
Uroe Raya, Uroe Bagia
(Hari raya, hari bahagia -bahasa Aceh-)
***
Jakarta
Pocut
Ia sedang menuang santan kental ke dalam kuali, ketika Sasa masuk ke dapur sambil memperlihatkan dua potong baju.
"Ma, buat lebaran nanti ... aku pakai baju yang dibeliin mama ...." Sambil mengangkat baju di sebelah kanan.
"Atau baju yang dikasih sama ma'bit?" Sambil mengangkat baju di sebelah kiri.
"Sasa maunya pakai yang mana?" Ia balik bertanya. Sambil terus mengaduk rendang di dalam kuali.
"Ngng ...." Sasa terlihat menimbang-nimbang. "Aku suka dua-duanya, sih ...."
Ia tersenyum. "Kalau begitu ... pakai saja dua-duanya."
"Memang bisa?" Bola mata Sasa membulat.
"Bisa." Ia masih tersenyum. "Sasa pilih satu untuk salat Id di masjid. Lainnya untuk silaturahim. Kepakai semua, kan?"
"Doh, yang baju lebarannya dua ... sombong amat." Umay yang baru pulang main sempat meledek Sasa sebelum masuk ke kamar mandi untuk mencuci kaki.
"Oiya, bener!" Sasa langsung berbinar. Tak melayani ledekan Umay. "Mama pinter, deh ... hihihi ... makasih, Mama ...."
Ia kembali berkonsentrasi di depan kuali. Mengaduk rendang secara perlahan agar daging dan kentang tak hancur.
"Kalau Nenek ... pakai baju yang mana?" Rupanya Sasa belum beranjak dari dapur. "Baju dari mama apa ma'bit?"
Mamak yang sedang mengocok telur dan gula pasir untuk membuat kue bhoi (bolu kering) tersenyum. "Supaya adil ... Nenek pakai baju yang lain saja."
"Pakai baju lama?" Sasa terbelalak. "Jangan, Nek." Sasa menggeleng tak setuju.
"Kita kan akan kembali fitri ...." Sasa menangkup kedua telapak tangan di depan dada dengan sedikit kerepotan karena sedang memegangi dua potong baju. Mempraktekkan cara mengucapkan selamat IdulFitri. "Bajunya juga fitri, Nek ... baju baru ... hihihi ...."
"Mana ada baju kayak nama orang ...." Celetuk Umay yang baru keluar dari kamar mandi, kembali meledek Sasa.
Lagi-lagi Sasa tak menghiraukan. "Aku pilihin ya, Nek. Bagusan pakai baju yang mana."
"Itu juga baju baru," jawab mamak sambil menuang tepung terigu ke dalam kocokan telur dan gula pasir yang telah mengembang.
Mata Sasa langsung membulat. "Nenek punya baju baru tiga?"
"Sasa juga punya baju baru tiga. Sama seperti Nenek," jawaban mamak membuat lehernya tiba-tiba gatal. Lalu tanpa sadar mulai berdehem.
"Oya? Kok Sasa nggak tahu?"
"Coba tanya mama, baju baru Sasa disimpan di mana ...."
Ia menatap mamak yang sedang mengolesi cetakan dengan minyak. Merasa keberatan dengan apa yang dibicarakan. Tapi mamak justru tersenyum mengangguk. "Tak apa. Sudah waktunya ...."
Ia menghela napas panjang sebelum memberitahu Sasa tentang kotak marun di atas meja. "Coba Sasa periksa ... di meja kamar ada kot ...."
"Aku tahu! Aku tahu!" Sebelum ia menyelesaikan kalimat, Sasa sudah berlari meninggalkan dapur.
"Yang di atas meja kan, Ma? Yang di dalam kotak?" Teriak Sasa dari dalam kamar.
Ia hanya menelan ludah sambil terus mengaduk rendang.
"Ini?" Dalam waktu singkat Sasa kembali muncul di dapur sambil membawa kotak warna marun. "Ada tulisan Sasanya ...." Sasa tersenyum lebar seperti mendapat rezeki nomplok.
Ia mengangguk lemah.
"ABANG!" Teriak Sasa. "Eh, lupa ...." Sasa yang sudah beranjak tiba-tiba berbalik menghampiri. Hanya untuk memeluknya dari belakang. "Makasih, Mama ...."
