
Jakarta
Tama
Sejak usia belasan, ada satu pertanyaan cukup mengganggu namun belum ditemukan jawabannya. Tentang apa sebenarnya niat dan tujuan utamanya menjadi abdi negara selain membahagiakan orang tua terutama papa?
Kemuliaan?
Kemasyhuran?
Kekuasaan?
Pertanyaan sederhana yang kembali mengusik setelah sekian lama terpendam manakala menyelidiki ulang kasus kematian om Jusuf. Bersama Erik, ia kembali ke Surabaya guna mengumpulkan bukti-bukti tambahan yang sekiranya luput dalam penyidikan pertama. Namun ketika mulai menemukan titik terang kemungkinan penyebab kematian om Jusuf akibat racun kardiogenik yang menyerang jaringan otot dan menimbulkan serangan jantung, perilisan identitas tersangka menjadi breaking news paling mengejutkan.
“Selamat malam rekan-rekan semua, berdasar hasil penyidikan lanjutan yang dilakukan Bareskrim Mabes Polri dan Polda Jatim, kematian saudara JP disebabkan racun yang dimasukkan ke dalam minuman ketika makan malam pada hari kejadian.”
“KH, pria, 37 tahun, pekerjaan sebagai manajer hotel PS, mengakui perbuatannya meracuni saudara JP atas perintah FMP, yang dilaporkan menghilang sejak tujuh bulan silam.”
Namun fakta yang diketahuinya berlawanan. Pertama, racun tanaman tersebut bisa menyebabkan kematian setelah berhasil masuk ke tubuh manusia selama 12-24 jam.
Kedua, manajer hotel berinisial KH diketahui tengah terlilit hutang judi online sebanyak 1,5 milyar.
Ketiga, sebagai mantan Direskrimum di tempat kejadian perkara, ia sama sekali tak dilibatkan dalam penyidikan ulang.
Ketika ia tengah mengulang kembali membaca hasil uji laboratorium tanaman mematikan secara lebih cermat, Erik membawa berita mengejutkan kedua.
“GB hilang, Mas. Kita lost contact sejak seminggu lalu.”
GB, pemuda usia dua puluhan alumni sekolah menengah farmasi yang pernah tertangkap karena meretas situs Polri dan aplikasi pemesanan tiket online merupakan salah satu informan rahasianya. Pemuda itulah yang menguak fakta tentang kemungkinan om Jusuf mengonsumsi racun tanaman mematikan.
Namun ketika orang-orangnya masih belum berhasil melacak keberadaan GB, kasus terbaru yang jauh lebih besar telah menunggu, tentang kebijakan bailout Won Bank yang bermasalah.
Ia tergugu sebab sepengetahuannya, Won Bank merupakan hasil merger Bank Artha Rejasa milik Rajas dan Bank Platinum milik Wisak juga Armand.
***
Keterangan :
JP : Jusuf Parawihardja.
KH : tersangka pembunuh JP menurut polisi.
PS : nama hotel tempat JP dan Cundamanik makan malam.
FMP : otak intelektual pembunuhan JP menurut polisi.
GB : informan Tama dalam penyidikan ulang kasus kematian JP
Pertanyaan : mengapa inisial tidak dijelaskan selain Jusuf Parawihardja?
Jawaban : sebab inisial-inisial tersebut berkaitan dengan novel Sephinasera lain yang dirilis setelah RSK end.
Maaf, ya 🙏😇. Sabar, ya 🥰.
Jakarta
Pocut
Sejak kandungannya memasuki usia 24 minggu, Tama mulai rela memberikan ruang untuknya. Tentu atas sepengetahuan dokter Stella usai memastikan kehamilannya dalam keadaan sehat dan normal hingga aman dibawa beraktivitas.
“Tapi nggak boleh kecapekan." Tama mewanti-wanti. “Harus paham kondisi tubuh dan tahu batas kemampuan. Kalau mulai lelah, langsung istirahat.”
