
Jakarta
Pocut
Ia sempat berprasangka buruk Tama akan melanggar janji. Terutama setelah seseorang yang mengaku dari kantor Resor bernama Devano, memesan takjil dengan cara cukup memaksa.
Namun terhitung sebanyak dua kali ia menyambangi kantor Resor, tak pernah sekalipun bertemu dengan Tama. Atau sekedar melihat bayangan pria itu sepintas lalu. Tama bagai hilang ditelan bumi.
Membuatnya memberanikan diri untuk mencari tahu dengan bertanya pada Devano. Yang tiap kali ia datang ke kantor selalu mengikuti setiap langkahnya. Mengawasi setiap gerik yang dilakukannya. Seolah ia adalah target berbahaya yang harus selalu dipantau.
Dan jawaban yang diberikan Devano cukup mengejutkan, "Pak Tama sedang sibuk sekali, Bu. Tadi sore terbang ke Surabaya karena ibu mertuanya meninggal dunia."
Kilasan ingatannya tentang pertemuan dengan Kinanti, mantan istri Tama di rumah almarhum Pak Setyo tempo hari kembali menyeruak ke permukaan. Tentang bagaimana canggungnya mereka bertiga saat duduk dalam satu meja yang sama.
"Jadi ... ibu tidak bisa bertemu dengan beliau hari ini," imbuh Devano.
Ia mendesah tak percaya, "Saya bukannya ingin bertemu ...."
"Iya, Bu," Devano buru-buru mengangguk. "Ibu memang nggak ingin bertemu. Tapi Pak Tama yang ingin bertemu dengan Ibu."
Yang benar saja. Bagaimana mungkin Tama mengumbar hal seperti ini kepada orang lain?
"Mungkin ... Ibu ada pesan untuk Bapak?" Devano memandangnya dengan mimik serius. "Nanti saya sampaikan saat beliau kembali ke kantor."
"Tidak ada," jawabnya cepat. "Terima kasih."
Sebenarnya ia ingin mengatakan pada Tama untuk pergi menjauh saja. Jangan menempatkannya di posisi yang sulit. Termasuk menjauhi anak-anaknya terutama Sasa. Jangan sampai putri kecilnya itu memiliki rasa terlampau dalam. Pasti akan sangat mengecewakan jika suatu saat kenyataan tentang perbedaan strata di antara mereka mengemuka.
Ia ingin Tama segera kembali ke tempat semula. Menjalani hidup mereka masing-masing seperti sebelumnya. Anggap saja mereka tak pernah bertemu, seperti dua orang asing yang tak saling mengenal.
Ia juga berharap Tama tak pernah mencoba untuk terus mendekat. Karena ia benar-benar tak tahu jawaban apa yang harus diberikan, jika Tama masih saja bersikeras.
Sebab ia ingin berjumpa kembali dengan Bang Is kelak. Berkumpul di jannah (surga)-Nya. Tak pernah menginginkan orang lain menemani sisa hidupnya. Sudah cukup ketiga anaknya menjadi penghibur hati dan cahaya mata. Sumber kebahagiaannya.
Namun terkadang, apa yang diinginkan tak selalu sejalan dengan kenyataan.
"Tadi siang Anjani nelepon," ucap mamak sepulang dari mengikuti pengajian di madrasah milik ustadz Arif. Ketika ia sedang menarik gagang mesin press. Untuk menutup gelas berisi es timun serut pesanan dari kantor Kecamatan.
"Besok kita diundang ke rumah Bu Niar untuk acara keluarga."
Ia menelan ludah. Sembari menarik tempat gelas berisi es timun serut yang sealnya telah tertutup rapat dengan gugup.
"Besok ada berapa banyak pesanan?" Tanya mamak sambil mendekat. Lalu menghitung jumlah gelas berisi es timun serut yang telah berjajar, siap untuk dikemas.
Ia kembali menelan ludah. Berusaha mengingat jadwal pemesanan, "Hanya pesanan dari bunda Salma dan Bu bidan Karunia."
