
Jakarta
Icad
Pagi ini sama seperti pagi selama seminggu terakhir. Semua orang terlihat sibuk. Ia yang semalaman tidur di kamar yahbit berdua dengan Umay, mendapati nenek, mama, dan cing Ella sudah berkutat di dapur.
"Pengantin baru duduk saja." Cing Ella menepuk bahu mama yang sedang menumpuk piring kotor. "Biar kami yang mengerjakan."
Mama hanya tersenyum sambil tetap membereskan, kali ini menumpuk mangkuk yang kotor.
"Ke masjid, Bang," sapa mama begitu melihatnya sudah berada di dapur hendak menuju ke kamar mandi. "Jangan lupa bangunkan Umay."
Ia mengangguk.
Untuk pertama kalinya, ia pergi ke masjid bertiga. Bersama Umay dan om Tama yang berkali-kali menguap sepanjang jalan.
"Masih ngantuk, Pa?" Umay jelas tak tahan untuk tak bertanya. "Sama. Aku juga. Paling malas kalau disuruh salat subuh di masjid. Mana dingin, masih gelap, ngantuk pula."
Om Tama hanya tertawa. "Papa ngantuk bukan karena malas salat subuh. Tapi semalaman nggak bisa tidur."
"Kenapa nggak bisa tidur?" Umay memang selalu ingin tahu urusan orang. "Sasa ngompol jadi kasurnya basah?"
Om Tama kembali tertawa. "Bukan. Memang Sasa masih ngompol?"
Umay meringis. "Dulu, waktu masih kecil."
Ia menepuk bahu Umay agar diam. Tapi keburu om Tama menunjuk pelipis dengan jari telunjuk sembari berujar. "Kepala papa pusing, jadi nggak bisa tidur."
"Minum obat dong, O ... eh, Pa." Umay masih saja menyambar.
Tiba-tiba saja om Tama tertawa dengan suara yang sangat keras. "Hahaha! Obatnya baru bisa diminum nanti malam. Itu juga kalau nggak ada gangguan. Gini amat nasib Papa, May."
Umay melongo. Pasti karena tak paham dengan maksud dari ucapan om Tama. Sama seperti dirinya. Tapi ia lebih memilih untuk berjalan cepat mendahului mereka agar bisa segera sampai di masjid. Daripada harus mendengar Umay yang kembali bertanya.
"Memang minum obat bisa ada gangguan ya, Pa?"
Ia bergegas mempercepat langkah. Sementara di belakang lagi-lagi terdengar derai tawa om Tama saat dicecar pertanyaan oleh Umay.
Dan usai salam kedua, om Tama yang salat tepat di sebelahnya berbisik. "Jangan pulang dulu. Papa mau bicara."
Ia memilih duduk di selasar masjid. Menunggu di bawah beduk sambil terkantuk-kantuk. Lumayan lama ia menunggu. Ketika mencoba melongok ke dalam, om Tama terlihat sedang berbincang dengan ustadz Arif, pak RW, dan Haji Sobirin. Pensiunan tentara yang baru pindah ke kampung mereka beberapa bulan lalu.
"Bang?" Umay melongok dari pintu masjid. Rupanya Umay belum pulang. Sedari tadi asyik mengobrol dengan Abdur dan Zubair di teras. "Pulang."
Ia hanya melambai. "Duluan."
Tak lama setelah Umay menghilang di kegelapan, om Tama berjalan mendekat.
"Papa mau minta tolong."
Om Tama, sejak kemarin menikahi mama dan Umay dengan penuh semangat mengganti panggilan menjadi sebutan papa. Mulai membahasakan diri dengan kata papa tiap kali mereka berbicara. Tapi lidahnya masih kaku. Cukup kesulitan untuk mengucapkan papa. Rasanya aneh dan asing ketika sebutan om tiba-tiba berubah menjadi papa.
