Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 44. Kami, yang Diragukan Negara dan Warga


__ADS_3

Jakarta


Pocut


Ia kembali mengusap permukaan foto yang menampakkan wajah tiga orang pria muda. Tetapi ingatannya kembali melayang pada hari paling menyedihkan di masa lampau.


Hari di mana Kampung Blang berduka. Sebab lima orang warganya sekaligus tewas tertembak saat terjadi kontak senjata antara pejuang GNM dengan aparat keamanan. Dua di antaranya adalah ayah dan bang Risyad.


Seharian itu nyanyak tak terhitung berapa kali pingsan. Sedangkan bang Umair bersikap seperti mayat hidup. Diam, dingin, juga kaku.


Tak seorangpun mengajaknya berbicara. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing. Ia yang mengganggap dunia telah runtuh, sebab merasa teramat kehilangan ditinggalkan dua sosok panutan sekaligus. Hanya bisa bersimpuh di sudut ruangan. Memperhatikan orang-orang mengurusi jenazah ayah dan bang Risyad dengan mata nanar.


"Tidak ada bukti yang menyatakan jika Teungku Imum dan putranya adalah mata-mata GNM. Siapapun yang memiliki hati nurani pasti tidak membenarkan penembakan keji ini. Saya sebagai manusia sangat berduka dan prihatin terhadap keluarga almarhum," ucap Mahmud Hasbi, keuchik (kepala desa) Kampung Blang sesaat sebelum jenazah ayah dan bang Risyad diberangkatkan menuju ke pemakaman.


Malam harinya, utusan dari Koramil dan Polsek mendatangi rumah mereka. Nyanyak yang kondisinya masih lemah hanya berdiam diri di dalam kamar. Ditemani oleh Ma bit Istianah dan beberapa orang guru meunasah.


Ia sempat memberanikan diri mengintip dari balik tirai. Berusaha mencuri dengar apa yang dibicarakan oleh para pria dewasa di ruang tamu. Tetapi bang Umair keburu memergokinya. Melalui isyarat mata, bang Umair menyuruhnya untuk segera masuk.


Dan di dalam bilik kecil yang berfungsi sebagai kamar tidurnya sejak genap berusia tujuh tahun, ia termenung dengan mata berkaca. Seorang diri tanpa ada yang menemani. Hingga akhirnya terlelap dengan dada penuh sesak. Sebab kelelahan menahan isak kesedihan.


Ia mengembuskan napas panjang seraya mengalihkan pandangan ke arah Sasa. Mereka berdua memiliki banyak kesamaan. Salah satunya adalah telah kehilangan sosok ayah di usia belia. Hanya bedanya, ia memiliki sejuta kenangan indah bersama ayah. Sedangkan Sasa tidak. Putrinya itu terlampau kecil untuk mengingat kebersamaan dengan bang Is, yang memang tak seberapa lama. Hingga ketika Tama hadir di kehidupan mereka, Sasa dengan begitu mudahnya langsung jatuh hati.


Pria itu lagi, keluhnya sambil buru-buru menyimpan foto ke dalam tumpukan. Tetapi bukannya langsung membereskan isi map. Ia justru kembali meraih lembaran foto yang lain. Foto sederhana namun penuh makna. Kenangan terakhirnya bersama orang-orang tercinta.


Ia menelan ludah dengan cepat. Berusaha tersenyum saat mengusap wajah nyanyak dan bang Umair di dalam foto, namun gagal. Air matanya kembali menetes tanpa bisa dicegah. Kilasan tentang kisah di balik foto kembali muncul.


Tepat di hari ketujuh kepergian ayah dan bang Risyad. Tengah malam pintu rumahnya diketuk oleh seseorang. Karena takut itu adalah pancingan atau bahkan jebakan. Dari gerilyawan GNM maupun tentara yang sedang melakukan sweeping. Bang Umair memerintahkannya untuk bersembunyi di bawah kolong ranjang. Sementara nyanyak terus menerus melafalkan kalimah hauqalah.


"Laa haula walaa quwwata illa billah© ...."


Suara nyanyak yang bergetar hebat membuatnya memeluk lutut dengan gelisah. Meski kerap kali menyaksikan bagaimana tentara melakukan sweeping terhadap para penduduk, namun kenyataan jauh berbeda antara apa yang pernah dilihat dengan yang dialaminya sendiri. Begitu mencekam sekaligus menakutkan.