"Selesaikan sebelum waktu ashar," gumam mamak seraya membantu memasukkan gelas yang telah tertutup rapat ke dalam box kontainer.
"Sesudah ashar, kita langsung pergi ke rumah Anjani," sambung mamak lagi membuatnya mengembuskan napas panjang.
"Aku di rumah saja," ujarnya memberanikan diri. Sebab, pergi ke rumah Anjani berarti bertemu dengan Tama. Padahal ia sedang berusaha menghindar. Belum siap jika mereka harus bertemu secepat ini. Terlebih di acara keluarga.
Mamak tersenyum seraya menepuk bahunya, "Kita semua yang akan pergi."
Ia menatap mamak berusaha memohon. Sebab ia benar-benar tak ingin bertemu dengan Tama. Pria itu selalu berhasil membuat hati, pikiran, dan responnya kacau balau. Ia tentu tak ingin memperlihatkan kegelisahan hati di hadapan anak-anak dan keluarga Bu Niar. Tidak boleh.
Mamak masih tersenyum. Kali ini sembari mengusap rambutnya dengan penuh kasih. Lalu mengucap kalimat yang membuat hatinya mencelos,
"Mungkin ... ini adalah kesempatan yang bisa menjawab kegelisahan. Kita tak bisa terus lari dan bersembunyi bukan?"
Keesokan hari, mamak sendiri yang memasak kue bingkang tepung untuk dibawa sebagai buah tangan ke rumah Anjani. Kue yang memiliki tekstur lembut dan manis seperti kue lumpur ini, menjadi salah satu menu favorit yang banyak dipesan untuk berbuka.
Tapi ia terkejut saat mendapati mamak sedang memblender daun pandan, "Untuk apa, Mak?"
"Kita buat bingkang pandan," jawab mamak seraya mematikan blender lalu menyaring airnya. "Terlihat lebih cantik dan kaya rasa."
Ia langsung menelan ludah. Mendadak teringat pada kue yang dipesan Tama saat mereka sedang berada di Mall. Pandan gula merah. Hanya kebetulan, batinnya menenangkan diri sendiri.
Sementara Umay dan Sasa menjadi yang paling antusias saat mengetahui jika mereka akan pergi ke rumah Dekgam. Bahkan sampai melupakan tidur siang, saking asyiknya mengobrol tentang bagaimana nanti di rumah Dekgam.
"Asyiiik ... mau ketemu Dekgam. Yeyeyeyeye!" Girang Sasa yang sedang duduk di depan televisi bersama Umay. Saat ia tengah memasukkan kue timphan ke dalam kotak snack pesanan bunda Salma.
"Aku udah kangen banget tahu, Bang ... sama Dekgam," sambung Sasa dengan penuh semangat. "Udah berapa tahun kita nggak ketemu Dekgam, Ma?"
Mau tak mau ia jadi tertawa, "Dua minggu lalu Dekgam baru tidur di sini, Sasa. Belum bertahun-tahun."
__ADS_1
"Kayaknya lama banget." Tapi Sasa tak mau kalah. "Udah segendut apa ya Dekgaaaam ... hihihi ... pingin cubit pipi embulnya ...."
"Jangan dicubit." Ia menggeleng tak setuju. "Disayang saja."
Sasa tak menjawab. Malah cekikikan sendiri. Mungkin sedang membayangkan kelucuan Dekgam.
"Kalau aku ... kangen pasang Lego bareng Yah bit," timpal Umay, dengan mata tetap melotot ke arah layar televisi.
"Memang ada Yah bit di rumah Dekgam, Ma?" Sasa menoleh ke arahnya.
"In syaAllah ada," angguknya cepat. Sembari menyusun kotak snack yang telah berisi tiga macam takjil ke dalam kardus. "Yah bit sekarang masih di perjalanan dari Bandung. Nanti kita ketemu di rumah Dekgam."
"Kalau om?"
Tangannya yang sedang menyusun kardus mendadak terhenti.
