Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 112. 2. Hari Di Mana Janji Tertunaikan


__ADS_3

Jakarta


Rawa Terate, Cakung


Di sebuah rumah petak semi permanen tanpa jendela, seorang bocah laki-laki kering kerontang tengah berbaring di atas kasur tipis dan lusuh sambil menonton televisi. Sementara di balik sekat ala kadarnya, seorang wanita tua tengah menjerang air dan memasak. Aroma tumisan sayur seketika menyengat memenuhi udara bilik yang tak layak disebut dapur itu.


“Polisi akhirnya berhasil mengungkap kasus penculikan anak seorang perwira menengah ….”


“Sekaligus mengungkap sindikat penculikan dan perdagangan anak ….”


“Polri bekerja sama dengan polisi Diraja Malaysia ….”


Layar televisi mulai menayangkan gambar sebuah gubuk yang berada di tengah kebun sawit. Bocah laki-laki kurus tersebut langsung memejamkan mata begitu kamera mengarah masuk ke dalam gubuk.


“Pemirsa, di dalam gubuk sempit dan kumuh inilah sekitar tiga puluh lima anak di bawah umur tinggal untuk dipekerjakan sebagai buruh kebun sawit ….”


“Anak-anak tersebut diculik oleh sindikat penculikan anak dari berbagai kota di Indonesia juga Malaysia ….”


“Praktek kejahatan ini telah berlangsung selama bertahun-tahun ….”


“Pihak berwajib juga menemukan lokasi yang diduga menjadi makam dari para bocah pekerja sawit terdahulu ….”


“Anak-anak tersebut tak diperlakukan dengan layak. Mereka dipaksa bekerja sepanjang hari bahkan disiksa. Anak-anak yang mengeluh sakit tak pernah diobati hingga akhirnya meninggal ….”


“Kasus ini telah dilimpahkan ….”


“Tung gu!” teriak sang wanita tua ketika mendengar suara ketukan di depan pintu. Ia lantas bergegas menyelesaikan masakan lalu mematikan kompor.


“Cari siapa?” Wanita tua tersebut mengerjap-ngerjapkan mata melihat dua pria tinggi besar yang berdiri di depan pintu. “Anak mantu saya belum pulang. Saya tidak punya uang kalau kalian mau nagih hutang.”


“Apa betul ini rumah ….” Salah satu pria berseragam cokelat itu menyebut nama cucu ketiganya yang baru pulang ke rumah usai diculik selama tiga bulan.


“Cucu saya tidak bersalah!” Sang wanita tua keburu ketakutan begitu mata rabunnya menyadari jika dua pria tersebut adalah polisi. “Jangan tangkap cucu saya! Dia diculik, bukan penjahat!”


Sudah menjadi rahasia umum jika berhadapan dengan polisi, maka tamatlah riwayat orang miskin sepertinya. Berada di posisi benar apalagi bersalah, sepanjang hidup yang sering disaksikannya adalah uang yang berbicara. Sedangkan mereka sama sekali tak memiliki uang. Hidup sudah terlampau sulit bahkan untuk sekadar memikirkan makan esok hari. Itulah mengapa sang cucu bisa diculik berbulan-bulan sebab mereka tak sanggup membayar uang tebusan pada para penculik. Lapor polisi pun percuma karena mereka tak memiliki uang rokok dan pelicin.


“Jangan takut, Nek. Kami perwakilan dari ….”


Untuk kali pertama dalam hidup, ia bertemu dengan polisi baik yang bicaranya sopan dan menyenangkan. Ia sampai menangis tersedu-sedu berpikir apakah semua ini mimpi? Atau ia sedang berada di surga hingga yang terlihat hanyalah kebaikan luar biasa yang tak terbayangkan sebelumnya.


Dua polisi itu membawa banyak bingkisan dan sebuah amplop tebal. Ia sampai gemetaran saat menerimanya. Dan mulai merasa ketakutan jika semua ini hanyalah mimpi.


