
Pocut
Komisi kode etik kepolisian dalam sidang kode etik profesi polri memutuskan Kombespol Wiratama Yuda terbukti bersalah melanggar sejumlah pasal. Tama sebagai aparat penegak hukum terbukti secara sah menerima gratifikasi yang berhubungan dengan tugas dan jabatan. Sidang kode etik memutuskan menjatuhkan sanksi berupa pencopotan jabatan, penurunan eselon serta pemindah tugasan ke wilayah berbeda.
Aliran dana dari PT. Semesta Adi Graha, yang ia ketahui sebagai pengembalian uang sewa ballroom untuk resepsi pernikahan mereka. Transfer masuk dari PT. Rejasa Sumber Mulia, yang merupakan pembayaran pembelian lahan pribadi milik Tama di Pangalengan. Serta dua lembar cek dari PT. Artha Agung Abadi dan PT. Surya Unggul Megah yang telah dicairkan sebagai hadiah pernikahan. Menjadi bukti kuat keberpihakan Tama dalam kemelut penyelidikan penyelewengan dana talangan Won Bank yang kasusnya telah diambil alih KBK.
Seluruh aliran dana gratifikasi tersebut wajib dikembalikan pada negara, tiga dari lima rekening pribadi milik Tama dibekukan, proses pembangunan rumah dua lantai di kampung Koneng harus diberhentikan sekurang-kurangnya enam bulan ke depan atau lebih tergantung situasi dan kondisi di masyarakat, serta pemindah tugasan ke wilayah hukum yang secara aturan dipimpin oleh Ajun Komisaris Besar Polisi, tanda kepangkatan setingkat di bawah Kombespol.
Ia, sebagai pendamping hidup tentu berusaha mendukung sepenuh jiwa meski dengan selemah-lemah upaya. Ia hanya bisa mengirim untaian doa-doa terbaik dan memperlihatkan sikap yang menenangkan, walau jauh di lubuk hati merasakan gejolak tiada berkesudahan. Terutama setelah Tama memutuskan tak mengajukan banding terhadap hasil putusan sidang. Padahal sang suami jelas memiliki bukti kuat bahwa seluruh aliran dana tersebut tidak berkaitan dengan tugas, jabatan, maupun kasus yang pernah atau sedang ditangani.
Tama memilih mengikuti nasehat bu Niar yang mengatakan jika musibah ini sebaiknya dihadapi dengan legowo. Tama juga melakoni masukan dari sahabat almarhum pak Setyo yang mantan pimpinan tertinggi dan seorang eks komandan yang belum lama pensiun dari korps. Dua tokoh panutan Tama itu menyampaikan jika kasus ini bukanlah ajang peperangan. Situasi terlalu berbahaya jika Tama memilih melawan. Sebab ujungnya akan tetap hancur, bahkan bisa lebih hancur, tanpa memiliki kesempatan untuk bangkit lagi.
“Apa istriku tercinta siap menemani suamimu yang hina ini melewati jalan panjang berliku?” bisik Tama suatu malam, setelah memperoleh kepastian jadwal kepindahan ke Poso. Sembari menyelipkan sebuah buku kecil di tangannya.
Ia mengetahui jawaban apa yang seharusnya terucap dari pertanyaan serius berbalut candaan yang Tama lontarkan, namun sama sekali tak mampu bersuara. Seluruh kata seolah tersangkut di tenggorokan, lengkap dengan hati dipenuhi gejolak. Musibah ini sungguh berat. Mereka bahkan tak memiliki kesempatan untuk meratapi kepergian bayi pertama yang begitu dinantikan. Ujian hidup yang tak pernah terbayangkan. Mereka seakan digempur dari berbagai sisi. Kehilangan, ketakutan, kesedihan, kekecewaan, rasa malu yang sangat.
Ia pun hanya bisa memandangi buku pemberian Tama yang berjudul Buku Saku Memahami Gratifikasi, dengan logo lembaga pemberantasan korupsi tercetak tebal.
Ia lantas menatap sepasang mata cekung kelelahan yang mengherankannya tak mempengaruhi karisma milik pria penuh wibawa ini, suaminya sendiri, Tama.