Ia sendiri merasa lebih sehat dan bugar manakala bergerak. Terlalu lama berdiam selama masa bed rest justru membuat tubuh kurang nyaman dan pegal-pegal. Tapi ia menepati janji pada sang suami untuk menjaga kehamilan dan tidak berlebihan dalam beraktivitas. Sesekali memasak untuk anak-anak jika mereka merindukan masakannya, pergi mengunjungi bu Niar, bergantian dengan Anjani menengok mamak di rumah kampung Koneng, atau sekedar berjalan pagi keliling kompleks ditemani anak-anak.
Kira-kira dua minggu lalu, Anjani mendaftarkannya kelas senam hamil. Tapi ia belum mengikuti satu sesi pun karena memilih menemani anak-anak menghabiskan masa liburan akhir tahun ajaran.
“Kalian ada rencana liburan ke mana?”
Suatu hari, ia tak sengaja mendengar Reka bertanya ketika anak-anak tengah asyik bermain PS di ruang tengah.
“Nggak tahu,” jawab Umay dan Sasa berbarengan.
“Emang liburan harus ke mana ya, Mas Reka?” tanya Sasa terdengar begitu ingin tahu. “Kan di rumah aja juga liburan. Nonton TV, main sepuasnya, dan … nggak masuk sekolah. Yeayyyy!”
“Bener, Sa, bener.” Umay mengangguk-angguk. “Itu yang bikin senang dari liburan, nggak usah sekolah. Yuhuuu!"
“Huh, nggak seru.” Reka menggerutu. “Kalian nggak ada rencana ngisi liburan dengan hal menarik apa? Biar pas masuk sekolah semangat lagi.”
Umay dan Sasa menggeleng berbarengan. “Enggak.”
Reka mendengus. “Kalau gini caranya sih, percuma juga liburan tapi nggak ngapa-ngapain. Boring, bikin males.”
Sepertinya, kebiasaan mengisi liburan antara Reka dan ketiga anaknya berbeda. Tama pernah bercerita, jika liburan sekolah tiba, Reka kecil akan diajak sang bunda pergi ke Bali atau tempat wisata menarik lainnya. Sedangkan ketiga anaknya, terbiasa mengisi liburan dengan bermain di sekitar rumah saja. Mereka jarang dan hampir tak pernah mengunjungi tempat wisata, terutama sejak bang Is bekerja di kapal tanker.
Kalau diingat-ingat, momen wisata terakhir mereka adalah pergi ke kebun binatang Ragunan. Sudah berlalu teramat lama. Agam memang terkadang mengajak ketiga anaknya jalan-jalan ke Mall. Tapi bisa dihitung dengan jari. Sebab selain ia melarang agar jangan sering-sering membuang uang untuk hal kurang bermanfaat, waktu Agam juga telah habis untuk bekerja di Retrouvailles dan ekspedisi milik bang Fahri.
Sementara sejak seminggu sebelum libur tiba, Tama tengah disibukkan oleh pekerjaan. Selain jarang pulang ke rumah, sang suami hampir tak pernah memiliki waktu kosong di akhir pekan.
“Tolong bilang ke anak-anak, kita nggak ada liburan,” ujar Tama ketika ia menanyakan apakah sang suami memiliki rencana berlibur bersama anak-anak. “Kalau mau refreshing, kalian jalan ke Mall atau makan di luar aja. Ajak Anja sama Cakra karena Papa nggak bisa ikut.”
Tetapi ia memiliki ide menarik lain. Ia lantas meminta izin pada bu Niar untuk membawa anak-anak menginap di rumah ibu mertuanya itu. Ia juga meminta izin Anjani agar memperbolehkan anak-anak tidur di rumah pohon. Menurutnya, akan lebih menyenangkan berkumpul bersama keluarga daripada jalan-jalan ke Mall. Ia bisa memasak untuk makan malam, anak-anak puas berenang di tempat uti, dan berkemah di rumah pohon milik makbit.
