Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 93. Merayakan Cinta


__ADS_3

Jakarta


Pocut


"Kalau tadi pakai gigi rendah." Tama semakin menyeringai. "Sekarang kita gas Rpm tinggi."


Ia yang tak mengerti maksud ucapan Tama lebih memilih untuk beringsut dari tempat tidur daripada meladeni ucapan suaminya itu.


"Yakin nggak mau nyoba sensasi yang beda?" Imbuh Tama disusul tawa renyah, meski ia sudah beranjak.


Dan sepanjang langkah menuju ruang makan keningnya terus mengerut. Test drive? Rpm tinggi? Mungkin ia bisa mencari tahu artinya melalui mesin pencari. Apakah sesuatu yang baik atau buruk. Karena saat mengucapkan dua kata tersebut, wajah Tama jelas-jelas menyiratkan godaan.


Sepertinya, mulai sekarang ia harus berteman akrab dengan mesin pencari agar bisa mengimbangi obrolan Tama. Apalagi kalau bukan untuk mengetahui topik terkini, berita paling hangat, atau sekedar memperkaya kosakata dalam bahasa Inggris. Sebab saat mengobrol, Tama seringkali menyelipkan kata dalam bahasa Inggris.


Persis seperti nasehat bu Niar, jika ia harus terus bergerak ke arah yang lebih baik. Mengasah kemampuan diri, menambah pengetahuan, mematangkan sikap. Bukan karena sekarang ia telah menjadi istri seorang Wiratama Yuda. Tapi lebih untuk dirinya sendiri.


"Salah satu yang membuat kecantikan seorang wanita terpancar adalah kepercayaan diri," ucap bu Niar di sebuah restoran, usai mereka melakukan fitting baju terakhir.


"Lihat." Bu Niar menunjuk seseorang yang baru saja memasuki restoran. Wanita seusia dirinya mungkin. Berpenampilan sederhana namun elegan. Celana panjang, blouse dan blazer. Tak memakai riasan dan aksesoris berlebihan. Apalagi perhiasan seperti toko emas berjalan. Tapi terlihat begitu menarik dan mengesankan.


"Tak harus cantik seperti standar ideal di masyarakat kita pada umumnya untuk terlihat menarik," lanjut bu Niar. "Kepercayaan diri, sikap saat memperlakukan orang lain, dan pengetahuan yang dimiliki lebih bisa membuat seorang wanita terlihat menarik berkali lipat dibanding penampilan fisik."


"Iya, tentu, kita nggak menafikkan kalau para pria adalah makhluk visual," sambung bu Niar cepat. "Mereka bisa langsung menyukai sesuatu hanya berdasar penglihatan mata sesaat."


"Tapi pria sejati adalah pria yang bisa menghargai wanitanya. Salah satunya dengan cara memberi kesempatan pada sang wanita untuk mengasah diri." Bu Niar tersenyum. "Meningkatkan kemampuan, terus belajar."


"Dan pasangan sejati adalah yang bisa saling melengkapi." Bu Niar masih tersenyum. "Yang ketika diberi kesempatan oleh sang pria untuk mengasah diri, dia bisa memanfaatkannya dengan baik."


"Lalu mempersembahkan hasilnya untuk mendukung suami, mendidik anak-anak, mengangkat derajat keluarga." Bu Niar meraih tangannya dan menggenggamnya erat. "Pocut sudah cantik dari sananya. Tinggal ditumbuhkan semangat untuk mau terus belajar."


"Karena ke depan semakin banyak tantangan. Bukan tak mungkin Tama akan mengikuti jejak almarhum papa atau bahkan lebih. Harapan yang sempat terucap oleh almarhum sebelum wafat."


Ia menelan ludah dengan gugup. Telapak tangannya dalam genggaman bu Niar mendadak berkeringat dingin. Baru membayangkan Tama memiliki jabatan seperti pak Setyo saja sudah membuatnya ketakutan. Takut tak mampu mendampingi dengan baik. Takut mengecewakan. Takut menjadi penghalang kesuksesan Tama. Takut ....


