Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 91. Alright, Wifey


__ADS_3

Jakarta


Tama


Tadi Sasa terus merengek mengeluh susah tidur. Padahal Pocut sudah mengusap punggung gadis cilik itu agar tenang. Ia juga telah mengatur tempat tidur sedemikian rupa agar nyaman untuk ditempati. Tapi tak berefek apapun. Sasa bahkan mulai terisak dan meminta pulang ke rumah.


Ia akhirnya memutuskan untuk keluar kamar. Sengaja meninggalkan Sasa hanya berdua dengan Pocut. Mungkin keberadaannya yang masih cukup asing turut mempengaruhi mood Sasa menjadi semakin memburuk.


Ia pun menyalakan televisi. Bermaksud menonton laga matchday pertama pekan perdana Liga Inggris musim ini. Bigmatch Arsenal vs Manchester City. Lumayan, daripada bengong menunggu Sasa tertidur.


Namun gocekan tim asuhan Arsene Wenger © dan Pep Guardiola tak mampu menyita fokusnya. Sepak bola cepat yang dimainkan terasa kurang greget. Terlalu banyak bola lambung dan umpan jauh yang sia-sia. Bahkan di menit ke 14 , Stering dengan mudah berhasil menaklukkan Cech melalui sepakan keras ke pojok gawang. 0 : 1.


"Van?" Ia akhirnya menelepon Devano. Tak ada pilihan lain. Meski awalnya sempat berniat memanfaatkan fasilitas butler service, namun diurungkan. "Di mana?"


"Baru selesai evaluasi dengan team, Pak."


"Bawain PS ke sini."


"Sekarang, Pak?"


"Tahun depan!" Gerutunya sedikit kesal. "Begini pakai nanya!"


Dan akhirnya Pocut memergoki mereka berempat sedang bermain game seru, padahal waktu sudah hampir menginjak dini hari.


"Anak-anak pasti capek. Mana besok mau ke Jogja." Pocut memberinya tatapan menuduh. "Mas apalagi. Bukannya istirahat malah melakukan hal yang nggak bermanfaat."


Ia hanya tersenyum sambil meraih bahu Pocut. Sama sekali tak memedulikan omelan pertama Pocut yang di telinganya justru terdengar bak pernyataan manis penuh cinta. Lebih tertarik untuk menanyakan hal yang menjadi fokus utamanya sejak naik ke lantai 25. "Sasa udah tidur?"


Pocut masih memberinya tatapan menuduh. "Jangan mengalihkan pembicaraan."


Namun sedetik kemudian mengangguk. Membuatnya semakin merengkuh bahu Pocut dalam-dalam.


"Eh, kamarnya di sana, Mas." Pocut menunjuk ke arah master room berada dengan mata terbelalak.


Tapi ia menggeleng. "Lebih aman di sini." Dengan segera memandu Pocut melewati lorong gelap menuju ruang private spa. Kemudian membuka pintunya lebar-lebar.


"Lumayan." Ia tersenyum puas saat melihat keadaan di dalam ruangan. Terdapat satu tempat tidur khusus spa, sebuah sofa, dan beberapa kursi.


Pocut menoleh dengan kening mengerut. Tapi menurut saja ketika ia membimbing masuk ke dalam ruang private spa. Kemudian menutup pintunya hanya dengan sentuhan satu kaki.


Klek!


Kemampuannya dalam menendang ternyata bisa diandalkan di momen sekrusial ini. Great job.


"Kasurnya terlalu kecil." Namun ia sontak menggeleng begitu memeriksa size tempat tidur yang pastinya tak akan muat untuk menampung mereka berdua. Mungkin cukup, tapi jauh dari kata nyaman karena tak mampu mengakomodir aktivitas yang hendak mereka lakukan. Absolutely right, yes? Seringainya dalam hati.


"Mas mau ngapain?" Suara Pocut terdengar keheranan. Namun ketika mata mereka beradu dan ia melempar senyuman penuh arti. Wajah Pocut mendadak bersemburat merah dan langsung mengalihkan pandangan ke sembarang arah. Gotcha.


"Sofa." Dengan sigap ia menunjuk ke pojok ruangan di mana tersimpan sebuah sofa berwarna putih yang nyaman. "Sip." Senyumnya langsung terkembang. "Perfect."


Kemudian beralih menatap Pocut. Mengulurkan tangan berusaha menyibak rambut hitam terurai yang gelombang di bagian ujungnya menutupi bahu. Bermaksud menyentuh leher selembut sutera. Kemudian membelainya perlahan dengan sedikit usapan lembut.


