangkah menuju bagian tengah selasar yang memiliki area cukup luang. Lumayan berjarak dari sepasang anak muda di samping kanan. Dan seorang ibu dengan dua anak laki-lakinya di samping kiri.


"Di sini?" Tama kembali menoleh.


Tapi ia tak menjawab. Karena sudah keburu mendudukkan diri di atas lantai.


"Wah, belum ada minumnya," gumam Tama begitu membuka kotak. Yang ternyata hanya berisi nasi, ayam, dan saos sambal sachetan.


"Saya ambil dulu sebentar."

__ADS_1


Tapi sebelum beranjak, Tama kembali menoleh ke arahnya. "Air mineral atau teh?"


"Air mineral," jawabnya cepat. Kenapa juga harus bertanya untuk hal seremeh ini? Keluhnya tak percaya.


Sambil menunggu Tama yang sedang mengambil air mineral. Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling selasar.


Di samping kanan ada sepasang anak muda. Sedang asyik menikmati makanan dari dalam wadah plastik warna warni merk ternama. Yang arisannya pernah ia ikuti beberapa tahun silam. Tapi ujung-ujungnya, wadah tersebut hanya berakhir menjadi pajangan. Tersimpan rapi di dalam buffet ruang tamu.


"Silakan ...." Gadis berwajah lembut yang kira-kira seumuran Anjani itu mengangsurkan kotak berwarna hijau padanya. "Mungkin mau nyoba."


Ia tersenyum memandang kotak berisi beberapa potong risoles yang kini tersimpan di hadapannya.


"Terimakasih. Tapi saya sudah ada makanan," jawabnya sambil mengangkat kotak makanan pemberian Tama.


"Ini buatan istri saya," sambung sang pemuda santun. "Lagi belajar masak. Mana tahu Tante mau jadi jurinya."


"Ih, Aa ...." Gadis berwajah lembut itu mendorong bahu sang pemuda pelan. "Jangan bilang-bilang dong, aku kan jadi malu."


Ia tertawa sendiri melihat tingkah mereka berdua.


"Pengantin baru ya?" Tebaknya sambil tersenyum. Karena tak mungkin ada sepasang muda-mudi belum halal memanggil dengan sebutan istri, lalu berdua-duaan di selasar masjid.


Tapi hatinya langsung tercekat. Yang benar saja. Ia dan Tama juga sepasang orang asing yang belum halal. Tapi bisa duduk berdua di selasar. Tidak.


Sepasang anak muda di depannya mengangguk malu.


"Baru seminggu sebelum bulan Ramadan," jawab sang pemuda sopan.


"Wah, selamat ya." Ia kembali tersenyum. "Semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah."


"Aamiin ...." Jawab muda-mudi itu serempak. "Terimakasih."


"Silakan dicoba." Pemuda di hadapannya kembali mengangsurkan kotak berwarna hijau ke arahnya.


Tepat ketika Tama berjalan menghampiri sambil membawa dua botol air mineral.


"Wah, apa nih?" Tanya Tama yang telah duduk di sebelahnya.


"Risoles, Om. Buatan istri saya yang lagi belajar masak. Silakan dicoba," jawab pemuda itu ramah.


Tama sempat melirik ke arahnya. Tapi ia pura-pura menunduk.


"Kalian ... lagi pacaran di masjid nih?"


Pertanyaan Tama membuatnya terkejut.


"Kan udah dibilang risoles buatan istri saya?" Gerutunya heran. Tak menyangka Tama akan bertanya dengan gaya menyudutkan. Padahal mereka berdua juga ....


Tama terkekeh, "Oh iya, ya."


Untung saja muda-mudi di hadapan mereka tak tersinggung. Sang pemuda bahkan ikut tertawa bersama Tama.


"Saya punya adik seusia kalian," ujar Tama sambil menoleh ke arahnya. "Udah nikah juga."


Muda-mudi itu tersenyum mengangguk.


Sang pemuda kemudian menyebut nama kampus yang sama dengan Anjani.


"Wah, sama dong," seru Tama riang. "Adik saya juga di sana. Ambil apa?"


Tama dan sang pemuda mulai terlibat obrolan yang cukup seru. Sementara ia hanya saling melempar senyum dengan sang gadis.


"Boleh nih saya coba," ucap Tama seraya mencomot sepotong risoles.


"Silakan, Om. Silakan ...." Sang pemuda mempersilakan.


