
No One Understand
(Tak seorangpun mengerti)
***
Jakarta
Reka
Ia menutup panggilan lalu memasukkan ponsel ke dalam saku.
"Gimana?" Wanita di hadapannya tersenyum. "Ayah bisa jemput?"
Ia mengangguk. "Bisa."
Wanita itu masih menatapnya. "Kalau ayah nggak bisa jemput, bareng aja sama Tante. Nanti diantar sampai ke rumah. Alamatnya di mana?"
Ia menggeleng dan tersenyum kikuk. "Makasih, Tante. Aku nunggu ayah aja."
"Mami ... ayoo." Gadis yang sedari tadi merengut memandanginya mulai menghentakkan kaki. "Aku mau cepet-cepet bobo di rumah. Ngantuk, pegel, kesel. Nungguin apa, sih?"
Ia mendesis sebal mendengar rengekan gadis itu. Sejak awal bertemu, mereka berdua memang sudah tak cocok satu sama lain.
"Heh! Awas!"
Ia yang tengah terlelap tersentak kaget ketika seseorang mendorong bahunya dengan kasar. Rasa pusing seketika menjalar membuat kepalanya berdenyut.
"Ini tuh bukan bantal, tahu!"
Ia memijat pelipis yang semakin berdenyut. Lalu mendecak kesal begitu menyadari yang baru saja mendorong bahunya dan mengomel adalah seorang gadis.
"Apa lihat-lihat?" Gadis itu memelototinya.
Ia semakin mendecak. Tak balas menggerutu meski merasa kesal. Lebih memilih membetulkan posisi hoodie sambil membuka tirai. Lalu melihat keluar jendela. Di mana kereta mulai berjalan perlahan meninggalkan stasiun.
...YOGYAKARTA...
Ia menguap dan kembali bersiap untuk tidur. Tapi gadis di sebelahnya tiba-tiba menurunkan tangan kursi dan menempatkan sebuah tas di antara mereka berdua.
"Ini batas!" Gadis itu merengut. "Nggak boleh melanggar batas!"
Ia kembali mendecak. Tapi tak mengatakan apapun. Dasar cewek aneh.
"Papi udah keluar dari toilet, tuh." Rengekan gadis itu membuyarkan lamunannya tentang perjalanan semalam di kereta.
"Ayo, Mami, buruan ...."
Wanita di hadapannya beralih mendekati si cewek aneh, lalu berbisik cukup keras. "Jora, kasihan anak itu. Dia pergi sendiri nggak sama orang dewasa. Mami pikir dia kabur dari rumah. Harus kita bantu. Kasihan kan orangtuanya pasti nyariin ...."
Ia semakin mendecak demi mendengar tebakan jitu wanita tersebut. Apakah kebingungannya terpancar dengan jelas? Atau kegugupannya terlalu kentara?
"Ya, tapi jangan lama-lama. Kita kan nggak kenal siapa dia. Kalau misalnya penjahat gimana? Mami ih, sukanya ngurusin orang lain!"
Ia duduk di kursi tunggu sambil menyandarkan punggung. Berpura-pura tak mendengar bisik-bisik ibu dan anak tersebut.
"Ayo ... kita pulang?" Seorang pria paruh baya tiba-tiba mendekat.
"Mau bareng sama kami nggak, Nak?" Wanita itu kembali bertanya. "Jangan takut. Kami nggak ada niat buruk. Ini ... anak Tante kan seusia." Sambil merangkul gadis yang memasang wajah cemberut.
"Jadi Tante bawaannya pingin bantu kalau ketemu sama anak yang seumuran sama putri Tante." Wanita itu terkekeh. "Ya, Pi, ya?"
Pria paruh baya yang sudah memegang travel bag itu menoleh. "Rumahnya di mana? Sekalian kita jalan."
Ia menggeleng. "Makasih, Om. Oh ... itu ... ayah udah datang." Ia melambaikan tangan tinggi-tinggi bahkan sampai bangkit dari duduk. "Ayah! Aku di sini!"
Pria paruh baya dan wanita di hadapannya ikut menengok ke arah lambaian tangannya.
"Oh ...." Wanita itu tertawa kecil. "Syukurlah kalau ayah sudah datang. Kalau begitu ... kami duluan, ya."
Ia mengangguk. Memperhatikan kepergian keluarga kecil itu sampai tak terlihat sebab terhalang oleh lalu lalang orang. Lalu kembali duduk sambil menyandarkan punggung.
Ya, tentu saja. Yang barusan adalah akting. Berpura-pura jika ayah sudah datang. Padahal belum kelihatan batang hidungnya sama sekali.
