
"Keep Your Head Up!"
(Tegakkan kepalamu)
***
Jakarta
Icad
Dalam sekejap, orang-orang berkumpul memenuhi rumah Kioda. Omak masih menangis sambil meratap. Kiana hampir tertidur digendong istri bapa tua. Namun Kioda tak terlihat di mana-mana.
Ia sudah mencari ke seluruh penjuru rumah. Termasuk ke belakang tempat kandang ayam pesanan pak RT berada. Tapi Kioda tetap tak kelihatan batang hidungnya.
Ia akhirnya memilih duduk di teras seperti pesakitan. Diam membisu di antara para pria dewasa yang memberondongnya dengan segudang pertanyaan membingungkan.
"Gimana ceritanya?"
"Kamu tadi di mana?"
"Kok bisa dikeroyok?"
"Motor Markus di mana sekarang?"
Ketika orang-orang masih menanyainya, sejumlah kerabat Kioda mulai gaduh di ruang tamu.
".... Ada biaya ...."
".... Ambil jenazah ...."
".... Butuh uang cepat ...."
"Pinjam ke mana ...."
"Total empat belas juta ...." ©
"Tanpa peti bisa dikurangi ... sudah dari sananya ... tak tahu ...."
"Biaya perawatan ...."
Matanya nanar menatap kegaduhan campur isak tangis menyayat di ruang tamu. Hampir semua orang yang berada di sana memasang wajah penuh kebingungan, kekalutan, juga kemarahan.
Ia benar-benar tak tahu harus melakukan apa. Hanya bisa memejamkan mata sambil menyandarkan punggung ke dinding tembok. Hatinya pedih dan pilu. Tangannya sedari tadi dibanjiri keringat dingin dengan lutut gemetaran dan kaki melayang seolah tak menjejak lantai. Sementara kilasan ingatan wajah ceria pak Markus yang menyapa mereka di pintu dapur membuat air mata setetes demi setetes mulai luruh.
"Oi! Boni ... Icad ...."
"Tak ada lauk, Cad. Kita masak yang ada sajalah. Kita buat ... mie gomak terlezat sedunia ...."
"Biar Om antar ...."
"Mau jajan di Indoapril, Bapak ...."
Punggung tangannya bergerak cepat menyusut air mata yang berjatuhan saat kembali teringat jeritan histeris Kiana di depan meja kasir.
"BAPAK! BAPAK! BAPAK! HUHUHUHU!"
Seandainya ia menolak diantar pulang. Seandainya ia tak pergi ke toilet. Seandainya ia tak terlalu lama berada di toilet. Seandainya ia bisa berlari dan menerjang kerumunan massa saat melihat jaket merah yang terkoyak. Seandainya ... seandainya ... seandainya ....
"Tak boleh berandai-andai untuk sesuatu yang sudah terjadi ...." Suara nenek tiba-tiba berputar memenuhi kepalanya. "Waktu tak bisa terulang. Menyesal pun tiada guna. Menyalahkan orang lain apalagi keadaan hanyalah perbuatan sia-sia."
"Kita kembalikan semua musibah dengan memohon pertolongan ... semoga Allah memberi kita kekuatan untuk menjalani semua yang telah ditakdirkan dengan hati lapang."
Ia menggeletukkan gigi dengan tubuh menggigil gemetaran. Menahan semua penyesalan dan kemarahan yang berkecamuk. Menatap suasana ruang tamu yang semakin gaduh oleh ratapan kesedihan dan gumaman kebingungan orang-orang.
"Jangan lupa pula memohon ... semoga kita dimampukan untuk memperbaiki keadaan ...."
Punggung tangannya kembali bergerak cepat mengusap air mata yang menetes. Mengingatkan pada kepiluan yang sama bertahun silam. Ketika seorang pria datang ke rumah membawa berita mengejutkan.
"Teuku Iskandar Muda dipastikan menjadi salah satu korban tewas akibat serangan perompak di ...."
Nenek terhuyung sampai harus berpegangan pada dinding ruang tamu. Mama terkulai lemas di atas kursi. Dan ia hanya bisa terpaku melihat semua kesedihan yang terjadi.
Bahkan ketika mama akhirnya harus dirawat di klinik bidan Karunia selama tiga hari. Terbaring lemah dengan infus menempel di tangan. Pun nenek yang selalu menangis tiap berada di dalam bilik salat.
Hanya yahbit seorang yang terlihat tegar tanpa air mata. Menunggui mama di klinik bidan Karunia sampai harus bolos sekolah.
