
Selamat Uroe Lahee, Beu Meubahgia Sabee
(Selamat ulang tahun, semoga bahagia selalu -bahasa Aceh)
***
Jakarta
Pocut
"Sebelum pulang, kita ke lantai paling atas dulu," ujar Tama begitu melihatnya menyelesaikan suapan terakhir soto ayam tanpa nasi. Sedangkan Tama dan Icad sedari tadi sudah menghabiskan makanan masing-masing.
"Pernah ke sana?" Tama beralih ke arah Icad yang sedang meminum air mineral.
"Belum," jawab Icad seraya menutup kembali botol air mineral. "Dulu cuma sampai lantai 22."
Tama tersenyum senang. "Habis ini kita ke sana."
Dari kantin, Tama terlebih dahulu mengajak mereka mampir ke toko pernak-pernik. Ia hanya melihat-lihat, sementara Icad langsung memilih tiga gantungan kunci sekaligus.
"Buat Umay sama Sasa," jawab Icad, ketika ia bertanya mengapa membeli gantungan kunci sebanyak itu.
Ia tersenyum. Tiap kali bepergian dan membeli sesuatu, Icad selalu teringat kedua adiknya di rumah. Pasti pulang membawa oleh-oleh. Seperti sekarang, oleh-olehnya adalah gantungan kunci.
Namun ketika hendak membayar, tiba-tiba Tama meletakkan tiga buah pin dan selembar uang ke atas meja kasir.
"Karena Om yang ngajak jalan, om yang bayar," ujar Tama ketika Icad bersikeras menyerahkan uang pemberiannya kepada petugas kasir. Seperti kejadian di kantin tadi.
"Sekarang Om dulu." Tama memasukkan uang ke saku Icad. "Kapan-kapan ... giliran Icad yang nraktir Om. Setuju?"
Icad sempat menoleh ke arahnya sebelum mengangguk, mengiyakan permintaan Tama.
Dari lantai 4, mereka naik lift ke lantai 24. Dan langsung disambut oleh ruangan luas dengan sejumlah sofa yang terlihat nyaman.
"Ini lounge," terang Tama. "Kalau lagi nggak ada event kayak gini, nih ... bisa dipakai pengunjung."
"Awalnya kita mau ngobrol di sini." Tama menoleh ke arahnya. "Tapi ruang yang tadi lebih representatif."
Kemudian Tama mengajaknya melihat-lihat kain tenun yang dipajang di lantai tersebut. Sementara Icad sudah menghilang di balik rak buku.
"Ini bagus." Tama menunjuk kain tenun perpaduan antara benang warna hitam, merah, dan emas yang sempurna.
Ia mengangguk. "Di tempat kami namanya songket."
"Oya, songket Aceh? Ulos Batak?" Tama menoleh.
Ia hanya tersenyum sembari memperhatikan kain-kain indah tersebut.
"Kalau ini ...." Tama berpikir sejenak sambil mencari-cari keterangan di sekitar kain yang sedang dipamerkan.
"Nah." Tama akhirnya menemukan apa yang dicari. "Tenun gringsing dari Bali."
"Ini pakai teknik double ikat. Jadi lama pembuatannya bisa bertahun-tahun," sambung Tama. "Keren, ya?"
Ia mengangguk setuju. Memperhatikan kain tenun yang ditunjukkan oleh Tama.
"Kalau ini tenun Toraja." Tama menunjuk kain selanjutnya. "Coba kamu sentuh ...."
Ia menurut. Mulai menyentuh permukaan kain menggunakan ujung jari.
"Terasa bedanya?" Tama turut menelusuri kain menggunakan telunjuk, mengikuti bekas sentuhan jarinya.
"Permukaannya lebih bertekstur dan proses pembuatannya lebih rumit," terang Tama.
Ia mengangguk mengerti. Terus mendengarkan penjelasan Tama tentang jenis-jenis kain tenun yang dipamerkan.
"Nanti suatu saat, kamu akan melakukan hal-hal seperti ini sendiri." Tama tersenyum. "Kamu juga akan berbicara di depan banyak orang, menjawab pertanyaan, mengemukakan pendapat. Anggap sekarang ... kita sedang latihan."
Ia terpana menatap Tama yang masih tersenyum.
"Jadi ... apa nama kain tenun yang terletak di paling ujung?" Tangan Tama menunjuk ke satu arah.
Ia yang masih terpana usai mendengar ucapan Tama langsung tergeragap. "Mmm ...." Lalu berdehem untuk mengusir rasa gugup.