Ia masih menyembunyikan kepala di antara kedua lutut, ketika desisan kalimah hauqalah nyanyak tak lagi terdengar.


"Cutkak?"


Dan sebuah bisikan yang disambut tangis haru nyanyak membuatnya memberanikan diri untuk mengangkat kepala. Berusaha mengintip dari celah ranjang kayu tempatnya bersembunyi. Samar-samar terlihat bayangan sesosok wanita tengah memeluk erat nyanyak sembari saling bertangisan.


Ia masih mengintip dengan hati berdebar. Khawatir mereka adalah orang jahat karena bertamu di tengah pekatnya malam. Tetapi nyanyak justru memanggil namanya. Memintanya untuk segera keluar dari tempat persembunyian.


Antara takut dan bingung, perlahan ia mulai merangkak keluar. Dan terheran-heran begitu mendapati seorang wanita sedang tersenyum ke arahnya, namun dengan air mata berlinang.


"MasyaAllah ... aneuk dara (anak gadis) ...." Ucap wanita itu berkali-kali seraya memeluk tubuhnya erat-erat.


Ia tak tahu dan tak mengenal siapa mereka. Seorang pria bertubuh tinggi besar, wanita yang kerap dipanggil Ida, dua pria dewasa berbadan gempal, dan anak lelaki yang menggendong bayi.


Dua pria berbadan gempal berjaga di depan pintu dengan mata waspada. Sementara pria bertubuh tinggi dan wanita bernama Ida berusaha membujuk nyanyak yang terus berlinang air mata. Sedangkan anak lelaki yang menggendong bayi, hanya berdiri mematung menatapnya.


Itulah kali pertama ia bertemu pandang dengan bang Is.


Malam itu ia menunggu di dalam bilik dengan gelisah. Sesekali berusaha mengintip dari balik tirai, namun tak berhasil memperoleh berita apapun. Hanya berujung pada tatapan tajam anak lelaki yang sedang berbicara dengan bang Umair.


Ia akhirnya tertidur dengan perasaan resah gelisah. Dan ketika azan Subuh berkumandang, para tamu yang datang semalam tak nampak lagi.

__ADS_1


"Soe ureueng nyan (siapa mereka)?" Tanyanya memberanikan diri.


Nyanyak menatap nanar seraya membelai kepalanya, "Syedara (kerabat jauh) ...."


Sejak kedatangan tamu di tengah malam, terhitung sudah dua kali rumahnya disambangi tentara. Menanyai nyanyak dan membawa bang Umair entah ke mana. Berhari-hari kemudian, barulah bang Umair pulang ke rumah. Dengan wajah dan tubuh penuh luka lebam.


Termasuk kedatangan keuchik Mahmud Hasbi dan orang-orang dari pemerintahan desa. Yang sikapnya jauh berbeda dibanding saat menghadiri pemakaman beberapa waktu lalu. Tak ada lagi senyum keramahan yang tersisa.


Dan semakin hari, wajah nyanyak kian bertambah murung. Seperti ada beban berat yang tengah dipikirkan. Tapi ia tak berani untuk bertanya.


Begitu juga dengan bang Umair. Hampir tiap malam beradu pendapat dengan nyanyak. Seringkali berakhir dengan tangisan nyanyak dan permintaan maaf dari bang Umair. Entah sedang membicarakan apa karena ia tak pernah diajak turut serta.


Hingga suatu petang, nyanyak bergumam dengan mata menerawang, "Ka keumah (bersiaplah) ... geutanyo keuneuk jak (kita akan pergi) ...."


Dengan sigap Bang Umair membantunya merapikan baju yang hendak dibawa.


"Ho taneuk jak (kita mau ke mana), Abang?" Tanyanya tak mengerti.


"Kon geutanyo (bukan kita). Tapi nyanyak ngon adek loen sayang (dan adikku sayang) ...." Bang Umair tersenyum menatapnya.


Ia semakin tak mengerti ketika bang Umair memasukkan sejumlah foto ke dalam tasnya.


"Adek ba nyo (bawa ini) ... keu (untuk) kenang-kenangan ...." Lalu bang Umair mengusap puncak kepalanya lembut seraya berseloroh.