Apakah ia bisa setegar yahbit? Membantu memperbaiki keadaan meski tak bisa mengembalikannya seperti semula.
".... Harus secepatnya pinjam uang ...."
".... Tak bisa dinego sudah harga segitu ...."
".... Sudah jatuh tertimpa tangga. Orang sedang kesusahan tambah susah ...."
".... Diusahakan hari ini ... harus ...."
Kegaduhan di ruang tamu masih saja berlangsung. Kali ini semakin memanas karena sejumlah kerabat Kioda mulai terpancing emosi. Sampai harus ditengahi oleh para tetangga. Pemandangan yang membuat dadanya kian bertambah sesak. Sakit dan pilu.
"Mana polisi? Sudah kejadian begini tak ada polisi satupun?" Seruan penuh amarah seorang pria paruh baya membuatnya terhenyak.
Polisi?
Di mana polisi?
Petugas yang tadi mengantarnya pulang ke rumah Kioda kini sudah tak tampak lagi. Hanya terlihat dua orang bhabinkamtibmas (bhayangkara pembina keamanan dan ketertiban masyarakat) yang baru datang dan sedang berbincang dengan pak RT.
Seketika ingatannya tertuju pada seseorang.
Tanpa berpikir ia langsung beranjak. Meninggalkan suasana duka mendalam tanpa seorangpun menyadari kepergiannya.
"Ojek, Bang!" Serunya dengan napas memburu karena berlari dari rumah Kioda hingga ujung gang. Perasaannya dipenuhi letupan pengharapan semoga orang yang hendak dituju bisa membantu.
__ADS_1
Sungguh sangat berharap.
"Ngebut, Bang," pintanya tak sabar ketika terjebak dalam antrean kendaraan di lampu merah.
Suasana jelang petang yang temaram. Langit yang mulai menggelap. Deretan lampu jalan yang menyala. Antrean kendaraan dan suara pekikan klakson yang bertubi-tubi. Menjadi latar sempurna dari seluruh ketakutan dan penyesalannya.
"Pinggir depan!" Ia bisa sedikit bernapas lega akhirnya bisa sampai di tempat tujuan. Dengan masih mengenakan helm langsung berlari masuk ke dalam. Tak menghiraukan tukang ojek pengkolan yang berseru meneriakinya.
"Hei! Hei! Mau ke mana?" Hardik seorang petugas ketika melihatnya menerobos pintu masuk dan berlari menuju ke arah tangga.
"Berhenti!"
Tapi ia tak peduli. Terus berlari menaiki tangga sampai menabrak sejumlah orang.
"Siapa kamu! Ini area terlarang!" Seorang petugas berhasil mencekal lengannya. "Turun!"
Tapi ia memberontak dengan sekuat tenaga berusaha melepaskan diri. "Mau ketemu sama om."
"OM SIAPA?" Petugas yang memitingnya melotot. "TURUN SEKARANG!"
"OM TAMA!" Teriaknya marah.
"Tama siapa?" Petugas lain mulai menghampiri dan mengerumuninya. "Kamu jangan ngaku-ngaku!"
"Tarik ke bawah!" Perintah seorang petugas yang sepertinya memiliki kuasa.
Namun ia berhasil melepaskan diri terlebih dahulu. Dan langsung melesat menaiki anak tangga terakhir menuju ke lantai dua.
"KURANG AJAR!"
Ia terus berlari. Melewati beberapa petugas yang sedang berjalan di lorong dan menatapnya keheranan.
"RIF! RIF! Pegang tuh bocah!" Seru petugas yang mengejarnya.
Ketika bayangan sepasang pintu kaca yang hendak dituju mulai terlihat, lengannya keburu dicekal oleh dua orang petugas sekaligus.
"MAU KEMANA LO?"
"DIAM! JANGAN LARI!"
Tapi ia masih berusaha untuk melepaskan diri sambil bergumam dengan gigi gemeletuk menahan marah, "Mau ketemu sama om Tama ...."
***
Devano
Apakah ia memiliki double job sekarang? Yang pasti ia harus memboyong laptop ke ruangan pak Tama. Agar bisa tetap bekerja sambil mengawasi bocah tengil yang memiliki tujuan hidup menyusahkan orang lain itu.
"Ayah lama amat, Om? Aku pulang duluan, deh."
Ia menggeleng. "Pak Tama meminta untuk menunggu."
Ia segera menawarkan password WiFi kantor yang super kencang. Senjata andalan untuk meraih hati ABG. Namun rupanya, password WiFi tak ada harganya di mata Reka.
"Bosen main hape."
