Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 110. Hitam Pekat Luka


__ADS_3

Jakarta


Yuni


Ia sedang membantu bu Pocut menata isi piring jamuan untuk pengajian sore hari ini ketika mendengar suara gaduh di ruang tengah. Tak biasanya bu Pocut menelepon dengan suara keras dan terdengar panik.


“Sekarang Risyad di mana, Bu?”


Ia hampir beranjak kembali ke dapur untuk menyelesaikan menata piring jamuan. Namun raut ketegangan yang terpancar dari nenek aden dan ustadzah Mutia membuatnya memberanikan diri mendekati sofa ruang tengah di mana bu Pocut sedang memandangi layar ponsel dengan wajah pucat.


“Bu guru bilang, tagi pagi juga ada petugas datang ke sekolah mau menjemput abang. Tapi abang sedang ikut ke kantor dinas ….” Bu Pocut berbicara dengan nada cepat sembari terus memandangi layar ponsel. “Ada seremoni untuk peraih medali olimpiade.”


“Sekarang Icad ada di mana?” Tak biasanya nenek aden bertanya dengan nada memburu.


“Ada sama bu guru,” jawab bu Pocut yang tangannya terlihat gemetaran saat menyentuh layar ponsel. “Sedang diantar menuju kemari. Abang tadi ikut acara syukuran guru-guru pembimbing olimpiade. Jadi baru pulang sore. Harus mengantar siswa lain yang rumahnya jauh.”


“Alhamdulillah ….” Nenek aden dan ustadzah Mutia mengucap syukur bersamaan.


“H-halo, selamat sore?” Bu Pocut kembali berbicara melalui ponsel dengan suara bergetar. “D-dengan wali kelas Gemintang Rekata?”


Ia mendadak tercekat mendengar sederet pertanyaan bernada panik yang diucapkan bu Pocut dengan terburu-buru.


 “Ibu ….” Ujarnya merasa bingung dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi, namun merasa harus memberitahu info penting yang sempat luput. “Tadi sebelum Dhuhur ada ojek yang mengantar tas mas Reka.”


“Astaghfirullahaladzim ….” Kali ini bu Pocut, nenek aden, dan ustadzah Mutia sama-sama beristighfar. Bu Pocut bahkan mengucap berkali-kali mengiringi setiap jejak langkahnya yang tergopoh-gopoh mengambil tas ransel warna hitam.


“Ini tas mas Reka ….”


Bu Pocut yang masih menelepon langsung lemas begitu menerima ransel. Ia jadi merasa bersalah mendapati reaksi penuh kekalutan sang nyonya. “M-maaf, ada apa ya, Bu?”


Wanita cantik berwajah pucat seperti mayat hidup di hadapannya hanya terdiam sembari memeluk ransel hitam pemberiannya dengan air mata berlinang.


***


Reka


“Bangun!”


Ia merasa sangat mengantuk dan masih ingin terlelap ketika sayup-sayup terdengar suara teriakan.


“WOI!”


Sekujur tubuhnya pegal campur kebas ketika seseorang menginjak dan menendang kakinya.


“BANGUN, TO LOL!”


Lengannya ditarik dengan kasar hingga terbangun dalam posisi duduk. Ini membuatnya menyadari kekuatan cengkeraman yang menyakitkan. Ia sontak memberontak berusaha melepaskan diri.


“HEH, LOL!” Seorang pria berwajah bulat berteriak hingga bau alkohol menyengat menampar-nampar kulit wajahnya. “BENTAR LAGI KITA CABUT!”


Ia mengucek mata yang terasa sepet. Mengerjap-ngerjap mengedarkan pandangan melihat sekeliling. “Dimana ini, Om?” Ia keheranan mendapati sedang berada di dalam ruangan sempit, kotor dan pengap mirip gudang hanya berhiaskan lampu bohlam redup. “Kenapa nggak ke kantor ayah?”


Pria berwajah bulat itu tiba-tiba menampar pipi kanannya dua kali.


Ia berusaha membalas tamparan dengan pukulan, namun pria berwajah bulat lebih dulu meringkus serta memiting kedua tangannya ke belakang.