“Adik ….” Seorang polisi kembali menyebut nama sang cucu. “Jika dilihat dari gejala dan kondisinya kemungkinan mengidap TBC. Harus segera diperiksa di rumah sakit. Seluruh biaya akan ditanggung oleh ….”


Ia langsung sujud syukur dan mengucapkan terima kasih tak terkira sembari berlinang air mata. Orang baik mana kiranya sudi membantu rakyat kecil, miskin dan papa seperti mereka. Ia yang semula menjalani hidup sebatas menyelesaikan sisa usia, kembali memperoleh secercah harapan masih ada orang baik di luar sana.


Ia terus saja mengucapkan terima kasih saat dua polisi itu sudah berpamitan. Mereka berjanji akan kembali esok hari untuk membawa cucunya ke rumah sakit.


Sementara bocah laki-laki kering kerontang perlahan bangkit dan mulai membuka amplop yang digenggamkan seorang polisi padanya. Amplop berwarna cokelat itu berisi selembar kertas putih bertuliskan,


‘Makasih bakpaonya, Cakung.’


Bocah laki-laki tersebut segera menyusut air mata yang tiba-tiba mengalir tanpa henti. Lantas memberanikan diri memandang layar televisi.


“Anak-anak tersebut beruntung bisa ditemukan oleh pihak berwajib sebab mereka diculik bersama anak seorang pejabat kepolisian yang tengah dicari aparat. Kita tidak pernah tahu apa yang akan menimpa anak-anak tak berdosa itu ….”


“Apakah mereka selamanya akan menjadi buruh di kebun sawit? Hidup terisolir di tengah hutan tanpa pernah bertemu lagi dengan keluarga? Dan tidak diketahui keberadaannya oleh siapapun.”


***


Icad


Semua telah kembali seperti semula. Ketakutan yang beberapa waktu lalu melanda, perlahan mulai sirna.


Reka dan Sasa telah kembali.

__ADS_1


Namun semua terasa berbeda.


Waktu pertama kali bertemu di rumah sakit, Sasa hanya terdiam dengan tatapan kosong. Adiknya itu hanya mematung ketika ia dan Umay berusaha memeluk. Tetapi menangis sejadi-jadinya saat mama yang melakukannya.


“Sasa takut Mama … Sasa takut … takut ….”


Begitu terus berulang kali selama seharian. Dari mencuri dengar pembicaraan mama, nenek, yahbit, dan om Sada, Reka dan Sasa diculik sindikat penjualan anak. Membayangkannya saja sudah menakutkan. Tak heran Sasa terlihat sangat ketakutan dan berperilaku jauh berbeda dari sebelumnya. Sasa bahkan selalu mengigau hingga menangis di setiap tidurnya.


Sasa baru terlihat sedikit tenang setelah beberapa kali pergi menemui dokter. Dan Sasa benar-benar nampak tenang setelah bertemu Reka. Meski ia pun seperti tak mengenali saudara tirinya itu sebab perilaku yang sama sekali berbeda. Reka menjadi teramat pendiam, kerap melamun, dan gampang terkejut.


Reka juga tak tinggal bersama mereka lagi, tapi di hotel bersama ibu kandung dan ayah tirinya. Ia bahkan sempat mendengar mama dan uti membicarakan rencana kepindahan Reka ke luar negeri.


Semua memang telah kembali, namun tak lagi sama seperti sebelumnya.


Termasuk tugas papa yang dipindahkan ke kota Poso. Papa sendiri yang memberitahukan pada mereka usai makan malam.


“Siapa yang mau menemani Papa berjuang di kota Poso?”


“AKU!”


Umay dan Sasa menjadi yang paling bersemangat. Ia lantas mengangguk seraya ikut mengangkat tangan. “Aku juga.”


Persiapan perpindahan mereka berjalan cepat. Tahu-tahu ia sudah melihat mama dibantu teh Yuni dan mas Agus mengemas barang-barang yang hendak dibawa. Dan besok akan menjadi hari terakhirnya masuk sekolah. Untuk merasakan pengalaman baru, pindah sekolah ke tempat yang jauh di luar pulau.


“Abang, tolong antarkan kue ke rumah bu Darmanto, ya.”