Kemudian secepat kilat melesat pergi. "ABANG! KITA DAPAT BAJU BARU LAGI!"
Ia menatap mamak yang sedang menumpuk wadah bekas mengocok adonan. Lagi-lagi mamak mengangguk.
Sejak mpok Lela mendengar Sasa menyebut nama Tama, entah sudah berapa orang yang datang ke rumah. Sengaja ingin menanyakan kabar burung yang terlanjur beredar di seantero kampung. Jika sebentar lagi ia akan menikah.
"Doakan saja Pocut mendapat jodoh yang terbaik," ucap mamak menengahi. Sebab ia mendadak gagu, tak bisa menjawab dengan lancar, apalagi jelas.
"Mengapa Mamak menganakemaskan dia?" Tanyanya sore hari, saat sedang memasuk-masukkan rendang yang telah matang ke dalam beberapa wadah sekaligus. Mamak berencana mengirimkannya ke sejumlah kerabat. Termasuk Tama.
"Sebagai balasan kiriman kemarin." Begitu mamak menjawab keberatannya. "Coba tanya Agam, bisa dikirim ke alamat mana."
"Bisa-bisa dia jadi besar kepala," keluhnya. "Belum apa-apa sudah menga ...."
"Seminggu lalu kita juga mengirim ke Jogja," tukas mamak. "Semoga yang di Jogja tidak jadi besar kepala."
Ia menatap mamak tak percaya. "Itu dikirim untuk keluarganya Dara."
"Dan Sada." Mamak balas menatapnya.
"Mereka suami istri," desahnya semakin tak percaya.
"Dan mereka juga kakak Anjani. Apa bedanya dengan Tama?"
Ia mengembuskan napas panjang. Tak bisa mendebat.
"Kita juga mengirim untuk pak Camat ... dan beberapa orang yang pernah meminta untuk bisa memperistrimu tapi ditolak," imbuh mamak.
Ia kembali menatap mamak tak percaya. "Mereka semua terhitung pelanggan. Wajar jika kita mengirim makanan di hari raya."
Mamak tersenyum. "Apa pembicaraan dengan Agam kemarin tak berhasil? Sampai sekarang masih saja berkeras hati untuk menghindar."
Ia menghentikan kegiatan memasukkan rendang ke dalam wadah. "Aku tak menghindar. Aku hanya belum bisa ...." Ia menatap mamak dengan wajah muram. "Apa Mamak sudah melupakan bang Is?"
Mamak mengangguk-angguk mengerti. Kembali menata kue bhoi ke dalam wadah. Setelah tadi sempat terhenti karena mengobrol. "Kau juga tahu ... kalau ada perbedaan pendapat tentang hal ini bukan?"
Ia menyimpan sodet ke atas kuali. Lalu mengambil kursi untuk duduk. Pembahasan tentang bersama siapakah seorang istri di surga nanti. Pernah ia tanyakan pada ustadzah Mutia beberapa waktu lalu.
__ADS_1
"Wanita bisa memilih dengan suami yang mana kelak akan bersama di surga."© Mamak menatapnya. "Atau wanita akan bersama dengan suami terakhirnya di dunia jika ...." ®
"Keimanannya sama dengan istrinya. Bahkan bisa berkumpul dengan anak cucu. Jika sama-sama berada dalam keimanan dan kesalehan," lanjut mamak.
Ia menunduk. "Banyak yang mengatakan ... pendapat kedua lebih sahih. Aku tak ingin keliru mengambil keputusan. Aku ...." Ia menatap mamak. "Ingin bersama bang Is ...."
"Aku ...." Ia tak kuasa melanjutkan kalimat. Tiap kali membahas tentang bang Is, kesedihannya langsung menguar.
"Wallahua'lam bishawab (hanya Allah yang mengetahui kebenaran)." Suara mamak terdengar menenangkan. "Bagaimana nanti adalah hal ghaib. Tak ada manusia yang tahu."
"Tugas kita di dunia adalah tetap berada dalam keimanan. Untuk urusan akhirat ...." Mamak menatapnya. "Hanya Allah yang tahu."
"Jangan menyiksa diri." Mamak menyelesaikan menyusun kue bhoi yang terakhir. "Jika ada yang membuatmu ragu ... bicarakan baik-baik dengan yang bersangkutan."
