
Meusandeng Ngoen Gata : Begin Again
(Bersanding denganmu -bahasa Aceh-) : (Memulai kembali)
***
Jakarta
Pocut
Ia menautkan jemari berharap bisa meredam gelisah yang melanda. Sejak awal, mamak terus mengingatkannya untuk melangitkan doa selama proses ijab kabul. Namun pikirannya sulit untuk diajak berkonsentrasi. Ingatannya justru melayang pada kejadian semalam selepas Isya, ketika ia memanggil ketiga anaknya ke dalam kamar.
"Mama mau bicara." Ia memandangi wajah Icad, Umay, dan Sasa secara bergantian.
"Aku tahu." Umay tangkas menyahut. "Besok Mama mau nikah sama om, kan?"
"Om Tama?" Mata Sasa langsung membola. "Mama mau nik ...."
Namun Icad lebih dulu menyikut lengan Umay. "Diem dulu." Kemudian Icad beralih ke arah Sasa sambil meletakkan telunjuk di depan bibir. "Sssst."
Ia tersenyum mengangguk. "Iya. Besok Mama mau nikah sama om Tama."
"YES!" Umay mengepalkan tangan kanan ke atas. Lalu menoleh ke arah Sasa yang masih terbengong-bengong. "Alhamdulillah ... akhirnya doa kita terkabul, Sa. Mama nikah sama om!" Umay mengerjap gembira.
Tapi Icad lagi-lagi menyikut lengan Umay. "Sssttttt!"
Ia kembali tersenyum. "Mulai besok, kita punya keluarga baru."
"Sama mas Reka, kan?" Umay cepat menyambar.
"May!" Icad memelototi sang adik yang langsung membungkam mulutnya sendiri sambil bergumam. "Aku diam. Aku baik."
"Iya." Ia mengangguk. "Kita akan jadi satu keluarga dengan om dan mas Reka. Mama sudah pernah bilang tentang hal ini ke Abang, Umay, dan Sasa. Sekarang Mama hanya ingin memastikan ...." Ia menatap ketiga anaknya satu persatu.
"Kalau Abang, Umay, dan Sasa ... ikhlas menerima om Tama dan mas Reka," sambungnya dengan hati berdebar. Menebak kiranya jawaban apa yang akan diberikan oleh anak-anak.
Ia dan Tama sudah pernah membicarakan tentang rencana pernikahan dan masa depan mereka menjadi satu keluarga dengan Icad, Umay, dan Sasa. Namun ia merasa perlu membahasnya lagi sebelum esok hari membuka lembaran baru.
"Ikhlas, dong," jawab Umay lugas. Pastinya sudah melupakan pelototan Icad. "Kita ikhlas kan, Sa?"
"Menerima gimana sih maksudnya? Sasa nggak ngerti." Sasa yang terlihat kebingungan menggelengkan kepala.
Ia menelan ludah. Dan sebelum berhasil menemukan jawaban yang tepat, Umay lebih dulu menyela.
"Menerima kalau om jadi ayah kita, Sa." Umay merangkul bahu Sasa. "Sasa mau manggil apa ke om? Kalau aku manggil pa ...."
"Sah?"
Satu pertanyaan berhasil membuyarkan lamunannya. Membuat debar jantung yang mendadak hilang sejak detik pertama Tama menyambung ucapan wali hakim tanpa putus dalam satu tarikan napas kini telah kembali.
"SAH!"
Dan jawaban serempak dari semua hadirin dengan nada paling meyakinkan berhasil membuat genggaman hangat mamak dan bu Niar di kedua tangannya kembali terasa.
"Alhamdulillah."
“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jama'a bainakumaa fii khoir.”
"Mudah-mudahan Allah memberkahimu, baik dalam suka maupun duka dan selalu mengumpulkan kalian berdua pada kebaikan."
