
No Man Ever Steps in The Same River Twice
-Heraclitus-
(Seorang pria tak melangkah di sungai yang sama dua kali)
Merupakan ungkapan tersohor dari Heraclitus, seorang filsuf Yunani kuno. Yang artinya, setiap dari kita selalu berubah. Menjadi pribadi yang lebih baik dari sebelumnya.
***
Jakarta
Cakra
Malam semakin larut. Tapi ia masih duduk di ruang tamu. Sembari mengetuk-ngetukkan punggung jari telunjuk ke tangan kursi rotan dengan gelisah. Berusaha mengusir kesunyian. Sebab kak Pocut yang duduk tepat di sebelahnya, sedari tadi hanya diam membisu.
Suasana rumah sepi. Anja dan Aran terlelap di kamar. Dengan latar suara kipas angin yang berputar pada kecepatan maksimal. Mamak juga sudah tertidur. Usai membaca surat As-Sajdah dan Al-Mulk di dalam bilik. Rutinitas yang selalu dilakukan tiap menjelang tidur.
Sasa apalagi. Sepulang dari madrasah tadi, tak lama kemudian langsung ketiduran di ruang tamu. Dan beberapa menit yang lalu sudah ia pindahkan ke dalam kamar.
Sementara dengkuran halus terdengar dari arah depan televisi. Di mana Icad dan Umay telah tertidur pulas.
Tadi, Aran sempat terbangun karena kaget mendengar suara pintu yang dibuka dengan cukup keras.
"Ish, Abang!" Anja yang sedang duduk berhadapan dengan kak Pocut langsung mengerut. "Pelan-pelan buka pintunya. Jadi bangun, kan?"
Ia hanya meringis mendapati kekesalan Anja. Istrinya itu ibarat kucing imut yang teramat manis dan menggemaskan. Namun dalam sekejap bisa berubah menjadi harimau nan garang. Saat ia menjadi tersangka tunggal penyebab utama Aran terbangun dari tidur nyenyak.
"Sori ... sori ...." Ia makin meringis.
Sementara Anja yang masih cemberut langsung menghampiri Aran. Berusaha menidurkan kembali. "Ssshhhh. Bobo lagi ya, sayang ...."
Ia memandang kak Pocut yang terlihat salah tingkah. Kakak iparnya itu bahkan gugup saat bangkit dari kursi. Dengan kedua tangan menggenggam erat benda berbentuk kotak berwarna hitam.
"Aku keluar dulu ...." Gumam kak Pocut tanpa melihat ke arahnya. Berjalan cepat melewatinya begitu saja.
"Kak Pocut kenapa?" Tanyanya heran begitu pintu kamar tertutup kembali.
Anja yang sedang membuai Aran hanya tersenyum simpul. Tak mengucapkan sepatah katapun. Apalagi menjawab pertanyaannya.
Namun lamunannya langsung buyar saat mendengar suara orang tersenyum. Membuatnya sontak menoleh ke samping. Di mana kak Pocut tengah duduk sambil membuka benda berbentuk kotak berwarna hitam, album foto.
Ia memanjangkan leher untuk ikut melihat isi album. Dan tak bisa untuk tak tersenyum. Ketika melihat foto bayi laki-laki gempal yang tak mengenakan baju sedang tengkurap di atas meja.
"Coba ...." Ia menarik album foto dari tangan kak Pocut agar lebih leluasa. Lalu tertawa saat melihat foto seorang anak laki-laki berseragam TK sedang mencangklong termos minum.
Ia tak mengira, Anja ikut membantu meyakinkan kak Pocut sambil membawa album foto mas Tama. Bahkan sebelum ia sempat berbicara dari hati ke hati dengan kak Pocut.
"Reka mirip banget ayahnya," gumamnya saat melihat foto anak berseragam SD sedang memegang piala.
Juara lomba siswa teladan, begitu tulisan warna kuning yang tercetak di dalam foto.
Bertepatan dengan kak Pocut yang melepaskan genggaman pada album. Menyerahkan penuh padanya.
"Kak?" Ia langsung menoleh ke samping. Khawatir kak Pocut bangkit lalu beranjak pergi.
Tapi ternyata tidak. Kak Pocut masih duduk sambil menghela napas panjang. Kemudian berucap, "Kalian bersekongkol."
Ia segera menutup album foto. Meletakkannya ke atas meja sembari tersenyum simpul. "Tolong menolong dalam kebaikan."
Kak Pocut menggelengkan kepala. "Mengapa semua orang menyudutkanku?"
