Renjana Senja Kala

Renjana Senja Kala
Bab 100. Walau Di Mana Berada, Ingatku Dalam Doamu


__ADS_3

Walau Di Mana Berada, Ingatku Dalam Doamu


-diambil dari lirik lagu berjudul "Betapa Kucinta Padamu" yang dinyanyikan oleh Siti Nurhaliza-


***


Hari-hari Tanpamu


Lembang


Tama


Ia langsung menghubungi resepsionis hotel meminta rekomendasi tempat praktek dokter terdekat. Ia juga menelepon Hanafi, rekan sesama peserta didik sekolah pimpinan tinggi yang bertugas di resor kota Bandung.


"Di bawah banyak pilihan." Begitu kata Hanafi. "Mau ke rumah sakit bagus atau praktek dokter pribadi tinggal pilih."


"Macet," keluhnya. Tetap menginginkan dokter yang berada di sekitaran Lembang agar tak harus bermacet ria menuju ke Bandung. Sudah pasti akan membuang waktu berharganya bersama Pocut dan anak-anak. "Yang deket-deket sini aja, lah. Cuman cek biasa ini."


"Lu di mana?"


"Di hotel ...."


Kemudian Hanafi merekomendasikan sebuah Rumah Sakit Ibu dan Anak yang berjarak paling dekat dari hotel tempatnya menginap. Sama seperti nama rumah sakit yang disebutkan oleh resepsionis hotel. Sayangnya ketika mencoba menghubungi hotline rumah sakit tersebut, pendaftaran pasien sudah ditutup sejak setengah jam yang lalu.


"Maaf, Pak, nomor antrean sudah penuh. Karena jadwal hari sabtu hanya sampai jam 10," terang petugas rumah sakit ketika ia setengah memaksa untuk tetap mendaftar.


"Ada praktek dokter di sini, Pak." Ketika ia tengah berselancar di mesin pencari berburu praktek dokter terdekat, resepsionis hotel kembali menghubunginya. "Bisa langsung datang tak perlu mendaftar terlebih dahulu. Jam prakteknya sampai pukul satu siang."


Setelah mengucapkan terima kasih pada resepsionis hotel atas bantuan yang diberikan, ia langsung menghubungi nomor telepon apotek tersebut.


"Betul, Pak. Silakan datang langsung. Kami tunggu sampai jam satu siang." Dan jawaban petugas apotek membuatnya bernapas lega.


Dari petunjuk maps, apotek tersebut berada tak jauh dari restoran cepat saji ternama. Good. Sekali mendayung dua pulau terlampaui. Selama ia mengantar Pocut menemui dokter, anak-anak bisa menunggu di restoran tanpa harus merasa bosan.


Sekarang, waktu baru menunjukkan pukul 8 lebih sedikit. Sekitar lima belas menit lalu, Cakra mengirim pesan sudah on the way membawa anak-anak menuju ke Lembang. Dan menurut pantauan aplikasi navigasi lalu lintas terkini, Cakra dan anak-anak diperkirakan sampai di hotel tempatnya menginap kurang lebih satu jam mendatang. Masih banyak waktu.


Ia lebih dulu menyesap kopi sebelum menarik kursi lalu meletakkannya tepat di sisi kanan tempat tidur. Duduk dalam diam memperhatikan pemandangan paling menyejukkan mata. Pocut yang tengah terlelap.


Hampir sejam lalu ketika mereka tengah saling berbisik satu sama lain usai merayakan cinta, Pocut tiba-tiba berlari ke toilet hanya dengan berbalut kain seadanya. Ketika menyusul, ia mendapati Pocut tengah terduduk di depan kloset.


Sebisa mungkin ia membantu dengan menghalau ujung rambut, memijat tengkuk dan mengusap punggung. Namun Pocut tetap tak kunjung memuntahkan apapun. Penyebab mual seolah tertahan di kerongkongan.


Wajah pucat Pocut terlihat semakin pias. Bahkan ketika ia merengkuh bahu ramping itu bermaksud membantu untuk berdiri, genggaman tangan Pocut terasa sedingin es.


"Beneran sakit ini," ujarnya khawatir saat tengah menyuapkan sesendok teh manis hangat yang baru diantarkan oleh petugas hotel. "Kecapekan giat kemarin?"


Pocut sempat bercerita melalui sambungan telepon seluler jika aktivitas dalam dua minggu terakhir cukup padat. Termasuk acara serah terima jabatan ketua ranting dan bakti sosial di tiga tempat berbeda dalam rangka memperingati hari kesatuan.