“Ngelawan, gua pites lu!” bentak pria berwajah bulat yang ternyata bergigi ompong kiri, tepat di depan wajahnya. Bau alkohol menyengat kembali menyerang kedua matanya.


“Di mana ini, Om?” tanyanya begitu pria ompong kiri itu bangkit lalu beranjak menuju pintu. “Om siapa? Om-om yang tadi pakai seragam di mana?”


Namun pria tersebut lebih dulu keluar sambil membanting pintu hingga membuat dinding gudang yang kotor dan pengap bergetar.


“OM!” Ia berusaha meraih pintu dengan menyeret kaki yang terasa lemas. “BUKA!” Ia menggedor-gedor pintu sekuat tenaga. “OM! BUKA! OM!”


Ia memukul, menendang, menonjok, menggebrak namun tak ada yang menghiraukan. Ia baru berhenti berteriak dan memukul setelah seseorang melempar pintu dengan sebuah benda berat hingga menimbulkan suara berderak yang sangat keras.


“DIAM, TO LOL!” teriak orang di luar sambil menendang pintu.


Ia tersungkur lalu menggelosor ke lantai dengan perasaan lelah dan tubuh lemas. Kepalanya pusing, jantungnya berdegup kencang, napasnya memburu, dan lehernya sakit sekali. Ia mencoba mengingat-ingat kejadian sebelum berada di gudang asing yang kotor dan pengap ini.


Ia masih berada di ruang teater ketika pak Vanvan memanggil, lalu pak Dieter memberitahu jika ia harus segera pulang, kemudian pria berambut cepak yang mengulitinya dengan tatapan setajam silet melarangnya mengambil tas, mereka menuju mobil berwarna hitam, lantas pria beralis menyatu memukul kepalanya, lalu ….


Ia mulai mengatur napas kembali normal. Ia harus bisa berpikir jernih. Mikir, Reka. Mikir.


Pertanyaan pertama yang terlintas adalah, apakah ia diculik? Lalu siapa petugas kepolisian yang membawanya dari sekolah?


Ia menggeleng. Tidak mungkin.


Jika ia diculik, tak mungkin penculiknya anggota polisi. Tapi jika ini bukan penculikan, bagaimana bisa ia berada di gudang pengap ini bersama pria berwajah bulat ompong kiri yang menginjak dan menamparnya.


Sudah pasti penculikan.


Tapi mengapa? Apa alasannya? Apakah ayah sudah mengetahui masalah ini?


Ia masih memeras otak guna memecahkan misteri tentang apa yang sebenarnya terjadi, ketika lambat laun terdengar suara anak kecil yang terbatuk-batuk lalu merengek.


“Mama?”


Ia langsung mencari sumber suara. Rengekan sejenis ini seperti pernah didengarnya. Dan … ia terperangah begitu menyadari anak kecil berambut acak-acakan dengan pita pink di atas dipan lusuh reyot dan mulai terisak adalah ….


“Sasa?”


***


Kejora


Cowok jangkung atlet renang itu diculik!


Beritanya menyebar ke seantero sekolah seperti air bah tak berkesudahan.


“Pak Dieter ditelepon orang yang ngaku bokapnya si Reka. Makanya polisi gadungan bisa bawa Reka keluar dari sekolah.”


“Kok bisa? Daftar nama penjemput kan ada di database sekolah?”


“Pak Dieter kan guru baru, dia belom tahu kali, yang mana bokapnya Reka.”


“Unbelievable! Skenario cemen kek gini lolos.”


“Sekolah payah!”


“Haduh, sekolah kita ternyata nggak secure, yah. Kok bisa siswa jadi korban penculikan?”


“Oh My! Oh My! Skskskssk, gue jadi takut diculik juga secara bokap baru menang tender gede.”


“Ahay, jadi mini cooper yang lo pakai kemarin hadiah dari bokap abis menang tender?”


“Pakai ngaku dari sugdad segala.”


“Heh! Your language!”


“Flexing terosss.”


Ia hanya memperhatikan dari kejauhan bagaimana anak-anak ramai membicarakan tentang semua hal yang berhubungan dengan penculikan Reka. Ia lebih sibuk menenangkan Hira yang sejak awal tersebarnya berita penculikan, langsung berurai air mata tanpa henti.