"Bek teungeut leupah that lenyap (jangan tidur terlalu lelap) ... enteuk sosah di peu beudoh (nanti susah dibangunkan)." Bang Umair masih tersenyum.


Ia tak ingat, hari ke berapa usai bang Umair membantunya berkemas. Ketika tiba-tiba nyanyak membangunkannya tengah malam. Dan ia kembali mendapati pria bertubuh tinggi besar bersama wanita bernama Ida telah menunggu di ruang tamu rumahnya. Tak ketinggalan pula anak lelaki yang selalu memberinya tatapan tajam.


Ia menurut saja ketika nyanyak memintanya untuk naik ke bagian belakang truk yang telah dipenuhi oleh kelapa sawit. Dan sepanjang perjalanan, ia tertidur di bahu bang Umair dengan perasaan dipenuhi kecamuk tanda tanya.


"Geutanyo nyo ho ta neuk jak dilee (kita mau ke mana)?" Bisiknya ketika menyusul nyanyak menaiki minibus berwarna putih.


"Jak jioh (pergi jauh)," jawab bang Umair yang merangkum bahunya sembari setengah bercanda.


Pertanyaannya baru terjawab ketika minibus yang mereka tumpangi memasuki terminal Langsa. Suasana terminal paling megah yang pernah dilihatnya itu sangat sepi. Hanya terdapat sejumlah bus yang terparkir menunggu penumpang. Tanpa lalu lalang orang yang hendak bepergian.


Pria bertubuh gempal yang mengikuti perjalanan mereka sejak dari Idi Rayeuk, mengarahkan untuk menunggu di depan loket agen sebuah bus.


"Beu get get beh (jaga diri baik-baik)," bisik bang Umair ketika ia sedang memperhatikan sekeliling terminal.


"Pateh mandum pue nyang Nyanyak peugah (ikuti semua kata-kata nyanyak). Beu seumateh (tak boleh membantah)," lanjut bang Umair dengan wajah serius.


"Abang hana jak (tak ikut)?" Tanyanya dengan suara tercekat. Ketika bang Umair memintanya untuk duduk di sebelah anak lelaki yang selalu memberinya tatapan tajam.


Bang Umair tersenyum tenang, "Abang seutot dilikot (kelak Abang menyusul)."


Ia menggelengkan kepala kuat-kuat. Bang Umair harus ikut. Apa jadinya jika ia hanya pergi berdua dengan nyanyak? Terlebih dengan wanita asing yang membawa bayi dan seorang anak lelaki tanpa suara.


Ia tak ingin pergi. Tidak tanpa bang Umair.


Ia baru mau pergi jika bang Umair ikut bersama mereka.


Akan tetapi keinginannya tak pernah terkabul. Kondektur sudah menyerukan pada seluruh penumpang jika bus akan segera berangkat menuju ke Medan.

__ADS_1


Bang Umair mengusap kepalanya berkali-kali, "Adek ingat beh, beu jeut keu aneuk seumateh (ingat, jangan membantah. Jadilah anak baik)."


"Abang bah hino dilee (Abang di sini dulu). Wah Abang hiroe kubu ayah ngon bang Risyad (menjaga makam ayah dan bang Risyad)," dalih bang Umair saat melihat air matanya mulai berderai.


"Preh Abang hideh beh (tunggu Abang di sana). Abang seutot dilikot (nanti segera menyusul)," pungkas bang Umair seraya tersenyum berusaha menenangkannya.


Tetapi ia tak kuasa menahan derai kesedihan sebab bayangan akan kehilangan bang Umair. Ia pun hanya bisa menggigit bibir kuat-kuat saat mendengar isak tangis nyanyak yang menyayat hati. Memperhatikan bang Umair yang berdiri di depan loket agen bus sambil melambaikan tangan kanan ke atas tinggi-tinggi. Lalu ikut berjalan mengikuti arah kepergian bus yang ditumpanginya. Hingga bus melaju keluar terminal dan bang Umair perlahan berubah menjadi titik kecil.


Ia harus membungkuk guna menyembunyikan tangis di kedua lutut. Berharap semua hanyalah mimpi buruk yang akan segera berakhir. Akan tetapi ia sudah terlampau sering mengalami hal menyedihkan. Dan harapan hanya terjadi dalam mimpi tak pernah menjadi kenyataan. Karena semua adalah kebenaran menyakitkan yang harus dilakoninya.