Tapi Pocut menggeleng. "Cuma masuk angin biasa."


Cuma masuk angin biasa? Gumamnya pada diri sendiri dengan mata lurus ke depan. Memandangi posisi tidur Pocut yang begitu tenang dan damai. Paras lembut itu terlihat pucat pasi. Dengan kedua lengan tertekuk di sisi kepala. Hanya berbalut selembar selimut tipis yang tak mampu menutupi sepasang tungkai menawan dan tulang selangka yang ... damned memikat. Sungguh keindahan memesona yang mampu membangkitkan gejolaknya hingga berulangkali hanya dalam waktu singkat.


"Istirahat dulu," ujarnya sambil beranjak dari tempat tidur. Bermaksud menyimpan cangkir berisi teh manis hangat yang hanya disesap Pocut sebanyak tiga sendok. "Kalau udah nggak terlalu mual, kita jalan ke dokter."


Namun Pocut terdiam. Sepi tak ada jawaban yang terdengar. Ia sempat khawatir Pocut kembali berlari ke toilet. Ketika berbalik, ternyata istri cantiknya itu sudah tertidur nyenyak.


Kini, ia terus saja memandangi Pocut yang masih terlelap. Sepertinya bukan masuk angin biasa. Ia cukup memiliki alasan kuat untuk yang satu ini. Sebab tatkala merayakan cinta, Pocut terasa begitu manis dan lembut. Lebih ranum dibanding perayaan mereka sebelumnya. Keindahan yang tak terdefinisikan. Ia bahkan hampir lepas kendali memaksakan Pocut menerima jamuan beruntunnya tanpa jeda. Luar biasa, saat menyadari bagaimana tubuhnya bereaksi kala menghadapi jerat memikat yang dimiliki oleh seorang Pocut. Panas membara.


Ia melemparkan punggung ke sandaran kursi seraya melipat tangan di depan dada. Tersenyum-senyum sendiri membayangkan prasangka yang menyebabkan Pocut mual namun tak bisa memuntahkan apapun.


Mungkinkah?


Terhitung sejak hari pertama pernikahan, ia bisa melakukan apapun terhadap Pocut. Merayakan cinta saling menjamu satu sama lain hingga lupa daratan. Nyaris tanpa hambatan. Seperti ... tamu bulanan wanita misalnya.


Apakah tebakannya sudah berdasar sekarang?


Ia terus saja tersenyum. Memperhatikan Pocut yang tertidur dengan pulasnya tanpa bergerak sedikitpun. Menatap lekat-lekat raut menawan yang di luar dugaan mampu mengubahnya menjadi seseorang yang baru. Lebih tenang. Tak lagi mudah lepas kendali seperti di masa lalu. Lebih antisipatif. Tak lagi gampang meluapkan emosi tanpa memikirkan akibatnya. Lebih cair. Tak lagi kaku dan keras hati. Argh! Tak pernah menyangka jika ia bisa semenyenangkan ini.


Belum lekang dari ingatan betapa pola komunikasinya dengan pasangan di masa lalu sangatlah buruk. Tak ada yang mau mengalah. Tak seorangpun berusaha mengerti. Masing-masing hanya ingin dimengerti. Dua-duanya mengedepankan ego.


Kondisi yang jauh berbeda dengan saat ini.


Kejadian kardus berisi uang menjadi contoh nyata. Di mana hari itu aktivitas yang dijalaninya benar-benar padat. Cukup melelahkan dan hanya menyisakan penat. Ia masih berbincang cukup serius bersama kepala sekolah pimpinan tinggi dan dua rekan ketika Pocut menelepon dengan suara gemetaran dan terbata-bata.


Jika terjadi di masa lalu, ia pasti langsung memaki tanpa berpikir panjang. Tapi berhadapan dengan Pocut, ia memilih diam menahan diri. Bahkan memberi alasan yang dibuat-buat hanya untuk menjaga ritme agar emosinya tak keburu meledak.


"Aku mau siap-siap. Seminarnya besok pagi."


Dan kebohongannya semakin nyata ketika jelang tengah malam Pocut kembali menelepon. Dengan lugas ia pun beralasan, "Ngobrolnya besok aja, ya. Aku ngantuk."


Padahal ia belum mengantuk. Bahkan sedang membaca tulisan yang akan dipresentasikan esok pagi. Tapi sikap antisipatif yang tiba-tiba muncul entah dari mana dalam sekejap berhasil menuntun langkahnya.


