
One Fine Day
(Satu hari terbaik)
***
Jakarta
Reka
Seperti baru kemarin, ketika ia melampiaskan amarah sambil menangis meraung-raung dan melempar barang. Lalu mbah uti datang menghiburnya dengan mengabulkan semua permintaan. Tanpa pelukan hangat bunda ataupun perkataan menenangkan ayah. Dua hal paling diinginkan yang tak pernah terwujud.
Sampai sekarang.
Namun kali ini giliran eyang uti yang menghampiri dan memeluknya erat-erat seolah enggan terlepas. "Uti kira ayah yang lagi di kamar. Musiknya persis seperti yang sering disetel ayah."
"Tadinya mau Uti jewer." Uti menatapnya dengan mata berkaca. "Siang-siang kok malah di kamar nggak ke kantor."
"Tapi kalau Reka ...." Uti tersenyum. "Dipeluk saja, ya."
Ia tak begitu dekat dengan uti. Tapi pelukan hangat beraroma khas nenek-nenek entah mengapa membuatnya tenang dan nyaman. Rasanya seperti ... menemukan rumah yang telah lama hilang.
Kini, ia merasa lebih segar usai mandi dan berganti baju. Berdiri mencangkung memperhatikan uti yang sedang sibuk di dapur bersama mba Yuni.
"Ngapain?"
"Oh ... ini ... kita mau masak cemilan kesukaan ayah." Uti menoleh. "Reka mau bantu?"
Ia tak pernah membantu mbah uti memasak di dapur. Selama ini hanya tahu beres dan tinggal makan. Lagipula, ia juga tak pernah melihat bunda turun ke dapur. Karena bunda lebih senang memesan makanan daripada memasak.
"Aku nggak tahu." Ia mengangkat bahu. Benar-benar tak tahu cara memasak meski hanya membantu.
"Ini ..." Uti menyerahkan wadah berisi tepung, santan, dan gula pasir. "Boleh diaduk sampai larut. Jangan ada yang menggumpal."
"Memangnya mau masak apa?"
"Diaduk terus, biar nggak menggumpal." Uti mempraktekkan cara mengaduk yang benar. Lalu menjawab. "Es selendang mayang. Reka suka nggak?"
Ia meringis bingung. "Yang kayak gimana?"
Uti tertawa. "Yang ada agarnya warna warni, pakai santan dan gula merah. Masa belum pernah makan?"
Ia makin meringis. "Di Surabaya nggak ada beginian."
"O ... tapi bunda pernah buat pasti, kan? Ini jajanan kesukaan ayah Reka dari kecil, lho. Paling favorit."
Ia mengangkat bahu. "Bunda nggak pernah masak. Ayah juga nggak pernah di rumah. Mana kutahu?"
Uti tercenung memandangnya. Lalu mengusap lengannya perlahan. "Yuk ... diaduk terus. Biar bisa cepet dimasak."
Ia mengangguk. Tapi juga ingin bertanya. "Ini tepung apa kok warnanya merah?"
Uti mengambil sebuah bungkusan plastik dari meja dapur. "Namanya tepung hunkwe. Ada yang warna merah, putih, hijau." Uti memperlihatkan beberapa bungkus tepung berwarna warni sekaligus.
"Ini tepung serbaguna. Bisa dimasak banyak macam," sambung Uti. "Bisa jadi puding, agar, selendang mayang, es ... nah ... nanti kita buat es gabus juga, ya. Reka pasti suka."
Ia meringis.
"Kalau es gabus ... kesukaannya paklek Sada." Uti tersenyum senang. "Nah, udah larut. Sekarang bisa nyalakan kompornya. Api sedang saja ya, Reka. Jangan lupa terus diaduk."
Ia mengikuti semua petunjuk yang diberikan Uti. Mengaduk, menuang, membuat kuah santan. Beberapa kali mba Yuni tertawa-tawa karena ia salah mengerjakan.
Tapi Uti tak mempermasalahkannya. "Nggak apa-apa ... nggak ada cara masak yang salah ... cuma belum terbiasa."
Sambil menunggu adonan selendang mayang dingin dan membeku, Uti mengajaknya melihat bagian belakang rumah. Menyiangi sejumlah pot kecil berisi bunga dan tanaman hias yang tersusun rapi di teras belakang.
"Cabenya subur, Gus?"
"Nggeh (iya), Bu." Mas Agus turut memeriksa sederet tanaman cabai di dalam pot. "Sudah bisa dipanen."
"Bagiin ke tetangga saja. Daripada kebuang sayang."
"Nggeh (iya), Bu." Mas Agus mulai memetik cabe yang memerah sempurna.
Begitu urusan tanaman selesai, selendang mayang sudah matang dan bisa dinikmati.