"Kenapa kamu manggil om Tama papa?" Kemarin ia sempat memprotes Umay yang terlalu cepat menerima keberadaan om Tama di keluarga mereka.
"Karena kita udah punya ayah," jawab Umay santai. "Tinggal papa yang belum. Atau babe? Bapa? Abang mau pilih panggilan yang mana?"
"Selama tiga hari ke depan, papa dan mama titip adik-adik." Om Tama menatapnya tajam. "Nanti Icad bisa kerjasama sama Reka."
Ia mengangguk mengerti. Beberapa hari lalu, mama sempat membicarakan hal yang sama. Jika hari sabtu sampai selasa, mereka akan tinggal dengan yahbit dan tante Anja. Juga izin tak masuk sekolah. Sebelum hari Rabu mereka sekeluarga pergi umroh bersama nenek dan uti dekgam.
"Kalau ada hal penting bisa langsung telepon."
Ia kembali mengangguk. Teringat akan ponsel pintar yang diberikan mama padanya di malam boh gaca.
"Ini hadiah dari om Tama untuk Abang." Mama mengulurkan kotak berwarna hitam dengan logo yang membuat tangannya gemetaran saat menerima. Logo buah tergigit ponsel impian banyak teman-temannya. "Mama berikan di kamar karena hanya Abang yang dapat hadiah seperti ini. Umay dan Sasa belum boleh."
"Abang masih ingat aturannya?"
Meski sebagian besar teman-temannya sudah memiliki ponsel sendiri, termasuk Boni dan Kioda. Namun dirinya adalah perkecualian. Menurut mama, ponsel belum terlalu penting untuk anak kelas VIII. Dan mama juga selalu mengatakan, jika ponsel adalah kotak ajaib yang setiap saat bisa menjelma menjadi pisau bermata dua.
"Hp bisa memberi banyak manfaat dan kemudahan," terang mama. "Tapi juga bisa menjerumuskan."
"Abang bisa melihat seluruh dunia hanya dari kotak sekecil ini." Mama menunjukan ponsel keluaran lama berwarna putih yang sudah retak di sana-sini. Ponsel milik mama sejak dua tahun lalu. Hadiah ulang tahun dari yahbit yang ingin mama memiliki aplikasi pesan terkini untuk memudahkan pelanggan memesan ayam tangkap, nasi gurih, dll.
"Coba Abang bayangkan, apa yang terjadi kalau anak-anak yang belum bisa membedakan baik dan buruk, diberi kesempatan untuk melihat seisi dunia tanpa batas."
"Iya." Ia mengenal beberapa anak yang kecanduan main game online. Bahkan Andika, teman SDnya dulu, pernah dipukuli sang ayah gara-gara melakukan top up voucher game sampai ratusan ribu rupiah tanpa izin. "Abang nggak akan macam-macam."
"Udah punya nomor papa?" Pertanyaan om Tama membuyarkan lamunannya.
"Udah." Sebab malam itu juga, mama memintanya untuk memasukkan semua nomor penting ke dalam ponsel barunya. Termasuk nomor om Tama, nenek, yahbit dan tante Anja, juga Reka.
"Dua-duanya?" Tanya om Tama lagi.
Ia mengangguk. Mama menuliskan dua buah nomor untuk nama om Tama. Pribadi dan dinas.
"Boleh telepon dua-duanya. Jangan ragu." Om Tama berdiri dan mengajaknya berjalan keluar. Sebab bang Syafiq sudah mulai mematikan lampu masjid bagian dalam.
"Kemarin om Sada sama tante Dara bilang mau ngajak kalian berempat ke Jogja," ujar om Tama saat mereka berjalan pulang. "Tapi mama khawatir kalian kecapekan."
Ia mengerti. Hanya tersisa waktu tiga hari sebelum mereka semua berangkat umroh. Mungkin yang mama khawatirkan adalah Sasa. Sebab adik bungsunya itu belum pernah pergi jauh. Apalagi tanpa mama.
"Nanti di rumah kita tanya mama, boleh nggak kalian ikut ke Jogja."
