
Without You, There'd be No Sun in My Sky
(Tanpamu, takkan ada mentari di langitku)
-diambil dari lirik lagu berjudul "How do i live" yang dinyanyikan oleh Trisha Yearwood dan merupakan OST dari film "Con Air" yang dibintangi Nicholas Cage).
***
Hari-hari Tanpamu
Jakarta
Pocut
Tama mendaftarkannya pada kelas lifetime program (program seumur hidup) yang menelan biaya hampir mencapai 10% uang mahar pernikahan mereka. Ia sempat menolak dan meminta Tama memasukkannya ke program basic (dasar) per tingkatan saja. Toh yang dipelajari juga sama. Tentang etiket, personalisasi diri dan bagaimana harus bersikap saat berbicara di depan umum.
Namun Tama bersikeras. "Jangan lihat harga, tapi manfaatnya."
"Nilai sebesar ini memang terlihat pricey (mahal) untuk sekarang. Tapi istriku yang cantik ini ...." Tama meraihnya ke dalam rengkuhan. "Bisa merasakan manfaatnya seumur hidup."
"Bu oyes (Kapolres) pasti sibuk giat. Kemungkinan besar nggak bisa ikut kelas reguler yang jadwalnya full setiap hari," terang Tama dengan mimik serius. Namun ia malah hampir tertawa saat mendengar sebutan Tama untuk dirinya. Bu oyes. Seperti anak kecil yang belum fasih berbicara saja. Tama ... Tama ....
"Harus ambil program yang jadwalnya fleksibel. Kalau hari ini absen kelas, masih bisa diambil minggu depan, atau bulan depan, atau kapan ada waktu. Nggak terbatas di satu kesempatan. Apa namanya kalau bukan ... investasi paling berharga?" Sambung Tama dengan mimik yang semakin serius.
"Aku bisa belajar otodidak, Mas." Ia masih berupaya untuk menolak. Baginya, biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti sekolah kepribadian ini terlalu mahal. "Banyak buku tentang ilmu pengembangan diri. Kemarin aku ngobrol dengan Dara kal__"
"Lifetime program yes, buku yes, semua yes." Tama memotong ucapannya. Tanpa kompromi tetap memasukkan namanya ke dalam program seumur hidup.
Dan pagi ini dengan diantar oleh Agus, ia tengah menuju tempat dilaksanakannya kelas kepribadian.
"Menara Astana, Bu?" Tanya Agus sebelum membelokkan kemudi memasuki halaman sebuah gedung bertingkat yang megah.
"Iya." Ia mengangguk sambil menunduk memperhatikan brosur sekolah kepribadian yang diperoleh usai melakukan pendaftaran beberapa waktu lalu. "Jalan Jenderal Sudirman, Pak Agus."
Meski Tama memanggil Agus hanya dengan sebutan nama tanpa embel-embel apapun. Namun ia membiasakan diri memanggil Agus maupun Yuni dengan sebutan pak dan teh. Tentu saja agar anak-anak terbiasa memanggil orang yang lebih tua dengan cara santun. Bukan langsung menyebut nama dengan tak memandang status atau kedudukan. Sebab semua orang yang lebih tua berhak mendapat penghargaan dari yang muda. Siapapun dan bagaimanapun orangnya.
"Menara Astana cuma ada di sini, Bu." Agus mengarahkan kemudi melewati pilar besar berlapis marmer hitam dengan tulisan raksasa berbunyi Menara Astana. "Nggak ada yang lain."
"Oh." Ia mengangguk mengerti. Meski berKTP Jakarta, namun seumur-umur belum pernah menyambangi daerah perkantoran mentereng seperti menara Astana ini. Kunjungannya ke hotel Avilas saat pernikahan kemarin menjadi pengalaman pertamanya menginjakkan kaki di tengah kawasan elite.
"Mau ke ...." Ia menyebutkan nama sekolah kepribadian guna menjawab pertanyaan petugas yang menyambut di pintu lobby.
"Silakan." Petugas tersebut mengantarnya menuju lift lalu menekan tombol untuknya. "Lantai 31, Bu."
Ia sempat mengucapkan terimakasih sebelum pintu lift menutup. Berdiri di sisi sebelah kiri sambil memperhatikan papan petunjuk informasi lantai yang dilewati. Tiga orang pria dan wanita berpakaian resmi nan elegan turut bergabung bersamanya dari lantai berbeda. Berbincang serius tentang hal-hal yang tak ia pahami seputar dunia bisnis.