"Mama sangat berharap, Pocut bisa kuat, sabar dan ikhlas dalam mendampingi Tama."


"Istriku mau ngapain?" Suara bass yang kini mulai terdengar akrab di telinga tiba-tiba mendekat. Disusul rengkuhan halus dari belakang. Dan karena Tama hanya mengenakan celana pendek, ia bisa merasakan bagaimana otot perut yang liat menempel di punggungnya.


"M-mau buat teh," jawabnya gugup sambil buru-buru meraih cangkir bermaksud menyeduh teh.


"Pilih rasa apa?" Tangan Tama terulur hingga ia bisa mencium lengan bagian dalam suaminya itu. Mengambil lima bungkus teh sekaligus yang tersedia.


"Earl grey, english breakfast, chamomile, sencha, creme caramel?" Tama memperlihatkan satu per satu bungkus teh berwarna hitam, merah, hijau, putih, dan kuning padanya.


"N-nggak ada Sariharum?" Meski terdengar bo doh tapi ia sedang bertanya sungguhan. Rasa teh yang ditawarkan Tama terdengar asing di telinga. Untuk mencari aman, ia menginginkan teh sejuta umat yang rasanya sudah akrab di lidah, Sariharum.


Tama terkekeh. "Sariharum khusus untuk di rumah kita," bisik Tama tepat di telinganya. "Kalau di sini adanya teh bule."


"M-mana yang paling enak?" Ia berusaha menghilangkan gugup meski perut rata Tama semakin erat menempel di punggungnya. Ia tentu harus mulai membiasakan diri dengan sentuhan maskulin Tama dan bisikan di telinga.


"Ini variasi teh hitam dengan rasa asam buah." Tama mengangkat bungkus berwarna hitam.


"Ini mirip teh tubruk." Tama memperlihatkan bungkus berwarna merah. "Kadang minumnya ditambah susu biar nggak terlalu pahit."


"Kalau ini favorit Anja." Tama terkekeh hingga punggungnya ikut bergetar.


"Chamomile?" Ia membaca tulisan yang tertera di dalam bungkus warna putih.


"Rasanya harum bunga campur madu," ujar Tama. "Ada apelnya dikit."


Akhirnya ia memilih teh chamomile. Dengan sigap Tama meraih cangkir, memasukkan kantung teh, menyeduhnya dengan air panas, lalu mendiamkannya selama beberapa menit. Dan Tama melakukan itu semua sambil tetap merengkuhnya dari belakang.


"Silakan, Nyonya." Tama terkekeh saat menyerahkan cangkir teh yang menguarkan aroma harum bunga padanya.


"Terimakasih," jawabnya berusaha melepaskan diri dari Tama.


"Lho, mau ke mana?" Tama malah semakin mengeratkan rengkuhan. Membuatnya khawatir air teh di dalam cangkir akan tumpah.


"Duduk."


"Kenapa harus duduk?" Kini Tama justru menenggelamkan wajah di ceruk lehernya. Hingga ia tak bisa melihat cangkir dalam genggaman. "Minum di sini aja."


Ia mendesah. "Kalau minum harus duduk, Mas."


Tama terkekeh dengan bibir menempel di sepanjang lehernya. "Kata siapa?"


"Mas kenapa menganggap enteng ha--"


"Hal prinsip?" Tama memotong ucapannya. "Minum sambil duduk juga hal prinsip?" Tama menatap matanya tak percaya.


"Berani ngasih komandan banyak aturan?" Ini jelas bercanda karena Tama mengucapkannya dengan mata berkilat menggoda.


Ia jadi ikut tertawa. "Sekarang pakai caraku," gumamnya sambil menahan tawa. "Setelah menikah pakai caramu."


"Masih ingat aja." Suara Tama terdengar antara tertawa dan mengeluh.


"Mas lupa?" Ia mendadak curiga. "Mas lupa dengan semua yang pernah diucapkan?"


