
Coz You're The One
(Karena kamulah satu-satunya)
***
Jakarta
Pocut
Kini ia paham, mengapa baju renang pemberian Tama dibandrol dengan harga mahal. Selain terbuat dari bahan premium yang lembut dan ringan saat menyentuh kulit. Modelnya juga simple. Dan yang paling utama tidak membentuk lekuk tubuh.
Namun kenyamanan yang dirasakan berbanding terbalik dengan pemandangan yang tersaji di depan mata. Tama terlihat sedang berbincang sambil tertawa dengan seorang wanita di pinggir kolam.
Meski terkejut, ia tetap berjalan mendekat. Mungkin itu kenalan Tama. Atau saudara jauh. Kerabat bisa jadi. Tak sengaja bertemu di keramaian. Pikirannya bekerja cepat merancang 1001 prasangka baik.
Tapi begitu Tama berdiri karena panggilan Reka. Kemudian wanita cantik yang memakai baju renang berdesain terbuka di bagian dada dan punggung itu juga ikut berdiri. Bergelayut manja bahkan hingga menaiki tangga wahana paling menguji nyali. Jemarinya mendadak bergetar. Jantungnya berdegup kencang seperti sedang berkejaran.
Deg deg deg deg deg deg deg deg ....
Terlebih ketika ingatan lambatnya mulai menyadari, jika wanita yang menempel seperti perangko di samping Tama bukanlah orang asing. Mereka pernah bertemu sebelumnya, sempat berbincang meski hanya berbasa-basi, namun membuatnya tergesa-gesa berjanji pada diri sendiri untuk menghindari Tama.
Wanita itu ....
Kepalanya mendadak berdenyut tak karuan. Napas terasa sesak. Tusukan nyeri tiba-tiba menyerang dada. Degup jantung tak usah ditanya, kian membuat tangannya gemetaran dibanjiri keringat dingin. Lutut juga lemas tak bertenaga. Rasanya seperti mau pingsan. Ketika melihat ban raksasa yang dinaiki Tama, Samara, Icad dan Reka terlempar ke corong raksasa lalu terhempas ke kedalaman kolam. Dengan lengan Tama yang meraih tubuh Samara agar tak tenggelam. Membuatnya langsung berbalik arah dan berjalan lurus ke depan tanpa menengok lagi.
Apa itu tadi?
Terasa sangat membingungkan. Sepanjang ingatannya bersama bang Is, yang tersisa di antara mereka hanyalah cinta dan rindu. Tak ada napas sesak, dada nyeri ataupun lutut lemas gara-gara melihat bang Is bersama wanita lain. Semua berjalan indah dan menyenangkan.
Ia berjalan dengan langkah tergesa memasuki kabin. Berkali-kali menggelengkan kepala saat menyadari jika sekumpulan perasaan aneh yang tiba-tiba melanda dalam satu waktu tadi adalah ... cemburu?
Kenapa harus cemburu?
Apakah karena tak rela melihat Tama bersama wanita lain? Istighfar Pocut, kalian baru terhubung oleh sebuah pinangan. Bukan ikatan janji suci yang agung.
Atau rasa tak berdaya? Rendah diri sebab latar kehidupannya bagai langit dan bumi jika dibandingkan dengan kehidupan yang dijalani oleh Tama juga Samara.
Atau justru rasa iri? Iri kepada Samara karena berpenampilan cantik dan penuh percaya diri. Bisa menarik perhatian Tama dengan berbincang akrab, luwes, tertawa riang dalam kesenangan. Hingga Tama tak berpikir panjang untuk meraih tubuh Samara agar tak terjatuh dari ban?
Kalau iya, betapa buruk sifat dan sikapnya. Selama ini, ia tak pernah merasa iri dengan kehidupan ataupun kebahagiaan yang diperoleh orang lain. Ia selalu berpedoman, semua sudah digariskan bahkan jauh sebelum ia terlahir ke dunia. Tugasnya hanya dua, bersyukur dan bersabar. Sudah lebih dari cukup.
Tapi sekarang? Dalam waktu singkat kehilangan akal sehat. Cemburu membabi buta telah menghanyutkannya ke dalam arus perasaan paling menggelisahkan. Mengubahnya menjadi sosok asing yang diselimuti iri dengki.
Astaghfirullah.