"Gimana baiknya menurut Mas," jawab mama ketika mereka sampai di rumah.
"Oke." Om Tama mengangguk. "Boleh, tapi jangan sampai kecapekan. Senin udah di Jakarta lagi."
Om Tama langsung menghubungi seseorang melalui ponsel. Mungkin menelepon om Sada. Sementara Umay tiba-tiba muncul entah darimana dan langsung melompat kegirangan.
"Ke Jogja, Bang? Kita mau pergi ke Jogja? YEAYYYY!"
"Are you happy?" Seru om Tama tiba-tiba sambil menjauhkan ponsel dari telinga.
Ia diam saja. Sementara Umay yang sempat terbengong-bengong menjawab dengan kalimat terpatah-patah. "Y-yes. Mm ... happy. Y-yea, tentu saja happy!"
Mereka berangkat usai sarapan. Bersama om Tama, mama, Umay, dan Sasa, ia menaiki mobil yang dikemudikan babeh Cipto. Sementara nenek, cing Ella, dan abu syik Hamdan pergi bersama yahbit.
Rupanya om Tama mengajak mereka mengunjungi makam akung dekgam. Ia sempat terpesona melihat suasana makam yang sangat asri juga indah. Jauh berbeda dengan makam yang diketahuinya. Lebih pas disebut sebagai taman bunga yang sangat luas daripada sebuah pemakaman.
"Kuburan orang kaya beda sama kuburan orang biasa ya, Bang?" Bisik Umay yang juga terkagum-kagum melihat suasana makam. "Kalau kuburannya bagus begini nggak bakalan ada pocong kali."
__ADS_1
Ia hampir tertawa. "Pocong aja dipikirin."
Om Tama bicara di atas makam seperti sedang bercakap-cakap sungguhan. Memperkenalkan mama dan mereka bertiga seolah akung dekgam benar-benar bisa mendengar.
Ia sempat berjalan melihat-lihat. Sementara om Tama dan mama berdiam cukup lama di depan makam akung dekgam. Mungkin sedang mendoakan atau entah membicarakan apa. Yang pasti ia bisa melihat kesungguhan om Tama dalam menghormati akung dekgam. Apakah itu yang namanya berbakti pada orangtua? Meski sudah tiada masih begitu dihargai.
Tapi tanpa sadar matanya justru mulai memanas. Sebab teringat akan ayah yang tak memiliki makam. Juga kakek yang makamnya nun jauh di Aceh sana. Belum pernah sekalipun ia pergi mengunjungi makam kakek Hamzah. Kakek yang hanya dijumpainya melalui cerita nenek dan mama.
Ia kembali melihat di kejauhan. Di mana om Tama masih berada di makam akung dekgam sambil memeluk bahu mama. Lalu tiba-tiba saja lubuk hatinya berbisik, tak ada salahnya mulai membiasakan diri memanggil papa pada om Tama. Sebab selain sudah menjadi suami mama, sesungguhnya om Tama adalah pria yang baik. Sebenarnya, ia hanya membutuhkan waktu sedikit lebih banyak dibanding yang lain untuk menerima semua kenyataan ini.
Dari makam, mobil kembali meluncur menuju ke tengah kota. Kemudian berbelok di depan gedung bertingkat yang menjulang.
"Waaaah ...." Begitu turun, Umay langsung melongo. Pasti karena terkagum-kagum dengan kemegahan gedung yang akan mereka masuki. Ia sendiri juga kagum, tapi berusaha menahan agar tak terlalu memalukan.
"Biasa aja kali," bisiknya di telinga Umay.
Tapi mulut Umay bahkan terus menganga sampai mereka melewati pintu kaca yang dibukakan oleh seorang pria berpakaian adat Jawa.
"Selamat siang, selamat datang di Avilas Jakarta."