Ting!
Kakinya menginjak marmer licin yang menutupi keseluruhan lantai 31 dengan perasaan gugup. Tangannya bahkan mulai mengeluarkan keringat dingin. Namun sapaan seorang wanita cantik dari balik meja resepsionis berhasil menenangkannya.
Ia diarahkan untuk memasuki sebuah ruangan yang sekelilingnya berupa kaca. Tiga orang wanita berparas jelita sudah lebih dulu duduk di kursi berwarna merah. Ia berjalan lambat melewati mereka sambil tersenyum dan mengangguk. Suasana yang dirasakannya teramat canggung dengan belitan rasa gelisah. Sebab khawatir tak bisa membawa diri dengan baik.
"Selamat pagi, perkenalkan nama saya Ingrid, konselor di program ini."
Caroline Ingrid, wanita cantik berpembawaan ramah itu menerangkan keseluruhan isi program dengan bahasa yang lugas dan mudah dimengerti.
"Program lifetime ini mencakup pembelajaran level 1 sampai 7 yang menghabiskan waktu selama hampir 30 minggu," terang Ingrid. "Peserta bisa memilih jadwal kelas pagi, malam, atau akhir pekan di hari sabtu."
"Dan untuk level satu." Ingrid mengangkat handbook berupa buku tebal bersampul merah ke atas. "Kita akan mempelajari tentang basic personality development (program dasar untuk pengembangan pribadi) terlebih dahulu."
"Mempelajari bagaimana kita mengenali diri sendiri. Mengetahui kelebihan dan kekurangan. Memanage sisi positif dan negatif agar berimbang dan tak merugikan," sambung Ingrid. "Mempelajari bagaimana menata penampilan, beretiket dan bersosialisasi."
Kelas pertama di pagi ini beranggotakan tujuh orang termasuk dirinya. Lebih seperti program privat karena jumlah peserta kurang dari 10 orang.
Yang berwajah cantik mirip artis Korea bernama Cesilia. Memperkenalkan diri sebagai pemilik sejumlah salon kecantikan ternama yang memutuskan mengisi waktu luang dengan mengikuti kelas kepribadian untuk meningkatkan personal branding.
Lalu ada Grace. Tak memperkenalkan sebagai apapun. Hanya nama dan hobi yaitu baking.
Tepat di samping Grace duduk seorang gadis berwajah imut seperti anak kuliahan bernama Hilda. Mengaku baru patah hati sebab ditinggal menikah sang kekasih yang merupakan cinta pertama. Dan memutuskan mengikuti kelas kepribadian untuk melupakan duka lara.
Kemudian Joanna. "Call me, Jo. Just Jo, not Joanna or Anna. Gosh, i hate this."
Joanna yang berpenampilan tomboy dan selalu bersikap abai itu berdalih mengikuti kelas kepribadian karena paksaan sang mommy yang menginginkan anak gadisnya berpenampilan, "Like a lady."
Dua orang terakhir adalah pria muda seumuran Devano bernama Jack dan Tobias. Mereka mengaku mengikuti kelas hanya sekedar untuk mengisi waktu luang.
Dan saat paling mendebarkan akhirnya tiba. Gilirannya untuk memperkenalkan diri. Sambil menggenggam erat kain rok yang dikenakan, ia mulai berucap dengan terbata. "N-nama s-saya P-pocut ...."
Ingrid memberikan senyum hangat. "Hobinya apa Pocut? Atau mungkin alasan mengikuti kelas ini?"
"H-hobi ... mm ... m-memasak ...." Gumamnya dengan suara gemetaran. Lalu buru-buru mengambil duduk dengan wajah merah padam.
Ia sudah berlatih dalam hati selama menunggu giliran perkenalan. Tapi begitu tiba waktunya malah bingung tak tahu harus mengucapkan apa.
Ah, keluhnya resah. Begini mau memimpin rapat dan bicara di depan istri-istri anggota seperti yang pernah Tama katakan. Apa jadinya? Hanya akan membuat malu suami saja.
Ia mengambil jadwal kelas pagi. Setiap hari senin sampai jumat dari jam 10 sampai 1 siang. Selepas mengikuti kelas kepribadian, ia turut menjemput anak-anak ke sekolah agar Agus tak perlu bolak-balik.