“Our coolkas boy, huhuhu ….” Hira menangis seperti tak ingat hari esok. “Apa kabar, Reka? Semoga lo baik-baik aja di sana. Huhuhu … gue sad banget, Jor! Nggak ada penyemangat lagi dalam hidup gue. Hilang sudah harapan gue. Huhuhu!”


Ia menghibur Hira dengan mengatakan jika semua akan baik-baik saja (meski tak cukup yakin). Ayah Reka seorang polisi, para penculik itu pasti akan segera ditangkap.


Tapi Hira justru semakin tersedu. “Bokap Reka polisi, yang nyulik juga polisi, terus … kita harus percaya sama polisi yang mana, Jor? Huaaaa!”


“Alaah, caper bet lo, Ra!” seru Edgard yang dulu pernah berkelahi dengan Reka. “Badan gede, otak punya, gampang banget diculik? Kenapa nggak berontak? Kenapa nggak melarikan diri? Elah, plot twist banget kalau ternyata ntar kebukti drama penculikan settingan biar ngehitsss!”


“HEH! KURCACI!” Hira menjengit marah. “Kalau nggak bisa ngomong baik-baik, mendingan diem!”


“Otak lo ketinggalan di rumah makan padang, Gard?” sambar Abbey ikut emosi.


“Pas Tuhan bagi-bagi empati, lo nggak kebagian apa gimana, dah?” sambung Prue hingga memancing anak-anak yang lain ikut memojokkan Edgard.


“Botol kecap dikasih nyawa gini, nih.”


“Paan sih, lo! Asbun!”


“Ciee, si paling fandom!” Namun Edgard masih bisa tertawa-tawa nirempati, sebelum akhirnya melarikan diri dari kecaman anak-anak yang semakin menjadi. “Woilah! Gue diserang ras terkuat di muka bumi!”


Hari ketiga Reka diculik, anak-anak berinisiatif mengunjungi rumah cowok jangkung itu untuk memberikan dukungan pada keluarga yang tengah menanti kabar. Ia dan Hira bersama lima anak lain harus berdesakan menembus kerumunan wartawan yang bergerombol di balik pagar.


“Pemirsa, saat ini saya berada di depan kediaman Kombes Wiratama yang dua anaknya diculik tiga hari lalu ….”


“Kami melaporkan langsung kondisi terkini rumah korban ….”


“Kombes Wiratama Yuda merupakan putra dari mantan Wakapolri era presiden ….”


“Kasus penculikan ini menjadi tamparan keras bagi institusi Polri ….”

__ADS_1


“Kombes Wiratama Yuda diketahui tengah menangani kasus besar ….”


“Kami masih menanti press release selanjutnya dari Mabes Polri terkait penculikan anak seorang pejabat kepolisian berpangkat perwira menengah ….”


“Mba Samara … Mba Samara!” Keriuhan sontak mengitari kerumunan wartawan manakala seorang wanita muda berjalan keluar dari pintu gerbang rumah Reka. Seperti dengungan lebah yang berkumpul mengitari bunga.


“Mba, apa pendapat Mba sebagai mantan kekasih pak Wiratama setelah mengetahui berita penculikan ini?”


“Yang pasti saya datang ke sini untuk memberikan dukungan moril.” Wanita muda bergaya artis itu menyibak rambut panjangnya dengan gerakan menarik.


“Mba Samara, apakah memiliki firasat sebelumnya tentang penculikan ini?”


“Bagaimana keadaan istri pak Wiratama? Apa tanggapan beliau tentang penculikan ini?


“Ya, yang pasti shock, ya.” Wanita cantik yang berkali-kali menyibakkan rambut itu menjawab seluruh pertanyaan wartawan dengan teramat lancar. “Reka anak yang manis. Secara emosional kami cukup dekat selama kurun waktu menjalin hubungan dengan sang ayah. Penculikan ini mendatangkan trauma ….”


Ia melewati para reporter yang sedang melakukan siaran langsung sambil celingak celinguk. Sederet mobil yang terparkir di sepanjang jalan masuk menuju rumah bercat putih bersih itu semakin mempersempit area di sekitar. Begitu sampai di depan gerbang, mereka dihadang oleh dua petugas kepolisian.