"Wooooow ...." Dan Umay benar-benar tak bisa menyembunyikan ketakjuban saat melintasi ruangan megah berkarpet merah yang sangat tebal juga empuk. Dengan lampu gantung besar berwarna biru. Lampu kristal setinggi langit-langit. Dan lukisan raksasa yang memenuhi dinding.
Seorang pria berjas hitam dengan papan nama berwarna emas di dada kanan datang menghampiri om Tama. Lalu mengajak mereka menaiki lift menuju lantai 24. Berjalan menyusuri lorong berkarpet biru yang tak kalah tebal dibandingkan karpet merah yang ada di lantai bawah tadi. Ia berpikir, akan sangat menyenangkan seandainya karpet di dalam masjid juga setebal dan seempuk ini. Mungkin anak-anak akan lebih bersemangat pergi ke masjid karena nyaman.
Om Tama sempat mengetuk pintu berwarna krem sebelum membukanya. Dan ....
"Taraaaaa!" Tante Anja yang sedang menggendong dekgam menyambut mereka dengan tawa riang. "Akhirnya datang juga. Masuk ... masuk ... sini .... Rame nih, ada team dari Jogja juga."
Om Tama dan mama saling menyapa dengan om Sada dan Tante Dara. Sementara anak-anak, usai menyalami para orangtua, diarahkan untuk duduk di sofa warna krem oleh tante Anja.
"Haus? Lapar?" Tante Anja menunjuk mereka bertiga. "Mau minum? Es krim? Atau ngemil?"
Belum juga menjawab, seorang anak perempuan berambut panjang dengan bando merah muda tiba-tiba berlari dari arah dalam. "Sasaaaa!"
Sasa, yang entah mengapa sejak bangun tidur berwajah cemberut dan selalu merengek. Hanya tersipu malu dan bersembunyi di balik bahunya.
"Eh, kenapa Sasa malu-malu?" Tante Anja yang tak lagi menggendong dekgam langsung memeluk Sasa. "Kenapa jadi malu-malu gini, sih? Ih, Sasa, ih."
Ia mengendikkan bahu dan berbisik. "Jawab, tuh."
Tapi Sasa justru makin bersembunyi di balik punggungnya. Menolak dipeluk oleh Tante Anja. Dan berusaha menghindar ketika tante Anja mulai menggelitiki pinggang Sasa.
"Sa, main, yuk." Anak perempuan yang ternyata adalah Lana mengulurkan tangan. Namun Sasa tetap bergeming.
"Lho, kenapa?" Tante Dara yang gantian menggendong dekgam ikut mendekat.
"Ngambek dia." Om Tama yang menjawab.
"Mmm ...." Tante Anja tertawa sambil memeluk Sasa. "Nanti jalan-jalan ke Mall sama yahbit mau nggak?"
Ia memperhatikan tante Anja yang berusaha membujuk Sasa agar tersenyum. Sementara Umay, sejak awal masuk langsung berjalan menuju jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan kota Jakarta.
"Mas!" Seru tante Dara. "Pakde udah datang, nih. Ada bang Icad sama Umay juga. Sini keluar."
Arka dan Yasa tiba-tiba muncul dari balik pintu yang juga berwarna krem. Menghampiri dan menyalami om Tama juga mama, lalu duduk di sofa bersamanya.
"Mau ke nenek?" Tawar tante Anja pada Sasa yang masih cemberut. "Nenek ada di sebelah, lho. Yuk ikut sama Tante."
***
Umay
credit picture : YouTube
Saking takjubnya, ia sampai tak sadar jika mama dan papa Tama sudah pergi. Di sofa hanya ada bang Icad dan mas Arka yang sedang menonton TV. Sementara Sasa sama sekali tak terlihat.
Dan ia semakin terkesima ketika tante Dara menunjuk dinding warna krem yang ... wow, ternyata bisa dibuka. Langsung tembus ke ruangan lain yang tak kalah luas. Di mana Sasa sedang duduk di atas sofa sambil makan es krim. Juga ada nenek, yahbit, tante Anja, cing Ella.