Yang pertama dijemput adalah Sasa. Putri kecilnya itu sebenarnya pulang sekolah sejak pukul 11 siang. Namun dijemput bersamaan dengan kakak-kakaknya. Biasanya Sasa ikut ke rumah Zhie terlebih dahulu. Atau menunggu di keude mamak ditemani oleh cing Ella.
Kedua Umay. Jadwal pulang sekolah putra keduanya itu jam 12.30 siang. Sehari-harinya Umay langsung berjalan kaki sendiri ke keude dan menunggu di sana.
Dari keude mereka menuju sekolah Icad. Terakhir barulah menjemput Reka sekaligus mengantarkan ke klub renang.
Biasanya anak-anak sampai di rumah selepas ashar. Kecuali Reka yang baru dijemput Agus dari klub setelah maghrib. Benar-benar rutinitas baru yang cukup melelahkan bagi mereka.
Di luar itu semua, Tama selalu menelepon setiap malam menjelang tidur. "Hari ini ngapain? Cape nggak? Anak-anak baik?"
Sederet pertanyaan sederhana namun terasa penuh makna. Selalu berhasil meluruhkan segala letih dan penat yang membuatnya kembali bersemangat menjalani hari meski tanpa keberadaan Tama di sisi.
"Pocut," sapa Cesilia ketika mereka berdua menjadi penghuni kelas pertama di pagi ini.
"I-iya?" Hampir seminggu berada di kelas yang sama. Tak pernah sekalipun ia berbincang dengan salah satu di antara teman-teman sekelasnya. Ia terlalu malu untuk memulai hingga lebih memilih diam.
"Siang ini anak-anak mau datang ke grand opening cabang baru salon aku." Cesilia tersenyum dan ia merasakan sebuah ketulusan di sana. "Gabung, ya?"
Ia mengangguk dengan gugup. Merasa tersanjung mendapat undangan meski selama ini tak pernah saling berbincang.
Namun rencana memulai pergaulan dengan teman sekelas buyar ketika ia sedang menikmati coffe break berupa teh chamomile hangat dan sepiring kue lezat, ponsel di tasnya bergetar berulangkali tanda panggilan masuk.
+62816731732 memanggil ....
Ia mengernyit karena tak mengenali nomor yang muncul di layar ponsel. Sempat berdebar mengira itu adalah panggilan dari panitia Sespimti (sekolah staf dan pimpinan tinggi) yang hendak menginformasikan tentang keadaan Tama. Namun bisa bernapas lega ketika mendengar jawaban dari seberang.
"Halo? Saya Angie dari sekolah Pusaka Bangsa."
"I-iya, Bu Angie? Ada yang bisa dibantu?"
Sebelum memindahkan sekolah Reka ke Pusaka Bangsa, Tama sempat memberitahu tentang, "Nomor kamu yang aku masukkan ke data wali siswa."
Ia setuju meski waktu itu mereka belum resmi menikah. Sangat memahami kesibukan Tama yang tak memungkinkan mengurusi hal teknis tentang sekolah anak-anak dan sejenisnya.
__ADS_1
Namun jawaban selanjutnya tak pernah diduga. "Ibu dipersilakan datang ke Pusaka Bangsa sekarang juga. Karena ananda Gemintang Rekata terlibat perkelahian di sekolah."
Dengan tergopoh-gopoh ia meminta izin meninggalkan kelas terlebih dahulu dengan alasan urusan penting keluarga. Setelah sebelumnya menyempatkan diri meminta maaf pada Cesilia karena tak jadi mengikuti acara grand opening.
"Maybe next time." Cesilia memberinya senyum penuh pengertian yang cukup melegakan.
Namun lututnya langsung lemas begitu menjumpai Reka di ruang Bimbingan Konseling. Wajah Reka babak belur dengan sisa darah di sudut bibir yang belum mengering.
"Subhanallah." Ia hampir memeluk Reka namun urung karena putra tirinya itu keburu menghindar. Menundukkan kepala dalam-dalam memasang gesture tak ingin disentuh ataupun berbicara.
"Ini menjadi perkelahian pertama setelah selama bertahun-tahun Pusaka Bangsa dijuluki sebagai sekolah ramah anak," terang bu Suci yang memperkenalkan diri sebagai guru bimbingan konseling. Membawanya ke ruangan dalam sementara Reka menunggu di luar. Dan wajah wanita berusia awal lima puluhan itu terlihat diliputi amarah.