Bagi seorang pria yang pernah gagal total dalam berumah tangga, apa yang saat ini digenggamnya lebih dari sekedar layak untuk disebut sebagai anugerah. Pocut memang bukan sosok sempurna. Begitupula dirinya. Namun kejernihan hati dan ketulusan yang dimiliki Pocut telah berhasil menenteramkan batinnya. Tanpa kecuali. Satu hal yang selama ini dicari.


"Daripada harus di bathtub," selorohnya berupaya mencairkan suasana karena ekspresi wajah Pocut berubah menegang.


"Dingin." Ia mendecak. Kamar mandi sebagus apapun bentuknya dan secanggih manapun bukanlah tempat menarik untuk merayakan cinta. Apalagi ini akan menjadi saat pertama bagi mereka berdua. Alangkah baiknya jika memilih suasana yang nyaman dan cukup empuk. Itu baru benar.


Ia meraih sejumput rambut yang tergerai menutupi bahu. Lalu menciuminya dalam-dalam sembari menghirup aromanya. Wangi. Keharuman yang begitu menyenangkan membuat hati semakin berbunga-bunga.


Kemudian ia menggapai tubuh indah di hadapan ke dalam pelukan. Menenggelamkan wajahnya ke sepanjang rambut hitam yang tergerai hingga punggung. Menikmati betapa detik demi detik sangatlah berharga. Merasakan setiap perubahan reaksi Pocut sekecil apapun. Dari yang semula sangat kaku, perlahan namun pasti mulai mengendur. Terlebih setelah ia menyapukan wajah menelusuri leher selembut sutera. Bisa dipastikan jika pemilik paras menawan ini telah 100% menyerahkan diri padanya. Hingga ia pun harus mengeratkan lengan mengelilingi pinggang ramping dalam rengkuhan agar jangan sampai terjatuh.


Rasanya sudah terlalu lama ia tak menikmati sensasi semenggelora ini. Mengingat kapan terakhir kali mengalaminya pun sulit. Bahkan lupa. Alangkah indahnya se--


Namun suara tangisan anak-anak yang terdengar berjalan mendekat membuat telinganya mendadak awas. Membuyarkan dorongan hasrat di ujung tanduk yang dalam sekejap mendadak hancur berkeping-keping.


"Mama! Huhuhu!"


Dan itu adalah lonceng kematiannya. Tangisan dan teriakan Sasa memanggil-manggil nama orang dalam rengkuhan.


Pocut, yang pipinya bersemu merah memberikan tatapan sayu penuh penyesalan. "M-maaf."


Ia sempat menyentuhkan diri sekilas sebelum melepas pelukan dengan berat hati. Lalu melangkah panjang-panjang untuk membuka pintu. Matanya langsung menangkap bayangan Sasa yang dituntun Icad tengah berjalan di lorong gelap seperti sedang mencari-cari seseorang.


"Sasa nangis nyariin mama," ujar Icad dengan wajah sungkan.


"Sini." Ia melambai meminta Sasa agar mendekat. Lalu membimbing gadis cilik yang terisak-isak itu menemui Pocut.


"Sasa?" Pocut langsung memeluk Sasa. "Kenapa bangun?"


"Sasa mimpi buruk. Semuanya gelap nggak bisa lihat apa-apa." Sasa menyembunyikan wajah di dada Pocut sambil berlinang air mata.


"Beneran harus nunggu besok," kekehnya pahit seraya mengusap puncak kepala Sasa. Lalu meraih bahu Pocut dan membimbing ibu anak itu meninggalkan ruang private spa menuju master room.

__ADS_1


Wajah menyesal Pocut terus menerus memandanginya tak enak. Namun ia membalas dengan kecupan singkat di kening. Alright, wifey.


"Sasa tidur yang nyenyak." Ia menepuk-nepuk bantal yang akan ditiduri oleh Sasa. "Jangan sampai besok ketinggalan pesawat."


Sasa yang sedang mengucek mata tak menjawab. Sementara Pocut menatapnya khawatir. "Mas mau ke mana?"


"Tenang aja, bukan main PS." Ia tertawa sumbang. "Mau nonton MU lawan Spurs."


***


Sasa


Ia menyukai om Tama lebih dari siapapun. Karena selain memiliki wajah ganteng (matanya tiba-tiba membeliak sambil menutup mulut dengan kedua tangan. Sssttt ... jangan bilang-bilang mama, ya) dan baik. Om Tama juga selalu bersikap menyenangkan. Sama seperti yahbit. Tapi pada akhirnya, ia lebih menyukai om Tama dibandingkan yahbit. Mungkin karena ia sudah merasa bosan dengan yahbit. Hihihi ....