Ia tertawa kecil sambil mengangkat bahu. "Aku belum ngomong apa-apa. Tapi Kakak udah merasa tersudut. Apa artinya kalau bukan ...."
Ia sengaja menjeda kalimat. Lalu tersenyum penuh arti. "Kakak udah tahu jawabannya, kan?"
Kak Pocut memandangnya tanpa ekspresi.
"Apa yang Kakak ragukan?" Ia menghela napas. "Mas Tama benar-benar serius."
"Apa kedekatan Sasa dan Mas Tama nggak ada artinya di mata Kakak?" Sambungnya retoris. "Dari sekian banyak orang yang datang ke rumah ... bisa dihitung dengan jari yang menaruh perhatian pada anak-anak. Mungkin malah nggak ada."
"Mereka kebanyakan fokus ke Kakak. Sama sekali nggak menganggap anak-anak ada." Ia menggeleng. Teringat akan cerita mamak, tiap kali ada pria yang datang melamar kak Pocut.
"Semua orang ingin menjadi suami Kakak," imbuhnya sedikit kesal. Demi mengingat sejumlah pria yang mendekati kak Pocut. "Bukan menjadi ayah untuk anak-anak."
"Gam?" Kak Pocut mengembuskan napas panjang.
"Kakak lihat sendiri." Ia menunjuk sudut mata. "Bahkan semua orang melihat. Perasaan antara mas Tama dan Sasa itu nyata."
"Juga Umay." Ia menunjuk ke arah Umay yang terlelap. "Sejak kapan tontonannya jadi acara buru sergap dan semacamnya?"
"Agam?" Kak Pocut memberinya tatapan memperingatkan.
"Aku bukannya nggak tahu ... Umay suka kelahi sama teman-temannya gara-gara sering diejek tak punya bapak," tambahnya semakin berapi-api. "Jangan sampai Umay jadi seperti aku dulu, Kak."
Kak Pocut terlihat ingin membalas ucapannya. Tapi urung. Kak Pocut hanya menggelengkan kepala.
"Icad gampang," sambungnya yakin. "Nanti aku ajak ngobrol."
"Dia sayang banget sama Kakak. Dia pasti ingin Kakak bahagia," pungkasnya seraya tersenyum.
Kak Pocut mengembuskan napas panjang dan berat. "Mengapa kau pikir ini sesuatu yang baik? Padahal ada begitu banyak perbedaan di antara kami."
"Istighfar, Agam." Lagi-lagi kak Pocut menggelengkan kepala. "Apa kau lupa ... bagaimana awal mula masuk ke keluarga Anjani?"
Ia mengangguk mengerti. "Aku ketakutan."
"Mereka orang berada," imbuh kak Pocut. "Sementara kita ... bukan siapa-siapa. Hanya orang kecil."
"Jangan berlebihan, Kak." Ia menggeleng tak setuju. "Aku dulu ketakutan karena punya salah."
"Kenyataannya ... keluarga Anja tak pernah mempermasalahkan kesenjangan yang ada," sanggahnya.
"Lalu kau pikir aku yang seperti ini ...." Kak Pocut tetap kukuh pada pendiriannya. "Bisa mudah menyesuaikan diri dengan mereka?"
__ADS_1
"Aku hanya wanita yang ditinggal mati suami. Ibu tiga orang anak yang tak punya kelebihan apa-apa, Gam." Kak Pocut menatapnya tajam.
"Bukan anak muda sepertimu yang berotak cerdas. Lebih memiliki kesempatan untuk bisa menyesuaikan diri dengan mereka."
"Dan sekarang ... kau ikut memojokkanku begini." Kak Pocut mengembuskan napas dengan suara yang cukup keras. "Padahal aku berharap ... kau yang paling bisa mengerti keadaan dan mendukungku ...."
Ia mengangguk. "Aku mendukung Kakak. Untuk melanjutkan hidup yang lebih baik."
"Agam?" Kak Pocut mengernyit. "Jangan berpikir selama ini hidupku buruk!"
"Kak ...." Ia sedikit menurunkan nada suara. "Karena aku tahu bagaimana keluarga Anja ... makanya aku berani ngomong begini."
"Aku selama ini menganggap ... Kakak adalah kakak kandungku," ujarnya bersungguh-sungguh dengan selipan rasa haru.
Ia takkan pernah lupa, bagaimana kak Pocut dengan telaten dan penuh kasih sayang merawatnya ketika sakit. Jika diingat, sakit yang cukup parah adalah saat ia terkena cacar air, muntaber, dan demam berdarah.