Tama makin tertawa. "Here we go, nyonya Wiratama Yuda mulai menunjukkan taringnya."


Kini, ia tengah duduk santai di sofa menikmati teh chamomile yang lezat. Sementara Tama menyalakan layar televisi dan memilih siaran ulang pertandingan balap motor luar negeri.


"Anak-anak belum menelepon," gumamnya sambil menyesap teh chamomile. Tiba-tiba merindukan keempat anaknya. Terutama Sasa yang ketika pergi masih cemberut.


"Nggak usah ditunggu," jawab Tama enteng. "Biar mereka senang-senang tanpa kita. Nanti kalau kangen juga nelepon."


"Ke hp yang mati daya?" Ia mendesah tak percaya.


Tama terkekeh. "Anak-anak aman. Ada Cakra, Sada, Dara."

__ADS_1


Tapi ia rindu. Rindu keceriwisan Sasa, rindu kelucuan Umay, rindu Icad yang santai. Bahkan rindu Reka yang masih bersikap malu-malu terhadapnya.


Baru kali ini ia terpisahkan jarak dengan anak-anak. Ternyata cukup menyiksa dan membuat hati tak tenang. Rasanya ingin buru-buru berjumpa kembali dan bersama-sama setiap hari. Tak terpisahkan.


Malam hari usai Tama menjerat dan menaklukkannya di sofa, barulah suaminya itu menyalakan ponsel.


"Sekarang nggak kemalaman?" Tanyanya heran. Sebab keadaannya masih berantakan akibat ulah Tama. Dengan rambut acak-acakan dan hanya mengenakan kimono tipis. Astaghfirullah. Bagaimana mungkin ia membiarkan anak-anak melihat penampilannya yang cukup mengerikan ini.


"Mau pakai baju dulu," ucapnya gugup berusaha untuk bangkit.


Tapi Tama menghalangi niatnya. "Nggak usah. Yang kelihatan cuma leher ke atas ini."


"Lagian orang-orang juga bakal paham." Tama menyeringai.


"Mas?" Ia mengernyit. "Kalau ada Agam atau Sada bagaimana? Aku harus pakai kerudung."


Ia tak sadar telah menyebut diri aku. Sepertinya jeratan Tama benar-benar telah memikat keseluruhan diri.


"Harus, ya?" Tama keheranan. Entah benar-benar heran atau hanya menggoda. Apa Tama tak tahu kalau Sada dan Agam bukan mahramnya?


Ketika ia sibuk mencari jilbab instant hadiah dari ibu-ibu PKK di dalam lemari penyimpanan, Tama sudah memulai video call.


"Belum tidur?"


"Beluuuum." Suara Sasa dan Umay terdengar serempak dan penuh kegembiraan.


"Anak cantik Papa nangis nggak, nih?"


"Enggaaak," jawab Sasa dengan tawa cekikikannya yang khas.


"Nangis sebentar waktu mau naik pesawat," serobot Umay. "Takut katanya mau sama Mama."


"Ih, enggak, Abang." Sasa langsung protes keras. "Enggak nangis, Pa. Sasa cuma takut lihat pesawat yang gedeee bangeeet. Lebih gede dari gajah. Hihihi ...."


Ia langsung terpana saat mendengar Sasa memanggil Tama dengan sebutan Pa.


Dan ketika ia berhasil meraih jilbab yang dimaksud. Lalu buru-buru memakainya sambil berjalan mendekati Tama di sofa. Tiba-tiba saja matanya mulai memanas saat melihat wajah ceria Sasa dan Umay di layar ponsel. Termasuk latar belakang di belakangnya di mana Icad dan Reka terlihat tengah duduk menonton televisi bersama Arka, Yasa, dan Agam.


"Mamaaa!" Sasa melambaikan tangan ke arah kamera. "Sasa sekarang udah berani, Ma. Nggak nangis lagi. Tadi naik pesawat baguuuus. Kapan-kapan Mama ikut, yaaa. Seru ya, Bang, ya, ke rumah Lana?"