"Enak, nggak?"
Ia mengangguk-angguk. "Hmm ... hmm ...."
Uti tertawa sambil mengusap lengannya. "Komentarnya juga persis seperti ayah. Kalau enak nggak bisa ngomong apa-apa cuma ham hem ham hem ...."
Ia langsung menghentikan suapan. Semirip itukah?
Ketika ia mengambil gelas yang kedua, uti kembali ke dapur bersama mba Yuni. Tak lama kemudian, mulai tercium aroma harum masakan.
"Masak lagi?" Ia yang merasa bosan ikut menyusul ke dapur.
"Buat makan siang." jawab Uti dari depan kompor. "Habis ini kita kan mau jalan-jalan. Jadi ... makan siang dulu biar jalan-jalannya semangat."
Ia tertawa. "Ke mana?"
"Reka mau ke mana?"
Ia mengangkat bahu.
"Mall?"
Ia menggeleng. "Bosen tiap hari ke mall."
Uti mengaduk masakan di atas wajan sambil tersenyum. "Kalau begitu ... kita cari suasana baru. Uti tahu tempat yang seru ... Reka pasti suka."
Dan suasana baru yang seru menurut uti ternyata,
"Kita mampir ke kantor ayah dulu, ya. Uti mau kirim makan siang sama selendang mayang yang tadi."
__ADS_1
Ia mengekori langkah uti di belakang. Berjalan memasuki kantor bercat cokelat yang terasa asing meski hampir semua orang tersenyum.
"Siang, Bu," sapa petugas yang mereka lalui. Tapi ia tak peduli, lebih asyik memperhatikan setiap ruangan yang dilewati daripada membalas senyuman semua orang.
"Pak Tama sedang ke Mapolda," ujar seorang petugas yang menyambut mereka di sebuah ruangan.
"Tidak apa-apa." Uti mengangsurkan lunch box yang dibawa. "Cuma mau titip ini."
"Atau Ibu mau menunggu?" Tawar petugas tersebut. "Satu jam ke depan pak Tama sudah kembali. Ada jadwal konferensi pers di ruang media."
Tapi uti hanya mengantarkan makanan saja. Tak berniat untuk menunggu. Dari kantor yang bernuansa dingin itu, mereka kembali meluncur ke tempat berikut.
"Waktu di Surabaya ... Reka pernah ke kantor ayah?"
Ia yang sedang memperhatikan kemacetan lalu lintas di tengah kota Jakarta menggeleng.
"Nggak pernah meski sekalipun?"
Lagi-lagi ia menggeleng.
Uti menghela napas panjang sambil memandanginya. Entah apa yang sedang dipikirkan uti. Tapi sepintas, ia bisa merasakan aura kesedihan yang menguar.
"Kita mau ke mana lagi?" Tanyanya heran ketika mobil melaju ke daerah pinggiran yang tak terlalu ramai.
"Pabrik," jawab uti yakin. "Tempat di mana roda keluarga kita berputar."
Pabrik yang dimaksud adalah pintu gerbang berwarna krem setinggi dua meter yang melindungi beberapa bangunan besar di dalamnya.
"Siang, Ibu ...." Seorang sekuriti membukakan pintu mobil untuk uti. Disusul sapaan hangat dari semua orang yang berada di sekitar gerbang.
Dari halaman tempat mobil terparkir, terlihat tiga bangunan utama berukuran besar dan dua gedung yang lebih kecil namun berdesain mutakhir.
Uti mengajaknya memasuki gedung paling depan. Melewati sejumlah orang yang sedang membongkar muatan dari sebuah mobil box. Mengangkut kontainer transparan berisi ikan hidup. Membawanya masuk ke dalam bangunan besar yang kedua.
"Ini Reka ... cucu pertama saya." Begitu uti memperkenalkannya pada semua orang di dalam ruangan kantor. "Baru datang dari Surabaya."
"Ini namanya Pak Fabian , kepala pabrik." Uti menunjuk seorang pria yang berdiri paling depan.
"Selamat datang, Mas Reka." Pak Fabian mengajaknya bersalaman. "Silakan kalau mau lihat-lihat."
Ia hanya meringis.
"Persis banget pak Tama ya, Bu?" Seloroh pak Fabian. "Tadi saya pikir ... ada pak Tama versi ABG."
Semua orang di sana tertawa kecuali dirinya.
"Plek ketiplek." Uti terkekeh paling lama. Lalu memintanya duduk. Tapi ia lebih memilih untuk melihat-lihat sekeliling.
"Tadi pagi pak Raka sempat datang ke sini, Bu." pak Fabian dan uti mulai mengobrol di sofa tamu. "Dengan pak Binur dan pak Putra. Katanya mau langsung ke cabang Bekasi."