Semua diderita saat ia masih duduk di bangku SD. Abang sedang merantau ke Kalimantan. Mamak sibuk memasak setiap hari untuk kelangsungan jualan di keude. Icad berusia balita sedang lasak-lasaknya. Dan Umay masih bayi merah. Kak Pocutlah yang merawatnya seorang diri. Tanpa pernah mengeluh sekalipun.
Selama ini ia sering berpikir, kapan kiranya bisa membalas seluruh kebaikan kak Pocut. Ketika akhirnya bekerja di Retrouvailles dan memperoleh gaji bulanan, ia langsung menyerahkan sebagian gaji pertama pada kak Pocut. Sebagian lagi untuk mamak. Tapi ....
"Kasih ke mamak saja," tolak kak Pocut seraya menggeleng.
Pun dengan bulan berikutnya. Kak Pocut selalu menolak pemberiannya. Membuatnya mengalihkan menjadi uang saku untuk para keponakan. Atau diam-diam membayarkan iuran sekolah Icad lewat mamak.
"Aku bakalan lebih tenang kalau Kakak bersama orang yang bertanggung jawab," ujarnya berusaha keluar dari kenangan masa lalu. "Yang bisa melindungi Kakak dan anak-anak."
"Aku mungkin nggak bisa berbuat banyak kalau Kakak menikah dengan orang lain. Tapi mas Tama ...." Ia tersenyum samar. "Aku yakin ... nggak akan mengecewakan Kakak."
Ingatannya kembali melayang pada obrolan di selasar masjid pagi itu.
"Sebagai pihak netral ...." Mas Sada bersidekap dengan mimik serius. "Cuma mau ngingetin. Kamu jadi adik jangan terlalu lembek, lah. Kalau perlu hitam di atas putih. Lakukan."
"Harus punya bargaining position yang jelas," imbuh mas Sada sembari mengepalkan tangan kanan. "Jangan sampai di masa depan ... propaganda yang ditawarkan ternyata nggak sesuai dengan kenyataan."
"Parahnya lagi kalau kakak kamu sampai dikecewain sama ... ini nih ...." Imbuh mas Sada sambil menunjuk mas Tama yang menyeringai sebal.
"The real musuh dalam selimut," gerutuan mas Tama membuatnya hampir tertawa. Merasa geli dengan tingkah dua kakak iparnya yang sejak awal obrolan selalu bersilang pendapat.
Tapi mas Sada justru tergelak. "Ini pesan khusus dari Dara. Harus aku sampaikan, dong. Menjaga fair play. Berdasar kacamata profesional. Pendapat dari ahlinya."
"Biar datanya berimbang." Mas Sada menghentikan tawa dan kembali serius. "Biasanya orang lagi falling love nggak pakai logika. Bahaya itu."
"No man ever steps in the same river twice (seorang pria tak melangkah di sungai yang sama dua kali)," tukas mas Tama sebelum ia sempat berkomentar. Dengan nada paling sungguh-sungguh yang pernah didengar. ©
"For it's not the same river and he's not the same man (karena itu bukan sungai yang sama dan dia bukan pria yang sama)," pungkas mas Tama. Secara telak berhasil menumbangkan keraguannya.
"WOW! Amazing (luar biasa)!" Mas Sada terbelalak namun tetap dengan ekspresi kocak. "Apa ini jawaban dari ... kenapa anak kecil itu bisa akrab banget."
"You're going to become a new person (kau menjadi sosok yang baru)?" Selidik mas Sada yang juga menggelitik rasa keingintahuannya.
"Lana aja kadang masih suka ragu kalau mau deketin pakdenya." Mas Sada menyeringai. "Lha ini ... anak orang langsung nemplok pakai chemistry. Hmm ... interesting (menarik) ...."
"Kegagalan adalah guru terbaik," gumam mas Tama hampir tak terdengar.
Lalu merangkul mereka berdua sambil menaik turunkan alis dengan gaya memprovokasi. "Kapan kita beraksi?"
Ia tersenyum-senyum sendiri mengingat kekonyolan mas Sada mengusili kakaknya. Tapi senyumnya langsung sirna karena kak Pocut memberi tatapan curiga.
"Kakak juga tahu ...." Sambungnya kembali serius. "Tanggung jawabku sekarang bertambah. Ada Anja, Aran, masa depan kami bertiga ...." Ia berhenti sejenak.
Kak Pocut mengangguk mengerti. "Kami tak akan mengganggu. Hiduplah bahagia dengan keluarga kecilmu."