“Siapa kalian? Mau ke mana?”


Mereka bertujuh dipersilakan memasuki halaman depan. Dari ruang tamu yang kaca jendelanya terbuka lebar-lebar terdengar sayup-sayup ibu-ibu sedang mengaji. Ketika ia dan teman-teman mulai kebingungan harus masuk ke ruang tamu atau tidak, seorang pria bertubuh tinggi yang menuntun bocah laki-laki ganteng, muncul dari balik pintu garasi sambil melambaikan tangan menyuruh mereka untuk mengikutinya.


“Saya Omnya Reka.” Pria berkaos putih itu memperkenalkan diri sambil memangku bocah ganteng yang sedang mempermainkan buku berbahan kain. “Terima kasih sudah datang ke rumah Reka. Mohon doa semoga ….”


Pria itu lantas memanggil seseorang dari ruang dalam ketika bocah ganteng mulai rewel melempar-lemparkan mainan. “Kalian ditemani Risyad, ya. Saya ke dalam dulu.”


***


Halmstad, Swedia


Kinanti


Ia baru menyelesaikan sesi lanjutan bersama Majken dan hendak mengemudi menuju City Gross ketika notifikasi grup alumni FK berdenting tiada henti. Ia bermaksud membuka ponsel setiba di rumah sepulang dari belanja groceries di City Gross, namun banyaknya orang yang menadai nomornya mengusik rasa penasaran.


Cinitra        : @Kinanti Haribawa, turut berduka sayang.


Aan the doc : Yang sabar ya @Kinanti Haribawa. Semoga anaknya cepat ketemu.


Is Wahyudi : Semoga Allah senantiasa melindungi Reka dan adiknya @Kinanti Haribawa.


dr. Ika          : Yang kuat ya @Kinanti Haribawa, sabar, ikhlas, berserah.


Namun ia menyesali keputusan membuka percakapan grup di parkiran City Gross. Sebab ia tak mampu mengendalikan diri manakala membaca pintasan berita yang menyebar di grup. Headline news yang membuatnya langsung histeris.


Dua Anak Perwira Menengah Kepolisian Diculik


Apakah Penculikan Anak Kombes WY Terkait Kasus Bailout yang Sedang Ditangani?


Hari Ketiga Penculikan Anak Kombes, Belum Ada Titik Terang


Reka dan Sasa, Pulanglah, Nak


Profil dan Sederet Prestasi Mentereng Kombes WY yang Dua Anaknya Diculik


“It’s okay, it’s okay.” Mas Pram yang tengah berada di klinik menyusul ke City Gross setelah dihubungi seorang pengunjung yang melihatnya histeris di parkiran. “Compose yourself. Everything gonna be alright.”


“MAS!” Setiba di rumah ia langsung menghubungi sang mantan suami. “BAGAIMANA MUNGKIN KAMU NGGAK MEMBERI KABAR REKA DICULIK?”


“REKA HARUS DITEMUKAN!”


“KAMU KAN POLISI! MENCARI ANAK SENDIRI MASA ENGGAK BISA!”


“Calm yourself, please.” Mas Pram berusaha memeluk dan mengingatkannya. “Ini akan jadi lebih buruk kalau kamu nggak bisa mengendalikan diri.”


“Kamu harus bertanggung jawab, Mas!” Ia terhempas ke dasar jurang paling menakutkan. “Reka harus ketemu dalam keadaaan sehat! Aku nggak akan pernah memaafkan kalau terjadi sesuatu sama Reka!”


“Aku kehilangan kepercayaan terhadap kalian!” Air matanya mulai berderai. “Kalian nggak pantas disebut sebagai orang tua! Aku, ibu kandung Reka, nggak akan pernah rela jika sesuatu yang buruk terjadi!”


Mas Pram mengeratkan pelukan sembari berbisik mengingatkannya agar tak semakin menjadi. Suaminya itu bahkan merebut ponsel dari tangannya dan mengambil alih pembicaraan dengan Tama ketika ia semakin tak terkendali mengumbar sumpah serapah.


“Kami ke Jakarta secepatnya.” Mas Pram mengakhiri kemarahannya dengan satu kalimat singkat. Namun terasa seperti kesejukan air menyiram bara. “Kami tunggu kabar baik dari kalian.”