"Om ada di sana juga, Ma?" Tanya Sasa seraya terus menatapnya.
"Oiya ...." Pekik Umay seperti teringat sesuatu. "Kita bisa ketemu sama om polisi lagi nggak, Ma?"
Tangannya masih menggantung di atas kotak snack terakhir. Menghela napas panjang lalu mengembuskannya perlahan. Kepalanya mendadak terasa pusing saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Sasa dan Umay.
"Bang," seru Sasa tanpa menunggu jawaban darinya. "Ustadzah Mutia bilang, bulan puasa itu bulan dikabulkannya doa." ©
"Mending sekarang kita berdoa biar bisa ketemu sama om di rumah Dekgam," sambung Sasa antusias.
"Wah ... Sasa pinter sekarang," gumaman Umay terdengar takjub campur tulus. Namun justru membuat pusing di kepalanya kian bertambah.
Dan ketika ia tengah menyimpan box berisi bingkang pandan yang masih mengepulkan uap tipis, Sasa yang baru selesai mandi keluar dari dalam kamar dengan senyum terkembang.
Ia balas tersenyum ke arah Sasa. Yang semakin hari semakin mandiri. Tak harus dilayani semua keperluannya.
"Sasa pilih baju sendiri, Ma," Sasa menubruk pinggangnya. Lalu menggelayut manja melingkarkan kedua lengan. "Baju princess hadiah dari om."
Senyumnya langsung menguap begitu mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Sasa.
"Sa ...." Gumamnya gelisah seraya mengusap rambut Sasa yang masih setengah basah dan belum di sisir.
"Omnya pasti sibuk. Kalau nanti nggak ketemu ... Sasa nggak boleh ngambek ya," ujarnya sembari mengembuskan napas panjang. Benar-benar berharap mereka takkan bertemu petang nanti.
Sasa mengangguk hingga kepala mungil itu menyentuh ulu hatinya, "Iya, Ma. Sasa nggak akan ngambek."
Ia kembali mengusap rambut Sasa dengan masygul. Keberadaan Tama di mata Sasa sudah terlampau dalam. Ia tentu harus segera menghentikannya. Sebelum semua terlambat.
Kini, saat ia tengah menusukkan jarum pentul ke lipatan hijab di samping dahi, terdengar suara orang datang bertamu.
"Yeee ... dijemput sama Pak Cipto," pekikan riang Sasa terdengar hingga ke dalam kamar. "Mama ... cepetan ... udah dijemput sama Pak Cipto."
"Padahal tidak perlu repot-repot," ujar mamak, ketika ia tengah memasang bros berbentuk mutiara yang menjadi favoritnya selama ini.
"Tadinya mau dijemput sama Den Cakra," jawab pak Cipto. "Tapi barusan banget ... Den Cakra baru datang pakai kereta dari Bandung. Jadi saya yang disuruh jemput sama Bu Niar."
Sasa dan Umay tak henti-hentinya berceloteh di sepanjang perjalanan mereka menuju ke depan gang. Sesekali sambil bercanda dan tertawa-tawa riang dengan Pak Cipto. Ah, Sasa memang mudah akrab dengan semua orang. Berbeda dengan Icad. Putra sulungnya itu selalu menjaga jarak terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk dekat dengan orang lain.
"Om ada, Pak Cipto?" Tanya Sasa yang kegirangan, sebab boleh duduk di kursi paling depan bersama dengan Umay.
"Om siapa?" Pak Cipto yang mulai melajukan kendaraan terlihat bingung.
"Om Sada?" Tebak pak Cipto kemudian. "Adanya Neng Dara sama anak-anaknya. Baru datang dari Jogja tadi siang."
"Mungkin Om Sadanya nanti menyusul," sambung pak Cipto.
Tapi Sasa langsung menggeleng, "Bukan om ayah Lana, Pak Cipto. Tapi om yang satu lagi."
"Oh ...." Pak Cipto tertawa. "Om Tama?"
Sasa mengangguk dengan penuh keyakinan, "Iya ... om yang itu. Sasa lupa namanya hihihi ...."