"Ikut sini." Dan yahbit semakin membuatnya melongo ketika membuka dinding warna krem di sisi lain, yang langsung tembus ke ruangan bersofa di mana uti dekgam dan mas Reka sedang duduk-duduk.
"E m e j i ng?" Ia melotot dengan mulut ternganga. Tak pernah menyangka jika ruangan mereka bisa saling menyambung.
Yahbit hanya tertawa sambil menoyor kepalanya. "Kasih salam dulu sama uti."
Hari semakin beranjak siang. Sekarang, ia sedang berada di kamar nenek. Menikmati kue-kue yang rasanya manis dan lezat. Baru sekarang ia memakan kue seenak ini. Menikmati setiap gigitan dengan perlahan-lahan. Tak rela jika kue harus meluncur melewati kerongkongan.
Namun kesenangannya menikmati kue terusik saat melihat Sasa berdiri mematung di depan jendela. Seingatnya, sudah cukup lama adiknya itu berdiri di sana seorang diri. Ia sempat melirik ke arah nenek yang sedang berbincang dengan uti dekgam. Juga cing Ella yang sibuk membereskan barang-barang bersama bi Enok dan teh Cucun.
"Ngapain, Sa?" Ia akhirnya mendekati Sasa. Ikut melongok ke balik jendela kaca. "Lihatin apa?"
credit picture : YouTube
"Wah?" Ia mengerjap takjub. Ternyata pemandangan dari jendela kamar nenek tak kalah bagusnya. Di bawah sana terlihat taman dengan pepohonan yang rindang, kolam renang, lapangan berwarna hijau.
"Wow, kereeeen," gumamnya sampai hampir meneteskan air liur. "Bagus banget ya, Sa? Tuh, lihat, ada kolam renang. Kita boleh berenang di sana nggak, ya?"
Tapi Sasa diam saja. Tak menoleh apalagi menjawab.
"Itu tuh ... ada lapangan juga. Kira-kira lapangan apa ya, Sa? Bulutangkis bukan? Wah, tahu gitu aku bawa raket. Biar kita bisa main di lapangan bagus yang warnanya hijau."
Sasa tetap bergeming. Membuatnya penasaran lalu berusaha meraih bahu adiknya itu. "Sa?"
Sasa akhirnya menoleh namun dengan wajah dipenuhi air mata.
"Eh! Lho, kok nangis, Sa? Kenapa? Siapa yang nakal? Bilang sama Abang Umay. Biar di ...."
Sasa yang awalnya hanya terisak kini mulai merengek. "Huaaaaaa!"
"Eh! Sa!" Ia terkejut. "Kok malah teriak, sih?" Ia kembali meraih bahu Sasa. "Sasa kenapa?"
"Ada apa?" Nenek dan uti dekgam tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
Ia langsung mengangkat kedua tangan ke atas. "Bukan aku, Nek. Sumpah. Sasa nangis sendiri nggak tahu kenapa. Bukan gara-gara aku kan, Sa? Aku nggak nakal kok."
"Huaaaaaa!" Sasa menghentakkan kaki ke lantai. "Sasa kangen sama Mama! Sasa mau sama Mamaaaaaaa!"
***
__ADS_1
Pocut
"Mas?" Ia tak pernah menyangka jika Tama akan mengajaknya memasuki pintu yang dinding bagian depannya bertuliskan Presidential Suite. Dan langsung tercengang saat Tama membimbing bahunya berjalan melewati pintu warna krem melintasi lantai marmer yang terasa licin saat diinjak.
Tama tersenyum. "Suka nggak?"
Suka? Lututnya mendadak lemas. Sejak pertama kali memasuki lobby hotel ia sudah dibuat terkagum-kagum dengan kemewahan suasananya. Dan sekarang, presidential suite?