***


Tama


Rasa takut dalam diri ternyata sangat menakutkan. Serupa rasa tak terkendali. Lebih kelam dari kegelapan malam. Lebih pekat dari seluruh kejahatan para makhluk.


Ia pernah menangani berbagai kasus penculikan anak, namun saat menjadi korban, rasanya takkan sanggup melewati detik demi detik yang teramat menyiksa. Waktu seolah berjalan sangat lambat. Mengiris sedikit demi sedikit asa yang kian memudar. Menghantam selapis demi selapis harapan yang mulai suram.


“Di mana anak saya?” Ia tak lagi berdaya sekedar meluapkan emosi. Seluruh perasaannya sebagai seorang ayah telah jatuh ke titik nadir sejak detik pertama mendapat berita penculikan.


Pria bertubuh kekar dan gempal dengan alis menyatu yang berhasil diringkus tim gabungan saat hendak melarikan diri di Pelabuhan Tanjung Priok itu sudah tak berbentuk. Luka bekas tendangan sepatu lars, poporan laras senjata, bogem mentah, sundutan rokok menjadi satu-satunya pemandangan yang terlihat.


“Sumpah saya tidak tahu, Pak.” Pria kekar beralis menyatu itu memohon ampun. “Benar, Pak, saya hanya terima orderan.”


“SIAPA YANG NGORDER, HAH!”


“JAWAB!”


Pukulan bertubi-tubi kembali dilayangkan dua orang bawahannya. Ia menyaksikan semua dengan tatapan kosong.


“Ti-tidak tahu, Pak! Ampun, Pak! Sistem putus, Pak! Kita nggak pernah tahu pengorder.”


“BERANI BOHONG LU! APA MASIH KURANG!”


Pria kekar beralis menyatu itu tak melawan sedikitpun menjadi bulan-bulanan dua anggotanya. Dengan wajah dipenuhi darah terus memohon ampun.


“Mereka dibawa ke mana?” Ia membuka permen loli rasa strawberry lalu mengunyahnya hingga gigi teras linu. Sejak menikah dengan Pocut, ia berusaha mengurangi kebiasaan merokok. Baru beberapa bulan terakhir menemukan cara jitu menghindari daun tembakau.


“Permennya enak, Sa,” ucapnya ketika mencicip permen strawberry yang tersimpan di dalam tas sekolah Sasa ketika ia menjemput putrinya itu di sekolah.


“Papa mau?” Binar sepasang mata ceria itu bahkan masih diingatnya hingga detik ini. “Permennya buat Papa semua. Kalau masih kurang, besok Sasa beliin lagi buat Papa.”


“Oww, murah hati sekali putri cantik Papa ini.”


Sasa lantas tertawa-tawa ketika ia meraih kepala mungil itu ke dalam pelukan.


“Tidak tahu, Pak.”


“TIDAK TAHU KAU BILANG!”


Ia memijat pelipis yang berdenyut ketika pria beralis menyatu yang tak lagi berdaya menerima pukulan itu meneriakkan sebuah alamat di daerah Jakarta Utara.


***


Pocut


Ia masih mengingat bagaimana Tama menghentikan mobil dengan suara ban berdecit, berlari menghampiri untuk merengkuhnya lalu mereka berbagi air mata.


“Anak-anak pasti ketemu,” bisik Tama berulang kali meyakinkannya. “Mereka akan baik-baik saja.”


Tama memintanya beristirahat di kamar. Mamak, bu Niar, dan Anjani bergantian menemani. Esok hari ia mendengar Tama berbicara dengan Agam dan Sada jika pelaku sudah ketemu. Ia kembali menyemai harapan yang kemarin sempat sirna. Sore hari Dara turut menemaninya di kamar.


Ia ingin menghirup udara segar di luar, tapi semua orang melarang. Ketika mencoba mengintip dari jendela kamar, ia mendapati kerumunan orang di balik pintu pagar. Memegang kamera dan melakukan siaran.


Di hari ketiga ketika ia berhasil membujuk Anjani agar mengizinkannya pergi ke dapur sekedar membuat air jahe sendiri, telinganya tak sengaja mendengar Agam dan mamak berbicara tentang,


“Dibawa ke Merak ….”