Umay yang berdiri di sebelah Sasa bersama Lana mengangguk sambil mengangkat seeekor bayi kucing berbulu oranye. Tapi ia tak bisa mendengar ucapan Umay karena bulir bening keburu menetes membasahi pipi.


Ternyata, seperti ini rasanya rindu.


***


Tama


Ia mengecup kening Pocut yang masih terkulai di atas tempat tidur. "Pergi dulu."


Pocut hanya mengangguk lemah dengan mata sayu. Istrinya itu terlihat kelelahan meski jam baru menunjukkan pukul 7 pagi. Sepertinya akibat meladeni geloranya yang terlalu membara. Yeah.


Pocut mengangguk lalu berusaha untuk bangkit.


"Mau ke mana?" Tanyanya heran.


"Antar Mas ke depan."


"Nggak usah." Ia tak setuju. "Tidur aja biar fresh lagi." Kali ini ia tak bisa menyembunyikan kerlingan. "Kita masih punya banyak waktu sampai anak-anak pulang."


Pagi ini tepat di hari perayaan kemerdekaan. Ia harus menyambangi kantor untuk memastikan pendelegasian tugas ke jajaran terkait berjalan lancar. Sebelum mengambil cuti dalam waktu yang cukup lama. Hampir dua minggu.


"Pagi, Ndan pengantin baru," sapa Franky, Waka (wakil kepala) nya begitu ia muncul di kantor.


"Sehat, Pak," sapa semua orang yang menghampiri dan menyalaminya.


Ia hanya menyeringai sambil mengepalkan tangan kanan ke atas. "Roso!"


Ia memimpin rapat koordinasi sampai siang. Baru kembali ke hotel jelang sore. Dan mendapati Pocut tengah duduk di sofa ruang tamu membaca majalah.


"Makan, Mas?" Tawar Pocut sambil menunjuk meja makan yang dipenuhi hidangan.


"Ini menu sarapan tadi?" Tanyanya sambil mendudukkan diri di kursi.


Pocut menggeleng. "Menu siang. Aku nelepon layanan kamar dikira Mas pulang pas makan siang."


Ia tersenyum senang karena Pocut memiliki inisiatif untuk memesan makanan sendiri. Tak canggung dalam mengambil keputusan meski sesederhana makan siang. Tanpa harus ragu atau menunggunya pulang.


"Mau dipanasin dulu?" Pocut menunjuk piring berisi seared salmon dan braised wagyu di hadapannya.


"Boleh," jawabnya kian senang. Merasa tersanjung dengan cara Pocut memperlakukannya.


Tapi tak mampu menahan tawa ketika Pocut menatapnya malu-malu sambil berkata, "Bisa tolong kasih tahu cara pakai alatnya? Saya sudah baca tutorialnya di Google tapi khawatir salah."


Ia mulai memberi kitchen course singkat pada Pocut. Bagaimana cara menggunakan microwave, kompor listrik, toaster, mesin pembuat kopi. Sembari acapkali menenangkan. "Jangan takut salah."


Sebelum akhirnya menyantap makanan dan bercengkerama. Kali ini ia mengeksplorasi tempat yang belum sempat dijamah sebelumnya, yaitu ruang kerja.



credit picture : YouTube


Dan Pocut tak berkomentar apapun ketika ia memberi pilihan sambil tersenyum menggoda. "Sofa atau kursi? Tapi meja juga bagus."


Pocut memberinya bukti dengan tindakan nyata. Mempersembahkan jamuan terindah yang rasanya akan sulit untuk dilupakan. Memenuhi semua hasrat dan geloranya. Menjadikannya pria paling berbahagia. Benar-benar sebuah perayaan cinta untuk mereka berdua.


"Lagi apa?" Tanyanya ketika mereka tengah menunggu kepulangan anak-anak. Setelah setengah jam yang lalu Cakra mengirim pesan singkat jika telah mendarat.