"Bagi dua ya ... sama MasterChef." Tama terkekeh sambil memotong risoles menjadi dua bagian. Membuat isian berupa telur rebus, sosis, dan daging asap hampir tumpah. Jari dan telapak tangan Tama bahkan sudah dipenuhi oleh lumuran mayonais yang meleleh.


Ia segera mengambil tissue dari dalam tas. Menariknya beberapa lembar sekaligus. Tanpa sadar mengusapkannya ke telapak tangan Tama yang terkena mayonais.


"Tante jago masak ya, Om?" Tanya sang pemuda tak menghiraukan kerepotannya membantu membersihkan jari Tama.


"Banget," jawab Tama seraya mengerling ke arahnya.


Ia langsung terkesiap. Baru menyadari jika sedang melakukan hal konyol. Membuatnya buru-buru melepaskan tissue ke telapak tangan Tama. Lalu berpura-pura tak pernah terjadi apapun.


"Semua masakan buatan dia nih ...." Tama kembali mengerling ke arahnya. "Pasti enak. Rasanya nggak ada duanya."


Ini menjadi kali pertama ia mencibir di hadapan Tama.


"Wah, kalau begitu boleh langsung dicoba, Om?" Seru sang pemuda gembira.


Ia masih menunduk berpura-pura hendak menyimpan tissue ke dalam tas. Ketika tanpa peringatan apapun, Tama menyuapkan risoles yang telah dipotong ke mulutnya.


"Ja ...." Ia ingin protes, tapi mau tak mau justru menelan risoles yang disuapkan oleh Tama.


"Enak nggak?" Tanya Tama dengan wajah tanpa dosa. Sambil memasukkan potongan risoles yang satu lagi ke mulutnya sendiri.


Ia mengunyah risoles dengan hati dongkol.


"Lumayan," gumam Tama sambil mengunyah. "Kalau menurut kamu?"


Ia harus menelan risoles yang sudah dikunyah terlebih dahulu dengan leher tercekik. Sebelum menjawab pelan, "Enak ...."


Meski menurut lidahnya, kulit risoles terasa kurang lembut. Mungkin karena campuran tepung sagu atau maizenanya kurang. Atau mungkin juga karena terlalu banyak menggunakan putih telur.


Tekstur tepung rotinya juga terlalu kasar. Agak mengganggu saat dikunyah. Mungkin akan lebih lezat jika memakai tepung roti yang bertekstur lembut.


Tapi untuk ukuran orang yang baru belajar memasak, risoles ini termasuk enak.


"Enak katanya." Tama mengacungkan jempol ke arah muda-mudi di depan mereka. Disusul senyum malu sang gadis dan tawa riang sang pemuda.


"Makasih, Om." Sang pemuda tersenyum senang.


"Siapa namanya tadi?" Tanya Tama. Tanpa permisi menarik selembar tissue dari genggaman tangannya. Lalu mulai mengusap bekas minyak risoles yang menempel di tangan.


Ia hanya bisa mendesah tak percaya melihat keberanian Tama berlaku demikian terhadapnya.

__ADS_1


"Saya Farras. Kalau istri ... Mumtaz," jawab Farras seraya meraih bahu Mumtaz yang tersipu malu.


"Om sama Tante berdua aja?" Lanjut Farras tanpa diduga. "Anak-anak nggak diajak?"


 ---------


Ia mengunyah nasi dan ayam sambil menunduk. Namun dari sudut mata tahu pasti jika Tama sedang tersenyum geli melihatnya.


Pertanyaan Farras tadi tentang anak-anak langsung membuatnya tersedak. Apalagi ketika Tama menjawab dengan tenang, "Iya ... anak-anak ditinggal di rumah sama neneknya."


Lehernya semakin tercekik. Tissue dalam genggaman hampir terjatuh saking gemetarannya. Sementara Tama dengan wajah tanpa dosa justru terkekeh-kekeh bersama Farras.


"Jangan marah," bisik Tama.


Ia memandang Tama tak percaya. Tapi Tama malah tersenyum.


"Saya nggak bohong kan? Anak-anak memang di rumah sama neneknya."


"Itu anak-anak saya," ujarnya kembali menunduk. "Bukan an ...." Tapi tak jadi melanjutkan kalimat. Karena merasa tak enak jika diucapkan.


"Anak saya juga di rumah sama neneknya," sahut Tama. "Dulu ...."


Ia sempat menatap Tama. Tapi buru-buru menunduk. Berusaha menghabiskan nasi dengan cepat.