Ia masih terpaku menatap pemandangan terindah yang tersaji di depan mata ketika terdengar bunyi getaran ponsel dari atas meja. Tanpa menunggu ia bergegas mengangkat panggilan. Tak mau Pocut terganggu hingga akhirnya terbangun.


Cakra Calling ....


"Ya?"


"Kami sudah di lobby, Mas."


"Cepet amat?" Ia melirik pergelangan tangan kanan. Belum ada satu jam kok udah nyampai?


"Lewat Kolmas (Jl. Kolonel Masturi), Mas," jawab Cakra seraya tertawa. "Lebih jauh tapi lancar nggak pakai macet."


Ia balas tertawa. "Udah sah jadi urang Bandung nih, tahu jalan tikus tanpa macet."


Cakra masih tertawa ketika ia melemparkan pandangan ke arah tempat tidur.


"Ajak anak-anak keliling dulu, deh." Ia memutuskan untuk menunggu, tak ingin membangunkan Pocut. "Ada mini zoo di belakang. Coba tanya ke petugas hotel."


"Siap, Mas." Tanpa banyak cingcong Cakra menyanggupi permintaannya.


Namun ketika ia tengah membalut tubuh ranum Pocut dengan selimut yang lebih tebal, ponselnya kembali bergetar.


"Mas?" Ujar Anja di telepon seperti sedang berbisik. "Maaf, ngeganggu. Tapi Sasa pingin ketemu sama mama katanya. Udah mau nangis nih anaknya. Kesituin jangan?"


Lima menit kemudian ia membuka pintu sambil menempelkan telunjuk di depan mulut. Menyambut kedatangan Sasa yang langsung memeluknya erat-erat.


"Jangan berisik, ya. Mama lagi tidur," pintanya begitu Anja yang mengantarkan Sasa berjalan menjauh.

__ADS_1


Sasa ikut menempelkan telunjuk di depan mulut seperti yang dilakukannya. Lalu menutup mulut dengan kedua tangan terkikik menahan tawa. "Mama pemalas. Pagi-pagi kok tidur. Hihihi ...."


Ia menggeleng tak setuju. "Bukan pemalas. Tapi mama lagi kurang sehat."


"Mama sakit?" Mata Sasa membola. Pancaran kekhawatiran jelas terlihat di sana.


Ia kembali menempelkan telunjuk di depan mulut. "Papa pikir ... ada bayi di perut mama jadi baw__"


"BAYI?"


"Sssttttt!" Ia langsung membekap mulut Sasa. "Nggak boleh berisik."


Ternyata kesoktahuannya menjadi buah simalakama. Blunder terburuk abad ini. Sebab hampir saban menit Sasa yang duduk termangu di atas tempat tidur sambil memandangi wajah Pocut bertanya, "Kenapa ada bayi di perut mama?"


"Bisa ada bayi asalnya dari mana?"


"Mama keren ya, Pa ... bisa punya bayi?"


"Bayinya berapa? Satu atau dua atau banyak?"


"Bayinya laki-laki atau perempuan?"


Ia mengembuskan napas panjang menyesali kecerobohan yang baru saja dilakukan. Tapi mulutnya sedang tak bisa diajak kerja sama. Justru menanyakan hal bo doh lainnya. "Sasa mau punya adik, nggak?"


"MAU!" Pekik Sasa setengah melompat. Detik itu juga berhasil membangunkan Pocut dari mimpi indah. Haish, double blunder.


"Mama ...." Sasa langsung memeluk Pocut yang mengerjap-ngerjap kebingungan. "Mama mau punya bayi, ya? Sasa boleh pesen yang perempuan nggak, Ma? Biar Sasa ada temen main Barbie. Soalnya tante Anja nggak mau main sama Sasa lagi. Tante Anja sekarang mainnya sama dekgam."


Ia pun hanya bisa meringis sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal ketika Pocut menatapnya tajam meminta penjelasan.


"Mas bilang apa ke Sasa?" Tanya Pocut saat tengah mengenakan baju di toilet. Karena Sasa sedang menonton televisi sambil tidur-tiduran di atas kasur mereka.


"Bilang apa?" Ia balik bertanya. Bersandar di dinding toilet menunggui Pocut selesai memakai baju. Tak ingin Sasa kembali memergoki setelah tadi sempat mengatakan hal yang membuat wajah mereka berdua merah padam.


"Ih, maluuuu." Sasa menggelengkan kepala sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangan. "Mama nggak pakai baju, ya? Tuh ... lengannya kelihatan. Hihihi ...."