Ia mengetuk-ngetukkan kaki ke lantai dengan gelisah. Memperhatikan geliat kesibukan stasiun di waktu subuh. Menunggu kedatangan ayah yang seperti berabad-abad lamanya. Sementara ponsel di saku mulai memekikkan suara mesin mobil formula 1.
Bunda Calling ....
Ia menggenggam ponsel tanpa berkeinginan untuk mengangkat panggilan.
Bunda Calling ....
Ia menghela napas dan membiarkan panggilan terputus dengan sendirinya.
Bunda Calling ....
Ia tertunduk lesu memandangi layar ponsel yang menampilkan foto bunda sedang merangkulnya.
Maafin Reka, Bun.
***
Tama
Ia baru menutup pintu mobil ketika ponsel di saku bergetar tanda panggilan masuk.
Kinan Calling ....
"Hm?" Ia berdehem.
"Mas di mana?"
"Parkiran," jawabnya sambil berjalan dengan langkah panjang memasuki stasiun. "Kenapa?"
"Barusan aku telepon Reka tapi nggak diangkat."
__ADS_1
"He em ...."
"Bisa minta tolong ... nanti sambungin aku sama Reka, Mas? Aku mau ngomong penting."
"Aku udah nelepon Filio ...."
"Siapa Filio?"
"Temen Reka ... yang bantu Reka kabur."
"Apa katanya?"
Tapi Kinan tak menjawab. Justru mengatakan hal lain. "Begitu ketemu Reka ... tolong sambungin ke aku."
"Oke," jawabnya singkat sambil menutup panggilan. Karena telah menemukan sosok Reka yang sedang duduk di salah satu kursi ruang tunggu.
Ia menghela napas. Lalu berjalan mendekat sambil memasang senyum. "Selamat datang di Jakarta, Jagoan Ayah!"
Reka tertegun begitu menyadari kehadirannya. Namun masih mau membalas ajakan high five meski tanpa semangat.
"Lama nunggu?"
Reka menggeleng.
"Kita pulang." Ia tersenyum. Meraih bahu Reka yang hampir setinggi dirinya. Merasa sedikit lega karena Reka tak menolak ataupun memberontak. Meski tak menyambut hangat juga.
Tubuh Reka memasang sikap kaku. Layaknya kayu kokoh yang tak mengenal sentuhan. Tapi itu bukan masalah. Yang penting sekarang Reka ada di sini, menghampirinya tanpa diminta, menjadi satu kemajuan pesat yang tak boleh disia-siakan.
Dari stasiun, ia mengarahkan kemudi menuju ke rumah dinas. Perjalanan mereka dilingkupi kesunyian yang canggung. Tak seorangpun berminat angkat bicara. Reka lebih banyak melempar pandangan ke jendela samping. Sementara ia berusaha menyusun kalimat menyenangkan untuk menjalin pembicaraan. Tapi selalu gagal terucap.
Sampai ia membelokkan kemudi ke halaman rumah dinas, keheningan di antara mereka sama sekali tak terpecahkan.
"Reka ... ini mas Agus dan teh Yuni." Ia memperkenalkan Agus dan Yuni. "Gos, Yun, ini anakku ... Reka."
"Liburan, Mas Reka?" Agus tersenyum lebar. Tapi Yuni langsung menyikut lengan suaminya.
Ia mengangguk. "Liburan."
Dari ruang tamu, ia membawa Reka ke kamar miliknya. "Istirahatnya di sini."
Reka tak menjawab. Namun meski diam membisu, Reka mulai melepaskan ransel dari punggung. Lalu meletakkannya ke atas lantai.
"Sekarang kita sarapan dulu." Ia mengambil handuk berniat untuk mandi. "Ayah tunggu di meja makan."
Sepuluh menit kemudian ia telah berpakaian rapi. Menemui Reka yang sudah duduk menunggu di meja makan.
"Di sini nggak ada nasi krawu." Ia mencoba berseloroh. "Adanya ...." Sambil memperhatikan hidangan yang tersaji di atas meja. "Nasi uduk. Suka, kan?"
Reka mengangguk.
"Nanti biar Yuni suruh belajar bikin nasi krawu." Ia mulai mengisi piring dengan nasi uduk.
"Nggak usah repot-repot," gumam Reka dengan kepala tertunduk. Mengikuti jejaknya mengisi piring dengan nasi uduk dan lauk.
"Nggak papa." Ia meminum segelas air putih sebelum mulai makan. "Biar ada variasi."
Of course, i'm his father.