"Jika setelah istikharah tak kunjung yakin, sampaikanlah baik-baik. Tolak dengan bahasa santun. Jangan dibuat rumit. Toh selama ini kita sudah menjadi keluarga. Kalian tak sampai menikah pun ... kita semua tetaplah keluarga. Tetap terjalin silaturahim."
"Tak harus menghindar terus menerus dan me ...."
"Mengapa begitu yakin dengan dia?" Potongnya sambil menjalin jemari dengan gelisah. "Mengapa Mamak seolah memihak?"
"Apa yang dia bicarakan dengan Mamak?" Ia semakin gelisah. "Apa ada yang belum kuketahui? Apa dia memaksa Mamak? Apa dia ...."
Mamak menutup satu per satu wadah kue bhoi yang akan dikirim pada kerabat. "Aku juga istikharah." ∆
Ia memejamkan mata. "Apa sudah ada jawabannya?"
Mamak tersenyum. "Jawabannya bisa jadi terlihat di tempat lain."
"Mama ...." Tiba-tiba Sasa masuk ke dapur sambil berjalan dengan gaya kenes. "Bagus nggak, Ma? Ini baju untuk prinses Sasa. Hihihi ...." Sasa menutup mulut sambil tersipu malu.
Ia menatap mamak yang masih tersenyum. Sebelum beralih memperhatikan Sasa yang sedang memamerkan baju pemberian Tama.
Sejak pagi tadi setelah diperbolehkan membuka kotak marun, sudah tak terhitung berapa kali Sasa mencoba baju pemberian Tama. Sampai-sampai Icad berkomentar dengan wajah masam, "Jangan lebay, Sa."
"Aku pakai ini aja ya, Ma, pas lebaran." Sasa mengerjap. Ini pun entah sudah berapa kali Sasa ucapkan. "Biar kembaran sama Nenek ...."
"Nanti baju dari mama sama ma'bit ... Sasa pakai juga kok ... jangan khawatir." Sasa kembali memeragakan gaya seperti peragawati. Berputar-putar dengan tangan di pinggang. "Bagus kan, Nek?"
Mamak mengangguk. "MasyaAllah. Cantiknya cucu Nenek."
Sasa tersenyum senang. Lalu terkikik malu sambil menutup mulut dengan kedua tangan. "Makasih, Nenek ...." Kemudian melesat pergi ke ruang tamu.
"Itukah jawabannya?" Ia semakin menjalin jemari dengan gelisah.
Mamak tak langsung menjawab. Justru beranjak ke depan kompor untuk melanjutkan tugasnya yang tertunda. Memasukkan rendang ke dalam wadah.
Ia ingin kembali bertanya, tapi teriakan Umay lebih dulu terdengar. Setengah berlari menghampiri ke dapur. "MA! Ada tamu!"
Disusul wajah seorang pria yang tiba-tiba menyembul dari balik pintu dapur. Tersenyum lebar sambil menyapa, "Assalamualaikum, Ibu Ida ... Cut apakabarnya?"
***
Allaahu Akbar Allaahu Akbar Allaahu Akbar
Laa Ilaaha Illallaahu Wallaahu Akbar
Jika tahun lalu mereka menjadi pusat perhatian orang-orang karena keberadaan Anjani. Maka tahun ini mereka menjadi pusat perhatian karena apa yang dikenakan.
"Cakep, Cut." Mpok Lela yang duduk tepat di shaf belakangnya berkali-kali mencolek bahu, hanya untuk mengacungkan jempol sambil menyeringai lebar. "Cakep banget. Mantap dah calon ibu komandan."
Disusul tatapan penuh senyum tetangga yang lain ketika ia mengikuti acara silaturahim RW di madrasah.
"Ditunggu undangannya, Cut ...."
"Maaf lahir batin ya, Cut." Kali ini cing Weny yang menghampiri. "Maapin aye waktu itu kelepasan ngobrol ame Ella. Eh, nggak tahunya ada yang nguping."
Cing Ella telah lebih dulu bersalaman dengannya tadi. "Kalau masalah bros belum ada yang tahu kok, tenang aja. Cuma Weny yang tahu."
Ia hanya menggelengkan kepala.
"Bajunya adem, Ma. Nggak gerah," bisik Sasa di telinganya ketika acara makan bersama usai saling bersalaman se RW. "Kainnya halus ... lembut ...."
"Sasa pakai seharian ya, Ma. Boleh?" Sasa tersenyum penuh harap.