Entah sudah berapa lama ia menangis dengan membenamkan wajah di kedua lutut. Rok yang dikenakannya bahkan telah basah kuyup seperti habis disiram air. Lengket sampai kedua pipinya terasa kaku.


Ketika sebuah sapu tangan berwarna abu tiba-tiba terulur ke arahnya.


Perlahan ia mulai mengangkat wajah. Sambil menahan pusing karena terlalu lama duduk membungkuk. Memandangi sapu tangan berwarna abu yang masih terulur di hadapannya dengan bimbang.


Anak lelaki yang duduk di sampingnya mengangguk seraya terus menyodorkan sapu tangan. Tak tersenyum dan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Memunculkan keberaniannya untuk mengulurkan tangan meraih kain berbahan katun halus itu. Kemudian tanpa sadar langsung menggigitnya keras-keras. Meluncurkan kembali deraian air mata yang tak kalah deras dari sebelumnya.


Kini punggung tangannya buru-buru menyusut hidung yang juga berair. Dengan gerakan cepat berusaha menyusun lembaran foto ke dalam map dokumen. Lalu menutup map dan menyimpannya kembali ke dalam lemari.


Dilihatnya jam dinding di atas pintu kamar. Jarum pendek telah berada di angka 12. Sementara jarum panjang di angka 1. Mengenang masa lalu rupanya cukup menyita waktu.


Ia segera beranjak untuk mengambil air wudu. Kemudian tenggelam dalam sujud panjang seraya memanjatkan doa penuh permohonan.


Ya Allah, jika hal ini baik baginya, agamanya, kehidupannya. Untuk saat ini maupun masa yang akan datang. Mohon tetapkanlah dan mudahkan.


Tetapi jika hal ini buruk baginya, agamanya, kehidupannya. Untuk saat ini maupun masa yang akan datang. Mohon hindarkanlah darinya.®


Doa yang sama ia panjatkan hampir 15 tahun silam. Ketika ma bit Ida yang telah menetap di Jakarta, jauh-jauh datang ke Muara Bungo untuk mengunjungi nyanyak yang sedang diuji sakit. Sekaligus melamarnya menjadi menantu.


"Neubrie loen wate (beri aku waktu), Nyak."


Ia memang pernah hidup bertetangga dengan anak lelaki beralis tebal yang kini telah menjelma menjadi pemuda tampan itu. Mereka bahkan pernah sangat akrab ketika ia duduk di bangku SMP. Meski kemudian harus terpisahkan jarak. Dan benar-benar putus hubungan ketika ma bit Ida memutuskan untuk merantau ke Jakarta mengikuti jejak nyak wa Roslina.


Kala itu ia sudah memiliki kecenderungan hati untuk menerima pinangan. Perasaannya bahkan sudah terpaut pada sosok bang Is.


Jauh berbeda dengan saat ini. Kecenderungan hatinya adalah menolak. Selain karena cinta dan janjinya pada mendiang bang Is. Bahwa mereka akan kembali berkumpul bersama.


Juga karena Tama baru mengatakan tertarik dan ingin mengenal lebih dekat. Bukan tawaran menjadikannya pendamping hidup seperti permintaan bang Is dahulu.


Apalagi ditambah dengan dunia tempatnya berpijak, yang jauh berbeda dengan dunia milik Tama. Status sosial begitu jelas membentang. Termasuk silsilah garis keturunannya yang pernah sangat lekat dengan stempel negatif. Apalagi kalau bukan sebagai pembelot negara. Berbanding terbalik dengan posisi terhormat Tama menjadi pengayom.


Ia benar-benar tak bisa membayangkan, kira-kira kehidupan seperti apa yang kelak mereka jalani. Pastinya akan dibutuhkan begitu banyak pengertian, pengorbanan, juga tekad yang kuat untuk senantiasa mengarungi samudera kehidupan bersama.


Apakah ia bisa melakukannya?


Semua ini membuatnya kembali mengulang doa yang sama. Berkali-kali tanpa merasa jemu. Hingga ia mulai dihinggapi lelah sampai akhirnya terlelap.


***


Keterangan :


©. : Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah

__ADS_1


® : dikutip dari arti doa setelah salat Istikharah


__ADS_2