“Hilang kontak dengan penculik ….”


“Sinyal terakhir di tengah laut ….”


Ia yang gemetaran menggenggam erat lengan Anjani sembari berbisik lirih. “Tolong ajak ustadzah Mutia dan ibu-ibu kemari. Kita harus banyak berdoa ….”


Entah sudah berapa kali ibu-ibu kampung Koneng bergantian datang ke rumah untuk mengaji bersama. Meski ia setiap hari memandangi kalender dan menandai kepergian permata hati.


Hari ke tujuh.


Kebiasaannya sekarang adalah memandangi angka-angka dan nama hari dalam kalender hingga berbayang sebab ia telah berlinang air mata. Menuliskan segala sesuatu tentang Sasa dan Reka agar ia bisa menatap kesedihan dengan ketegaran. Seperti yang Dara bisikkan sebelum kembali ke Jogja. Ia akan melakukan semua cara agar bisa mengembalikan Sasa dan Reka ke rumah. Sungguh ia akan melakukannya.


Sasa Permata Hati Mama.


Pagi itu Sasa memakai pita berwarna pink.


Sasa yang marah, dan membanting sendok ke atas piring tak mau sarapan karena semalam papa lupa menelepon.


Sasa yang cemberut dan menghentak-hentak.


Tidak apa-apa, nak, kalau Sasa tidak mau sarapan.


Mama tidak akan memaksa membuat roti panggang.

__ADS_1


Sasa boleh tidak sarapan dan Mama tidak akan marah.


Mama juga tak akan protes meski seharian Sasa berwajah cemberut.


Asalkan Sasa pulang ke rumah.


Sa, mama rindu.


Bagaimana mama akan menjawab pertanyaan ayah Is jika menanyakan Sasa?


Tolong Sasa bantu mama bisa menjaga amanah paling berharga yang ayah Is tinggalkan.


Sasa, di mana kamu, nak? Ayo, pulang.


❤️


Reka yang Berhati Lembut Pelindung Keluarga.


Malam itu menjadi malam yang paling berbahagia bagi mama.


Kala Reka meminta izin mengikuti kejuaraan sekaligus memanggil dengan sebutan “Mama.”


Reka sayang,


Mama semakin bahagia ketika Reka mau mengajak mama menonton.


Sepanjang umur mama, baru ada dua laki-laki yang berani mengajak mama menonton bioskop. Papa bahkan tak termasuk di dalamnya.


Reka adalah pria kedua.


Mama tak akan pernah lupa bagaimana Reka membukakan pintu taxi untuk mama.


Menggandeng tangan mama melewati teman-teman seusia Reka tanpa rasa malu.


Betapa Allah mengaruniakan sosok anak terbaik seperti Reka menjadi buah hati ayah dan mama.


Reka yang sabar.


Reka yang pemberani.


Reka yang bertanggung jawab.


Pulanglah, nak. Ayah, mama, Icad, Umay, uti, nenek, semua menunggu Reka.


Ya Allah,


Jika memang selama ini hamba memiliki banyak kekurangan dalam menjaga amanahMu.


Maafkanlah dan ampunilah hamba.


Beri hamba kesempatan kembali berkumpul bersama anak-anak.


Mendampingi mereka menjemput takdir terbaikMu.


Tolong jaga Reka dan Sasa, Ya Allah.


Lindungi mereka dari kejahatan manusia dan yang lainnya.


Selamatkan Reka dan Sasa.


Kuatkan hati mereka.


Selipkan tekad yang kuat di hati mereka agar bisa mencari jalan pulang.


Allohumma yassir wa ‘ain.


Ya Allah, permudah dan tolonglah.


Yaa hayyu yaa qoyyum, birohmatika astaghits, ashlihlii syaa nii kullahu ….


Wahai Rabb yang Maha hidup, yang Maha berdiri sendiri, dengan rahmatMu hamba meminta pertolongan


….


Sudah tak terhitung berapa lembar buku yang telah ditulisinya. Ia merasa tak pernah cukup menuliskan semua hal membahagiakan tentang Reka dan Sasa.