"Yah, nggak bisa jawab." Tama memberi tatapan menyayangkan yang dibuat-buat. "Nggak konsen pasti. Kenapa? Terlalu terpesona dengan yang menerangkan?"
Ia yang awalnya merasa malu karena tak bisa menjawab pertanyaan, kini justru tertawa kesal.
"Berani ketawa?" Tama menatapnya sambil mengu lum senyum.
Tawanya semakin menjadi. Ia bahkan sampai harus menutup mulut dengan sebelah tangan.
"Yang paling ujung itu ... tenun Lombok," ucap Tama seraya terus mengu lum senyum memandangnya.
Ia langsung menghentikan tawa dan mengernyit. "Tenun Lombok ... bukannya belum kita bahas?"
Kini giliran Tama yang tertawa. "Memang." Lalu berjalan menjauh sembari terus tertawa.
Ia menyusul Tama sambil memutar bola mata.
"Sebenarnya ... apa yang membuat kamu kurang percaya diri?" Pertanyaan Tama ketika di ruangan tadi kembali terngiang.
Ia tak bisa langsung menjawab. Terpekur menatap jemari yang saling menjalin di atas meja. "Saya ... tidak tahu."
__ADS_1
"Kamu punya banyak kelebihan. Kalaupun ada kekurangan ... bukankan semua orang pasti punya kekurangan? Termasuk aku."
"Kamu seharusnya bisa menghargai diri sendiri dengan bersikap lebih percaya diri."
Ia menelan ludah mendengar ucapan Tama. Entahlah, selama ini ia merasa baik-baik saja. Meski jauh di dasar hati, ada begitu banyak pertanyaan yang belum terjawab, menumpuk, dan akhirnya menguasai diri dalam bersikap. Mungkin ini yang membuat Tama menilainya tak memiliki kepercayaan diri.
"Aku nggak ingin kamu terkejut dengan tanggung jawab baru yang harus dilakukan. Aku ingin kamu mulai bersiap dari sekarang. Dan aku tahu kamu bisa."
"Mungkin ... kamu bisa mulai dengan ... ngobrol sama Dara? Nanti kuatur waktunya biar kalian bisa quality time berdua."
Dara teman bicara yang menyenangkan. Tapi ia harus memastikan satu hal terlebih dahulu. "Kalau menurut pendapat Mas ... saya adalah orang yang tidak memiliki kepercayaan diri. Mengapa tidak memilih orang lain yang jelas-jelas sangat percaya diri?"
"Mengapa malah menghabiskan waktu untuk membantu saya?"
Tama tersenyum. "Karena aku ingin kamu yang menjadi istriku ... bukan yang lain."
"Kita nunggu Icad atau nggak?" Suara bass yang mulai familiar berhasil membuyarkan lamunan. Ketika menoleh, Tama sedang tersenyum sambil menunjuk pintu kaca yang berbatasan dengan balkon. "Kita mau lihat pemandangan bagus."
Ia menengok ke belakang, ke tempat Icad tadi berdiri di balik deretan rak buku. Tapi putra sulungnya itu sama sekali tak terlihat batang hidungnya.
"Saya cari dulu." Ia bergegas melangkah pergi. Tapi Tama keburu menahannya.
"Biar aku yang cari. Kamu duduk aja." Tama menunjuk satu set sofa yang berada paling dekat dengan posisi mereka berdiri. Kemudian beranjak menuju deretan rak buku guna mencari Icad.
Ia sempat memperhatikan punggung Tama yang berjalan menjauh. Sebelum akhirnya mendudukkan diri di sofa warna krem.
Dan diam menunggu membuat ingatannya kembali melayang pada perbincangan di dalam ruangan.
"Aku nggak bisa menjanjikan apa-apa." Tama memandangnya dalam satu garis lurus. "Karena dulu pernah berjanji tapi ternyata ... gagal."
"Aku hanya ingin kita menikah, hidup dalam satu keluarga, mendampingi anak-anak, sampai tiba waktunya harus pulang ...."
"Tapi aku minta maaf ... karena meminta waktu sedikit lagi ... untuk bicara dengan Reka."
Lamunannya menguap di udara, ketika melihat Tama dan Icad sedang berjalan mendekat. Ia pun bangkit. Lalu mereka bertiga melangkah bersisian menuju ke arah balkon, di mana Tama dan Icad secara bersamaan membukakan pintu kaca untuknya.