Ia memang udik dan tak berpengalaman. Tapi bukannya tak tahu kalau kamar berjenis presidential suite adalah yang termahal. Tama sudah mengeluarkan banyak uang untuk pernikahan mereka. Dan sekarang ditambah ini? Sudah tak terhitung berapa biaya yang harus dibayarkan Tama.
Ia harus menelan ludah sebelum berucap gugup. "I-ini ... terlalu mewah."
Tama mengangkat bahu. "Bukan aku yang pilih."
Ia menoleh dengan kening mengkerut.
"Harusnya kamar kita di tempat Sada tadi," sambung Tama. "Dan kamar orang-orang di lantai 21."
"Tapi ternyata ada kado spesial dari big boss Rajas." Tama kembali mengangkat bahu. "Nggak bisa nolak."
Ia akhirnya kembali bertemu dengan para pria berwajah dan berpenampilan persis seperti yang sering dimuat di majalah-majalah fashion ternama. Teman-teman Tama yang pernah dilihatnya hadir di acara aqiqah dekgam Aran tahun lalu.
"Ini dia big boss kita." Tama memperkenalkannya pada Rajas. Pria tampan dengan setelan eksklusif yang menjadi tamu pertama mereka.
"Selamat, sudah menjadi nyonya Tama," ucap Rajas seraya menyerahkan sebuket bunga. "Ini titipan dari istri saya. Maaf, nggak bisa datang."
"Maklum, baru ada baby," imbuh Tama yang mengajak Rajas untuk duduk di sofa.
Sementara keningnya langsung berkerut-kerut memikirkan ucapan baru ada baby. Bukankah yang memiliki pasangan tetap dan resmi hanya Tama dan pria dari Bandung? Siapa namanya ia agak lupa. Tapi kenapa Rajas baru mempunyai bayi? Mungkin nanti bisa ia tanyakan pada Tama.
Tamu kedua adalah seorang pria yang pastinya kalangan atas. Datang seorang diri dengan membawa kotak bingkisan berdesain glamor.
"Armand, Pocut. Pocut, Armand. Bos media kita," ucap Tama saat memperkenalkan mereka berdua. "Pemilik jaringan tv ...." Tama menyebutkan nama tiga stasiun televisi nasional yang ternyata bernaung di bawah perusahaan milik Armand.
Dan tamu terakhir adalah pria yang menubruk Tama usai akad nikah, Wisak. Datang menggandeng seorang wanita cantik berkelas namun berbeda dengan wanita yang menyalaminya di madrasah kemarin.
"Masih ingat sama saya, kan?" Wisak bisa dipastikan menjadi sosok yang paling cair di antara teman-temannya termasuk Tama. Selalu memonopoli obrolan yang diselipi dengan canda tawa. Sepertinya hidup Wisak teramat bahagia hingga selalu tertawa.
"Riyadh lagi di rumah babenya," ujar Wisak ketika ia mulai membuka obrolan dengan Neeve, satu-satunya tamu wanita. "Baru ke sini ntar malam."
Dan ia hanya bisa memperhatikan Tama yang sedang terbahak bersama teman-temannya di sofa. Sementara ia terlalu gugup untuk mencari topik pembicaraan. Karena Neeve sejak awal tak menunjukkan ketertarikan. Neeve bahkan selalu sibuk mengecek isi ponsel tiap kali ia berusaha membuka obrolan.
"Aku kasih hadiah lagu nih buat newlywed," seru Wisak yang sudah mendudukkan diri di belakang piano, yang berada tepat di samping jendela kaca. "Baby ...."
Ternyata Wisak memanggil Neeve. Karena wanita itu langsung beranjak mendekati Wisak tanpa sempat menoleh ke arahnya.
"Nyanyi bareng aku sini." Wisak meminta Neeve untuk ikut bernyanyi. "Mau request lagu apa?"
Tak seorangpun menjawab. Dan Wisak mulai menarikan jarinya di atas tuts piano. Memainkan nada yang tak dikenalnya tapi terdengar cukup menyenangkan di telinga.