Selanjutnya, waktu seolah melambat dalam gerak perlahan. Mamak dan bu Niar yang memeluknya erat sembari membisikkan untaian doa-doa indah penuh kebaikan. Anjani juga Dara yang memberi selamat dengan wajah sumringah. Sasa yang berkali-kali bertanya, "Kenapa Mama matanya merah?" Namun tak kunjung dijawab karena ia tengah kerepotan menata degup jantung yang berlompatan tanpa jeda dan rasa haru yang menelusup hingga ke relung terdalam.
Ia bahkan hanya bisa terkesima saat Agam bersama seorang petugas KUA mendekati tirai pembatas untuk memintanya membubuhkan tanda tangan di atas selembar kertas.
Rasanya seperti mimpi.
Dan tubuhnya seolah tengah melayang di udara ketika mamak bersama bu Niar mulai membantunya untuk berdiri. Kemudian membimbing langkahnya menuju teras masjid di mana Tama telah menunggu. Dengan Sasa yang terus menggelayuti lengannya.
9 ... 8 ... 7 ..... Selama berjalan, ia berusaha keras mengalihkan rasa gugup dengan menghitung mundur. Begitu jarak semakin menipis, wajahnya terasa kian memanas. Pasti rautnya sudah merah padam sebab merasa malu menerima pandangan menghujam Tama yang terang-terangan ditujukan padanya.
Ia pun harus menelan ludah berkali-kali ketika akhirnya saling bersitatap dengan sorot tajam Tama. Bibir pria itu terlihat pucat meski menyunggingkan seulas senyum penuh kelegaan.
"Silakan, sudah sah," ujar penghulu mempersilakan Tama untuk menyambut kedatangannya. "Sekalian foto dengan buku nikah."
Dengan langkah pasti, Tama berjalan mendekat sambil mengulurkan tangan. Sembari terus menatapnya sepanjang waktu dan melempar senyum penuh arti. Membuatnya lagi-lagi harus menelan ludah berkali-kali hanya dalam satu tarikan napas sebelum memberanikan diri menyambut uluran Tama.
Kini, tangannya yang gemetaran telah beradu dengan telapak tangan kokoh sedingin es milik Tama. Namun begitu menyatu ... kehangatan langsung menjalar di antara mereka berdua. Hingga keseluruhan tubuhnya meremang lalu meleleh begitu saja.
Meusandeng ngoen gata (bersanding denganmu).
***
Sarip
Baraka Allahu lakuma wa baraka ‘alaykuma
Wa jama’a baynakuma fi khayr
(Maher Zain, Baraka Allahu lakuma)
Suara merdu dari kelompok nasyid di halaman masjid menambah semarak suasana. Mengiringi langkah kedua mempelai menuju ruangan dalam madrasah yang telah didekorasi sedemikian rupa menjadi tempat untuk menerima tamu VVIP.
Bidadarinya yang cantik sudah pasti termasuk salah satu tamu VVIP. Tapi sedari tadi hanya berdiam di dalam tenda yang berada di halaman masjid. Asyik bercengkerama dengan pria berseragam cokelat yang membuat hatinya kebat-kebit tak karuan.
"Kita boleh bangga ame royal weddingnya kampung Koneng." Sebuah suara terdengar dari belakang punggungnya.
"Ho oh. Kapan lagi coba kampung kite kedatangan pejabat tumplek blek jadi atu. Eh, pak Kapolda yang mana, sih?"
"Tuh nyang itu tuh."
"Gagah ye Kapoldanya."
"Ho oh."
__ADS_1
"Eh, mas kawinnya gile beneeer. Mendadak kaya tuh si Cut."
"Ngimpi ape ye si Cut. Dari tukang masak bisa jadi bini Kapolres."
"Wajar lah, Mpok. Si Cut kagak perlu sekinkeran ini ono udeh kelihatan cakep."
"Iya juga, sih. Sampai banyak yang antre termasuk pak Camat."
"Eh, pak Camat dateng kagak?"
"Ade tuh lagi ngobrol ame pak wali."