“Kok malah nangis?” Tama mengusap buliran bening yang tiba-tiba melesak keluar berjatuhan membasahi pipi tanpa bisa ditahan apalagi dicegah.
Ia berusaha mengalihkan pandangan dengan memperhatikan sampul buku yang mulai berbayang. Namun Tama justru merengkuhnya seraya berbisik,
“Maafkan Papa … membawa kalian ke dalam situasi seperti ini. Maafkan Papa ….”
Ia menggeleng hingga wajahnya beradu dengan dada berbalut piyama beraroma maskulin itu. Sementara tangannya menggenggam erat buku saku dalam telapak. Buku yang akan ia baca dan pelajari sungguh-sungguh. Agar jangan sampai sang suami jatuh ke lubang yang sama. Agar mereka tak perlu menanggung rasa malu di hadapan manusia lain sebab Tama terbukti secara sah menerima suap.
Bukti yang sesungguhnya bisa diciptakan.
Oleh siapa saja yang memegang kuasa dan memiliki kepentingan.
Begitulah dunia.
Seperti ucapan mamak di masa lampau yang kembali mengemuka seakan nasehat tersebut berlaku sepanjang zaman tiada masa kadaluwarsa. Mamak pernah mengatakan, “Jangan kecewa terlalu mendalam dengan bagaimana dunia ini berjalan. Selama hayat masih dikandung badan, keadilan akan sulit diperoleh. Sebab keadilan yang sesungguhnya hanyalah di hari pembalasan. Tempat di mana seadil-adilnya perkara bisa diselesaikan.”
Mungkin, lintasan ingatannya tentang celotehan bu Darmanto, tetangga yang juga seorang istri purnawirawan perwira, bisa sedikit menjadi pelipur.
“Waduuh, suami gagahmu masih beruntung, Jeng Cut, walaupun dibuang jauh ke luar pulau. Tapi masih jadi Kapolres, bisa jadi raja kecil di sana. Hkhkhkhhkhk … punya wilayah kekuasaan, punya banyak anak buah. Daripada dipindah jadi pamen di markas Yanma hayoo ….” Wanita yang selalu tampil kekinian itu menggeleng dengan muka mengernyit. “Bisa jadi akhir dari karier reserse suamimu.”
Dari obrolan ibu-ibu istri anggota yang mengunjunginya sehari sebelum keberangkatan ke Poso pula, ia mengerti satu hal jika ucapan bu Darmanto cukup berdasar. Sebab bisik-bisik mengatakan, bagian tersebut dipandang tak cukup bergengsi di institusi. Jauh dari gegap gempita dunia reserse dan korps lalu lintas. Bahkan dianggap menjadi tempat buangan bagi oknum anggota yang bermasalah dan sedang terkena hukuman.
“Bapak yang kemarin kegerebek istrinya selingkuh kan dipindah ke Yanma.”
“Bapak yang pungli SIM juga dimutasi ke Yanma.”
“Bapak yang ini ….”
“Bapak yang itu ….”
Meski ketika ditanyakan pada Tama, kabar tersebut tak sepenuhnya benar. Sang suami mengatakan masih lebih banyak personel Yanma lainnya yang lurus dan baik-baik saja.
__ADS_1
“Mama kenapa nanya beginian?”
Ia hanya menggeleng dan tersenyum. “Enggak apa-apa, Pa. Cuma ingin bertanya.”
Bagaimanapun, ia masih memiliki keyakinan karier Tama belum berakhir meski diterpa gelombang dahsyat. Ia bisa melihat sebesar apa cinta yang dimiliki sang suami untuk korpsnya. Cinta yang diniatkan sebagai bukti bakti terhadap orang tua. Cinta yang didasarkan pada tekad menegakkan kebenaran. Cinta sesungguhnya sebagai insan beriman yang kelak akan dimintai pertanggung jawaban.
“Maafkan Mama, Pa ….” Bisiknya setelah mampu menguasai diri. Sapuan lembut dari telapak tangan kokoh yang membelai punggungnya semakin terasa menenangkan hati yang sebelumnya penuh gejolak.
Selintas kehangatan ringan singgah di dahinya, diikuti bisikan perlahan, “Kenapa kita jadi maaf-maafan? Bukannya lebaran masih lama …."