Kini mereka duduk berhadapan saling menatap dalam diam. Ia tersenyum dengan menarik ujung bibir sedikit. "Ayah harus berangkat ke kantor."
Reka tak menjawab.
"Beberapa hari ini Ayah cukup sibuk. Ada kasus rumit yang harus dipecahkan."
"Kamu tenang aja di sini. Kalau butuh apa-apa ... bisa minta tolong ke Agus atau Yuni," ujarnya seraya mengambil dompet, menarik selembar kartu, kemudian meletakkannya ke atas meja. "Boleh pakai ini."
"Pinnya hari ulangtahun kamu," lanjutnya kali ini sambil merogoh ponsel dan memberikannya pada Reka. "Telepon bunda sekarang."
Wajah Reka seketika menegang.
"Bunda khawatir kenapa kamu tiba-tiba menghilang." Ia terus mengulurkan ponsel karena Reka tak kunjung menyambutnya.
"Nggak mau!" Reka menantang matanya. Lalu bangkit dan berjalan lemas meninggalkan meja makan.
"Reka?" Ia berusaha memanggil.
"Aku mau sendiri!" Jawab Reka ketus sambil membanting pintu kamar. Hingga terdengar suara berdebum yang cukup keras.
Ia mengembuskan napas dengan kasar. "Gos!"
Agus menghampirinya sambil tergopoh-gopoh. "Ya, Pak?"
"Awasi Reka. Jangan sampai pergi dari rumah ini."
"Baik, Pak."
"Kalau ada apa-apa langsung telepon aku!"
Agus mengangguk.
Di tengah perjalanan menuju ke kantor, ia kembali menghubungi Kinan.
"Mana Reka?" Suara Kinan terdengar serak seperti orang habis menangis.
"Di rumah."
"Nggak mau ngomong sama aku?"
Ia mengembuskan napas panjang. "Biar dia sendiri dulu."
"Dia marah sama aku?" Suara Kinan terdengar bergetar.
"Dia marah sama kita berdua," jawabnya dengan hati tersayat sembilu. "Kita kasih ruang dulu."
Kinan tak menjawab.
__ADS_1
"Kita perlu membahas dan menyelesaikan ini, tapi bukan sekarang," lanjutnya karena Kinan tak kunjung bersuara.
"Kapan?"
"Dia masih sekolah?" Ia balik bertanya.
"Siapa? Reka? Besok terima raport."
Ia mengangguk lega. "Dia aman di sini. Kamu nggak perlu khawatir. Nanti kukabari kapan kita bisa membahas semuanya bertiga."
***
Pocut
Selama ini, sikap pak Raka selalu baik terhadapnya. Tak sampai hati jika harus mempermalukan. Ia bermaksud membalas kebaikan dengan menjaga marwah pak Raka di hadapan semua orang.
Tapi sosok Tama juga harus disimpannya rapat-rapat. Selain karena Tama dan pak Raka memiliki hubungan kekerabatan. Juga karena Tama belum meminang secara resmi. Orang akan menganggapnya berpedoman pada ketidakpastian. Tak menghargai niat baik dan kesungguhan pak Raka.
Hingga 100 mayam adalah jalan keluar paling sulit yang harus diucapkannya.
"Maafkan aku, Mak." Ia menangis di pangkuan mamak. "Aku tak tahu harus menjawab apa."
Mamak membelai rambutnya. "Kita sudah berikhtiar. Sekarang tinggal menunggu sambil terus memohon kebaikan ...."
"Semoga apa yang diharapkan ... sama seperti yang ditetapkan."
"Tapi jika tidak ... semoga kita semua ikhlas menerima."
Malam harinya, untuk kali pertama ia memandangi sosok pria selain bang Is sambil berlinang air mata. Pria yang sedang tersenyum lebar bersama Icad dan Umay.
***
Raka
100 mayam bukanlah jumlah yang sulit baginya. Ia bahkan bisa memberikan tiga kali lipat melebihi jumlah yang disyaratkan. Tapi nasehat om Hasan membuatnya tercenung.
"Om harus sampaikan meski berat ...." Om Hasan menggeleng. "Ini tanda penolakan secara halus."
Ia tertawa. "100 mayam aku sanggup, Om. Atau lebih? Nggak masalah."
"Bukan sanggup atau tidaknya." Om Hasan lagi-lagi menggeleng. "Tapi pesan tersirat yang ingin disampaikan wanita itu."
"Dari cerita bu Cut Rosyida, mitsil (standar mahar) di keluarga mereka di bawah 15 mayam." Om Hasan bahkan mengambil kertas untuk menuliskan sesuatu.