Pada suatu malam, entah hari ke berapa Reka dan Sasa menghilang, ia bermaksud menyimpan buku yang telah habis dan mengganti dengan yang baru, ketika cairan hangat terasa merembes mengaliri kedua kakinya.


“Maaf, Ma.” Ia bekali-kali meminta maaf karena telah mengotori karpet di dalam kamar. “Saya baru saja mengompol.”


Bu Niar yang malam ini menemaninya tidur terperangah. “Astaghfirullah, ini cairan ketuban.”


***


Icad


Ia hampir terlelap ketika mendengar uti berteriak memanggil-manggil yahbit. Ia bergegas keluar kamar ingin mengetahui apa yang terjadi. Sebab uti tak pernah berteriak sepanik ini.


Di ruang tengah, ia melihat uti dan nenek sedang memapah mama berjalan sangat perlahan. Sementara yahbit yang telah menyalakan mesin mobil, berlari menghampiri mama lalu membopongnya.


“Ada apa?” Satu bisikan dengan aura mengantuk menghampiri telinganya. “Mama kenapa?”


Ia mendapati Umay menguap lebar-lebar hingga tiga buah nyamuk sekaligus bisa masuk ke rongga mulut. Sejak Reka dan Sasa diculik, mereka berdua menjadi tak bisa tidur. Bahkan di hari pertama penculikan, ia tak bisa tidur sama sekali sampai azan Subuh berkumandang.


Ia tak pernah menyangka keluarga mereka akan mengalami hal semenakutkan penculikan. Sesuatu yang hanya pernah didengar dan dilihatnya melalui berita maupun siaran televisi.


“Jadi para penculik dalam satu waktu datang ke sekolah kita, sekolah Reka, ama sekolah Umay Sasa?” Kioda begitu menggemari cerita detektif dan bertambah-tambah semenjak tragedi menimpa pak Markus. "Mereka pakai mobil hitam berplat polisi, seragam polisi, ama telepon dari bokap lo?”


“Aslinya itu telepon dari komplotan mereka sendiri,” imbuh Boni yang turut menemuinya di rumah meski mereka tak lagi satu sekolah. Sebab sejak kenaikan kelas, Boni telah pindah ke SMP khusus atlet. “Ada permainan canggih di sini.”


“Tapi untung lo lagi ikut bu guru ke dinas. Kalau enggak?” Kioda menggeleng. “Sereceh perut mules jadi penyelamat Umay.”


“Sasa yang sial karena kebawa.” Boni menerawang. “Harusnya ikut ke toilet bareng Umay biar lolos.”


“Lagian apa Reka nggak curiga sama cosplay seragam polisi?” Kioda mengernyit. “Sebagai anak polisi, harusnya dia hapal detail polisi asli seperti apa.”


“ABANG?”


Ia tersentak kaget karena Umay berteriak di telinganya. Ruang tengah telah sepi. Mama, yahbit, nenek, uti, sepertinya ikut pergi menaiki mobil. Tante Anja sudah kembali ke kamar tamu menemani dekgam. Sementara teh Yuni dan mas Agus tengah mengambil karpet dari kamar mama.


“Mama kenapa?”


Ia menggeleng dan kembali ke tempat tidur. Sembari berdoa semoga tidak ada hal buruk yang menimpa mama.


Namun kemungkinan besar doanya tak terkabul. Sebab ketika ia bangun Subuh, tante Anja terlihat memberi tahu teh Yuni dan mas Agus di ruang tengah sambil menggendong dekgam yang merengek-rengek karena masih ngantuk.


Ketika ia bertanya, tante Anja hanya mengusap lengannya pelan. “Doakan mama sama papa kuat ya, Bang.”


“Mama kenapa?” Hatinya bergemuruh tak karuan melihat air muka penuh kesedihan tante Anja.


“Mama alhamdulillah sedang pemulihan.” Tante Anja berusaha memeluknya. “Doakan mama papa ikhlas ya, Bang.”


“Iya, kenapa?”


“Adik ….” Tante Anja tak kuasa menahan tangis.


Sejak itu, para tetangga dan orang-orang dari kampung Koneng mulai berdatangan ke rumah. Sekitar pukul delapan, suara mesin mobil memasuki halaman disusul sirine ambulance.