Ia menengok ke belakang dan mendapati serombongan ibu-ibu sedang asyik berghibah dengan semangat 45.
"Ape lu lihat-lihat?" Seorang ibu yang berpenampilan paling mencolok dengan gincu merah menyala menegurnya. "Minggir minggir. Ngalangin gue, lu."
Ia menggerutu panjang pendek. Namun tetap menurut dengan bergeser ke samping. Sambil matanya terus mengawasi gerak gerik sang bidadari pujaan yang saat ini tengah merekam pria berseragam cokelat di atas panggung.
"Awalnya, saya mau nyanyi lagu favorit Komandan." Pria berseragam itu menunjuk ke ruangan VVIP.
Oh, jadi pria itu anak buah sang mempelai pria, batinnya dengan hati memanas karena merasa semakin kalah telak.
"Tapi berhubung temanya adalah nasyid. Jadi, saya nyanyi yang lain saja, ya." Pria berseragam itu terlihat tak canggung berbicara di atas panggung. Jauh jika dibandingkan dirinya yang mengobrol biasa saja sering belibet tak jelas. Kalah 0 : 3 hasil gol bunuh diri semua, keluhnya dengan hati bergolak.
"Ini adalah lagu pilihan dari Syafiq," sambung pria berseragam sambil menunjuk salah seorang personel tim nasyid. "Saya juga baru tahu lagunya. Maaf kalau salah-salah."
Ia mencibir ketika melihat sang bidadari memberi semangat dengan mengacungkan jempol. Dadanya semakin bergemuruh tak karuan.
"Selama ini
Kumencari-cari
Teman yang sejati
Buat menemani
Perjuangan suci
Bersyukur kini
PadaMu Illahi
Teman yang dicari
Selama ini
Telah kutemui"
(Brothers, Teman Sejati)
Ia memperhatikan panggung dan sang bidadari yang asyik merekam menggunakan ponsel sambil mengomel di dalam hati.
"Penganten laki bini auranya moncer tumpeh tumpeh." Di sela-sela nyanyian ia kembali mendengar ghibahan ibu-ibu.
"Kelihatan suka olahraga, stamina prima, gagah bener."
"Sumpah, cuman ngelihat penganten laki doang udah bikin gue kegerahan."
"Asli, bener banget."
"Jadi kangen ame laki ndiri. Mane ye babenya anak-anak?"
"Tamu-tamunye kagak kalah bikin kita kegerahan juga, Mpok."
"Ho oh ho oh. Tadi sekilas ada nyang mirip bintang pelem. Ganteng abis ...."
"Ada nyang mirip artis juga."
"Artis ame bintang pelem sama, kan?"
"Artis siape, Mpok? Ntar kita minta foto bareng, nyok."
"Pakpolnya juga keren-keren, Cing. Masih muda-muda ehehehehe ...."
"Ah, iya ... siapa tahu ada yang nyantol atu buat anak gadis aye."
"Ssssstttt, berisik banget sik!" Saking kesalnya, tanpa sadar ia menghardik ibu-ibu agar diam.
Dan langsung di skakmat oleh seorang ibu yang terlihat paling percaya diri. "Et dah, bocah ngapa yak?"
"Minggir, Tong!" Ibu yang lain melotot sambil menepuk bahunya. "Lu ngalangin gue dari pemandangan indah."
***
Tama
Dari jarak 5 meter, Wisak terlihat sudah berancang-ancang untuk menubruknya.
"Whoa! Congrats, brotha! I'm so happy for you!"
"Thanks, dude." Ia tergelak meski hampir terjengkang ke belakang karena Wisak benar-benar menubruknya tanpa ampun. "Nyusul ya habis ini?"
Tapi Wisak langsung menggeleng. "No. sorry, thank you. Buat yang lain aja, deh."
Kemudian mereka kembali tergelak bersama.
"Sori, Rajas kayaknya masih jetlag, nggak bisa ke sini." Wisak mengangkat bahu.