Ia memaksakan diri untuk tersenyum hingga sisa air mata yang hampir mengering terasa lengket ketika pipinya bersentuhan dengan kain piyama milik Tama. Sementara rengkuhan yang melingkupi tubuhnya semakin erat menerpa.
‘Terima kasih, istriku tersayang, terima kasih ….”
Ia yang masih tersenyum lantas membalas mengeratkan pelukan.
Ia berjanji akan lebih berupaya dalam mendampingi Tama. Ia akan mencari informasi menyeluruh tentang apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan sebagai seorang penegak hukum. Ia akan mencatat semua tanpa kecuali. Ia akan memastikan baik Tama, dirinya, maupun anak-anak tak melanggar. Ia akan mengusahakan keluarga mereka benar-benar berada di jalur yang benar sesuai kaidah dan peraturan hukum yang berlaku. Musibah kali ini menjadi pengingat sekaligus pelajaran paling berharga yang tak boleh terulang.
Namun, kehidupan harus terus berjalan, seberat apa pun masalah yang sedang dihadapi, dan sepahit apa pun kenyataan yang harus dijalani. Ia turut mendukung keputusan Tama yang merelakan Reka tinggal bersama Kinanti di Swedia.
“Feelingku nggak enak,” ujar Tama sepulang dari hotel tampat Reka menginap bersama bunda dan ayah tirinya. “Kayaknya Kinan bakal lama di sana karena ngajak Miko.”
“Lama?” tanyanya tak mengerti dengan maksud ucapan sang suami. Bukankah dengan keputusan ini, Reka dan bundanya memang akan tinggal di sana dalam kurun waktu tak sebentar? Lalu apa yang sebenarnya dikhawatirkan?
Tama memberikan tatapan kosong seraya menggeleng. “Aku pikir … Kinan punya rencana untuk selamanya tinggal di sana.”
Kali ini, ia seperti digerakkan oleh kekuatan tak kasat mata hingga sanggup mendekap tubuh tegap itu lebih dulu. Ia berusaha sekeras mungkin menampung seluruh kekhawatiran yang membuat suasana hati sang suami semakin memburuk. Ia ingin meyakinkan jika semua akan baik-baik saja, meski pada akhirnya tak sepatah kata pun terucap.
“Iya, Mas, tidak apa-apa,” potongnya segera. Ia sangat mengerti kewajiban sang suami membiayai hidup Reka seperti yang tertulis dalam salinan putusan sidang perceraian. Dokumen yang tersimpan di brankas beserta surat berharga dan perhiasan itu pernah Tama perlihatkan padanya. Ia mengingat dengan baik poin tentang besaran nafkah mut’ah dan ‘iddah sebab perkawinan putus karena talak. Serta nafkah untuk anak setiap bulannya yang harus Tama keluarkan.
Ia pun memahami besaran angka yang cukup fantastis itu menunjukkan tingkat kemampuan Tama, yang kesemuanya terjadi jauh sebelum pria itu mengutarakan niat untuk membina rumah tangga dengannya. Jadi, ketika sekarang Tama dihadapkan pada kenyataan bahwa kepindahan Reka ke luar negeri mempengaruhi besaran nafkah yang harus dikeluarkan melebihi angka yang tertera dalam putusan perceraian, ia tentu tak boleh berkeberatan. Reka jelas memiliki hak penuh terhadap Tama, ayah kandungnya. Ia sendiri yang akan memastikan Tama memenuhi seluruh kewajiban tanpa kecuali.
“Nggak, Tam. You nggak perlu keluar dana di luar kesepakatan,” terang suami Kinanti ketika mereka berempat bertemu sebelum pasangan suami istri itu pergi ke Surabaya guna mengurus administrasi kepindahan adik Kinanti. “Ini kejadian luar biasa. Biaya perpindahan Reka biar aku yang tanggung. Termasuk biaya hidup di Halmstad, aku pastikan kutanggung seumur hidup.”
Ia pun semakin memahami karakter Tama ketika pria itu menolak mentah-mentah usulan suami Kinanti. Tama memastikan biaya kepindahan Reka ke Halmstad ditanggung penuh olehnya sebagai ayah kandung. Adapun besaran biaya hidup Reka hingga memasuki usia dewasa dan bisa menghidupi diri sendiri, diambil jalan tengah. Tama memberikan nafkah sejumlah yang ditetapkan dalam putusan perceraian yang besarannya meningkat mengikuti kenaikan inflasi per tahun, dalam mata uang rupiah bukan dollar.