"Mau jalan-jalan?" Tawarnya dengan sukarela menjadi tour guide dadakan.
Dari ruangan pak Tama, mereka mulai berjalan menyusuri ruangan demi ruangan, lorong demi lorong. Memperkenalkan sang bocah pada semua orang yang dijumpai.
"Siapa, Van?"
"Anaknya komandan."
Ia bahkan memperlihatkan suasana ruang tahanan. Yang langsung ditolak Reka mentah-mentah begitu mereka berjalan melewati pintu gerbang besi.
"Nggak ada tempat menarik lain apa?"
Ia menyeringai. "Tempatnya para artis yang terciduk menjalani tes narkoba, mau?"
Reka balas menyeringai. "Tempat apaan gaje banget."
Mereka akhirnya kembali ke ruangan pak Tama karena Reka mengeluh lapar. Kemudian memesan makanan melalui aplikasi online.
"Om disuruh ayah buat mata-matain aku?" Tanya Reka dengan mulut penuh mengunyah makanan.
Ia yang tak ikut makan hanya mengangkat alis. Tetap menyelesaikan pekerjaan di depan layar laptop.
"Nggak ada kerjaan lain apa?"
Ia tertawa sumbang karena mendapati gaya Reka yang sama persis seperti sang ayah saat seseorang tak memahami perintah, "Begini aja nanya ke saya?"
Tapi jawabannya tertahan karena pintu yang tiba-tiba terbuka dan kemunculan Rifai, "Van! Ada bocah nekat nyari komandan. Lu kenal nggak? Apa jangan-jangan anaknya?"
Ia menunjuk Reka yang sedang mengunyah. "Ini ... anaknya. Udah di sini dari tadi."
"Oke." Rifai langsung berbalik pergi dan menutup pintu kaca. Namun menyisakan suara teriakan dari arah lorong yang membuatnya menajamkan telinga.
"Rip! Rip!" Ia segera beranjak menyusul Rifai. Dan terkejut saat mendapati seorang anak laki-laki sedang memberontak berusaha melepaskan diri dari cekalan Hari dan sejumlah rekannya.
"Saya cuma mau ketemu sama om Tama!" Seru anak tersebut berulangkali.
"Kamu nggak ada urusan di sini! Turun ayo turun!" Bentak Rifai sambil menyuruh Hari untuk menarik anak tersebut agar meninggalkan lorong.
Tapi ia mulai menyadari sesuatu. "Tunggu!" Cegahnya berusaha mengejar langkah Hari.
Ketika berhadapan dengan anak berwajah merah padam yang terus memberontak, semua menjadi terang benderang, "Kamu?" Ia mengernyit berusaha mengingat. "Yang pernah ketangkap tawuran?"
Anak laki-laki itu balas menatapnya dengan mata berkaca.
Kini, ia menggelengkan kepala berkali-kali memperhatikan dua ABG yang tengah duduk di ujung sofa berbeda. Satu berwajah tengil dan baru menyelesaikan makan. Satu lagi berwajah merah padam seperti pijaran lava yang mendidih.
__ADS_1
"Izin, Pak?" Ia bernapas lega karena panggilan kelima berhasil tersambung.
"Saya masih rapat dengan Metro 1!" Bentak suara di seberang.
"P-pak, di sini ada Teuku Risyad." Ia buru-buru menyampaikan pesan sebelum pak Tama memutuskan panggilan.
"Siapa?"
"Teuku Risyad," jawabnya lega karena pak Tama mau mendengarkan. "Yang dulu pernah tertangkap tawuran."
"Saya tahu!" Suara pak Tama kembali membentak. "Ngapain di sana?"
"Mencari Bapak ...." Ia mulai menjelaskan secara singkat, padat, dan jelas. Seperti yang Risyad ceritakan sebelumnya. "Sudah ditangani oleh Polsek ...."
"Kamu handle sampai saya datang!"
"Siap, Pak."
Ia menutup telepon dan kembali memandangi dua ABG yang saling berdiam diri satu sama lain.
"Saya koordinasi dulu. Kalian tunggu di sini."
Tapi sebelum beranjak, seseorang keburu membuka pintu.
"Van! Si Risyad belum bayar ojek," ujar Rifai lantang. "Barusan ditalangin Didit di bawah."
Ia merogoh saku untuk mengambil dompet.
"Sama helm!" Kepala Rifai kembali menyembul dari balik pintu. "Ditunggu sama ojeknya."
***
Reka
Ia tak tahu siapa anak yang duduk di sebelah. Sepintas dari raut wajah mereka seusia. Secara postur juga sama tinggi. Hanya yang membedakan anak itu terlihat lebih kurus dibanding dirinya.