Ia juga selalu membayangkan, andai memiliki ayah seperti om Tama. Pasti sangat menyenangkan. Dunianya akan semakin berwarna-warni seperti kisah Rainbow Ruby di desa pelangi.


Tapi, ketika impian menjadi kenyataan. Saat semua orang tersenyum lebar dan memberinya ucapan selamat dengan kalimat yang hampir sama satu dengan lainnya.


"Selamat Sasa cantik, punya ayah baru."


"Wah, sekarang Sasa udah jadi anaknya pak Tama."


"Sasa mimpi apa bisa punya ayah sekeren pak Tama?"


Tiba-tiba saja ia berubah pikiran. Apalagi ketika memergoki om Tama sedang berdiri di balik pintu kamar mama. Lalu melihat mama tidur dalam pelukan om Tama. Rasanya tak mau dan tak ingin mama dekat dengan orang selain dirinya. Ia merasa, om Tama yang awalnya menyenangkan sekarang berubah menyebalkan. Om Tama akan merebut mama darinya. Tidak boleh.


"Sasa kenapa sekarang jadi suka nangis?" Tanya mama ketika om Tama sudah keluar kamar. "Biasanya baik, kok. Nggak pernah nangis."


"Kalau Sasa nangis, orang nggak akan ngerti yang Sasa mau." Mama memberi tatapan peringatan. "Sasa bisa bilang baik-baik kalau ada yang nggak disukai."


Ia hanya merengut sambil menundukkan kepala.


"Sasa lupa dengan yang pernah Mama bilang?"


Ia menggeleng. Tapi dengan kepala tetap menunduk. Mengingat dongeng yang sering diceritakan mama tiap menjelang tidur. Tentang anak-anak pemberani yang disayang Allah. Berani jujur, berani berbuat baik, berani berbagi.


"Meski sekarang sudah ada om Tama dan mas Reka, Mama tetap sayang sama Sasa." Mama membelai kepalanya lembut.


"Iya ... tapi Sasa nggak mau tidur sendiri." Ia memberengut kesal. "Sasa nggak bisa tidur kalau nggak sama Mama."


"Sekarang kan Sasa udah tidur sama Mama. Tapi tetep nangis?"


"Waktu Sasa bangun gara-gara mimpi buruk, Mamanya nggak ada!"


"Jogja itu di mana, Ma?" Ia bertanya sambil menyembunyikan wajah di ketiak mama. Hmm, rasanya nyaman dan menyenangkan.


"Di tengah-tengah pulau Jawa," jawab mama seraya mengusap punggungnya.


"Jauh nggak, Ma?"


"Nggak terlalu jauh, tapi juga nggak dekat."


"Mama pernah ke sana?"


"Belum." Mama tertawa.


"Kenapa besok nggak ikut aja?" Ia mendongak menatap mama. Merasa menemukan ide. "Kasihan kan Mama ... belum pernah ke Jogja. Ikut ya, Ma?"


Mama kembali tertawa. "Mama harus menemani om Tama di sini."


"Kenapa orang segede om harus ditemani segala? Berarti om penakut dong, Ma? Hihihi ...."


"Bukan ditemani karena om penakut." Mama menggeleng tak setuju. "Tapi karena sekarang ... mama sudah jadi istri om."


Ia memberengut. "Om manja. Pakai ditemani segala. Sasa yang anak kecil aja berani."


Mama membelai rambutnya. "Besok Sasa perginya rame-rame. Sama Lana, mas Arka, kak Yasa."


Ia masih cemberut.


"Sama Dekgam juga." Mama tersenyum lebar. "Pasti seru. Sudah, sekarang tidur. Mulutnya dikunci." Mama memutar jari di depan mulut menirukan gerakan mengunci pintu.


"Kuncinya dibuang jauh-jauh." Mama seolah sedang membuang kunci dengan melemparkannya.


Ia tetap cemberut tapi tak mengatakan apa-apa lagi. Kembali menyembunyikan wajah di ketiak mama. Sementara mama membisikkan doa sebelum tidur di telinganya. Lalu mencium rambutnya sembari berkata, "Sayaaaaang Sasa, anak salihah."


Ia tersenyum senang. Sasa juga sayaaang sama mama. Sayang sampai setinggi langit.


***


Tama


"Titip anak-anak."

__ADS_1


"Siap, Mas." Cakra mengangguk.


"Jangan ragu nelepon kalau ada masalah."