“Semoga nggak seberat yang kubayangkan,” gumam Tama lemah setelah sang mantan istri dan suaminya pulang. “Sepertinya, istriku tersayang harus hidup prihatin sampai situasi membaik.”
Tama mungkin lupa, sebelum mereka menikah, ia sudah terbiasa hidup dalam keterbatasan. Bukan hal yang baru apalagi menakutkan baginya. Ia justru khawatir kehidupan bergelimang kemudahan yang Tama berikan untuknya juga anak-anak akan melenakan dan menggerogoti kemampuannya bertahan dalam menghadapi kesulitan.
Ia kemudian mendukung penuh rencana Tama tentang bagaimana keluarga mereka akan menjalani kehidupan baru di Poso. Meninggalkan Jakarta hanya dengan membawa yang diperlukan. Meneguhkan diri lebih berhati-hati dalam setiap langkah. Menguatkan keyakinan mereka bisa melalui jalan panjang dan gelap ini dengan sebaik-baik persangkaan.
“Tahu apa yang membuatku sedikit lega, Ma?” tanya Tama saat mereka pertama kali menginjakkan kaki di rumah dinas. Ketika sejumlah petugas membantu menurunkan barang bawaan yang tak seberapa. Di mana anak-anak mulai berkeliling ruangan dan tak lama kemudian terdengar seruan riang Umay.
“Sasa! Aku tahu tempat buat gantungin seribu bangau kertas buatan kita, Sa!”
“Kota ini adalah tempat tugas pertamaku setelah dilantik.” Tama terlihat menghirup udara sembari memejamkan mata. Seolah ingin menyatukan diri dengan suasana sekitar. “Kita lihat seberapa banyak perubahan yang terjadi. Kalau belum pindah nih, aku yakin masih hapal letak pasar, rumah sakit, rute ke danau Poso, pantai Madale. Besok, anak istriku bakal kuajak keliling Poso.”
“Ada obyek wisata baru, ya?” teriak Tama ke arah para petugas yang tengah menyimpan koper-koper mereka di ruang tengah. “Lebih dekat dari sini?”
“Siap, betul, pak,” jawab petugas yang berdiri paling dekat dengan mereka. “Pantai Imbo namanya, dahulu Tegal Rejo.”
__ADS_1
“Yang diingat pertama kali pasar?” Ia mengulum senyum begitu petugas meninggalkan ruang tengah.
“Lho?” Tama balas melempar senyum. “Suami macam apa yang nggak tahu rute ke pasar padahal istrinya hobi memasak? Hah, suami macam mana itu?”
Ia masih tersenyum seraya menggeleng. “Kalau rumah sakit? Kenapa selain pasar yang diingat rumah sakit?”
“Lho?” Tama jelas berpura-pura kaget. “Kalau suatu saat istriku mau periksa ke dokter kandungan, gimana?”
Ia semakin menggeleng sembari berbisik sambil lalu. “Maaf, Bapak, saya sedang dipagar betis setara tiga pasukan.”
Setelah kelahiran putra mereka Asta, dokter Stella menyarankan pemasangan K B dan ia diminta beristirahat untuk tidak hamil lagi selama minimal satu tahun ke depan. Banyak faktor yang melatarbelakangi selain riwayat kehamilan dan usia yang telah memasuki resiko tinggi. Tama sempat menawar untuk menggunakan K B alami, namun dokter Stella tak merekomendasikan.
“Yakin … Pak Tama bisa tertib administrasi sesuai jadwal?” sergah dokter Stella yang dijawab Tama dengan wajah datar.
“Halah! Apa itu pagar betis?” Selorohan sang suami memulihkan kesadarannya dari bayangan percakapan di ruang periksa dokter Stella. “Nggak ada pengaruhnya. Belum tahu daya dobrak ….”
Ia memperingatkan Tama melalui kernyitan agar tak berlebihan dalam bercanda. Sebab dari tempatnya berdiri terlihat seorang petugas yang tadi memperkenalkan diri sebagai sespri tengah berjalan mendekat.