"Jaminan kerjasama dengan Selera Persada membuat aku dan mamak bisa menabung sedikit sedikit," imbuh kak Pocut seraya tersenyum. Sepertinya salah paham tentang maksud dari ucapannya.
"Bukan soal materi." Ia menggeleng. "Tapi tanggung jawab untuk melindungi mamak, Kakak, anak-anak ...."
"Kami baik-baik saja." Kak Pocut berusaha meyakinkannya.
"Aku lebih tenang kalau Kakak dan anak-anak ada yang melindungi."
"Agam?"
"Abang sudah tenang di sana. Abang pasti rela Kakak menikah lagi. Abang pasti bahagia kalau Kakak dan anak-anak bahagia. Melanjutkan hidup dengan baik."
"Agam!" Kali ini suara Kak Pocut berubah kaku. Lebih seperti hardikan.
"Dulu ... waktu aku berterus terang pada Kakak tentang kehamilan Anja ...."
Kak Pocut menatapnya tajam.
"Kakak bilang ... ayah dan abang bisa bangkit dari kubur gara-gara perbuatan burukku."
Kak Pocut mengernyit.
"Sekarang ... kalau abang bangkit dari kubur ... aku sendiri yang akan cerita tentang mas Tama."
Kak Pocut memejamkan mata sambil menghela napas. Lalu mengembuskannya perlahan. "Akhir-akhir ini ... bang Is sering datang."
"Apa katanya?"
Kak Pocut menggeleng seraya tersenyum. "Minta dibuatkan kopi."
Ia melongo. Pikirnya mimpi tentang persetujuan bang Is jika kak Pocut boleh menikah lagi.
"Bukan apa-apa." Kak Pocut terlihat lelah. "Hanya bunga tidur."
Lamat-lamat terdengar suara rengekan Aran dari dalam kamar. Mungkin karena kepanasan. Meski kipas angin sudah disetel dalam kecepatan maksimal. Atau karena gangguan nyamuk. Walau tempat tidurnya sudah dipasangi kelambu.
Keterbatasan keadaan kamarnya memang berbanding terbalik dengan kenyamanan nomor 1 yang biasa dinikmati Aran setiap hari. Menjadikan putranya itu sering rewel jika sedang menginap di rumah ini.
Mungkin sebentar lagi Anja akan memanggil namanya. Meminta bantuan untuk menenangkan Aran yang terus merengek tak tahu menginginkan apa.
Dan sebelum itu terjadi, ia harus menuntaskan bujukan terhadap kak Pocut. Sambil berharap hasilnya sesuai dengan yang diinginkan.
"Kita nggak akan ngobrol sepanjang ini kalau Kakak nggak punya rasa ke mas Tama," ujarnya dengan penuh kehati-hatian. Khawatir kak Pocut akan tersinggung.
__ADS_1
Sebab masih terngiang ucapan mamak melalui sambungan telepon tempo hari. "Pocut tak mungkin selalu menangis jika tak memiliki perasaan apa-apa terhadap Tama."
"Agam?"
"Mamak setuju. Aku, Anja, Aran, Umay, Sasa juga setuju. Icad nanti aku ajak ngobrol."
"Hekhekehek huaaa ...." Suara tangis Aran semakin nyaring. Dengan gumaman samar Anja yang terdengar panik berusaha menenangkan.
"Aku nggak tahu apa yang Kakak khawatirkan."
"Kalau tentang perbedaan yang Kakak bilang tadi. Aku juga nggak tahu jawabannya." Ia mengangkat bahu. "Yang aku tahu ... pasti mas Tama punya alasan kuat sampai nemuin mamak ... minta ijin untuk dekat dengan Kakak."
"Kakak langsung tanya saja ke mas Tama. Alasan mas Tama ingin memperistri Kak ...."
"Agam?"
"Huakhakhakhak ...." Tangis Aran semakin menjadi.
"Abang?" Dan Anja sudah memanggilnya. Pasti karena kewalahan menenangkan kegelisahan Aran.
"Sebentar, Ja," jawabnya sembari memandang kak Pocut yang juga sedang menatapnya.
"Mungkin dengan Kakak sering ngobrol sama mas Tama ... bisa ada jalan keluar," ujarnya. "Kakak tambah yakin atau malah makin ragu."
"Kalau Kakak sama mas Tama udah banyak ngobrol ... udah tahu masing-masing ... keputusan ada di tangan Kakak. Aku sama mamak nggak akan ikut campur."
"Huakhakhakhak ...."
"Abang?"
"Iya, Ja," jawabnya sambil bangkit. "Yang akan menjalani kan Kakak."