Pak Cipto menggeleng, "Tadi sih belum ada."
"Yah ...." Sasa terlihat kecewa.
"Tenang aja, Sa," timpal Umay. "Kan kita tadi udah berdoa. Tinggal tunggu hasilnya."
Sasa kembali mengangguk sambil tersenyum lebar, "Iya ya, Bang. Sasa sabar kok nunggu doanya terkabul."
__ADS_1
"Doa apa?" Pak Cipto menoleh ke arah Sasa bingung.
Membuatnya buru-buru berdehem, "Sasa, Umay! Jangan ajak bicara Pak Cipto terus. Bahaya sedang menyetir."
"Iya, Ma," Sasa menjawab patuh. Tak lagi mengajak ngobrol Pak Cipto. Asyik berceloteh bersama Umay. Menghitung jumlah kendaraan yang mereka dahului. Menebak nama toko dan bank yang terlewati. Membaca papan reklame besar yang dijumpai. Seolah tiada habisnya bahan obrolan yang dipunyai Sasa juga Umay. Mengalir seperti air sungai yang jernih.
Sementara ia hanya bisa menelan ludah berkali-kali. Merasa gelisah sebab sudah hampir sampai ke rumah Anjani. Sedangkan mamak dan Icad yang duduk di samping kanan kirinya juga terdiam memperhatikan jalanan. Tak ada yang berminat untuk angkat bicara.
Perasaannya semakin gelisah, tatkala mobil yang mereka tumpangi mulai memasuki halaman depan rumah Anjani. Dan mendapati kendaraan bernomor polisi khusus yang cukup dikenal, telah terparkir di depan garasi.
Semoga hanya kendaraan yang mirip, batinnya berusaha menenangkan diri.
"Itu Lana! Ada Lana!" Pekik Sasa yang melihat Lana sedang bermain sepeda di halaman. "Asyiiik ada Lana!"
Begitu Pak Cipto mengentikan mobil, Umay dan Sasa langsung menghambur keluar. Tak memedulikan mereka yang duduk di kursi belakang. Langsung berlari menghampiri Lana sambil berseru riang.
"Umay! Sasa! Hati-hati!" Ia berusaha mengingatkan. Tapi Umay dan Sasa pasti tak bisa mendengar suaranya. Sebab sudah asyik mengobrol dan tertawa cekikikan dengan Lana.
Ia berjalan menuju teras beriringan bersama mamak dan Icad. Membawa box berisi bingkang pandan yang masih hangat. Namun sebelum berhasil mencapai teras, Lana berlari menghampiri mereka bertiga hanya untuk memberi salam.
"Anak cantik dan pintar," gumam mamak saat mendapati kesantunan pada diri anak sekecil Lana.
"Lana ... kapan datang ke sini, sayang?" Ia tersenyum seraya mengusap kepala gadis kecil seusia Sasa itu.
"Tadi siang," jawab Lana sambil lalu. Kembali berlari menghampiri Umay dan Sasa yang menunggu di halaman.
Mamak dan Icad lebih dulu berjalan menuju ke teras. Di mana Anjani yang tengah menggendong Aran tiba-tiba keluar dari dalam rumah dan menyambut kedatangan mereka.
"Wah ... nenek udah datang," seru Anjani riang. "Ada Cutbang juga."
Sementara ia memilih untuk mengurungkan langkah. Tak mengikuti mamak dan Icad yang kini sudah mulai menggoda Aran, "Makin gembul aja nih Dekgam."
Berusaha memanggil Umay dan Sasa agar memberi salam terlebih dahulu sebelum kembali bermain, "Umay! Sasa!"
"Poya ... sini Popoya ...." Anjani ikut berseru memanggil Sasa. "Cutngoh ... udah ditunggu sama Kak Yasa tuh di dalam. Buruan sini."
Umay dan Sasa langsung mengerubuti Anjani dan tertawa-tawa. Sementara ia meminta Icad untuk membantu memegangi box bingkang pandan. Lalu mengambil alih Aran dari gendongan Anjani.