__ADS_1
Umay dan Sasa menjadi yang paling antusias menyambut rencana pergi ke rumah uti. Sementara Reka dan Icad hanya mengangguk dengan wajah datar. Jadilah liburan akhir tahun ajaran mereka isi dengan menginap di rumah uti sebanyak berkali-kali. Selebihnya di rumah saja. Itulah mengapa ia belum mengikuti senam hamil. Ia berencana mendatangi kelas senam hamil setelah anak-anak kembali masuk sekolah.
Dan hari ini adalah hari pertama masuk sekolah usai libur panjang. Agendanya cukup padat. Jam tujuh pagi ada janji temu dengan arsitek, jam sepuluh giat bersama ibu-ibu Kemala, lalu makan siang bersama teman-teman kelas kepribadian untuk merayakan pertunangan Hilda dan Jack, sementara sorenya pengajian rutin di rumah bersama ustadzah Mutia.
“Mama, makannya nggak habis,aku kenyang,” rengek Sasa sambil menunjukkan piring berisi nasi dan lauk yang masih banyak.
“Sini, Abang yang abisin, Sa.” Umay hampir menyambar piring Sasa namun ia lebih dulu mencegah.
“Semalam Sasa nggak makan, kalau pagi ini nggak sarapan, nanti lemas di sekolah.” Ia menggeleng memperingatkan. “Coba … kalau Mama lihat … isi piring Sasa masih sama seperti tadi, nggak ada yang berkurang. Itu, nasi masih utuh. Lauknya juga belum disentuh. Makan ya nak, sedikit juga nggak apa-apa. Yang penting perut keisi.”
Sasa memberengut sambil membanting sendok ke atas piring. “Nggak mau! Sasa mau minum susu aja!”
Ia menghela napas panjang melihat perilaku Sasa. Ia lantas mengedarkan pandangan ke sekeliling ruang makan. Umay terlihat menghabiskan sarapan seperti dikejar-kejar. Reka khusyu memasukkan lauk ke dalam kotak bekal. Dan Icad baru menghabiskan suapan terakhir lalu bangkit untuk mencuci piring di dapur.
“Mau disuapin Mama?” tawarnya sambil mendudukkan diri di sebelah Sasa. Tapi putri kecilnya yang hari ini memakai pita berwarna pink itu menggeleng kuat-kuat.
“Nggak mau! Sasa nggak lapar! Minum susu aja!”
Ia kembali menghela napas panjang. “Iya, nggak apa-apa, Sasa nggak usah sarapan. Tapi minum susu sama makan roti, ya? Biar Mama buatkan roti panggang.”
“Nggak mau!” Suara Sasa menghentak marah.
“Sasa?” Ia mengernyit. “Boleh kalau bicara yang baik? Tidak membentak orang tua, nak. Boleh marah sama Mama, tapi bicaranya tidak pakai teriak-teriak.”
“Jangan sampai suara kita lebih tinggi dari suara orang tua, Sa,” gumam Umay yang tengah menunduk menghabiskan sarapan.
“Mama mau buat roti panggang dulu.” Ia memiliki ide untuk meraih hati Sasa. Sebab meladeni kemarahan Sasa tidak akan ada habisnya kalau tidak segera mengambil tindakan tegas. “Nanti Sasa boleh makan di mobil sambil jalan ke sekolah.”
Ia bergegas beranjak ke dapur, namun masih bisa mendengar suara Umay yang berbisik. “Nurut sama mama, Sa. Jangan rewel.”
Ia mulai mengoles roti dengan selai cokelat kesukaan Sasa. Lalu memasukan ke dalam panggangan dan mengatur tingkat kematangan.
“Sasa ngambek karena semalam om Tama nggak jadi nelepon,” ujar Icad yang baru selesai mencuci piring sepintas lalu.