Tak lama setelah kembali ke rumah, Fahri sekeluarga datang berkunjung. Kali ini tak bersama yahbit Hamdan. Karena sudah sejak dua bulan lalu tinggal di Lhokseumawe, tempat anak sulungnya.
"Kabarnya mau menikah?" bisik Fatma ketika ia sedang menyiapkan makanan untuk dihidangkan di dapur. "Semoga lancar sampai hari H."
Ia tertawa getir. "Kata siapa?"
Jangan bilang gosip yang beredar di kampung Koneng sampai hingga ke tempat Fatma tinggal.
"Kata ma'wa." Jawaban Fatma membuatnya tersedak dan terbatuk-batuk.
"Aduh." Fatma mengusap-usap punggungnya berusaha menghentikan batuk. "Seperti ABG saja salah tingkah."
"Jadi penasaran ...." Fatma tersenyum menggoda. "Seperti apa orangnya. Apa sekeren almarhum?"
"Mamak cerita apa?" Ia segera mengalihkan topik dari membahas bang Is.
Fatma tersenyum lebar dengan wajah malu. "Sebenarnya ... bukan ma'wa langsung yang bercerita."
Ia mengernyit.
"Ayah yang bilang waktu kami menelepon ke Lhokseumawe," sambung Fatma kembali berwajah serius. "Katanya ... ma'wa Ida sempat menelepon ke nomor bang Gani. Bertanya ... apa bisa membantu mencari saudara seketurunan Teungku Imum yang masih hidup?"
"Ada urusan apa mencari silsilah? Kalau bukan untuk urusan harta waris atau pernikahan." Fatma tersenyum simpul.
"Siapa yang nak kawin?" Kali ini Fatma menirukan gaya bicara yahbit Hamdan. "Siapa lagi kalau bukan ... Pocut?" Fatma kembali memasang senyum lebar. "Aku sama abang menebak-nebak saja."
"Benar, kan? Benar lah pasti." Fatma masih tersenyum lebar. "Seperti apa orangnya? Apa ada fotonya? Kenal di mana? Kapan-kapan ajaklah ke tempat kami ...."
Ia tak bisa berkutik diserbu rentetan pertanyaan memusingkan dari Fatma. Untung saja Agam dan Anjani keburu datang ke rumah. Kalau tidak, mungkin ia sudah mengomeli Fatma yang terus saja bertanya tak ada ujung pangkal.
"Kami cuma sebentar di sini," ujar Agam saat menikmati lontong sayur dan rendang di dapur. Sementara Anjani dan Aran berada di ruang tamu.
"Habis ini langsung ke rumah dinas mas Tama."
__ADS_1
Ia pura-pura tak mendengar.
"Masih ada acara di sana. Mas Tama malah belum sempat ketemu mama juga di rumah," sambung Agam. "Open house rumdin cuma ditemani dua orang asisten dan se ...."
"Rendangnya enak?" Potongnya cepat.
"Enak." Agam mengangguk. "Seperti biasa, Kakaklah jagonya ...."
Ia menggelengkan kepala mendengar pujian Agam.
"Kapan-kapan Anja pingin kursus masak ke kakak katanya," sambung Agam dengan mulut penuh makanan.
Ia mengangguk. "Boleh."
"Lagi seneng belajar masak dia." Agam terkekeh. Mungkin membayangkan bagaimana Anjani yang ketika pertama kali datang ke rumah mereka tak bisa mengulek bumbu akan memasak.
"Oya, nyambung yang tadi ...."
Ia menghela napas. Mengira Agam sudah lupa akan obrolan mereka sebelumnya.
"Rumah Anja jadi tempat ngumpul keluarga besar dari pihak mama sama papa." Kali ini Agam kembali mengambil sepotong rendang. "Jadi dari rumdin langsung balik ke rumah mama."
"Soalnya nggak ada yang nemenin mama. Ini aja cuma ditinggal berdua sama teh Cucun di rumah."
"Nggak mudik?" Tanyanya heran.
"Bi Enok sama mang Jaja aja yang mudik. Teh Cucun mau nemenin mama katanya."
"Oh ...." Ia mengangguk.
"Sementara mas Sada sekeluarga baru datang besok. Hari ini terbang ke Bandung dulu ke tempat ambunya teh Dara."
Ia kembali mengangguk.
"Jadi, nanti sore ... tolong antar mamak ke rumah mama ya, Kak. Karena sepertinya ... mama nggak bisa datang berkunjung ke rumah kita."