"Mencari olahraga yang bisa menguatkan napas," jawab Pocut yang sedang membuka-buka lembaran majalah.

__ADS_1


"Kenapa tiba-tiba mau olahraga?" Tanyanya heran.


Pocut menatapnya dengan alis saling bertaut. "Lama lama napasku bisa habis kalau Mas be--"


Ia tertawa. "Mau dihabisin lagi sekarang?"


"Mau olahraga dulu biar bisa mengimbangi," gumam Pocut malu dengan wajah memerah dan kepala tertunduk. Terus membolak-balik lembaran majalah yang ia tahu pasti tak dibaca dengan benar.


"Jangan," cegahnya bermaksud menggoda dengan senyum tertahan. "Aku suka istriku yang seperti ini."


***


Pocut


Waktu seakan bergulir begitu cepat tanpa ia sempat menyadarinya. Anak-anak yang pulang dengan wajah penuh kepuasan. Sasa yang tak lagi memusuhi Tama. Bahkan langsung memeluk Tama erat-erat sambil berbisik, "Hadiah buat Sasanya kapan, Pa?"


Umay yang langsung tertidur kelelahan di sofa. Icad yang beberapa kali ia dapati sedang mengobrol serius dengan Reka tanpa saling canggung meski belum bisa dikatakan akrab.


Keesokan harinya mereka hanya berdiam di hotel. Ia menunggu uti (ia mulai membiasakan diri memanggil bu Niar dengan sebutan uti) dan mamak di suite. Sementara anak-anak dan Tama asyik berenang.


Hari Rabu mereka semua sudah terbang menuju Madinah. Di sana mereka setiap hari berjalan kaki bersama-sama dari hotel ke Masjid Nabawi. Beribadah dengan penuh haru dan sukacita.


"Mau berdoa apa?" Bisik Tama ketika mereka sudah berada di Mekkah. Tengah berjalan kaki menuju Masjidil Haram.


Ia menunjukkan buku notes kecil berisi kumpulan permintaannya. Ia membuat catatannya seminggu sebelum akad nikah. Di dalamnya tertulis doa untuk mamak, Tama, keempat anak-anaknya, uti, Agam dan Anjani, Sada dan Dara, yahbit Hamdan dan keluarganya, ibu-ibu PKK yang menitipkan doa padanya. Tak lupa doa untuk bang Is, nyanyak, ayah, bang Risyad dan bang Umair.


Tama mengambil notes dari tangannya. "Boleh lihat?"


Ia mengangguk.


Dan Tama memberinya tatapan haru ketika membuka lembar demi lembar. "Mendoakanku sepanjang ini?"


Doa untuk Tama ia tulis hampir lima lembar sendiri. Semoga Tama dikaruniai usia panjang yang barokah. Keselamatan dunia akhirat. Kesehatan lahir batin jasmani rohani. Kekuatan iman, Islam, ihsan. Kemampuan memberi tauladan, membimbing istri dan mendidik anak-anak. Kemampuan mengemban tugas dalam mengayomi masyarakat. Semua ia tuliskan tanpa kecuali.


Termasuk doa untuk mereka berdua. Agar semakin dikokohkannya ikatan tali pernikahan. Dikaruniai keturunan yang saleh salehah. Dilimpahkan rezeki yang halal dan berkah.


Ia mohonkan semuanya. Ia sadar tak memiliki kuasa apapun untuk semua keadaan dan urusannya di masa mendatang. Sekarang ia serahkan sepenuhnya kepada Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. Memohonkan kebaikan di dalamnya.


Mereka berdelapan melakukan rukun umrah dengan khusyu. Ihram, thawaf, sa'i, tahallul.


Berkali-kali ia memergoki mamak berlinangan air mata saat berdoa di depan Ka'bah. Atau seusai salat di Masjidil Haram. Lalu mamak memeluknya erat-erat sembari membisikkan doa-doa indah.