Ia kembali menghela napas panjang. Sudah tiga hari Tama tak pulang ke rumah. Biasanya, sang suami rutin menelepon anak-anak di malam hari jika sedang dinas luar. Tapi dua malam terakhir, tak ada telepon masuk yang paling dinantikan. Ketika ia mengirim pesan menanyakan apakah lupa menelepon, Tama hanya menjawab singkat dengan satu kata, sibuk.
“Sasa kangen sama papa?” ujarnya pelan sambil meletakkan piring berisi roti panggang ke atas meja.
Sasa yang masih cemberut mengangguk lemah.
“Maaf ya, semalam papa nggak jadi nelepon.” Ia membelai rambut Sasa. Berharap bisa mengambil hati sang putri.
“Dua malam!” Suara Sasa masih saja membentak.
“Iya, papa dua malam nggak nelepon.” Ia mengangguk. “Nanti biar mama ingatkan papa untuk nelepon Sasa.” Ia merapikan pita yang hampir terlepas. “Ya? Sekarang Sasa siap-siap ke sekolah. Nanti terlambat.”
Sasa semakin merengut. “Papa bohong! Papa ingkar janji! Nggak nelepon Sasa, nggak sayang sama Sasa!” Lalu meraih sepotong roti panggang dengan gerakan cepat dan mengulurkan tangan untuk mengucap salam.
Jam tujuh kurang lima menit, sebuah sedan berwarna perak memasuki halaman rumah.
“Sarapan dulu, Kang Adam.”
Pemuda di hadapannya menolak halus. “Terima kasih, Ibu. Tapi tadi saya sudah sarapan.”
Aulia Adam cukup sabar dalam menghadapi klien. Ia telah membuktikannya sendiri. Dalam diskusi mereka tentang desain yang selalu berubah-ubah di setiap pertemuan, Adam senantiasa mengikuti banyaknya keinginan mereka dengan baik.
Tama pernah mencandai Adam ketika di tengah jalan menginginkan penambahan ruangan di lantai dua saat perhitungan RAB sudah keluar. Dan pemuda itu menjawabnya sembari setengah berseloroh.
“Saya dibayar, Pak. Makanya ramah.”
Ia lantas mengingatkan sang suami, agar setelah proses pembangunan rumah nanti selesai, Adam diberi penghargaan khusus karena telah melayani mereka dengan baik.
“Ini posisi lubang serapan biopori yang Ibu inginkan.” Kini Adam membentangkan kertas gambar di hadapan mereka dan mulai menerangkan. "Jumlahnya telah disesuaikan dengan luas lahan terbuka yang mengelilingi rumah Ibu."
Ia sedang menikmati santap siang di restoran sebuah hotel berbintang ketika mamak menelepon.
“Cut, Umay pulang cepat, dari sekolah datang ke rumah Mamak seorang sendiri.”
“Iya, Mak,” jawabnya sambil mendengarkan cerita lucu tentang kisah pertunangan Hilda dan Jack yang diceritakan Tobias. “Anak-anak boleh istirahat di sana dulu, Mak? Nanti sore biar dijemput Agus, sekalian ustadzah Mutia mau ada pengajian di rumah.”
“Tapi Umay pulang sendiri, Cut. Sasa tak ikut ke mari. Kata Umay sudah dijemput lebih du ….”
Ia tak bisa mendengar ucapan mamak dengan jelas sebab meja didominasi gelak tawa orang-orang yang menertawakan perjalanan lucu kisah cinta Hilda dan Jack.
“Iya, Mak,” ucapnya sedikit terburu-buru dan ikut tersenyum menanggapi ledekan Joanna untuk pasangan kekasih baru, Hilda dan Jack. “Aku titip anak-anak dulu, nanti sore dijemput, Teurimong geunaseh, Mak.” pungkasnya menutup sambungan.
Jelang sore ketika ia tengah memotong bolu gulung untuk pengajian, Umay ber assalamu’alaikum dengan riang, disusul kemunculan mamak dan ustadzah Mutia di belakang.