"Nanti Taxinya aku yang pesan. Jam berapa Kakak bisa?"
Sejak semalam, ia telah menerima puluhan pesan masuk berisi ucapan selamat hari raya IdulFitri. Salah satunya dari Tama, yang ia terima usai salat subuh tadi.
Tama : 'Uroe raya, uroe bagia. Selamat hari raya IdulFitri. Mohon maaf lahir batin.'
Sementara kemarin sore, pak Raka tiba-tiba datang ke rumah.
"Maaf, nggak berkabar sebelumnya. Ini juga kami sekalian mau pergi ke bandara."
Pak Raka datang bersama Shaina. Yang langsung disambut Sasa dengan penuh suka cita. "Eh, Shaina main ke rumah aku? Asyiiik."
Dulu, ketika ia masih bekerja di Selera Persada, beberapa kali sempat pergi berempat. Ia, Sasa, pak Raka, dan Shaina. Kebanyakan pergi ke restoran atau arena bermain anak-anak. Meski menurut pengamatannya, Shaina terlihat kurang nyaman jika berada di tengah keramaian.
"Kami mau lebaran di Malang ... di rumah mama," ujar pak Raka ketika Shaina mau diajak bermain oleh Sasa.
Ia mengangguk. Untung rendang untuk pak Raka belum sempat dikirim ke alamat rumah di Jakarta. Kalau begini, ia bisa menawarkan untuk dibawa ke Malang.
"Wah, kebetulan." Pak Raka tersenyum senang. "Mama saya suka banget rendang. Kita lihat ... apa mama bisa berubah pikiran setelah makan rendang buatan kamu."
"Karena setelah iktikaf kemarin ...." Pak Raka mendadak tertawa. "Iya, saya kemarin iktikaf. Kamu pasti nggak percaya, kan?"
"Shaina?" Ia mengernyit heran. Mengkhawatirkan kondisi Shaina.
"Aman dia sama suster." Pak Raka terkekeh. "Saya cuma ambil malam ganjil. Nggak tiap hari."
Ia mengangguk.
"Setelah iktikaf saya merasa ...." Pak Raka menatapnya dalam-dalam. "Harus melakukan sesuatu."
"Berhubungan dengan ... kita." Pak Raka masih menatapnya. "Saya pulang kali ini ... diniatkan untuk minta restu."
Entah mengapa, pening yang familiar tiba-tiba menyambanginya.
"Doakan ... semoga hati mama melembut." Pak Raka tersenyum. "Semoga kamu nggak terkejut mendengar ini."
Ia tak terkejut? Tentu saja ia terkejut. Dan shock pastinya.
"Sejak kamu keluar dari Selera Persada ... saya mencoba memberi waktu pada diri sendiri. Tapi ternyata ...." Pak Raka menggeleng. "Tidak bisa."
"Semakin mencoba mengabaikan ... semakin tersiksa."
Pak Raka tersenyum. "Saya sudah cukup mengenal kamu. Saya rasa ... kamu juga sudah mengenal saya bukan?"
Lidahnya mendadak kelu.
"Saya butuh kamu. Shaina butuh kamu. Saya yakin kamu akan jadi ibu yang sangat hebat ...."
"Maaf, saya bicara langsung seperti ini ...." Pak Raka tersenyum. "Bukan di tempat indah. Tanpa bunga dan hal menyenangkan lainnya. Saya harap, kamu bisa mengerti keterbatasan yang ada."
"Saya kembali ke Jakarta di hari keempat. Semoga saat itu ... saya sudah memperoleh restu dari mama."
"Karena saya nggak ingin berlama-lama."
"Saya sudah sangat yakin dengan kamu."
"Kak?" Agam menggerakkan tangan di depan matanya. "Malah melamun."
Ia tergeragap. Bayangan senyum pak Raka dan celotehan Sasa yang mengajak Shaina mengobrol langsung memudar.
"Nanti sore bisa jam berapa? Biar aku pesankan Taxi dari sekarang."
***
Keterangan :
©. : landasannya adalah QS Az-Zukhruf : 71 (sumber : muslim.or.id)
®. : landasannya adalah HR Ath-Thabrani (sumber : muslim.or.id)
∆. : landasannya adalah HR. Muslim (sumber : bincangsyariah.com)
__ADS_1