Ia langsung terpesona begitu melihat pemandangan yang terhampar dari ketinggian lantai ke 24 ini. Sejauh mata memandang, yang terbentang adalah keindahan panorama kota Jakarta.
"Monas ...." Tunjuk Tama. "Gambir .... Istiqlal ...."
Ia mengikuti seluruh pandangan Tama.
"Wah." Tama berseru antusias. "Jalan di bawah sampai kelihatan. Keren."
Tapi ia tak lagi bisa menikmati keindahan. Karena tiba-tiba lututnya lemas, kepala terasa pening, pandangan mata berkunang-kunang, dan perut mual. Ditambah angin yang berhembus cukup kencang kian membuat perut terasa seperti diaduk-aduk. Ia bahkan sampai harus berpegangan erat pada kaca pembatas agar tak terjatuh.
"Kenapa?" Suara Tama terdengar panik.
"Kamu ... fobia ketinggian?" Kini Tama telah meraih tangannya. Mau tak mau ia pun menyambut uluran. Karena lutut terasa semakin lemas dan lantai yang dipijak mulai berputar-putar.
"Duduk dulu." Satu tangan Tama masih menggenggam erat. Dengan tangan lain meraih bahunya. Membimbing langkahnya menuju bangku terdekat.
Begitu berhasil duduk, ia langsung memejamkan mata kuat-kuat. Berusaha menetralisir rasa mual yang mengaduk-aduk seisi perut. Persis seperti apa yang dialaminya dulu ketika berada di atas kapal penyeberangan bersama bang Is.
Bang Is?
Ia memberanikan diri untuk membuka mata. Dan pandangannya langsung tertumbuk pada wajah cemas Tama yang sedang berjongkok di hadapan.
"Kamu nggak apa-apa?"
Ia menggeleng. Lalu kembali memejamkan mata. Dengan sebersit selipan rasa bersalah yang mengusik relung hati.
***
Devano
Ia sedang memakai gel rambut di depan cermin, ketika ponsel yang tersimpan di atas nakas berbunyi. Tapi tak dihiraukan. Tetap menyisir rambut dengan menggunakan jari. Membuat style messy hair.
"Siapa, sih?" Sungutnya ketika dering ponsel kembali berbunyi. Namun ia masih berdiri di depan cermin untuk memberi sentuhan akhir.
Hari ini akan menjadi dating pertamanya dengan Bening. Gadis cantik yang dijumpai saat acara pemakaman Komjen Setyo Yuwono beberapa waktu lalu. Ia sudah menunggu kesempatan emas seperti sekarang ini sejak lama. Tentu tak boleh disia-siakan.
"Ampun, deh!" Gerutunya karena dering ponsel kembali berbunyi. "Nggak sabaran amat."
Dan ia merasa menyesal karena telah mengaktifkan ponsel lebih awal dibanding biasanya. Sebab nama yang terpampang di dalam layar langsung membuatnya mati kutu.
Kombes Tama Calling ....
"Please." Ia meringis sebelum mengangkat panggilan. "Jangan ada tugas negara ...."
"Ha ...."
"DI MANA?!"
Ia langsung menjauhkan ponsel dari telinga begitu mendengar teriakan pak Tama.
"R-rumah, Pak. Rumah kost saya."
"Ada tugas penting."
Oh, no. Apakah ini kutukan di hari Sabtu pagi?
"Saya nggak akan ngomong dua kali. Kamu dengarkan baik-baik."
__ADS_1
Dengan berat hati, ia akhirnya terpaksa menelepon Bening.
"Kenapa?" Suara Bening di seberang sana terdengar kecewa, karena ia secara sepihak telah mengubah jam dating menjadi sore hari.
"Ada tugas penting dari pimpinan. Maaf. Tapi aku janji, nanti sore bakal datang tepat waktu. Oke, sayang?"
Dan tugas pentingnya adalah, membeli kado ulangtahun. Oh, bagus sekali. Dating pertamanya tertunda karena harus mencari kado untuk orang lain.
"Kamu tahu gerai di ...." Pak Tama menyebutkan nama gerai jam tangan merk ternama di sebuah Mall. "Pilih koleksi terbaru. Yang stylish tapi sederhana dan anggun. Jangan keliru! Saya mengandalkan intuisi kamu di sini."
Berat, hyung, keluhnya. Kalau pak Tama sudah sewot dan riweuh begini, tebakannya pasti berhubungan dengan Bu Pocut. Dan nasib baik kurang berlaku untuk yang satu ini. Sebab, ia lebih sering buntung daripada untung.