"S-saya minta maaf sebagai wali dari Gemintang Rekata," jawabnya spontan. Ia tentu harus meminta maaf di luar pokok permasalahan yang belum diketahuinya. Bagaimanapun juga, berkelahi di lingkungan sekolah bukanlah perbuatan terpuji.
"Maaf saja tidak cukup." Bu Suci memberi tatapan tajam. "Anda seharusnya bisa mendidik ananda Gemintang Rekata menjadi anak yang memiliki hati nurani."
Ia tersentak mendengar ucapan kaku bu Suci. "M-maksudnya bagaimana, Bu? Saya kurang mengerti."
"Dari data yang kami punyai." Bu Suci memperlihatkan selembar kertas berkop "Psikologi Terpadu Pusaka Bangsa" padanya.
"Ananda Gemintang menurut keterangan yang tertulis di sini adalah produk keluarga broken home. Hasil tes sidik jari dan rangkaian psikotest di awal masuk jelas menunjukkan ketidakstabilan emosi dan ketidakmampuan mengendalikan diri."
Ia menelan ludah berkali-kali dengan dada berdegup kencang.
"Dan hari ini puncaknya. Setelah selama seminggu berturut-turut kami memberi surat peringatan sebanyak tiga kali pada ananda Gemintang," sambung bu Suci dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"S-surat peringatan?" Tanyanya tak mengerti.
"Anda tidak tahu?" Suara bu Suci mendadak meninggi. "Kami memberi tiga surat peringatan karena ananda Gemintang berperilaku buruk."
"Pertama, berlaku curang saat ulangan harian dan menimbulkan keributan di kelas."
"Kedua, merusak properti sekolah saat pelajaran science di laboratorium."
"Dan ketiga, merusak ponsel milik teman sekelas."
Ia semakin terperanjat mendengar rentetan ucapan mengejutkan bu Suci.
"Untung orangtua siswa yang ponselnya dirusak tak menuntut ganti rugi. Mereka tak mempermasalahkan. Ananda Gemintang cukup diberi SP 3."
Ia merasa semakin sulit untuk bernapas. Dadanya terasa sesak seperti terhimpit batu besar.
"Dan hari ini ...." Bu Suci menggelengkan kepala. "Ananda Gemintang berkelahi dengan teman sekelas hingga memakan korban."
"Dua anak, masing-masing dua jahitan." Bu Suci menatapnya tajam. "Kami mendidik siswa berprestasi, bukan anak broken home yang barbar tak tahu aturan."
Ia mendengarkan semua petuah bu Suci dengan hati mencelos. Tak pernah sekalipun menyangka jika kehidupan Reka di sekolah semenyedihkan ini. Ucapan Reka tempo hari tentang, "Nggak punya teman." Ternyata bukan hanya sekedar ucapan. Tapi curahan hati terselubung yang bo dohnya terlambat diketahui.
Seharusnya, ia lebih menaruh perhatian pada Reka. Selama ini selalu mengira semua baik-baik saja. Terlebih di rumah, Reka tak pernah menampakkan emosi berlebih ataupun gelagat aneh. Reka bahkan menjadi satu-satunya kakak yang sering menemani Sasa bermain acara minum teh bersama para boneka little pony. Menggeser posisi Umay yang setiap harinya asyik berkutat merakit lego baru hadiah dari Tama.
"Bu Pocut?" Sapa seorang wanita muda berpenampilan efektif begitu ia keluar dari ruang Bimbingan Konseling. "Perkenalkan saya Angie, wali kelas Gemintang. Bisa kita bicara sebentar?"
Ia sempat menoleh ke arah Reka yang duduk di sofa tunggu dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Sebelum mengikuti langkah bu Angie menuju ruangan guru.
"Maaf, Ibu, kita harus bertemu di keadaan seperti ini." Bu Angie tersenyum rikuh. "Saya mengenal baik keluarga besar pak Tama sebagai donatur tetap di sekolah Pusaka Bangsa."
Cukup mengherankan. Karena ia justru baru mengetahui sekarang jika keluarga besar Tama adalah donatur tetap di sekolah Pusaka Bangsa.
"Bagaimana hasil dengan bu Suci?"
Ia menghela napas panjang dan berat sebelum menjawab dengan hati tersayat. "Skors selama seminggu."
Ia mengangguk mengerti. Sebenarnya bukan skors selama seminggu yang dikhawatirkan. Namun perilaku berbeda Reka antara di rumah dan di sekolah. Ini tentu harus menjadi perhatian. Ia tak boleh kecolongan lagi di kemudian hari.