“Izin lapor, Pak. Kendaraan yang Bapak pesan sudah datang.”
Seperti yang mereka bicarakan di Jakarta, Tama membeli satu mobil bekas dan sebuah sepeda motor yang juga bekas untuk keperluan mereka sekeluarga.
“Mulai sekarang dan untuk selamanya, Papa nggak akan menggunakan fasilitas kantor untuk kepentingan pribadi,” terang Tama di malam pertama mereka duduk melingkari meja makan menikmati ikan cakalang kuah santan dan sup kaki sapi kiriman dari ibu mantan kepala dan ibu Waka. “Anak-anak tolong ingatkan Papa kalau melanggar janji ini.”
“Siap, Komandan!” jawab Umay lantang seraya mengacungkan tangan kanan ke atas. Sasa mengangguk-angguk sembari terus mengunyah. Icad turut mengiyakan meski dengan suara lirih.
Namun ia tak pernah menyangka jika keriaan di meja makan malam itu menjadi yang terakhir.
Tepat seminggu kemudian, selepas mengikuti salat Maghrib di Masjid Raya, Tama yang berboncengan dengan Icad dan Umay berpapasan dengan dua pengendara motor tanpa lampu. Tama lantas curiga sebab pengendara motor berpakaian hitam-hitam itu terang-terangan membuntuti. Tama lalu tancap gas. Di depan kompleks asrama, Tama memperlambat laju motor untuk memastikan keadaan. Namun malah disambut suara letu san sen jata dari jarak dekat.
Para penghuni asrama yang terkejut mendengar suara tem bakan berhamburan keluar dengan sen jata di tangan. Namun kedua pelaku keburu melarikan diri. Sementara Martino yang telah bersiaga di depan rumah dinas langsung mengambil alih motor agar Tama dan anak-anak bisa segera masuk ke dalam.
Ia sedang mengoreksi hafalan surat Sasa ketika dua suara keras tem bakan terdengar menembus dinding rumah dinas. Tama berteriak meminta mereka agar tiarap. Ia langsung memeluk Sasa dan melihat Tama berlari memasuki ruang tamu sambil melindungi Icad dan Umay yang ketakutan. Tama lantas menghalau mereka masuk ke kamar dan memerintahkan untuk terus tiarap.
Dua tem bakan kembali terdengar ketika Tama berhasil meraih senjata dari dalam laci lalu berlari keluar.
Ia menciumi dan memeluk Sasa yang terdiam membatu namun menggigil seperti orang kedinginan dengan air mata meleleh. Sedangkan Icad dan Umay sama-sama tiarap dengan wajah pias.
Di tengah suasana mencekam, suara tem bakan tak lagi terdengar berganti keriuhan para anggota yang telah berkumpul di depan rumah dinas. Mereka berempat masih tiarap ketika Tama kembali ke kamar dan langsung meraih Sasa ke dalam pelukan.
“Sasa takut?” bisik Tama yang dibalas dengan anggukan penuh linangan air mata meski tanpa isakan. Sementara sebelah tangan Tama diam-diam mengulurkan sen jata api padanya untuk disimpan.
Ia menerima dengan gugup lalu menyimpannya ke dalam laci. Rasanya berat sekali dan menakutkan.
Tama lantas mengusap punggung Sasa hingga gadis cilik itu tak lagi mengeluarkan air mata dan tertidur. Putrinya itu memang mudah mengantuk jika menangis. Selama sang suami menenangkan Sasa, ia hanya bisa terduduk sambil memeluk Umay dengan Icad menyandar di punggungnya.
“Umay pemberani, kan?” tanya Tama setelah merebahkan Sasa yang terlelap ke tempat tidur.
Umay yang semula lemas langsung menegakkan punggung namun tak memberi jawaban.
“Selama Papa pergi …,” ujar Tama sambil berjalan menuju laci tempat menyimpan sen jata, lalu mengambil dan memeriksa isi pe luru dengan cermat. “Umay jaga Sasa, Abang jaga mama. Oke?”
__ADS_1
(Bersambung ke THE LAST : Matahari di Langit Timur (2) ... sebab maksimal upload 3000 kata ❤️)