"Di pernikahan sebelumnya bahkan hanya 10 mayam." Om Hasan memperlihatkan coretannya. "Terlalu jauh mensyaratkan 100 mayam untuk keadaan wanita seperti itu."
"Mungkin wanita itu merasa tak enak jika langsung menolak secara terang-terangan."
"Jadi memilih menyebutkan jumlah tertentu sebagai tanda penolakan."
Ia hampir tertawa mendengar penjelasan om Hasan tentang filosofi syarat 100 mayam adalah penolakan tersirat Pocut. Benar-benar tak masuk akal.
"Tebakan Om ... wanita itu lebih condong pada orang pertama yang datang." Om Hasan menatapnya.
Ia benar-benar tertawa sekarang. "Orang pertama baru menyampaikan niat, Om. Bukan pinangan resmi."
"Seharusnya yang lebih dipertimbangkan yang meminang resmi. Dan aku menyanggupi syarat 100 mayam." Ia bersikukuh. "Kurang apa lagi?"
***
Bu Niar
Hampir dua minggu sekali ia mengunjungi rumah dinas Tama. Selain untuk refreshing juga ingin melihat kondisi tempat tinggal putra sulungnya itu. Sebab paham betul dengan gaya hidup melajang yang dilakoni Tama. Persis seperti saat masih bujangan. Jarang pulang ke rumah dan abai.
Tapi kunjungannya kali ini mendapat kejutan tak terduga. Saat kehadirannya disambut oleh lengkingan suara musik metal yang berasal dari kamar Tama. Dan menjumpai Yuni juga Agus tengah membereskan meja makan yang berantakan.
"Subhanallah." Ia menggelengkan kepala. "Ada apa ini?"
Yuni tergopoh-gopoh menyambutnya. Meninggalkan meja makan yang dipenuhi berbagai macam makanan.
"Habis pesta?" Ia masih menggelengkan kepala melihat meja makan yang seperti kapal pecah. Sejumlah kotak berisi makanan terbuka di sana-sini, ceceran kuah dan sambal, gelas plastik yang menumpuk.
"Tama nggak ke kantor?" Ia tak habis pikir. "Jam segini malah nyetel musik kenceng begitu. Kenapa Tama? Sakit?"
Yuni menggeleng. "Pak Tama sudah berangkat ke kantor dari pagi, Bu."
"Lho ...." Ia tak mengerti. "Jadi yang di kamar siapa?"
***
Reka
Begitu mobil yang dikendarai ayah meninggalkan halaman rumah, ia langsung memeriksa seluruh kamar dan ruangan yang ada.
Kamar yang ditempatinya adalah kamar ayah sendiri. Hampir tak ada hal menarik, semua terlihat standar. Kecuali foto kanak-kanaknya yang tersimpan di atas nakas.
Namun ketika beralih ke ruang tengah, ia dikejutkan oleh kolase foto dirinya dalam bingkai berukuran besar. Terpasang di dinding bersanding dengan foto ayah yang mengenakan seragam lengkap.
Gemintang Rekata Yuda, begitu tulisan di dalam kolase foto tersebut.
Setelah puas menelusuri keseluruhan ruangan dan memeriksa setiap sudut, ia mulai merasa bosan. Lalu tercetuslah ide memesan aneka jenis makanan dan minuman melalui aplikasi online.
"Mas Reka, makanan sebanyak ini buat apa?" Pak Agus mencegahnya dari terus-terusan memesan makanan.
Setelah menyantap sebagian kecil menu dan merasa kekenyangan, ia meninggalkan meja makan begitu saja. Kembali masuk ke kamar lalu menyetel musik keras-keras melalui perangkat audio paling mutakhir milik ayah.
Ia bahkan ikut bernyanyi dan berteriak mengikuti irama musik yang tengah diputar. Melepaskan seluruh amarah dan kehampaan yang selama ini mendera. Tak memedulikan ketukan pintu dari pak Agus yang memintanya untuk mengecilkan volume.
Ia baru berhenti berteriak ketika sudah kehabisan tenaga. Merasa kelelahan dengan napas tersengal, peluh membanjir, dan rambut basah karena keringat.
Ia hampir tertidur dalam buaian musik cadas yang menggema memenuhi keseluruhan udara di dalam kamar. Ketika terdengar suara pintu dibuka disusul pekikan seseorang.
"Reka?"
Ia harus berkali-kali mengerjapkan mata sebelum menyadari kehadiran Uti yang tengah berdiri di depan pintu.
__ADS_1
***