“Cuci tangan sama cuci kaki dulu, May. Lalu ganti baju,” ujarnya sambil mengelap tangan dengan tisu, bermaksud menyambut mamak dan ustadzah Mutia. “Ajak Sasa juga. Ingatkan untuk ganti baju.”
“Sasa nggak ada, Ma,” jawab Umay sambil masuk ke kamar mandi.
Ia tertegun dan bergegas menemui mamak beserta ustadzah Mutia.
“Kupikir sudah tahu kalau Sasa tidak ikut pulang ke rumah,” jawab mamak keheranan ketika ia menanyakan di mana Sasa.
__ADS_1
“Tidak ikut pulang ke rumah bagaimana, Mak?” tanyanya bingung. “Tadi bukannya pulang sekolah bersama Umay?”
Mamak menggeleng. “Sasa tak ikut pulang ke rumah. Sudah kubilang di telepon tadi.”
“May!” Ia mengetuk pintu kamar mandi meminta putra keduanya itu segera keluar. “Umay!”
“Tadi kata bu guru, Sasa dijemput duluan sama ajudan papa,” jawab Umay begitu keluar dari kamar mandi.
“Ajudan papa yang mana?” Ia sedikit keheranan sebab Tama tak pernah memberitahukan hal ini. “Om Nurdian?”
Umay menggeleng.
“Om Heru?” kejarnya. “Atau Tante Lolle?”
Lagi-lagi Umay menggeleng lalu mengangkat bahu. “Nggak tahu, Ma. Tadi, habis bu guru pengumuman pulang cepat, aku sakit perut, terus ke WC.”
“Lalu Sasa di mana?”
“Aku nyuruh Sasa nunggu di depan ruang guru.”
“Terus?” Ia mulai was-was.
“Terus … pas aku keluar dari WC, Sasa udah nggak ada.”
“Nggak ada bagaimana?”
“Kata bu guru, Sasa dijemput ajudan papa.” Ulang Umay seraya mengernyit. “Begitu.” Lalu putra keduanya itu menatap heran. “Kenapa Mama nanya-nanya, memang Sasa belum sampai rumah ya, Ma?”
Ia segera menelepon Tama, tapi dua nomor yang dihubungi tak satupun tersambung. Ia lantas menghubungi kantor sang suami, tapi petugas bilang Tama sedang tidak berada di kantor. Ia lantas bertanya apakah sang suami memerintahkan ajudan untuk menjemput anak-anak. Petugas menjawab jika ajudan sedang mengikuti Tama dinas luar. Ia merasa tak puas dan kembali bertanya, apakah bisa berbicara melalui telepon dengan petugas Nurdian, Heru, atau Lolle. Dan ketiga petugas yang disebutkan namanya menjawab tidak pernah diperintah Tama untuk menjemput anak-anak.
Dengan hati tak karuan ia bergegas menghubungi wali kelas Sasa, menanyakan siapa orang yang menjemput ke sekolah.
“Perempuan, Bu, pakai seragam polisi, cantik sekali. Bilangnya ajudan pak Tama.”
“Tapi sampai sekarang Sasa belum sampai rumah, Bu,” ucapnya mulai gemetaran. “Dan suami saya sedang dinas luar, tidak pernah menyuruh ajudan untuk menjemput anak-anak.”
Jakarta
Reka
Ia sedang mengikuti sesi pengenalan ekstrakurikuler dalam kegiatan MPLS untuk kelas VII di ruang teater ketika pak Vanvan memanggil.
“Reka, sudah tampil ke depan?”
Ia mengangguk. Meskipun bukan ketua ekskul renang, namun waka kesiswaan memintanya berbicara di depan siswa baru sebagai peraih medali perak Popprov tahun ini.
“Ada apa, Pak Vanvan?” tanyanya sambil berjalan mengekori guru olahraganya itu.