Ia juga tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Karena anak di sebelah menjawab pertanyaan dari om Devano dan om Rifai dengan suara gemetaran. Namun yang cukup menggelitik adalah sebutan untuk ayah. Kata om yang terucap terdengar cukup akrab, luwes di telinga.
"Berikut kami siarkan secara langsung, press release yang dilakukan oleh Kapolda Metro Jaya terkait kasus pembunuhan hakim agung."
Suara penyiar berita di televisi berhasil mengalihkan perhatiannya dari layar ponsel.
"Selamat malam rekan-rekan semua, berdasar hasil penyidikan yang dilakukan oleh tim kami dari Polres Metro dan Polda ...."
Tiga pria muncul di layar televisi. Pria yang berada di tengah sedang berbicara. Pria di sebelah kiri tak dikenalinya. Dan pria di sebelah kanan adalah ayah.
Ini menjadi kali pertama baginya melihat sosok ayah muncul di layar televisi. Terasa aneh namun sedikit menyenangkan.
"Selanjutnya akan dijelaskan oleh Kapolres Metro ...."
Matanya semakin terfokus pada layar televisi. Memperhatikan ayah yang sedang berbicara sambil menunjukkan sejumlah barang bukti.
"Kita jalan sekarang." Om Devano tiba-tiba memasuki ruangan. "Termasuk Reka."
Ia menurut saja. Sebab merasa tertarik ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalian berdua kenalan, dong," seloroh om Devano sambil mengemudi. "Udah pada kenalan belum?"
Ia tak menjawab. Begitupula anak yang duduk di sebelah. Mereka berdua kompak diam seribu bahasa.
Setelah melewati beberapa titik kemacetan, mobil mulai memasuki jalanan yang lebih sempit. Lalu berhenti di halaman sebuah bengkel las yang sudah tutup. Terparkir sejajar dengan mobil patroli dan ambulans.
Dari bengkel las dilanjutkan dengan berjalan kaki. Menyusuri gang yang cukup sempit. Sebelum akhirnya masuk ke satu rumah paling ramai pengunjung dengan tanda bendera kuning.
Suasana duka mendalam langsung menyergap siapapun yang berada di sana. Ratapan isak tangis terdengar bersahutan mengelilingi jasad yang terbujur kaku di dalam peti mati.
Dengan seorang anak laki-laki yang berdiri mematung. Tatapan matanya kosong. Meski anak yang bersamanya bergerak maju membisikkan sesuatu sambil memeluk. Tatapan mata anak di depan peti mati tetap kosong. Sama sekali tak bereaksi.
***
Tama
Ia langsung menugaskan jajaran kepolisian sektor tempat kejadian perkara untuk mengusut tuntas kasus penganiayaan yang berujung pada kematian. Memerintahkan anggotanya untuk mengurus administrasi pengambilan jenazah di rumah sakit. Meminta Devano membawa Reka dan Icad ke rumah duka. Lalu menghubungi Pocut meski tergesa.
"Icad pulang terlambat. Nanti kuantar ke rumah."
"Kenapa? Apa ada masalah?"
Ia yang sedang tergesa karena akan melakukan press release dengan Metro 1 hanya menjawab singkat. "Kamu nggak usah khawatir. Icad baik-baik saja." Lalu menutup panggilan tanpa menunggu respon dari Pocut.
Begitu seluruh tugas di Mapolda selesai. Barulah ia meluncur menuju TKP kemudian rumah duka.
"Tolong beri kami keadilan ...." Seorang wanita yang meratap di samping peti mati menyambut kedatangannya. "Suami saya bukan pencuri. Suami saya tak bersalah. Mengapa tragedi ini menimpa kami ...."
Ia sempat berbincang dengan perwakilan dari keluarga korban dan kanit reskrim polsek. Sebelum akhirnya menemui dua ABG yang duduk bersebelahan di teras.
Icad menunduk dengan wajah murung. Sementara Reka terlihat berempati, turut larut dalam kesedihan meski tak mengenal korban.
Ia menepuk bahu Reka terlebih dahulu. Kemudian merangkul Icad yang tertunduk lesu.
"Keep your head up (tegakkan kepalamu)."
Perlahan Icad mulai menoleh ke arahnya dengan mata berkaca-kaca. "Tolong Kioda, Om ...."
***
Keterangan :
©. : dikutip dari artikel yang dimuat oleh detikNews tanggal 28 Desember 2018.
***
__ADS_1