"Semoga nggak ada, Mas." Cakra tersenyum sambil mengulurkan tangan. "Pamit dulu."


Ia menyalami sambil menepuk bahu Cakra.


"Dah, Papa." Umay yang telah berjalan di selasar sengaja berbalik hanya untuk melambaikan tangan.


"Dah, Umay. Have fun." Ia membalas lambaian tangan Umay. Sambil memandangi punggung Reka dan Icad yang berjalan menjauh. Kemudian beralih pada Sasa yang masih memeluk Pocut.


"Yuk, berangkat, yuk." Dara mengusap puncak kepala Sasa. "Pesawatnya udah nunggu, tuh."


Sasa tak menangis. Tapi berwajah murung. Membuatnya meraih Sasa ke dalam gendongan. "Mau Papa antar ke lift?"


Sasa tak menjawab ataupun mengangguk. Tapi ia tetap menggendong Sasa keluar suite. "Dadah dulu sama mama."


Sasa menurut. Melambaikan tangan dengan lemas.


"Selamat piknik, Sasa." Pocut membalas lambaian tangan Sasa. Istrinya itu terlihat menutupi kekhawatiran dengan tersenyum.


"Kalau Sasa baik," bisiknya ketika melangkah di selasar menuju lift. "Nanti Papa kasih hadiah."


Mata Sasa yang awalnya sayu, kini mulai bersemangat.


"Kalau Sasa baik," ulangnya. "Nggak nangis, nurut sama om ... maksud Papa, nurut sama yahbit dan tante Anja. Pulang dari Jogja kita beli hadiah pilihan Sasa."


"Sasa boleh milih sendiri?" Sasa menatapnya tak percaya.


Ia mengangguk.


"Yang harganya lebih dari dua puluh ribu juga boleh?"


Ia tertawa sumbang mendengar Sasa mengatakan hal yang sama seperti kali pertama ia membelikan mainan setahun lalu. "Yang harganya berapapun asal Sasa suka."


"Beneran?" Mata Sasa membola.


Ia mengangguk sambil mengulurkan kepalan tangan untuk diadu sebagai tanda kesepakatan. "Janji."


"Nanti mama marah." Sasa mengerut. "Mama bilang, boleh beli mainan tapi yang harganya nggak sampai dua puluh ribu."


"Kalau gitu jangan bilang mama," bisiknya dengan gaya misterius. "Ini rahasia kita berdua."


Sasa tertawa sambil membekap mulutnya sendiri.


"Deal?" Ia kembali mengulurkan kepalan tangan.


Sasa mengangguk. Tapi tak menyambut kepalan tangannya. "Bukan gini, Om."


Sasa membuka kepalan tangannya lalu meraih jari kelingking dan menautkannya. "Deal. Hihihi ...."


"Kok masih manggil om?" Ia pura-pura protes.


"Terus manggilnya apa?"


"Papa kayak bang Umay, boleh. Atau ayah kayak mas Reka juga boleh." Ia menghentikan langkah karena telah sampai di depan pintu lift.


Sasa terlihat berpikir. "Papa aja kayak bang Umay, Om."


"Kok om lagi?" Ia mengerutkan dahi.


"Oh iya lupa, hihihi ...." Sasa menutup mulut dengan kedua tangan. "Pa ... pa ...."


Ia mengacungkan jempol. "Bagus."


Lalu menurunkan Sasa dari gendongan karena pintu lift telah terbuka.


"Yuk sama Tante." Dara meraih tangan Sasa dan menggandengnya memasuki lift.


"Terimakasih Sasa, sudah jadi anak baik." Ini adalah kalimat yang dirancang Dara ketika menjemput anak-anak ke suite mereka sepuluh menit yang lalu. Dan ia berhasil mengucapkannya dengan fasih.


"Have fun, ya." Ia melambaikan tangan.


Sasa tersipu. Dan sebelum pintu lift menutup sempurna, ia sempat mendengar Sasa berseru. "Dadah, Papa."


Ia kembali ke suite dengan langkah panjang dan hati dipenuhi sukacita. Menemui Pocut yang terkesiap melihat kemunculannya di depan pintu.


***


Keterangan :


©. : Not in real time ya readers tersayang. Harap maklum adanya. Anggap saja Arsenal masih dipegang Aki Wenger. Secara pelatih paling legendaris. 22 tahun menggawangi The Gunners 😘.

__ADS_1


Butler service : fasilitas premium yang diberikan oleh hotel untuk menyediakan pelayanan terhadap klien secara pribadi.


__ADS_2