"Apa bu Suci menjelaskan asal mula terjadinya perkelahian menurut versi Gemintang?" Bu Angie bertanya dengan penuh kehati-hatian.
Ia menggeleng. Tak sempat bertanya pokok permasalahan karena bu Suci lebih dulu mencecarnya dengan sederet kalimat tuduhan penuh penghakiman.
"Gemintang merasa marah karena teman-temannya ...." Bu Angie menjelaskan kronologi perkelahian menurut versi Reka disertai tatapan penuh penyesalan. "Saya mohon maaf jika lancang."
Ia keluar dari ruang guru dengan dada yang lebih lega usai mendengarkan kisah yang sebenarnya. Meski dalam sekejap kembali terasa sesak tatkala berjalan mendekati Reka yang tengah duduk menunggu dengan kepala tertunduk.
"Pulang, pak Agus," ujarnya begitu memasuki mobil.
"Lho, neng Sasa sama den Umay gimana, Bu?" Agus keheranan.
"Nanti dijemput setelah mengantar kami pulang, Pak. Maaf merepotkan."
"Oh, siap." Agus terkekeh. "Nggak merepotkan sama sekali."
Perjalanan pulang mereka lalui dalam diam. Reka terus menerus membuang pandangan ke jendela samping. Sementara lidahnya juga kelu tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
"Dikompres dulu," ujarnya begitu sampai di rumah. Akhirnya berhasil menemukan kalimat ringan yang tepat untuk memulai obrolan.
Namun Reka menghindar ketika ia hendak menyentuhkan handuk berisi es batu. "Aku bisa sendiri."
Ia membiarkan Reka mengompres luka memar sendiri. Memutuskan pergi ke dapur untuk memasak sesuatu. Sebab otaknya sedang tak bisa diajak berpikir tangkas dan jernih. Hanya mampu mengingat jika sebuah permasalahan kemungkinan besar bisa diselesaikan oleh satu hidangan lezat. Meraih hati melalui perut.
"Makan dulu, Mas." Ia menyorongkan piring berisi makaroni keju ke hadapan Reka yang masih mengompres.
Tama pernah bilang, Reka selalu jajan di luar. Lebih sering makan di restoran cepat saji. Resep inilah yang pertama kali terlintas. Selain bahan-bahannya yang kebetulan tersedia. Juga tak memakan waktu lama untuk memasaknya.
Reka sempat terpaku. Tak langsung merespon piring di hadapan. Namun ketika ia beranjak untuk mengambil segelas air putih, Reka terlihat sudah mulai menyantap makaroni keju buatannya.
Ia mendudukkan diri di hadapan Reka yang baru saja menghabiskan suapan terakhir. "Mau nambah? Masih banyak di dapur."
Reka menggeleng. Meraih gelas air putih dan menyesapnya sampai habis. "Udah. Makasih."
Ia duduk dengan perasaan gelisah. Begitupun Reka yang menyibukkan diri dengan handuk berisi es batu. Kembali mengompres luka di wajah.
"Mau dioles salep?" Tawarnya spontan. Kebiasaan yang telah dilakukannya sejak lama, selalu menyimpan perlengkapan P3K di rumah. Termasuk salep untuk mengobati luka memar.
Reka menggeleng. "Nggak usah."
Ia mengembuskan napas panjang dan berat. Baru teringat jika besok waktunya Reka pulang ke Surabaya. Menemani saat-saat terakhir Kinanti berada di Indonesia. Sebab tiga hari ke depan, Kinanti dan sang suami sudah bertolak ke Stockholm. Apa jadinya jika Reka menemui Kinanti dengan wajah babak belur seperti ini?
"Besok Mas Reka mau ke Surabaya." Ia berusaha membujuk. "Bunda bisa sedih kalau lihat wajah mas Reka babak belur begini."
Tiba-tiba Reka menghentikan kegiatan mengompres. Lalu menatapnya dengan penuh kekhawatiran. Bahkan ada sedikit lintasan rasa takut di sana. "Tante mau lapor ke ayah?"
"Apa?" Ia tak langsung memahami maksud dari pertanyaan Reka.
"Tante mau lapor ke ayah kalau aku berantem di sekolah?" Ulang Reka dengan wajah pias.
Ia menarik napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. "Tante nggak mau mengganggu ayah, Mas."