Seharusnya, ia bisa lebih tenang dan tak terbawa perasaan. Tetap berdiri menunggu hingga aksi di wahana paling bernyali itu tuntas. Lalu berjalan tegak menghampiri Tama dan anak-anak.
Sayang, ia tak sepercaya diri itu.
Lenggok menawan Samara nan menggoda di hadapan Tama telah memupus keberaniannya. Menyiutkan nyali untuk mendekatkan diri pada Tama juga Reka.
Siapalah dirinya? Bukan siapa-siapa. Hanya seorang beruntung yang kebetulan dipinang oleh pria sehebat Tama. Tak memiliki kelebihan yang patut dibanggakan. Apalagi kekuatan yang bisa menginspirasi. Hanya wanita sangat biasa yang cenderung lemah.
***
Tama
"Sip." Ia tersenyum puas melihat hasil ikatan yang membentuk pita di jubah mandi Sasa, ketika gadis cilik itu tiba-tiba berseru riang.
"Eh, itu Mama! Mama dari mana? Dicariin. Sasa lapar ...."
Kepalanya berputar 180 derajat dan melihat Pocut sedang berjalan memasuki kabin. Langsung ditubruk oleh Sasa yang berlari menghambur ke dalam pelukan.
"Lapar, Mama ...."
"Sasa mau makan apa?"
"Apa aja yang penting enak. Hihihi ...."
Ia berjalan mendekat. "Dari mana?"
"Mushola."
Ia mengangguk. "Mau makan apa?"
"Yang mudah saja."
Membuatnya beralih menanyai Sasa karena jawaban Pocut terlalu singkat dan tak menggambarkan solusi. "Sasa mau makan apa?"
"Ayam goreng pentungan ada nggak, Om?"
Ia teringat logo restoran cepat saji waralaba yang sempat dilihatnya di deretan stand food court. "Kayaknya ada."
"Mauuuu."
Ia memesan beberapa menu sekaligus untuk mereka berenam dan meminta fasilitas layan antar. Sementara Pocut dan Sasa masuk ke ruang dalam. Selama menunggu, ia mengecek ponsel sambil merokok.
"Haloooo!" Sasa melompat keluar dari ruang dalam dengan senyum lebar. "Aku udah ganti baju Om."
"Nggak berenang lagi?"
Sasa menggeleng. "Cape, ah. Udahan. Uhuk! Uhuk! Uhuk! Iiiih! Bau asaaap."
Ia langsung menggerus batang rokok yang tersisa setengah ke dalam asbak. Lupa jika saat ini sedang bersama anak-anak. "Sasa nggak suka asap rokok?"
Lagi-lagi Sasa menggeleng. "Bauuuu. Bikin sesak napas. Ya Ma, ya?"
Ia menoleh ke arah Pocut yang baru muncul dari ruang dalam. Tapi Pocut mengacuhkannya. Justru bertanya pada Sasa.
"Sisir rambutnya dulu, Sa."
Sasa menurut dengan mendudukkan diri di sebelah Pocut. Tapi sedetik kemudian menjerit. "Adududuh! Sakit Mama! Jangan keras-keras. Nanti kulit kepala Sasa terkelupas. Pelan-pelan."
Ia tertawa melihat keceriwisan Sasa. Tapi saat beralih memandang Pocut, wanita itu tak bereaksi. Tetap menyisir rambut Sasa dengan wajah datar.
"Kalian berdua sama-sama alergi asap rokok?" Ia membuka topik.
Pocut hanya diam dan mengangguk.
"Om!" Seruan Sasa mengurungkan niatnya untuk kembali bertanya pada Pocut. "Abang sama mas Reka ke mana, ya? Kok nggak ke sini-sini, sih. Apa ... jangan-jangan tersesat? Hihihi ...."
"Biar puas main," jawabnya. "Kalau lapar nanti ke sini sendiri."
"Oiya, ya." Sasa manggut-manggut dengan wajah serius. "Abang Umay kalau lagi asyik main, pulangnya pas lapar doang. Hihihi ... trus abis itu, dimarahin mama, deh."
"Umay, kalau main jangan lupa waktu." Sasa memeragakan gaya Pocut memarahi Umay. "Ingat salat, ingat belajar, nanti mama nggak bolehin nonton tv selama dua hari."
Ia tertawa melihat tingkah Sasa. Lalu melirik Pocut yang sedang memindahkan botol air mineral dan susu kotak dari rak kabin ke atas meja.