"Mas berpikir kalau aku hamil?" Pocut sudah keluar dari toilet dan berdiri di hadapannya. "Padahal hanya mual masuk angin bia__"


Pocut tak mampu melanjutkan kalimat karena ia keburu menarik tubuh ramping itu ke dalam pelukan.


"Mas?" Pocut memukul lengannya perlahan. "Nanti Sasa lihat."


Tapi ia justru mendaratkan kecupan singkat di pipi Pocut. "Kita pastikan sekarang, ada Tama junior atau nggak."


Karena anak-anak masih asyik menikmati suasana mini zoo dan tak tertarik ikut ke dokter meski diiming-imingi mampir ke restoran cepat saji. Ia pun memutuskan pergi dengan menaiki motor sewaan dari hotel.


"Naik motor, ya, biar nggak kena macet." Ia memandang Pocut. "Rutenya ngelewatin beberapa tempat wisata soalnya."


Pocut mengangguk.


Dan jarak sekitar 4 km dari hotel menuju apotek mereka tempuh dalam waktu hampir setengah jam.


"Gimana mau pakai mobil coba macetnya begini," ujarnya setengah mengeluh. "Bisa-bisa dokternya keburu tutup."


Namun sayang, tak ada dokter obgyn seperti yang diharapkannya. Di apotek ini hanya ada dokter umum yang membuka praktek setiap weekendnya.


"Kami baru menikah." Ia menambahkan informasi ketika dokter bertanya tentang keluhan yang dialami Pocut.


Pocut sempat menatapnya ragu ketika perawat menyerahkan tabung transparan sebagai tempat urine. Ia memberi dukungan terbaik dengan tersenyum dan mengangguk.


Ketika kembali dari toilet, Pocut langsung menatapnya. Ia pun meraih bahu Pocut bermaksud menenangkan. Padahal ia sendiri sedang harap-harap cemas dengan hasil yang akan diperoleh.


"Strip satu." Dokter memperlihatkan hasil tes urine Pocut. "Tidak hamil."


Ia mengangguk mengerti dan mengeratkan rengkuhan terhadap Pocut karena tubuh ramping itu terasa melemah begitu mendengar hasil tes urine.


"Begini saja." Dokter mengambil jalan tengah. "Sepertinya mual dan lemas disebabkan oleh asam lambung yang meningkat akibat kelelahan atau stres. Saya kasih obat yang aman. Kira-kira lima atau tujuh hari ke depan, silakan temui dokter spesialis kandungan. Untuk memastikan apakah ibu sedang hamil atau tidak."


"Baik, Dok." Ia setuju. Ini jalan keluar terbaik. Harapannya masih tetap terjaga.


"Mas berharap aku hamil?" Tanya Pocut ketika ia tengah menikmati secangkir kopi di restoran cepat saji. Sambil menunggu pesanan makanan yang akan dibawa ke hotel untuk anak-anak.


Ia tersenyum. "Harapan kita berdua."


"Kalau ternyata ... aku nggak hamil?" Pocut memandangnya masygul.


Senyumnya semakin lebar. "Gampang, tinggal usaha lagi. Enak ini."


Pocut mendesah menyayangkan keterusterangannya.


"Lho, bener enak, kan?" Ia hampir tergelak melihat wajah mengerut Pocut. "Kamu aja minta nambah-nambah terus."


"Mas?"


Ia tergelak betulan.


"Ini di tempat umum." Pocut semakin mengerut. "Tolong bahasanya jangan begini."


Ia meraih satu tangan Pocut dan menggenggamnya. "Keantusiasanku jangan jadi beban. Kita nikmati perjalanan ini sama-sama."


Pocut menatapnya.


"Lima hari lagi jangan lupa ke dokter kandungan," sambungnya seraya tersenyum. "Feelingku biasanya so good."


Pocut masih menatapnya.


"Minta temenin Anja atau mama?"


Tapi Pocut menggeleng. "Jangan merepotkan."


Ia mengangguk. "Ditemenin mama. Pasti mama senang kalau tahu mau nam__"


"Mas?"


"Oke." Ia mengangguk mengerti. "Ditemenin mamak atau Yuni? Pilih dokter kandungan terbaik. Di ...." Ia lantas menyebutkan nama dokter kandungan terbaik menurut versinya beserta nama rumah sakit tempat dokter tersebut memiliki jadwal praktek.