Ia meninggalkan uti dan pak Fabian menuju ke luar gedung. Memperhatikan sebuah truk yang sedang membongkar muatan berupa sayuran dan bumbu dapur. Berkarung-karung bawang bombay, bawang merah, bawang putih, cabai, diangkut menggunakan troli.
Ketika karung terakhir diturunkan, sebuah mobil box kembali memasuki halaman. Orang-orang langsung sigap menurunkan isinya yang berupa beras, gula, dan tepung.
"Mau lihat ke dalam?" Suara uti tiba-tiba terdengar di balik punggungnya.
Selanjutnya ada yang mengupas, menggiling, lalu memisahkannya sesuai dengan jenis menu.
Di bangunan kedua terdapat sejumlah pekerja pria yang sedang menyeleksi ikan. Semua ikan dalam keadaan segar dan hidup dipilih. Sementara ikan yang mati dipisahkan.
Juga ada yang memotong daging menggunakan mesin pemotong, membersihkan ikan yang telah diseleksi, dan sejumlah proses lainnya.
Semua terlihat sibuk dengan tugas masing-masing. Tak ada seorangpun yang berleha-leha. Setiap detik terasa begitu berharga, tak boleh terlewatkan.
"Ini pabrik masa depan." Uti meraih bahunya. "Nanti giliran Reka, Arka, Yasa, Lana, dan Aran yang meneruskan."
"Kalau bisa sampai ke anak-anak Reka. Bahkan cucu." Uti tersenyum. "Semakin berkembang dan terus maju. Membantu banyak orang di sekitar."
Ia mengangguk meski tak sepenuhnya mengerti. Sebab baginya, masa depan adalah entah. Tak tahu apakah bisa berada di masa depan atau tidak. Karena masa kininya sedang kacau balau. Meski ada satu jalan keluar yang mungkin bisa memperbaiki, ayah dan bunda kembali bersama.
Mereka berada di pabrik hingga sore hari. Mengelilingi semua proses dan tahapan produksi. Ia bahkan sempat mencoba menjalankan forklift dan memotong daging menggunakan mesin.
"Dulu Uti sempat trauma ke tempat pemotongan daging," bisik uti ketika ia mulai lancar memotong dengan rapi.
"Kenapa?"
"Ada pegawai yang tangannya masuk ke dalam dan ...."
"Uti?" Ia meringis dan langsung menghentikan kegiatan memotong daging.
"Jangan lama-lama di sini." Uti balas meringis. "Masih suka kebayang ...."
Dari pabrik, mobil yang mereka tumpangi kembali membelah padatnya lalu lintas kota. Kemudian berhenti di halaman sebuah restoran yang bangunannya cukup megah.
"Kita mampir ke kantor dulu, ya."
Sama seperti sebelumnya, semua orang yang mereka jumpai pasti tersenyum dan menyapa.
"Wah, jagoan siapa ini?" Sambut seorang pria yang sedang duduk di balik meja. Begitu ia dan uti memasuki pintu kaca di lantai dua.
"Tama junior!" Pria itu merangkulnya. "Liburan, Reka?"
"Iya." Ia mengangguk.
"Weits, ada anak ganteng datang, nih." Seorang wanita yang baru memasuki ruangan ikut berseloroh.
"Inget sama Tante Iren, nggak?" Tunjuk pria yang barusan merangkulnya.
Ia hanya meringis.
"Wah, Reka lupa sama elu, Ren." Pria itu tertawa senang.
"Kalau sama Om inget, nggak?" Wanita yang bernama Iren balas menunjuk pria yang kini kembali merangkulnya. "Namanya Om siapa?"
Ia kembali meringis.
__ADS_1
"Hahaha ...." Tante Iren tertawa. "Lupa juga sama lo."
"Ah!" Pria yang merangkulnya mengernyit. "Kan kita pernah ketemu waktu di rumah akung Setyo. Masa lupa? Belum lama lho ...."
Ia berusaha mengingat-ingat. Lalu tersenyum malu. "Om Raka ... Om Raka ...."
"Nah!" Om Raka tergelak. "Ingat, kan?"
"Kayaknya lagi bahagia nih Om Raka?" Uti yang sedang membaca dokumen tersenyum.
"Aduh, Tante." Tante Iren menggeleng tak setuju. "Justru karena lagi stres dia ... makanya ketawa-ketawa terus."
"Stres kenapa?" Uti masih tersenyum. "Bukannya tiga bulan berturut-turut tembus target?"
"Stres habis ngelamar orang," jawab tante Iren yang diikuti tawa sumbang om Raka.
"Ngelamar siapa?" Uti terkejut. "Lho, Raka habis lamar orang? Kok Tante nggak tahu? Wah, pelanggaran ini ...."