"Mama suka marah, Sa?"
"Sering. Hihihi ...." Sasa, seperti biasa terkikik sambil menutup mulut dengan kedua tangan. "Tapi sama bang Umay doang. Sama Abang Icad jarang. Sama Sasa ... nggak pernah. Hihihi ...."
Ia tertawa sambil memperhatikan Pocut yang masih menyusun minuman dengan wajah datar.
"Kasihan bang Umay, dong. Dimarahin mama terus."
"Habis ... bang Umay suka jail, sih. Sering nggak nurut sama mama. Jadi dimarahin, deh," jawab Sasa sambil meraih susu UHT yang baru diletakkan Pocut. "Mau ini, Ma."
"Boleh." Pocut mengangguk. Namun tetap tak menoleh ke arahnya. Meski sedari tadi ia menatap wajah cantik itu lekat-lekat.
"Kabin nomor tiga? Tadi memesan di restoran ...." Seorang pegawai berkaos ungu sudah berdiri di depan pintu kabin.
"Ya." Ia mempersilakan masuk.
__ADS_1
Di belakang pegawai berkaos ungu ada tiga orang pegawai lain berkaos biru. Membawa nampan berisi makanan yang dipesannya.
"Makasih." Ia menyimpan sejumlah uang di atas nampan sebagai tip setelah semua makanan terhidang di atas meja.
"Ada yang ingin dipesan lagi, Pak?"
"Cukup."
"Baik, terimakasih sudah memesan di restoran kami. Selamat menikmati."
"Wah ... makanannya banyak bangeeet." Sasa memandangi hidangan di atas meja dengan takjub. "Buat kita semua ini, Om?"
Ia mengangguk. "Ayo, Sasa ... makan. Tadi katanya lapar."
"Hihihi ...." Sasa tertawa senang. "Terimakasih, Om."
Ia mengusap puncak kepala Sasa.
Lalu menoleh ke arah Pocut yang sedang menyusun piring sesuai dengan jumlah mereka berenam. "Nggak makan?"
Pocut menggeleng.
"Aku makan dulu." Ia meraih piring yang masih dipegang Pocut untuk diisi dengan nasi putih. "Lapar."
Lagi-lagi Pocut tak menjawab. Namun tetap mengangsurkan sendok dan garpu ke arahnya untuk menyantap menu soto Betawi yang menjadi pilihan.
Ia makan sambil mendengarkan celotehan Sasa yang seperti mitraliur. Ada saja yang diceritakan. Dari mulai kelakuan ajaib Umay sampai tiga anak kucing belang Sasa yang baru.
"Kucingnya lucu banget tahu, Om." Sasa bercerita dengan penuh semangat. "Kalau ibunya selesai makan, pasti anaknya langsung nen. Hihihi ... kayak dekgam Aran ...."
"Habis itu berjemur di teras seharian. Leyeh-leyeh kepanasan. Hihihi ... gumusssshhhh ...."
Ia yang sudah menyelesaikan makan langsung meneguk air mineral sambil melirik Pocut. Namun pancingannya tak kunjung bersambut. Karena Pocut tetap mengacuhkannya dan memasang wajah datar tanpa ekspresi.
Well. Something happened (sesuatu terjadi).
"Kenapa?" Tanyanya ketika Sasa sedang mencuci tangan di wastafel.
"Nggak apa-apa," jawab Pocut singkat.
"Besok Dudun yang ke rumah," sambungnya sambil melihat ponsel. "Ambil persyaratan untuk sidang."
"Sidang?" Ini kali pertama Pocut menoleh meski sekilas. Karena langsung menunduk lagi.
"Kita nikah dinas dulu sebelum akad."
Pocut mengangguk.
"Untuk ke KUA sama paspor, Agus yang ambil."
Lagi-lagi Pocut mengangguk.
"Siangnya ada orang WO yang mau ketemu sama kamu."
"WO?" Pocut kembali menoleh. Dan ia tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Menatap Pocut dalam-dalam sembari tersenyum.
"WO rekomendasi Dara. Aku nggak ada waktu. Jadi kamu langsung komunikasi sama orang WO. Nanti ditemani Anja. Biar dia yang in charge."
"Jangan ragu buat ngobrolin semua keinginan kamu tentang konsep pernikahan yang diinginkan," sambungnya lagi.