Di hari ke sembilan mereka pulang ke Jakarta.


"Baso ... baso ...." Ucap Sasa seringkali sambil terkikik-kikik. Menggoda papa dan ketiga kakaknya yang berkepala pelontos usai tahallul.


"Cilok, Sa," seloroh Umay tanpa malu-malu. Selalu penuh percaya diri meski tanpa rambut.


Sementara Tama, Reka, dan Icad selalu menutupi kepala dengan topi.


Sesampainya di Jakarta tak ada waktu untuk berleha-leha. Mereka berenam langsung menempati rumah dinas. Sementara mamak pulang ke rumah. Sebelum nantinya tinggal di rumah dinas bersama mereka selama Tama menjalani pendidikan di Bandung.


Ini menjadi kali pertama ia menginjakkan kaki di rumah dinas. Dan langsung terkesima begitu melihat dapurnya.


"Suka nggak?" Tama merengkuhnya dari belakang.


Suka? Matanya langsung dipenuhi kaca saat melihat peralatan memasak yang sempat dijumpainya di hotel kini telah berpindah di depan mata.


"Makasih aja nggak cukup," bisik Tama di telinganya.


"Ada anak-anak," keluhnya tak percaya.


"Serahkan padaku." Tama memperlihatkan pintu kamar mereka yang telah dipasang selot sebanyak tiga baris sekaligus. Atas, tengah, bawah. "Aman."


Sebelum menutup pintu, Tama terlebih dahulu meletakkan anak kunci di bagian luar.


Sasa sempat menggedor sebanyak tiga kali dan memanggil-manggil namanya. Ia langsung terperanjat namun ternyata ulah Sasa telah berakhir. Disusul suara obrolan Sasa dengan Umay, "Tenang, kuncinya di luar ini. Mama sama papa nggak bisa kemana-mana. Hihihi ...."


Ia yang awalnya tengah berada dalam suasana romantis langsung tertawa mendengar kepolosan Sasa. Adalah benar jika Tama seorang ahli strategi. Terbukti sudah sekarang.


Dua hari kemudian, Tama menggelar pengajian dan santunan anak yatim di rumah dinas. Yang dihadiri oleh rekan-rekan Tama sesama perwira, para anggota lainnya, dan tokoh masyarakat sekitar.


"Acara ini sekaligus sebagai perkenalan keluarga kami," ucap Tama di depan para hadirin.


"Istri saya." Tama menunjuk ke arahnya sambil tersenyum. "Namanya Ibu Pocut Halimatussadiah. Istri saya ini termasuk makhluk halus, hadirin sekalian."


Para hadirin tersenyum-senyum mendengar selorohan Tama.


"Tutur katanya halus, perilakunya halus," imbuh Tama sembari terus menatapnya hingga ia salah tingkah.


"Ini keempat anak saya. Yang ini namanya Reka." Tama merangkul Reka yang duduk tepat di sebelah Tama.


"Risyad." Tama menunjuk Icad yang membalasnya dengan anggukan.


"Umair." Umay melempar senyum ke semua hadirin dengan penuh percaya diri.


"Rumaisha." Sasa tersenyum-senyum malu sambil saling berbisik dengan Umay.


"Mohon doa dan dukungannya selama saya menjalankan pendidikan di Bandung. Nanti ibu mertua akan menemani istri dan anak-anak kami di sini. Semoga kegiatan malam ini bermanfaat bagi kita semua dan mendapat ridho Allah Subhanahu wata'ala." Ucapan Tama menjadi pamungkas acara.


***


Keterangan :


Rpm. : adalah revolutions per minute. Satuan rpm digunakan untuk menyatakan kecepatan perputaran terhadap sebuah sumbu dalam satu menit. Seperti mobil dan motor, 1 rpm berarti 1 siklus perputaran poros engkol atau crankshaft (sumber : Gridoto.com).


Bukan mahram. : orang yang boleh dinikahi.


***

__ADS_1


__ADS_2