"Saya sudah bilang ke Cakra," gumaman Tama kali ini berhasil mengejutkannya.


"Tinggal minta doa restu ke ibu kamu ...." Lanjut Tama seraya menatapnya. "Sori ... ibu mertua kamu ...."


Ia mengentikan kunyahan. Tapi hanya bisa diam tanpa mengucapkan sepatah katapun. Memandangi Tama yang juga sedang menatapnya.


"Apa tidak terlalu cepat?" Gelisahnya sambil menundukkan pandangan. "Kita belum saling mengenal."


"Nggak ada yang saya sembunyikan," jawab Tama. "Kamu juga sudah ketemu sama anak dan mantan saya kan?"


Ia menghela napas panjang. Lalu mengembuskannya perlahan. Menatap nasi di dalam kotak yang masih tersisa setengah.


"Saya hanya orang kampung," ucapnya sambil tetap menunduk.


"Nggak pernah sekolah tinggi," lanjutnya seraya mengingat, sederet gelar yang sempat dibacanya saat berada di ruang kerja Tama.


"Saya nyari istri, bukan sekretaris pribadi," seloroh Tama.


"Anak saya banyak. Dan ada anak yang tidak suka, kalau saya didekati pria."


Tama tersenyum. "Anak saya memang cuma satu. Tapi hubungan kami buruk. Pasti dia juga nggak akan suka ... kalau saya dekat dengan wanita selain ibunya. Meski kami berdua sudah berpisah."


Ia mengehela napas panjang. "Masa lalu saya cukup kelam ...."


Tama menoleh. "Semua orang punya masa lalu. Saya juga punya masa lalu."


"Tapi masa lalu saya berbeda dengan kebanyakan orang." Ia memberanikan diri menatap Tama.


Tama balas menatapnya. "Tentang almarhum suami kamu ... yang anak seorang Hamzah Ishak?"


"Saya sudah mendengar kisah yang sebenarnya," sambung Tama cepat. "Nggak ada masalah dengan itu."


Ia menggeleng. "Ini tentang ... keluarga saya."


Tama terlihat menunggu.


Dan ia harus menghela napas panjang terlebih dahulu sebelum berucap, "Ayah dan abang saya tertembak karena dianggap mata-mata ...."


"Abang kedua saya ...." Ia tercekat sebelum melanjutkan kalimat. "Memilih bergabung dengan GNM ... dan ...."


"Itu masa lalu, Pocut ... masa lalu ...." Tama tersenyum menenangkan. "Kita hidup di era yang berbeda. Jangan menyiksa diri dengan terus terikat pada masa lalu."


"Tapi masa lalu saya ... mungkin akan menyulitkan posisi Mas sebagai ...."


"Karena saya abdi negara, begitu?" Tama menggeleng, "Nggak ... nggak menyulitkan sama sekali."


"Nggak ada yang perlu dikhawatirkan," sambung Tama cepat. "Dan saya hanya ingin minta satu hal."


Ia menatap Tama tak mengerti.


"Tolong buka hati kamu untuk saya." Tama tersenyum. "Jangan menghindar lagi."


"Itu saja."


"Urusan lain serahkan sama saya. Biar saya yang selesaikan."


"Karena saya sudah memutuskan untuk maju. Dan nggak akan berbalik lagi."


"Kamu hanya tinggal menunggu. Sampai saya datang ...."


"Saya pasti akan segera datang. Secepatnya."


"Apa kamu bisa melakukannya?"


"Untuk saya?"


"Saya ingin memastikan ini. Sebelum menemui ibu mertua kamu."


"Sebelum menemui anak saya ... Reka."


"Dan sebelum menemui penjaga mama yang paling tangguh ... Icad."


Hatinya mencelos berkali-kali mendengar semua yang diucapkan oleh Tama. Sementara telinganya mendengar sayup-sayup suara bacaan Al-Qur'an yang berasal dari Farras dan Mumtaz. Juga rengekan dua anak laki-laki yang terus menerus bertanya pada ibunya. Dan gumaman jemaah lain di sekeliling selasar.


Mata mereka berdua masih saling bertaut. Ketika Farras melantunkan ayat yang sangat menyentuh.


"Faidza azamta fatawakkal 'alallah ... innallaha yuhibbul mutawakkilin ...." ©


***


Keterangan :


©. : artinya : Kemudian apabila engkau telah membulatkan tekad, maka bertawakalah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal (QS Ali Imran : 159)

__ADS_1


__ADS_2