Ia menjawab sejujur-jujurnya. Kegiatan Tama di Sespimpol pasti sangatlah padat. Ia tak ingin membebani suaminya itu dengan berita mengejutkan seperti ini. Lagipula, alasan Reka memukul teman-temannya sangat ia pahami dan bisa dimengerti. Reka bereaksi sebab ada aksi. Problematika yang menurutnya hanya bisa diredam dengan dukungan terbaik dari keluarga. Kehangatan sikap orangtua yang senantiasa merangkul anak-anaknya. Tak menghakimi apalagi menyudutkan.
"Dioles salep?" Tawarnya lagi. "Biar bunda nggak sedih lihat mas Reka babak belur begini."
Reka tak menjawab. Namun diam saja ketika ia mulai mengoleskan salep ke luka memar yang tersebar di seluruh wajah.
__ADS_1
***
Surabaya
Kinanti
Hari ini menjadi hari yang teramat dinantikannya. Bertemu dengan Reka tersayang. Menghabiskan waktu berdua sebelum ia dan mas Pram pergi meninggalkan Indonesia untuk jangka waktu yang cukup lama.
Namun kemunculan Reka dengan wajah memar babak belur membuatnya terperanjat. "Reka kenapa, sayang?"
"Biasa," jawab Reka acuh.
"Biasa gimana? Babak belur begini?"
Hatinya tiba-tiba diselimuti hawa panas. Bagaimana mungkin mas Tama membiarkan Reka pulang sendiri ke Surabaya dengan wajah babak belur seperti ini tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepadanya. Menyakitkan, sungguh. Apakah sekarang mas Tama sudah melupakan anak kandungnya sendiri dan lebih memilih anak tiri yang berderet itu?
"Ini ... oleh-oleh dari tante Pocut." Reka mengangsurkan paperbag yang langsung dilemparkannya ke kursi mobil bagian belakang.
"Nggak dilihat dulu?" Tanya Reka heran.
"Nggak perlu," jawabnya ketus. Jantungnya sedari tadi sudah berkejaran sebab amarah. "Bunda cuma mau tanya, Reka kenapa, sayang?"
"Nggak apa-apa." Reka memalingkan wajah ke jendela samping. "Udah, Bun. Bahas yang lain aja."
Tentu tak semudah itu. "Bunda sedih lihat Reka datang ke sini sendirian, babak belur kayak anak hilang."
"Emang dari awal mau ke sini sendiri, kan?" Reka balik bertanya.
"Iya, tapi babak belur begini?" Ia benar-benar tak terima. Apa yang mas Tama lakukan di Jakarta sampai anak kandungnya terbengkalai tak terurus seperti ini. "Harusnya ayah nyuruh orang buat nemenin Reka ke Surabaya kalau memang lagi sibuk nggak bisa ngantar sendiri."
"Akunya yang nggak mau."
"Apa?" Ia keheranan. "Nggak mau gimana?"
"Tante Pocut minta pak Agus nemenin, tapi aku yang nggak mau."
"Reka?"
"Udah deh, Bun. Bahas yang lain aja bisa nggak?"
Tentu tidak bisa. Sesampainya di apartemen, saat Reka tengah menonton televisi dengan suara keras, ia coba menghubungi mas Tama.
Lama tak direspon. Baru pada panggilan ke sembilan tersambung.
"Ada apa?" Tanya mas Tama dengan suara tergesa.
"Ini aku, Mas. Kinan." Ia hampir menangis mendengar suara kaku mas Tama. Mereka benar-benar seperti dua orang asing yang tak pernah saling mengenal sebelumnya. Tak ada kesan jika mereka berdua adalah mantan suami istri. Menyedihkan.
"Iya, tahu. Ada apa?" Suara mas Tama tak juga berubah melunak. Tetap tegas dan ... kaku. "Aku lagi materi di kelas."
Ia tak mengerti maksud ucapan mas Tama. "Aku nggak terima, Mas, Reka datang ke Surabaya dengan wajah babak belur."
"Apa? Reka? Babak belur?"
Ia sempat menduga jika mas Tama tak mengetahui keadaan Reka. Dan dugaannya terbukti.
"Dia nggak cerita sama Mas?"
"Aku udah seminggu di Lembang."
"Aku mau ngomong sama dia."
"Don't do this."