"Tapi kalau butuh rekomendasi ...." Sebelum melangkah ia sempatkan untuk mengacungkan jempol ke arah kak Pocut.
***
Pocut
Semalam, ia entah tertidur jam berapa. Yang pasti mata terus saja nyalang tak mau terpejam. Kepalanya terasa penuh dijejali foto anak laki-laki dari album berwarna hitam. Ditambah obrolan dengan Agam yang terus terngiang di telinga.
"Kita nggak akan ngobrol sepanjang ini kalau Kakak nggak punya rasa ke mas Tama."
Membuatnya ketiduran saat membaca Al Qur'an usai salat subuh karena masih mengantuk. Dan baru terbangun ketika sepasang lengan terasa memeluknya dari belakang.
"Mama ...."
Ia tergeragap. "Sasa?"
"Ada tamu ...."
Rumah dalam keadaan sepi. Mamak sejak subuh sudah berada di masjid. Biasanya baru pulang di waktu duha. Umay usai mengaji bakda subuh, langsung bermain di halaman madrasah dengan teman-temannya. Sementara Icad sedang menggambar di ruang tamu.
"Yahbit sama ma'bit lagi jalan-jalan keluar," jawab Sasa ketika ia bertanya. "Dekgamnya rewel, sih. Nangis terus."
Ia mengangguk dan tersenyum, saat melihat mpok Lela sudah menunggu di teras.
"Ini ... baju punya mamak."
Lalu menerima kantong plastik dari tangan mpok Lela dengan kening mengernyit.
"Udah aye kecilin biar pas ame ukuran mamak."
Ia membuka kantong plastik dan menemukan baju dengan model serta motif sama seperti yang terdapat di dalam kotak marun.
"Bajunya bagus banget, Cut. Dapat beli di mana?" Celoteh mpok Lela dengan nada menyelidik.
"Kain mahal itu. Yang semeternya bisa ratusan ribu."
"Mana jahitannya rapi banget lagi. Pasti bikinan butik."
"Apa dikasih hadiah dari besan?" Suara mpok Lela mendadak berbisik. "Barusan aye papasan ame Agam lagi bawa anaknya jalan ke depan. Bedua istrinya yang beeeeniiiing ...."
"Kado lebaran dari besan pasti, ye?"
Ia menelan ludah. "Berapa, Mpok?"
Mpok Lela menyebut sejumlah rupiah. "Ongkosnya rada mahalan dikit. Abis susah motong kainnya. Takut salah. Bisa-bisa baju bagus jadi kelihatan butut."
Ia pun buru-buru masuk ke dalam untuk mengambil uang.
Dan sebelum pergi, mpok Lela masih sempat berbisik. "Atau hadiah dari laki yang kemarenan datang, Cut? Yang katanya polisi. Denger-denger bentar lagi mau ngelamar elu?"
Ia terhenyak.
"Syukur deh ada orang yang mau serius ame elu." Mpok Lela terkekeh senang. "Kite nih para emak ... kadang suka kuatir laki khilaf trus kepincut ame elu."
"Tapi kalau ada berita begini kan semua lega ... elu udah ada yang mau ngelamar buat dijadiin bini." Mpok Lela tersenyum lebar.
"Siapa bilang saya mau dilamar, Mpok?" Tanyanya dengan hati berdebar.
"Banyak noh yang bilang," tukas mpok Lela cepat. "Malah ada yang cerita ... kalau elu nyimpen baju polisi di dalem tas. Busyet, beranian ye ...." Mpok Lela terkikik. "Sampai nyimpen baju laki segala. Abis ngapain tuh ...."
Kepalanya mendadak pening. Dan lututnya langsung lemas ketika Sasa yang entah muncul dari mana tiba-tiba menyeletuk, "Kok Cing Lela bisa tahu ... kalau mama nyimpen baju om Tama di dalam tas?"
"Encing kan nggak ada di sini?" Tanya Sasa keheranan. Membuatnya ingin pingsan saat itu juga.
"Ah ...." Mpok Lela tersenyum lebar dengan mata berbinar. Seolah baru berhasil memperoleh informasi paling rahasia dambaan banyak orang. "Jadi namanya Tama?"
***
Keterangan :
©. : filosofi dari Heraclitus
Heraclitus. : adalah seorang filsuf Yunani Kuno pra-Sokratik yang tidak tergolong mazhab apapun, meski dapat digolongkan lewat asal munculnya sebagai pemikir mazhab Ionia atau filsuf yang muncul di wilayah Asia Minor (sumber : Wikipedia).
__ADS_1