"Jangan kecapekan, makan yang banyak, kalau mual atau pusing langsung istirahat," sambungnya lebih lengkap. "Nanti aku pesen ke Reka buat jagain mamanya."


***

__ADS_1


Jakarta


Pocut


Akhir pekan telah usai. Suasana liburan yang kemarin terasa begitu kental kini sudah berganti menjadi rutinitas keseharian seperti biasa. Namun sisa-sisa keriaan saat berlibur ke Bandung masih terasa. Anak-anak terlihat lebih bersemangat menjalani hari meski sedang musim ulangan jelang ujian semester.


Sasa bahkan setiap hari bercerita tentang betapa menyenangkannya liburan ke Bandung kepada mamak, Yuni dan Agus.


"Nenek, Teh Yuni sama Pak Agus ... kapan-kapan ikut Sasa ya, nengokin papa ke Bandung. Seru, deh. Bisa main seluncur es, ada trampolin raksasa, lihat rusa di kebun binatang. Abang Umay tuh sampai jatuh-jatuh kelempar jauh gara-gara lompat di trampolinnya asal. Hihihi ...."


"Hih, bocil." Umay melewati Sasa dengan gaya meledek. "Sasa sih ... cuma ditinggalin mama ke hotel aja nangis nangis. Payah."


"Sasa nggak payah!" Pekik Sasa tak terima. "Sasa cuma kangen sama mama. Mamaaaa! Abang Umay nakal ledekin Sasa!"


Icad dan Reka seperti biasa tak banyak bicara. Namun ia bisa melihat kilatan semangat di mata Icad. Dan senyum Reka yang semakin lebar tiap kali hendak berangkat ke sekolah.


"Hari ini boleh bawa bekal dua kotak, Tante?"


Ia tersenyum senang. "Boleh sekali, Mas. Buat teman? Siapa nama temannya? Kapan-kapan ajak main ke rumah."


"Pak Engkos," jawab Reka dengan wajah datar.


Ia hanya bisa termangu. Pak Engkos, seperti nama orang tua jaman dulu. Namun sekejap kemudian ia kembali tersenyum. Mungkin Reka berteman dengan bapak guru Engkos. Bagus kalau begitu, berteman tak mengenal usia bukan? Yang penting tahu batasan.


"Udah ke dokter?" Tanya Tama melalui sambungan telepon seminggu kemudian.


Ia mengembuskan napas panjang. "Aku ke bidan Karunia dulu ya, Mas. Ke dokter kalau Mas pulang ke Jakarta."


"Lho, kenapa? Jangan ditunda-tunda." Suara Tama terdengar meninggi.


"Ya udah, boleh ke bidan dulu," sambung Tama akhirnya. "Tapi begitu positif harus langsung ke dokter di ...." Tama kembali menyebutkan nama dokter yang sama untuk ke sekian kali.


Esoknya, sebelum mengikuti sesi konseling rutin di menara Astana, ia menyempatkan diri mampir ke rumah bidan Karunia. Sekalian menengok keude dan membawa bingkisan untuk cing Ella.


"Pocut ... ibu Kapolres kita," sambut bidan Karunia begitu melihatnya muncul di ruang praktek. "Apakabarnya?"


"Baik, Bu." Ia tersenyum. "Ibu apakabarnya? Boleh panggil Pocut saja, Bu. Tanpa embel-embel yang lain. Saya masih Pocut yang sama seperti dulu. Nggak ada yang berubah."


Bidan Karunia terkekeh sambil mengibaskan tangan. "Ya nggak bisa. Pocut mungkin merasa nggak ada yang berubah. Tapi orang lain yang melihat kan beda lagi. Ya masa manggil bu Kapolres nggak pakai sopan santun."


"Saya yang harusnya lebih bersikap sopan santun kepada ibu." Ia menggeleng dengan jengah. "Tolong biasa saja, Bu, seperti dulu. Kalau begini ... saya jadi semakin sungkan."


Bidan Karunia kembali terkekeh. "Bisa aja nih, Pocut. Sekarang gaya ngomongnya juga beda, lho. Sudah seperti ibu pejabat beneran. Cocok. Cocok. Ditunggu kabar baiknya jadi bu Jenderal."


Ia mengembuskan napas dengan berat.


"Ada apa ... ada yang bisa dibantu?" Bidan Karunia memberikan senyum terbaik. "Suatu kehormatan bagi ibu bisa mendampingi perawatan keluarga petinggi. Dulu neng Anjani, sekarang bu komandan."