"Beli buket untuk birthday package. Request yang red roses."
"Antar langsung ke perpusnas. Janjian sama Agus. Jangan terlambat!"
"Terakhir. Ucapan di kartu tulis pakai bahasa Aceh. Nanti saya kirim kata-katanya."
"Izin Pak, tapi saya tidak bisa berbahasa Aceh." Ia terbengong-bengong mendengar tugas pamungkas.
"Cari di translate." Seperti biasa, pak Tama tak mengenal kompromi. "Atau tanya teman kamu yang orang Aceh. Usaha, lah. Masa gini aja nanya ke saya."
Sekarang ia tahu doa apa yang harus dipanjatkan setiap saat, yaitu semoga dalam waktu dekat ... ia segera dimutasi ke satker (satuan kerja) lain. Aamiin.
***
Agus
Ia mengarahkan kemudi keluar dari basement menuju lobby. Menjemput bu Pocut dan putranya yang hendak pulang.
Pak Tama sendiri yang membukakan pintu mobil. Bosnya itu langsung tersenyum lebar begitu mendapati buket bunga dan sekotak hadiah telah tersimpan di kursi baris kedua.
Pak Tama bahkan langsung mengacungkan jempol padanya.
Ia tersenyum mengangguk. Kembali teringat kejadian tadi pagi. Tak lama setelah mendapat slot parkir yang nyaman, ia mulai terkantuk-kantuk menunggu. Namun getaran ponsel di saku berhasil menguapkan rasa kantuk.
"Gos! Nanti Devano mau antar barang punya saya. Kamu janjian ketemu di mana biar nggak missed."
"Barang dari Devano langsung simpan di kursi yang diduduki bu Pocut."
"Ini ... apa?" Pertanyaan bu Pocut berhasil mengembalikan kesadarannya. Dari kaca spion terlihat bu Pocut sedang tertegun memandangi buket bunga dan kotak cantik di atas kursi.
"Kado ... ulang tahun," jawab pak Tama yang masih berdiri di samping pintu. "Maaf ... baru tahu kalau ulang tahun kamu tanggal 1 Juni."
***
Tama
Ketika menemani Pocut mengisi form di layar komputer, ia baru menyadari jika hari ulang tahun Pocut sudah terlewat jauh.
1 Juni 198x
Tapi, ia selalu memiliki jalan keluar bukan?
Jadi, ketika Pocut tengah mengantre untuk diambil pasfoto, ia menyingkir dan menghubungi seseorang meminta bantuan. Siapa lagi kalau bukan Devano. Bocah itu semakin hari semakin bisa diandalkan, bukan?
***
Pocut
Ia mengambil buket bunga mawar merah cantik yang tersimpan di atas kursi. Di dalamnya menyembul selipan kartu berdesain cantik bertuliskan,
Pocut Halimatussadiah,
Selamat Uroe Lahee, Beu Meubahgia Sabee
(selamat ulang tahun, semoga bahagia selalu)
Wiratama Yuda
Ia menoleh ke arah Tama yang sedang tersenyum.
"Terlambat ... hampir dua minggu?"
Ia mengerut. "Terimakasih. Seharusnya tak perlu repot-repot ... saya bahkan lupa dengan hari ulangtahun sendiri."
Tama masih tersenyum. "Mulai hari ini nggak akan ada yang lupa ulangtahun kamu. Karena aku akan selalu mengingatnya."
Sepanjang perjalanan pulang, ia memangku buket bunga paling indah yang baru kali ini diterimanya. Sementara Icad yang duduk di sebelah memandang lurus ke depan. Setelah sebelumnya sempat bertanya,
"Kadonya nggak dibuka, Ma?"
Ia menggeleng. "Coba Abang yang buka."
Ia langsung tertegun begitu Icad berhasil membuka kotak berwarna putih itu. Di dalamnya terdapat sebuah jam tangan warna silver berdesain elegan yang berkilauan.
"Om itu beneran sayang sama Mama," bisik Icad ketika mobil yang mereka tumpangi membelah padatnya lalu lintas kota. "Tapi Abang belum bisa suka."
Ia tersenyum. Meraih bahu Icad kemudian memeluknya. "Makasih banyak, Abang ... udah menemani Mama hari ini."
"Nggak apa-apa kalau Abang belum bisa suka. Yang penting ... Abang tetap bersikap baik dan sopan."
***
__ADS_1