"Awwa ... awwa ...." Aran mengangguk-angguk, seraya menunjuk wajahnya usai beralih dari gendongan Anjani.
Ia langsung tertawa mendengar sebutan Aran untuk dirinya, "Pintar sekali Dekgam. Ingat sama Nyakwa (sapaan untuk kakak perempuan ayah -Aceh-) ya? Coba lagi ... Ny a k w a ...."
Aran mengikuti ucapannya, lalu terkekeh-kekeh geli karena ia keburu menciumi pipi bayi lucu itu.
"Masuk, Mak ...." Anjani menggamit lengan mamak untuk masuk ke dalam rumah. Diikuti oleh anak-anak juga dirinya.
Icad yang membawa box berisi bingkang pandan. Umay yang sibuk meledek Sasa dan Lana yang sedari tadi asyik cekikikan berdua. Sementara ia menggelitiki perut Aran dengan menciuminya.
"Ada Yah bit lho di dalam ...." Bisik Anjani seolah itu adalah hal paling rahasia.
"Sasa kangen kan sama Yah bit? Sama dong ... Tante Anja juga kangeeeen banget sama Yah bit," sambung Anjani membuat dirinya dan mamak tertawa seraya menggelengkan kepala. Anjani dan Agam, statusnya saja sudah berkeluarga dengan satu anak. Tapi tingkah laku mereka berdua masih seperti anak sekolah yang baru mengenal cinta.
Sasa dan Lana masih sama-sama cekikikan sendiri. Sama sekali tak mendengarkan curhatan terselubung Anjani.
"Eh ... itu Yah bit ...." Seru Anjani, begitu mereka melewati ruang tamu dan langsung masuk ke ruang tengah.
Mendapati Agam yang sedang duduk di ruang tengah, sedang mengobrol bersama Bu Niar, Dara dan ....
"Oii ... pasukan datang nih!" Sambut Agam begitu melihat kehadiran mereka. Langsung bangkit dari sofa, kemudian berjongkok sambil merentangkan tangan lebar-lebar ke samping. Bersiap menyambut Sasa, yang biasanya akan berlari menghambur memeluk Yah bit kesayangannya.
Tapi Sasa justru menghentikan langkah. Tak langsung menyambut rentangan tangan Agam. Terdiam sejenak dengan mata berbinar. Seperti mendapati sesuatu yang begitu diidamkan.
Sebelum akhirnya Sasa berlari menghambur secepat kilat. Namun melewati Agam begitu saja. Untuk memeluk pria yang berdiri tepat di belakang Agam.
"Wah, Sasa salah orang nih ...." Seloroh Agam yang tak mampu menutupi keterkejutannya.
Juga bu Niar, Dara, Anjani, mamak, termasuk dirinya. Semua orang terkejut bahkan terpaku. Sebab tak pernah ada yang menyangka, jika Sasa lebih memilih untuk menubruk Tama dengan penuh suka cita. Daripada menyambut Yah bitnya sendiri.
***
Keterangan :
© : “Ada tiga golongan yang tidak ditolak doanya, yaitu orang berpuasa sampai berbuka, pemimpin yang adil dan orang yang dizalimi.” (Hadits riwayat Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Namun, perlu digarisbawahi bahwa sejatinya manusia hanya dapat meminta dan berikhtiar, selebihnya Allah yang akan mengaturnya.
__ADS_1
Doa yang terkabul bukanlah doa yang menjadi kenyataan sesuai apa yang kita harapkan, namun lebih dari itu.
Dari Abu Said, Rasulullah bersabda, “Tidaklah seorang Muslim berdoa kecuali Allah akan memberikan salah satu di antara tiga perkara ini : bisa dengan disegerakan mewujudkan permintaannya, atau bisa juga ditabungkan di akhirat, atau Allah memalingkan dia dari musibah yang sepadan dengan doa yang ia minta.” (Hadits riwayat Ahmad) (sumber : iispsm.sch.id).