Kemudian uti, om Raka, dan tante Iren mulai terlibat obrolan yang lebih serius. Membuatnya memilih bermain game di ponsel untuk mengusir rasa bosan.
Dari kantor ia pikir, mereka langsung pulang ke rumah ayah. Tapi ternyata menuju ke suatu tempat yang cukup ramai.
"Kota tua." Uti mengajaknya turun dari mobil. "Tempat menyenangkan untuk menghabiskan senja."
Mereka berjalan menyusuri pedestrian yang dipenuhi lalu lalang orang. Dengan sejumlah sepeda yang berseliweran menambah semarak suasana.
"Mau naik sepeda?"
Ia menggeleng.
"Kalau begitu ... kita langsung ke tempat favorit akung."
Uti mengajaknya memasuki sebuah bangunan bergaya tempo dulu yang berada tepat di seberang museum kota tua.
"Akung sukanya duduk di kursi itu." Uti menunjuk sebuah kursi yang berada di sisi jendela kaca. "Tapi karena ini smoking area dan uti suka sesak napas kalau ada asap rokok. Jadi kita ... duduk di lantai dua saja, ya."
Mereka menaiki tangga yang dindingnya dipenuhi gambar tokoh dunia. Semakin menguatkan aroma masa lampau. Seperti sedang memasuki labirin menuju jaman kolonial tempo dulu.
Uti memilih kursi di dekat jendela. Dengan sajian pemandangan indah kota tua di sore hari. Dan karena tak lapar, ia hanya memesan es krim vanilla. Sementara uti secangkir lemon tea.
"Bunda dan om Miko apakabarnya?" Perlahan uti mulai menyesap lemon tea.
Ia yang sedang menikmati es krim vanilla hanya terdiam.
"Uti senang Reka datang ke Jakarta." Uti tersenyum. "Di sini juga rumah Reka. Jadi ... jangan ragu-ragu kalau sewaktu-waktu ingin main kesini."
Ia terpaksa menghentikan suapan es krim yang terasa lezat. Lalu bergumam tak jelas, "Aku nggak mau bunda nikah lagi."
Uti menatapnya dengan kening mengerut.
"Bunda mau nikah sama pakde Pram. Tapi aku nggak setuju." Kali ini ucapannya sudah lebih jelas terdengar.
"Aku mau bunda sama ayah lagi." Ia menunduk sambil mengeraskan rahang. "Aku mau kami bertiga lagi." Ia mengangkat wajah dan menatap Uti. "Apa masih bisa?"
Uti sempat terdiam lama sebelum menjawab. "Meskipun ayah dan bunda nggak sama-sama lagi ... tapi mereka tetap sayang sama Reka. Nggak berkurang atau berubah."
Ia kembali menunduk dengan air mata yang hampir jatuh. "Jadi nggak bisa?"
"Jadi ayah sama bunda udah nggak bisa bareng lagi?" Ulangnya sambil menahan tangis. "Meskipun aku yang minta?"
***
Tama
Ia memilih pulang ke rumah mama karena Reka tidur di sana. Dan baru sampai saat semua penghuni rumah sudah terlelap kecuali satu orang, mama.
"Mama belum tidur?" Ia meraih tangan mama dan menciumnya. Tapi mama justru menariknya ke dalam pelukan.
"Kenapa?" Ia terheran-heran. "Reka bikin ulah?"
Mama melepas pelukan seraya tersenyum. "Gimana perkembangan terbaru kasus hakim agung?"
Ia menggeleng. "Masih proses."
Mama menatapnya. "Reka alhamdulilah baik. Tadi kami jalan-jalan ke pabrik."
Ia tersenyum lega. "Reka happy nggak, Ma?"
Mama balas tersenyum. "Kamu sudah makan belum? Mau Mama hangatkan sup ayam?"
Ia mengernyit. Dari Reka langsung beralih ke makan. Pasti ada yang tak beres.
"Mau sup ayam? Biar badan kamu hangat," ulang mama.
Ia menggeleng. "Makasih, Ma. Tadi aku udah makan. Ada apa? Kayaknya ada yang berat ...."
Mama meraih tangannya. "Tadi Reka sempat cerita ... kalau Kinan sedang mempersiapkan pernikahan."
Ia manggut-manggut. "Bagus, dong."
"Tapi Reka nggak setuju."
"Kenapa? Bukannya udah akrab sama orang itu." Ia mendesis.
"Reka mau kalian sama-sama lagi."
Ia mengembuskan napas panjang.
"Tapi ada satu yang mungkin kamu belum tahu ...."
Matanya menyipit. "Apa?"
"Raka sudah melamar Pocut ...."
***
__ADS_1
Keterangan :
Forklift. : perangkat yang digunakan untuk memindahkan barang