Ia mengangguk mengerti. Hampir seminggu lalu, Rajas meneleponnya langsung dari Boston, memberitahu jika tak bisa menghadiri acara akad nikah. Termasuk Armand yang pagi ini baru terbang dari Hongkong.
Sebelum beralih memberi selamat pada Pocut, Wisak sempat mengedipkan sebelah mata sambil mengacungkan jempol ke arahnya. "Be you ti ful."
Ia masih tergelak gara-gara ulah Wisak ketika Riyadh memberi ucapan selamat. "Wishing you a happy marriage."
__ADS_1
"Thanks, Ri." Ia menepuk bahu Riyadh berkali-kali. "Makasih udah datang."
Begitu tamu terakhir yang memberi ucapan selamat berlalu, ia baru bisa menoleh ke samping. Menatap seseorang yang sedang tertunduk malu.
"Jangan lihat," bisik wanita berparas menawan yang kini telah resmi menjadi istrinya, Pocut.
Ia tersenyum sambil berujar. "Mata ke depan, hati ke samping?"
Pocut menggelengkan kepala sambil tetap menunduk malu. Namun ia tahu jika istrinya itu sedang tersipu.
Tanpa mengucapkan sepatah katapun, ia mengulurkan tangan kanan. Namun karena Pocut tetap bergeming, ia berinisiatif menarik telapak tangan cantik nan halus itu lalu menggenggamnya erat-erat.
"Jangan pernah lepaskan," bisiknya dengan sepenuh hati.
Begin again (memulai kembali).
Dan acara ramah tamah baru berakhir pada pukul sepuluh lebih sedikit. Pihak WO benar-benar memperhitungkan waktu dengan cermat agar jangan sampai mengganggu persiapan salat Jum'at di masjid Al-A'raf.
"Ketemu besok?" Ia memeluk dan menepuk punggung Reka sebelum putranya itu kembali ke rumah mama bersama rombongan keluarga besar.
Reka mengangguk. "Iya."
Ia tersenyum ketika Reka menyalami dan mencium tangan Pocut sambil berucap malu-malu. "Titip ayah, Tante."
Namun sedetik kemudian berubah haru ketika Sasa bertanya, "Mas Reka mau ke mana? Nggak ikut ke rumah Sasa?"
"Enggak," jawab Reka singkat sambil mengusap puncak kepala Sasa.
Ia sempat beradu pandang dengan Pocut yang juga sedang berkaca-kaca melihat interaksi antara Reka dan Sasa.
Anak-anak adalah cahaya mata penyejuk hati, begitu salah satu isi khutbah nikah dari ustadz Arif yang paling diingatnya.
Dan sebelum Reka beranjak bersama mama, ia kembali meraih bahu putranya itu lalu memeluknya erat-erat. "Makasih, Reka. Makasih ...."
Reka tak menjawab apapun. Hanya balas memeluknya lebih erat sambil mengangguk.
Kini, jelang waktu salat Jum'at tiba. Tamu di rumah hanya tinggal keluarga yahbit Hamdan, beberapa tetangga sekitar, dan sejumlah anggotanya termasuk Devano.
"Saya ke dalam dulu," pamitnya pada para tamu ketika menangkap bayangan Pocut masuk ke kamar seorang diri.
Ia harus berdehem saat menutup pintu rapat-rapat agar tak mengejutkan Pocut yang sedang duduk di depan cermin.
"Mmm ...." Namun Pocut tetap terlihat terkejut begitu menyadari keberadaannya di dalam kamar. "S-saya s-sedang menunggu mba Hanhida untuk melepas riasan."
Ia tersenyum. "Lima menit." Sambil memutar kunci di balik punggung dengan gerakan cepat. "Sebelum pergi salat jum'at."