"Mama sama Om lagi ngobrolin apa sih, kok kayaknya serius banget?" Sasa yang sudah kembali dari mencuci tangan memandang mereka berdua secara bergantian.
Ia tertawa sambil mengacak rambut Sasa. "Mau tahu aja."
"Sasa boleh main dulu?" Pocut menoleh ke arah Sasa. "Mama mau bicara sebentar sama om."
Sasa mengangguk. "Iya, Mama." Lalu beralih ke ruang dalam. "Sasa nonton tv boleh?"
"Boleh," jawab Pocut yang kembali memandangnya.
"Nggak bisa nyalain, Mama ...." Rengekan Sasa membuatnya bangkit untuk membantu menyalakan TV. Ketika kembali ke kursi, trio cowok datang dengan napas terengah.
"Makan ... makan ...." Ia menyorongkan piring berisi burger dan kentang goreng yang masih utuh ke hadapan Umay. "Cad? Makan? Reka?"
Icad yang sedang mencuci tangan di wastafel mengangguk.
Namun Reka memilih pergi ke toilet terlebih dahulu. "Lengket. Mau mandi."
Ia mengajak Pocut pindah duduk ke sofa yang berada di teras kabin. Terletak lebih dekat dengan pintu kabin hingga pengunjung lain yang melintas bisa dengan mudah melihat mereka.
"Apa tidak berlebihan?"
"Apanya?"
"Memakai jasa WO dan ...."
Ia menggeleng. "Tolong jangan sungkan. Ini hal standar yang bisa kulakukan."
"Biayanya ...."
"Jangan pikirkan biaya." Ia menatap Pocut lekat-lekat. "Pikirkan aku saja."
Pocut yang semalam banyak tersenyum dan tertawa, kini hanya diam menunduk. Sama sekali tak menanggapi rayuannya.
"Ada masalah?" Ia masih menebak. Namun berharap tebakannya keliru. Karena menebak isi hati wanita berkali lipat lebih sulit dibanding menebak isi kepala penjahat yang tertangkap.
Saat itulah, salah seorang pengunjung yang kebetulan sedang melintas di depan kabin mereka tiba-tiba memanggil.
"Pak Kapolres?"
Ia dan Pocut menoleh bersamaan.
"Pak Kapolres yang waktu di restoran itu, kan?" Seru wanita berambut kemoceng yang memakai baju renang two piece berpotongan dada rendah dengan wajah sumringah. "Ingat sama saya nggak, Pak?"
Keningnya sontak mengerut tanda berpikir keras. Memperhatikan wanita seksi yang kini sudah berdiri di pintu kabin bersama tiga orang temannya yang tak kalah seksi. Mengira-ngira di mana mereka pernah bertemu. Dan itu harus dilakukannya di bawah pengawasan tajam Pocut.
"Yen tak sawang sorote mripatmu (jika kulihat sorot matamu) ...." Wanita itu justru bernyanyi dengan suara merdu mendayu-dayu. "Masa lupa, Bapak? Aduh, sedih deh eke nggak dikenali sama Bapak."
Ia menggaruk kepala meski tak gatal. Sebab tak bisa mengingat apapun tentang wanita yang mulai menghampirinya.
"Izin masuk ya, Bapak." Wanita itu dan ketiga temannya masuk ke dalam kabin sambil tersenyum-senyum. "Boleh foto bareng nggak, Pak? Buat kenang-kenangan gitu."
Ia yang masih kebingungan akhirnya mengangguk. Ingatannya tentang wanita memang payah. Kecuali yang berhubungan dengan Pocut tentu saja.
"Oh ... lagi sama Ibu, ya?" Wanita berambut kemoceng itu menyalami Pocut sambil setengah membungkuk. Lalu beralih menyalaminya. Dengan ketiga temannya di belakang mengikuti.
"Liburan keluarga nih, Pak Komandan?" Wanita itu menunjuk meja yang dipenuhi anak-anak dengan wajah keheranan.
"Itu ... anaknya semua?" Wanita itu masih melongo. "Wah, aktif sekali ya, Bund?" Sejurus kemudian tiba-tiba terkikik. Termasuk ketiga temannya di belakang.
"Tapi memang kelihatan jelas kok, Pak." Wanita itu mengerling menggoda. Membuatnya tertawa sambil menggelengkan kepala.