Suara lembut mama membuyarkan lamunannya tentang bagaimana kira-kira sekolah baru nanti. Apakah ia akan menemukan teman seasyik Boni dan Kioda?


“Cepat pulang ya, masih ada tiga bingkisan lagi yang harus diantar.”


Ia mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. “Kenapa nggak bagi dua sama Umay? Biar cepat selesai.”


Mama tersenyum. “Umay ikut Yahbit mengantar bingkisan ke rumah pak RW, agak jauh jadi pakai motor.”


Ia mengangguk. Lantas mengambil alih kotak besar transparan yang di dalamnya berisi kue-kue lezat. Tetapi ketika tiba di teras, ia dikejutkan oleh kehadiran tamu.


“Oh.” Ia mengamati gadis bergaun putih yang memakai jepit rambut ... tunggu sebentar, bukankah jepit rambut itu persis seperti yang dipunyai Sasa? Ia hapal betul, sebab jepit rambut itu menjadi yang sering dipakai sang adik.


Ia jadi semakin mengernyit heran. Bagaimana mungkin ada ABG yang memiliki selera sama dengan anak SD? Menggelikan sekali.


“Reka nggak ada di sini,” ujarnya setelah mempersilakan gadis itu duduk di ruang tamu.


“Siapa, Bang?” Suara mama terdengar memanggil.


“Teman Reka, Ma.”


“Oh.” Mama muncul di ruang tamu. “Saya mamanya Reka. Kakak siapa namanya?”


Ia hanya mengangkat bahu dan bergegas keluar mengantarkan kue bu Darmanto yang berselisih dua rumah dari tempat tinggal mereka. Membiarkan gadis berjepit rambut mirip Sasa mengobrol dengan mama.


“Aduh, Abang ganteng yang nganterin.” Bu Darmanto tersenyum lebar begitu membuka pintu dan melihatnya.


Sekedar informasi, bu Darmanto memang seringkali berlebihan dalam berbicara. Ia tahu sebab wanita paruh baya yang gemar menyasak rambut tinggi-tinggi itu menjadi yang paling berisik jika mama mengadakan acara di rumah.


“Jadi terbang ke Posonya kapan, Abang ganteng?” tanya bu Darmanto sembari mengamati isi kotak yang dibawanya. Sejurus kemudian terpancar wajah penuh kepuasan setelah mengetahui isinya. “Aduh, papa Tama pindah tugasnya jauh sekali ya sampai ke Poso. Hkhkhkhkhk, padahal sudah enak-enak punya jabatan di Jakarta malah dibuang ke daerah. Ka si han ....”


“Tiga hari lagi, Bu.”


“Waduh, kuenya cantik cantik sekali ini, ya? Persis seperti mama Abang. Ya wajar lah ya, cantik, sampai bisa memikat bapak Kapolres yang juga duda paling keren. Hkhkhkhk ….” Bu Darmanto tertawa-tawa sendiri meski tak satupun ucapan terdengar lucu.


“Mari, Bu.” Ia buru-buru pamit sebelum diajak mengobrol ngalor ngidul.


“Bilang terima kasih ke mama ya, Abang ganteng! Salam juga buat papanya yang gagah! Hkhkhkhhk ….”


“Iya, Bu,” jawabnya seraya bergegas.

__ADS_1


Namun setibanya di depan pagar rumah, ia terkejut mendapati gadis yang tadi mencari Reka sedang berjongkok di pinggir jalan sembari menangis. Sebenarnya ia merasa heran, tapi tak terlalu memedulikan. Ia tetap berjalan memasuki halaman rumah.


Aneh sekali menangis di pinggir jalan. Seperti tak ada tempat lain saja.


Tapi di depan ruang tamu ia tertegun. Ia pun urung melewati pintu. Lebih memilih berbalik dengan langkah cepat kembali ke depan pintu pagar.


“Ada yang ketinggalan, Bang?” seru om Heru yang keheranan melihatnya setengah berlari.