“Ada yang jemput kamu,” jawab pak Vanvan seraya menyuruhnya masuk ke ruang guru piket.
“Reka, ada keperluan penting keluarga yang mengharuskan kamu pulang sekarang juga,” ujar pak Dieter, sambil menunjuk seorang pria berambut cepak berseragam cokelat yang duduk di kursi tamu.
Ia mengangguk dan meminta izin untuk mengambil tas lebih dulu di kelas. Namun pria asing yang memberinya tatapan tajam itu langsung berdiri.
“Tidak perlu ambil tas, Dik,” ujar pria berseragam cokelat tersebut. “Kita langsung pulang saja.”
Ia memandang pak Dieter dan pria tersebut bergantian. “Gimana saya bisa pulang tanpa tas? Di tas ada handphone dan buku pelajaran yang baru dibagikan.”
“Sudah, Dik, tidak perlu,” sambung pria asing itu tegas. “Nanti biar diambil oleh petugas yang lain. Sekarang Adik ikut saya. Bapak sudah menunggu. Penting.”
Pak Dieter berusaha menengahi. “Ambil tasnya sebentar kok, Pak. Kita tunggu dis__”
“Tidak perlu, kami harus pergi sekarang juga.” Pria berambut cepak memberi tatapan menguliti padanya dan pak Dieter. “Terima kasih. Selamat siang,” sambung pria itu sambil menarik lengannya keluar dari ruang guru piket.
“Nanti tasnya bapak kirim pakai ojol, Ka.” Sayup-sayup terdengar seruan pak Dieter ketika ia berjalan melintasi koridor menuju halaman depan sekolah.
“Ada hal penting apa, Om?” tanyanya ketika pria cepak itu menghampiri mobil berwarna hitam. “Buru-buru begini?”
Namun pria seragam cokelat tak menjawab. Malah menyuruhnya masuk ke pintu belakang dengan sedikit dorongan.
Ia yang sangat kesal mendapat perlakuan kasar ingin melancarkan protes. Namun urung, sebab begitu masuk mobil, ia mendapati dua pria yang juga berambut cepak dan berseragam cokelat duduk di dalam. Termasuk seorang lainnya di jok samping supir.
Ia lantas ditarik oleh pria beralis hampir menyatu agar duduk di tengah-tengah.
Ia pun menggerutu sambil mengendikkan bahu. “Aku bisa duduk sendiri!”
Mobil yang mereka tumpangi langsung tancap gas ke jalan raya. Ia masih menggerutu atas perlakuan kasar yang dilakukan orang-orang ini. Padahal di kantor lama ayah, para petugasnya baik dan ramah. Apalagi begitu mengetahui jika ia adalah anak ayah. Keramahan mereka akan bertambah berkali lipat. Tapi orang-orang berseragam ini benar-benar bernyali memperlakukannya dengan kasar.
“Kita mau ke mana, Om?” Ia mulai keheranan tatkala menyadari rute yang dilewati bukanlah jalan menuju rumah atau kantor ayah. “Kok ke arah sini?”
“Diem, lu!” bentak pria beralis menyatu. “Nggak usah banyak nanya!”
Ia melotot berusaha menantang. “Om siapa namanya! Kenapa bukan om Nurdian atau om Heru yang jemput?”
Tiba-tiba pria yang duduk di samping kanan memukul kepalanya. “Diam, bang sat!”
Sementara pria di sebelah kiri memiting lehernya sambil membekap mulutnya menggunakan sapu tangan hitam yang mengeluarkan bau menyengat.
Ia merasa sangat marah dan ingin membalas pukulan, namun meleset. Ia lantas menendang dan memberontak sekuat tenaga berusaha melepaskan diri. Tapi tubuh seolah berangsur-angsur tak bertenaga. Lalu lemas tak berdaya. Rasanya lelah sekali sampai tak bisa bergerak. Ia hanya sempat mendengar orang-orang di dalam mobil saling memaki menyebut nama binatang.
__ADS_1