"Permisi, Ibu." Wanita itu menunduk ke arah Pocut. "Boleh foto sama Bapak ya, Bu? Tenang aja ... kita nggak gigit, kok." Lalu kembali terkikik.
"Boleh ...." Pocut tersenyum mengangguk.
Tanpa ragu sedikitpun, Pocut meminta ponsel wanita antik berambut kemoceng itu. "Mau saya fotokan?"
"Aduuuh, makasih banyak Ibu. Selain cantik, ternyata ibu juga baik dan tidak sombong," pekik wanita itu kegirangan. "Pantesan Bapak memilih Ibu dibanding saya. Canda saya hihihihihi ...."
Ia akhirnya menerima ajakan foto bersama keempat wanita berpakaian seksi itu. Dengan Pocut yang mengambil gambarnya.
"Lagi?" Tanya Pocut karena keempat wanita tak kunjung beranjak dari belakang punggungnya.
"Cukup Ibu ... cukup ...." Wanita berambut kemoceng terkikik. "Terimakasih, Ibu ... Bapak ... sehat selalu ... maaf kalau kami norak-norak bergembira. Habis, kapan lagi bisa ketemu sama pakpol ganteng hihihihihi ...."
__ADS_1
Ia menyipit memandangi Pocut yang tersenyum-senyum simpul begitu keempat wanita itu pergi. Sekarang bahkan Pocut tertawa sambil menutup mulut. Persis seperti Sasa.
"Ada yang lucu?"
Pocut masih menutup mulut sambil menggeleng. Lalu bergumam pelan. "Duo Lebah Madu?"
"Apa?"
"Penggemar Mas tadi."
Ia tertawa. Langsung teringat jika wanita berambut kemoceng adalah personel Duo Lebah Madu, yang mengisi acara penyambutan tugas barunya di Jakarta beberapa waktu lalu.
"Kamu tahu mereka?"
Pocut mendesis sambil mengerling. "Lagu mereka diputar di semua stasiun televisi, radio tetangga, penjual lapak DVD di pasar ...."
Ia masih tertawa.
"Di belakang Mas ada Duo Lebah Madu, temannya Duo Lebah Madu, Samara, dan masih banyak lagi." Pocut menatapnya dengan pandangan menuduh. "Ada berapa gerbong wanita yang mengantre di belakang Mas?"
Ia justru tergelak mendengar pertanyaan Pocut. "Kamu cemburu."
Namun Pocut malah kian memberinya tatapan tajam.
"Tapi aku suka," sambungnya sambil menatap wajah Pocut dalam-dalam. "Mulai sekarang kamu harus terbiasa."
"Terbiasa melihat wanita wanita itu me ...." Pocut tak melanjutkan kalimat.
"Terbiasa menjadi istriku. Satu-satunya."
Wajah Pocut langsung bersemburat merah. Dan itu membuatnya tersenyum senang.
Ternyata, seperti ini rasanya dicemburui. Got you (mendapatkanmu).
***
Pocut
Ia memandangi tumpukan kotak hantaran di atas meja dan sebagian lainnya harus disimpan di atas lemari karena tak muat. Belum ada satupun yang dibuka. Ia merasa ... belum saatnya.
Tapi, usai perjalanan menyenangkan yang mereka lakukan hari ini. Melihat senyum Reka dan Icad, keceriaan anak-anak, sikap Tama, bahkan kehadiran Samara dan Duo Lebah Madu. Semakin menyadarkannya tentang pintu masa depan bersama Tama.
"Aku udah pesan ke Anja, jangan lebih dari pertengahan bulan," ucap Tama saat mereka duduk berhadapan di sofa kabin. "Karena awal bulan berikut aku udah masuk pendidikan."
Ia melihat kalender di dalam ponsel. Itu berarti, satu bulan ke depan.
Tama ingin mereka menikah bulan depan.
Secepat ini?
Ia tak pernah berani berpikir meski sebuah cincin berkilau sudah tersemat di jari manisnya. Selalu merasa jika semua hanyalah mimpi. Mimpi indah paling tak terduga yang melambungkan asa hingga menetap dan tak ingin kembali.
"Jangan sampai kelelahan." Tama tersenyum. "Katakan semua yang kamu inginkan dan orang lain yang akan melakukannya."
"Kita akan jarang bertemu. Komunikasi mungkin lebih banyak melalui ponsel. Tapi kamu harus tahu ...."
"You're the one (kamulah satu-satunya)."