"Lagu wajib di tiap wedding party, nih," seloroh Wisak. "Sampai hapal gua. Sialan!"
"So as long as I live I love you
(Maka selama aku masih hidup, aku kan mencintaimu)
Will have and hold you
(Aku kan miliki dan mendekapmu)
You look so beautiful in white"
Kau tampak sangat cantik dengan pakaian putih
(Shane Filan, Beautiful in white)
Wisak dan Neeve masih bernyanyi ketika terdengar suara panggilan dari mesin yang menempel di dinding samping pintu. Ia hampir beranjak untuk membuka, tapi Tama memberi tanda agar ia duduk saja.
"Biar aku yang buka," ujar Tama dengan setengah berlari menghampiri pintu yang terletak cukup jauh dari ruang tamu. Harus berjalan melewati lorong juga kamar tamu.
Ternyata Sada yang datang bersama pasangan muda berwajah ramah. Sang pria tampan dengan gerik enerjik. Sementara wanitanya anggun dan ayu dengan lesung pipi yang membuatnya terpesona.
"Wah, ini nih kumpulan para big boss," seloroh Sada yang langsung membaur dengan teman-teman Tama di sofa.
Sementara Tama memperkenalkan dua tamu yang baru datang padanya. "Ma, kenalin ... ini Rendra dan istri. Jauh-jauh dari Jogja cuma buat datang ke acara kita. Makasih banyak, Ren."
"Nggak masalah, Mas. Apa sih yang nggak buat calon Kapolri."
Tama dan Rendra terbahak bersama.
Dan ia merasa lega karena Anggi, istri Rendra, berbeda dengan Neeve yang acuh. Anggi bisa bercakap-cakap normal dengannya bahkan sambil sesekali bercanda.
"Mungkin Kakak belum tahu." Anggi bahkan langsung memanggilnya kakak sejak awal. "Kalau adik kita berdua ternyata berteman di Bandung."
"Agam?" Tanyanya antusias. "Maksud saya, Cakra?"
Anggi tersenyum mengangguk. Dan obrolan pun semakin mengalir menyenangkan. Membahas segala hal yang menarik. Termasuk tentang anak-anak. Seolah tak cukup waktu untuk menceritakan segala tingkah polah anak-anak berapapun usianya.
Mereka sempat menyantap hidangan yang diantarkan oleh petugas hotel di ruang makan. Tama dan teman-temannya entah membicarakan apa sampai tergelak bersama. Sementara ia terus mengobrol dengan Anggi. Karena Neeve tetap acuh dan selalu asyik menatap ponsel. Meski ia dan Anggi berusaha untuk melibatkan Neeve dalam obrolan.
"Sepi," ujarnya usai mereka melepas kepergian tamu terakhir, Rendra dan Anggi. Sambil memandangi ruang tamu yang telah kosong.
credit picture : YouTube
"Apa yang enak kalau sepi?" Seloroh Tama sambil meneguk air mineral dari dalam botol.
Ia hanya tersenyum kecut. "Sebentar lagi mba Hanhida dan teman-temannya datang ke sini."
"Sebentar lagi?" Tama menatapnya sambil menyeringai. "Sebentar lagi artinya masih ada waktu. Ya atau ya?"
Ia hampir memekik saking terkejutnya karena Tama tiba-tiba merangkum tubuhnya ke dalam pelukan. Namun bertepatan dengan suara panggilan dari mesin di samping pintu.
"Well done." Tama tertawa sumbang dan terpaksa melepaskannya. Lalu berjalan dengan langkah panjang sambil menggaruk-garuk kepala menuju pintu.
Ia memilih duduk di sofa. Menunggu Tama datang sambil membuka-buka majalah. Namun buru-buru beranjak ketika terdengar suara tangis anak-anak berjalan mendekat.
"Sasa?" Ia langsung menghampiri Tama yang menggendong Sasa. Menyusul di belakangnya Umay dan Agam.
***
__ADS_1