Benar seperti dugaan Tama. Hasil testpack menunjukkan dua buah garis. Satu garis berwarna merah yang jelas sekaligus tebal. Dan satu garis di bawahnya yang hanya berupa bayangan berwarna merah muda. Samar sekali bahkan hampir tak terlihat. Namun sudah menjelaskan bahwa di dalam perutnya telah bersemayam buah cintanya dengan Tama.


"Selamat, Pocut." Bidan Karunia memberinya selamat berkali-kali. "Garisnya memang masih samar. Tapi jelas ada dua garis di sini. Biasanya karena usia kehamilan yang masih sangat muda."


"Sayangnya alat USG di sini sedang rusak, jadi belum bisa dilihat keadaan janinnya." Bidan Karunia terlihat menyayangkan. "Kalau saran saya, Pocut langsung menemui dokter spesialis kandungan untuk memastikan kondisi janin. Lebih cepat lebih baik. Jangan tunggu lama-lama meski ini bukan kehamilan pertama."


"Ada morning sickness nggak? Mual, muntah, pusing, lemas, maunya tiduran terus?" Tanya bidan Karunia berurutan.


Ia menggeleng. "Kemarin sempat mual tapi sepertinya karena melewati jalan berkelok, Bu."


"Bagus." Bidan Karunia mengacungkan jempol. "Saya resepkan asam folat dan vitamin, ya. Jangan lupa segera kunjungi dokter spesialis kandungan."


Ia sempat ragu apakah harus memberitahu Tama atau tidak. Karena jika Tama tahu ia sedang hamil, pasti langsung disuruh pergi ke dokter spesialis kandungan. Sama seperti saran bidan Karunia. Padahal ia belum pernah sekalipun pergi ke dokter spesialis kandungan. Selama tiga kali hamil sebelumnya, ia selalu memeriksakan kandungan ke bidan Karunia sampai melahirkan. Tak pernah mengenal sentuhan dokter spesialis kandungan.


Tapi tak adil bukan jikalau ia menyembunyikan berita bahagia ini dari Tama. Karena Tama terlihat sangat antusias menantikan berita kehamilannya.


Ia akhirnya memutuskan hanya akan memberitahu Tama saja sampai suaminya itu bisa mengantar pergi ke dokter spesialis kandungan. Ia bahkan tak memberitahu mamak, mama, Anjani, apalagi anak-anak. Cukup ia dan Tama saja yang tahu. Sebab menurut pemikirannya, masih terlalu dini untuk menyebarkan berita bahagia ini.


Malam hari sebelum tidur, barulah ia memotret testpack lalu mengirimkannya kepada Tama melalui aplikasi pesan.


Pocut : "Alhamdulillah. Feeling so good papa ☺️."


Tama tak menjawab pesannya. Tapi langsung menghubunginya melalui video call.


"I LOVE YOU!" Teriak Tama begitu mereka saling menatap melalui layar ponsel.


Ia hanya bisa tersipu malu. Dan bertambah malu ketika Tama berteriak kepada rekan-rekannya di ruangan seperti aula bak seorang demonstran yang sedang mengajukan tuntutan pelik di atas mimbar.


"ISTRI GUA HAMIL!"


Disusul suara saling bersahutan. Beberapa memberi selamat, sementara yang lainnya mulai menggoda.


"Woo! Si Tama, nih masih tokcer."


"Life began at forty beneran lu, Tam. Selamat! Selamat!"


"Ditunggu syukurannya, Ndan!"


"Siaaaapppp!" Tama terkekeh sembari terus menatapnya.


"Anak ke berapa, Tam?"


"Lima, dong," jawab Tama tanpa rasa jengah apalagi malu.


"Wooooo! Produktif kali, kau!"


"Kejar setoran! Sikat abis!"


"Mau bikin team basket, Tam?"


"Iya, dong." Tama terlihat memamerkan otot bisep kepada rekan-rekannya. Disusul suara gelak tawa penuh keriaan.


"Mas?" Ia menggeleng memprotes reaksi berlebih Tama. "Garisnya masih samar."


"Yang penting hamil, kan?" Tama tersenyum ke arahnya sambil sesekali masih membalas godaan rekan-rekannya.


Ia mengembuskan napas panjang. "Aku ke dokternya nunggu Mas pulang."


"Lho, kenapa?" Tama langsung mengerut tak setuju. "Ditemani mama, ya. Aku telepon mama sekarang buat bi__"


"Aku maunya sama Mas."

__ADS_1


***


__ADS_2