Ia beranjak membuka lemari untuk mengambil buku catatan milik bang Is. Ada puluhan buku catatan yang isinya ia hapal betul di luar kepala. Deretan kalimatnya. Kisah di baliknya.
Dengan cermat, dihitungnya jumlah buku. Lengkap tak ada yang kurang satupun.
Diraihnya kotak kado yang sengaja dibeli di toko bang Ahmad. Kotak berwarna hijau, warna kesukaan bang Is. Dimasukkannya puluhan buku tersebut ke dalam kotak hingga tersusun rapi.
Lalu, dengan tangan gemetaran dan tubuh menggigil, ia merobek lembar bagian tengah buku yang berisi tulisan Tama. Kemudian mulai mengisinya dengan barisan kalimat yang membuat air mata jatuh berderai.
---
Abang tercinta,
Terimakasih untuk semua kenangan indah yang abang berikan kepada kami.
Suami terbaik. Ayah terhebat. Satu nama yang tetap tersimpan di hati kami berempat.
Anak-anak akan selalu mendoakan abang di sepanjang hidup mereka. Aku sendiri yang akan mengingatkannya agar jangan sampai terlupa.
Berbahagialah di sana, abang.
Beristirahatlah dengan tenang.
Sampai kita bertemu lagi.
Waktu yang selalu kunantikan.
Allohumaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu'anhu.
Yang selalu mencintaimu,
Adek cantek boh hate abang.
---
Air matanya mengalir deras saat melipat kertas tersebut. Memasukkannya ke dalam amplop kemudian menyimpannya di sampul buku teratas.
Sembari terus menggumamkan doa, ia menutup kotak dengan tangan menggigil gemetaran. Merekatkan selotip mengelilingi kotak hingga yakin takkan mudah terbuka. Kemudian menyimpannya di bagian lemari terdalam yang sukar dijangkau.
"Sampai Allah mempertemukan kita lagi, Abang." Ia bergumam sambil menggigit bibir keras-keras.
Jika semuanya lancar, bulan depan ia akan menjadi istri pria lain, Tama. Ia tentu harus bersikap adil dan menghargai Tama dengan menyimpan semua kenangan tentang bang Is. Satu hal tersulit yang harus dilakukannya. Bukan melupakan. Tapi menempatkan di ruang hati terdalam.
Karena esok, ia mulai merajut impian masa depan yang sempat terlupa. Menyongsong hari baru bersama Tama dan anak-anak.
Bismillah.
"Perkenalkan, saya Ayuni dari Lokatara Enterprise." Seorang wanita muda berwajah ramah dengan gerik aktif memperkenalkan diri. "Kami yang akan membantu Ibu dan Pak Tama menyelenggarakan pesta pernikahan impian."
Ia memercayakan sepenuhnya pada Anjani.
"Beres, Kak." Anjani memeluknya erat-erat. "Rasanya seperti mimpi."
"Karena Bapak mengundang sejumlah pejabat negara yang menggunakan pengamanan khusus, maka kami merekomendasikan hotel yang bisa mengakomodir kebutuhan pengamanan tersebut." Ayuni tangkas menjelaskan sampai sedetail-detailnya.
Dan Anjani sigap membantunya dalam segala hal.
"Undangan yang ini bagus, Kak."
"Besok kita mulai test food ya, Kak."
"Fitting jangan lupa, Kak."
"Voucher paket perawatan pre wedding dari teh Dara mau dipakai kapan, Kak?"
Dan ia hampir tak percaya ketika Anjani memberikan contoh undangan yang hendak dicetak.
Original design by : IU_Yoonie
"Secepat ini?"
"Kalau Kakak setuju, besok langsung naik cetak." Anjani tersenyum menatapnya.
"Karena undangan untuk bapak nomor satu harusnya sudah dikirim beberapa bulan sebelumnya. Ini dispensasi khusus sus ... karena baru dikirim sebulan sebelumnya." Anjani tertawa.
Namun sedetik kemudian Anjani menggerutu. "Mas Tamaaaa! Emang lagi ngerjain kita semua, nih. Bikin orang sekompleks pontang panting. Hadeeeh."
__ADS_1
"Tapi nggak apa-apa." Anjani kembali tertawa. "Aku senang direpotin begini. Aku bahagiaaaa ...." Sambil memeluknya erat-erat. "Bahagiaaaa sekali ...."
***