“Enggak, Om,” jawabnya singkat. Lalu membuka pintu pagar dan mendapati gadis berjepit rambut persis seperti jepit yang dipunyai Sasa itu masih jongkok di pinggir jalan sembari terisak.


“Kenapa nangis?”


Gadis itu tak menjawab karena tengah sibuk menyusut air mata.


“Kamu beneran temennya Reka?”


Gadis itu menggeleng, lalu mengangguk, namun sedetik kemudian menggeleng lagi.


”Dia nggak ngasih kabar kalau sekolahnya pindah ke luar negeri?" tebaknya cepat.


Gadis itu menggeleng dan kembali terisak.


Ia menggerutu. “Siapa nama kamu? Berapa nomor hp kamu? Ntar aku kasih tahu alamat Reka di luar negeri.”


"Dikasih tahu alamat juga gue nggak bakalan bisa ke sana." Gadis itu ikut menggerutu di sela isakan.


Ia semakin menggerutu. "Ya ... minimal aku bisa ngasih tahu Reka kalau ada yang nyariin. Mau nggak? Kalau nggak, ya udah."


***


Tama


Hari terakhir berada di Jakarta sebelum mereka sekeluarga berangkat ke Poso, ia mengajak Sada yang hendak melepas kepergiannya untuk bertugas di tempat baru mengunjungi makam papa.


“Maafkan Tama, Pa, sudah mencoreng nama baik yang sepanjang hidup papa usahakan,” ucapnya getir sembari menyiramkan air di atas pusara.


“Jangan percaya, Pa,” sela Sada cepat. “Seandainya papa berada di antara kami, papa pasti bangga dengan pilihan mas Tama.”


Ia melihat ke arah sang adik, namun Sada terlihat sibuk turut menyiramkan air ke atas tanah kuburan.


“Sampai kapanpun tak akan bisa melanjutkan tongkat estafet yang papa tinggalkan,” sambungnya seraya menaburkan kelopak bunga mawar bekal pemberian Pocut di rumah.


“Jangan percaya, Pa.” Sada kembali menyela. “Meskipun sudah hancur lebur, aku percaya Mas Tama bis__”


“Sada cari masalah, Pa.” Ia memandang tajam ke arah sang adik yang terlihat berpura-pura sibuk menaburkan kelopak bunga mawar. “Dikasih contoh buruk sama kakaknya malah mau me__”


“Mas Tama yang cari masalah, Pa!” Kali ini Sada balas menatapnya tak kalah tajam. “Punya masalah besar tapi nggak pernah cerita ke adik sendiri. Cerita-cerita udah jadi bubur. Dianggap apa aku ini. Dikira nggak becus membant__”


“Lu cari masalah jangan di depan papa!” Serta merta ia bangkit dan melempar keranjang yang telah kosong bekas kelopak bunga mawar ke atas tanah.


Sada ikut bangkit sambil membuang botol bekas air untuk menyiram makam. Awalnya sang adik melotot marah, mereka beradu sorot tajam, namun lambat laun meredup. Lalu tanpa diduga, Sada lebih dulu memeluknya seraya menepuk-nepuk punggungnya.


“Selamat bertugas di tempat yang baru, Jenderal. Kami tunggu kepulanganmu. Kita berkumpul kembali di Jakarta.”


Ia sengaja tertawa guna menyembunyikan rasa haru yang tiba-tiba menyeruak. “Terima kasih, Jenderal. Selamat atas promosinya menjadi pasukan pengamanan presiden. Selamat berjuang!”


Mereka lantas tertawa bersama. Entahlah, apakah Sada juga sepertinya, berusaha keras menyembunyikan rasa sedih di balik pelukan dan tepukan punggung di antara mereka. Yang pasti mereka bergegas membereskan botol dan keranjang yang berserakan. Lalu mengirimkan doa terbaik untuk papa.


Papa tidak akan kecewa. Ia memang telah gagal, tapi ada Sada yang akan menjadi penerus bahkan melebihi papa.


Ia meyakininya. Sada akan mampu menjadi pelipur lara bagi keluarga mereka.


Keluarga Setyo Yuwono.


***

__ADS_1


 


__ADS_2