Pocut menoleh dengan ekspresi gugup dan wajah memerah. Ah, ya ampun, ia terus saja tersenyum-senyum sendiri. Lihatlah, mereka berdua seperti anak kemarin sore yang baru saja menikah. Tangan berkeringat, dada berdegup kencang, rasa malu meluap-luap. Sungguh menggelikan.
"Aku baru dapat pelajaran ini dari ustadz Arif beberapa hari lalu." Ia meraih ponsel dari dalam saku.
"Dan sampai sekarang belum hafal." Ia terkekeh. "Aku memang payah untuk urusan menghafal ayat. My bad."
Pocut mengernyit ketika ia semakin mendekat kemudian menunduk, membungkuk kemudian berlutut.
Bola mata menawan milik Pocut kian membulat campur terharu ketika ia meraih telapak tangan cantik nan halus itu lalu menciumnya dalam-dalam.
Setelah puas menghirup aroma kebahagiaan dari telapak tangan paling didamba, ia menengadah dan mendapati Pocut sudah berurai air mata.
"Sekarang harus lihat contekan," selorohnya sambil bangkit dan menunjuk layar ponsel yang menampilkan sederet doa.
"Allahumma inni as-aluka khairaha wa khaira maa jabaltaha alaihi, wa audzubika min syarriha wa syarri maa jabaltaha alaihi," bisiknya seraya mengusap ubun-ubun Pocut lalu menciumnya dalam-dalam. ©
"MAMA!" Tiba-tiba terdengar pintu digedor dari arah luar. "KENAPA PINTUNYA DIKUNCI? SASA MAU MASUK!"
Ia dan Pocut sontak saling berpandangan sambil melempar senyum.
"Sasa, sini sama Nenek." Sayup-sayup terdengar suara orang-orang membujuk. Tapi gedoran di pintu kembali terdengar diiringi teriakan Sasa.
"MAMA! Buka pintunya!"
"Sasa akan terus menggedor kalau tak segera dibukakan pintu," geleng Pocut sembari menyusut sudut mata.
"Begitu, ya?" Ia kembali berlutut di hadapan Pocut yang terlihat gugup.
"Pintu kamar ini tak pernah dikunci." Pocut memberinya tatapan penuh penyesalan. "Karena Sasa pernah trauma dengan pintu yang terkunci."
"MAMA! Sasa mau masuk!" Teriakan Sasa masih terus terdengar.
Ia mengangguk sambil menggenggam erat tangan Pocut dan menatap sepasang mata menawan itu lekat-lekat.
"Sasa pernah tak sengaja terkunci di sekolah waktu kegiatan ekstra." Pocut semakin gugup. "Sejak saat itu Sasa takut kalau menemui pintu yang terkunci. Kecuali ... pintu kamar mandi yang memang harus dikunci."
Ia kembali mengangguk mengerti. Lalu bergegas bangkit dan membuka kunci pintu.
BLAG!
Pintu langsung terbuka dari arah luar. Disusul masuknya Sasa dengan setengah berlari.
"Mama! kenapa pintunya dikunci? Sasa kan mau masuk!"
"Iya, maaf." Pocut mengusap kepala Sasa. "Tadi mama mau ganti baju, jadi dikunci."
"EH!" Tiba-tiba Sasa menyadari keberadaannya di balik pintu. "Kok ada Om di sini?" Mata Sasa membulat. Lalu memberinya tatapan menuduh. "Om nggak boleh masuk ke kamar Mama. Om harus tunggu di luar."
Tiba-tiba Sasa menarik tangannya lalu mendorong kakinya agar keluar dari dalam kamar. "Keluar, Om! Jangan di sini!"
***
Keterangan :
©. : doa yang disunahkan dilakukan usai akad nikah oleh suami terhadap istri. Artinya : Ya Allah, aku memohon dari-Mu kebaikan istriku dan kebaikan dari tabiat yang Kau simpankan pada dirinya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan istriku, dan keburukan dari tabiat yang Kau simpankan pada dirinya (konsultasisyariah.com)
***
__ADS_1