Ia dan Umay berlari ke depan dan mendapati om Tama membopong bayi berselimut kain putih. Bayi itu lantas diletakkan om Tama di atas karpet beralaskan tempat tidur berwarna biru yang beberapa waktu lalu dibawakan uti.


“Astakala Yuda,” bisik om Tama sambil merangkulnya dan Umay. “Nama adik kalian. Ayo, kenalan dulu sebelum berangkat ke pemakaman.”


Umay, baru kali ini ia mendapati adik jahilnya itu menangis tersedu-sedu di pojokan. Tangisan bocah usil itu terdengar begitu menyayat hati siapapun yang mendengarnya. Beberapa kali ia sempat memergoki Umay mengusap air mata menggunakan lengan baju. Namun tak juga berhasil menghentikan isak tangis.


Sedu sedan Umay yang menyayat baru berhenti setelah yahbit mendekat. Entah apa yang dibisikkan yahbit sampai membuat Umay mengangguk-angguk lalu memeluk yahbit erat-erat dan kembali terisak.


Adik Asta dimakamkan di kampung Koneng. Ia menumpang mobil ambulance bersama om Tama yang selalu membuai adik, juga Umay yang terus melamun sepanjang jalan.


“Papa berharap … adik Asta menjadi sekokoh gunung, mengayomi dan memberi kehidupan pada banyak makhluk,” gumam om Tama sembari terus memandangi adik dalam buaian. “Tapi takdir mengharuskan adik seperti matahari yang lebih dulu terbenam ….”


Ia tak mengucapkan sepatah katapun sejak jenazah adik Asta dibawa pulang ke rumah. Lidahnya kelu, mulutnya kaku, hatinya nyeri seperti tersayat. Ia yang masih gelisah memikirkan nasib Reka dan Sasa, tak tahu harus bagaimana menyikapi kematian sang adik.


Sepulang dari pemakaman hingga petang, semua orang di rumah seakan dibalut kesedihan. Umay masih suka berdiam di pojokan memandangi rumah-rumahan yang biasa dimainkan Sasa sembari sesekali menyeka air mata. Yahbit dan tante Anja menerima tamu dibantu teh Yuni, teh Cucun, dan bi Enok. Hanya om Tama yang tak terlihat. Mungkin ayah tirinya itu sedang tidur sebab terlalu lelah selama sepuluh hari terakhir mengejar penculik ditambah harus menghadapi kenyataan kehilangan adik Asta.


Namun selepas maghrib, ketika ia baru selesai membaca Al-Qur’an bermaksud membantu teh Yuni membereskan ruang tengah, telinganya sayup-sayup mendengar suara tangis tertahan.


Umay dilihatnya sedang melamun di sudut ruang tengah sambil memainkan rubik. Yahbit dan tante Anja masih menerima tamu, teh Yuni dan yang lain sibuk di dapur. Satu-satunya sumber suara berasal dari kamar mama yang gelap gulita.


Ia lantas memberanikan diri mendorong pintu bercat putih hingga seberkas cahaya lampu ruang tengah menyeruak menerangi ruangan kamar. Di sana, dilihatnya sesosok punggung tegap tengah bersimpuh di atas sajadah dengan suara tangis tertahan.


Dalam sekejap air matanya berhamburan keluar. Ia yang tak menangis ketika mendengar Reka dan Sasa diculik, tapi ketakutan setengah mati. Ia yang tak menangis melihat mama bersedih menunggu Reka dan Sasa pulang, tapi hatinya sakit sekali. Ia yang tak menangis mengetahui adik Asta meninggal, tapi hatinya remuk mendengar isakan Umay yang menyayat.


Kini ia bisa mengerti, ternyata ia senasib dengan om Tama. Mereka tak pernah menangis sekeras apapun kesakitan yang menerpa. Mereka tak pernah menunjukkan kesedihan di hadapan orang lain, meski hati hancur berkeping-keping. Mereka tak pernah mengeluh, padahal beban di dada teramat berat.

__ADS_1


“Papa ….” Ia terisak sembari turut bersimpuh di belakang punggung yang bergetar itu. “Keep your head up ….”


__ADS_2