"Aku nggak terima Reka babak belur begini! Sementara kalian ... kalian berdua sama sekali nggak memberi kabar tentang apa yang menimpa Reka!" Ia mulai histeris. Mas Pram sampai memeluknya dari belakang bermaksud menenangkan. "Apa ini adil, Mas?"
"Hei!" Suara mas Tama ikut meninggi mendengarnya berteriak di ponsel. "Yang perlu kamu lakukan sekarang adalah menunggu. Please, Kinan. Aku lagi tugas. Aku selesaikan materi di kelas. Lalu ngobrol sama Pocut. Baru kita bahas ini nanti malam. Okey?"
"Aku minta nomor dia! Aku mau ngomong sama dia!"
"Masalah Reka antara kita berdua. Pocut nggak ada urusan apa-apa di sini." Suara mas Tama semakin meninggi.
"Tapi Reka tinggal sama dia! Dan kamu, Mas ... kamu udah seminggu nggak di rumah! Aku mau ngomong sama dia! Mana nomor teleponnya! Aku mau minta pertanggungjawaban dia sebagai ibu yang mengasuh Reka!"
"Ssssshhhh ... sayang?" Mas Pram berbisik di telinganya. "Take a deep breath, please ...."
Mas Tama menutup panggilannya secara sepihak. Dan ketika ia berusaha menghubungi kembali, sama sekali tak terdengar nada sambung.
Good, Mas. Kamu nonaktifkan ponsel, batinnya geram. Langsung menghubungi Dara yang terkejut mendapat telepon darinya.
"Apakabar, Mba?" Dara jelas tak kuasa menyembunyikan keheranan.
"Aku perlu nomor ponsel Pocut," jawabnya tanpa basa-basi.
Dara sempat bertanya untuk apa. Ia jawab membicarakan hal penting tentang Reka.
Namun Dara bertanya lagi, ada apa dengan Reka.
Akhirnya bendungannya jebol. Terisak-isak di ponsel menceritakan kedatangan Reka ke Surabaya dengan wajah babak belur. Dan Dara tak bisa mengelak lagi untuk memberikan nomor telepon wanita itu.
"Apa yang kamu lakukan sampai Reka babak belur begitu?" Ia langsung bertanya tanpa basa-basi.
Dan suara Pocut di seberang sana terdengar tergeragap. "M-mba Kinanti? Apakabarnya, M-mba?"
"Aku nanya, Reka kenapa sampai babak belur begitu? Tega kamu ya, nggak ngasih kabar ke aku!"
"B-begini, M-mba ...." Pocut menjelaskan dengan bahasa berputar-putar yang membuat emosinya semakin menjadi.
"Aku minta nomor telepon wali kelasnya, sekarang!" Kepalanya hampir pecah mendengar penjelasan Pocut dengan tata bahasa yang sangat amburadul. Bagaimana mungkin mas Tama menikahi wanita yang tak bisa memberi penjelasan dengan bahasa singkat yang mudah dimengerti? Benar-benar menandakan tingkat intelektual yang rendah. Menyedihkan sekali dirimu, Mas. Terjerat wanita tak berpendidikan.
"Bu Angie, wali kelas VIII - 5? Saya Kinanti, ibu kandung Gemintang Rekata," ujarnya dengan napas memburu. "Saya meminta penjelasan tentang apa yang menimpa putra saya."
"Sudah saya jelaskan semuanya ke ibu Pocut, Bu."
"Saya ingin mendengar langsung dari Anda! Saya ibu kandungnya!"
"Sssssshhhhh ...." Mas Pram kembali berusaha menenangkannya.
Suara di seberang terdengar ragu. "Apa bu Pocut belum menyampaikannya kepada Ibu?"
"Anda jelaskan pada saya sekarang juga!" Pekiknya hampir menjerit.
"Apa ibu yakin?" Suara wali kelas Reka terdengar semakin ragu. "Saya tak sampai hati menjelaskan untuk yang kedua kali."
Ia kembali memekik melalui ponsel hingga sang wali kelas berujar cepat. "Gemintang marah kepada teman-temannya karena suka mengolok-olok."
Dan kepalanya benar-benar pecah setelah mendengar penjelasan tentang asal muasal Reka bisa terlibat dalam perkelahian, yang membuat dua orang siswa lainnya harus dilarikan ke rumah sakit untuk mendapat jahitan akibat hantaman Reka.
"Menyebut kalau Gemintang mempunyai ibu kandung yang gila dan ibu tiri janda gatel open bo ...."
***
__ADS_1