
Jakarta
Tama
Tepat sebelum waktu subuh tiba, ia memimpin king kobra memasuki rumah setinggi dua lantai yang terletak di ujung jalan, persis di tengah jalur pertigaan.
"BANGUN! BANGUN!"
Kesebelas anggota king kobra bergerak cepat menyisir seluruh ruangan di rumah dua lantai ini. Membangunkan penghuni rumah yang sedang tidur nyenyak.
"TANGAN DI ATAS!"
"Ada apa?"
"Apa-apaan ini?"
"TANGAN DI ATAS!"
Para penghuni rumah yang kesemuanya pria dan berwajah beler tak terima digelandang oleh moncong senjata laras panjang ke ruang tamu.
"DIAM!"
"TANGAN DI ATAS KEPALA!"
"TENGKURAP!"
"Mana surat perintahnya!" Teriak seorang pria berbadan paling besar dengan bekas luka di pipi. "Ini pelanggaran hak azasi!"
Yanuar memperlihatkan surat perintah penggeledahan. Namun pria itu terus memberontak. Berusaha meraih beceng dari balik punggungnya.
DOR!
Fardhan terpaksa melepas tembakan peringatan.
Begitu ketujuh penghuni rumah berhasil diamankan, termasuk seorang penjaga yang tidur di kamar belakang. Ia memerintahkan anggota lainnya untuk mengangkat seluruh karpet dan membuka semua lemari. Sementara ia mengetuk-ngetuk dinding. Berupaya menemukan pintu masuk ke dalam bunker.
"DI MANA BUNKER?" Bentak Yanuar sambil menginjak punggung pria yang tadi hampir menarik beceng.
"Nggak ada, Pak."
"BOHONG! MANA PINTU MASUKNYA?"
"Nggak ada, Pak, sumpah, Pak ...."
BUG!
"Ampun! Ampun!"
"NGELAWAN KAMU?"
DUG!
"Aduh!
"S-sumpah n-nggak a-ada, P-pak ...."
Ia mulai menyusuri ruang tengah yang kondisinya cukup mencurigakan. Berkali-kali menghentakkan kaki dengan keras ke atas lantai yang karpetnya sudah berhasil dibongkar. Berusaha jeli mendengarkan jika terdapat suara mencurigakan yang memandunya ke ruangan bawah tanah.
"Bongkar!" Perintahnya pada Yudi yang bertugas membawa peralatan.
Tiga anggota mulai membongkar lantai. Seorang mencongkel bagian pinggir keramik menggunakan linggis. Lainnya mengetuk-ngetuk memakai palu hingga keramik pecah. Kemudian mengorek sampai kedalaman adukan semen dasar keramik.
Ia meninggalkan proses membongkar lantai keramik. Berjalan mendekati pria beceng yang tengkurap di atas lantai ruang tamu dengan tangan terikat ke belakang. Kemudian jongkok sambil mengarahkan revolver tepat di pelipis yang berdarah usai ditendang Fardhan.
"Di mana pintu masuknya?" Tanyanya datar.
Tapi pria beceng itu memilih diam tak menjawab. Justru membuang muka ke arah berlawanan.
DUG!
"Ugh!"
"KOMANDAN TANYA! KAMU JAWAB!" Bentak Fardhan.
"Atas clear!" Gani berseru dari lantai dua.
"Periksa halaman belakang!" Ujarnya sambil berdiri.
Bersamaan dengan Fardhan yang menarik paksa kerah kaos pria beceng agar ikut berdiri. Lalu menggelandangnya ke halaman belakang.
Setengah jam kemudian, bunker ditemukan. Namun SJW tidak berhasil ditemukan. Ruang bawah tanah yang dikamuflase sebagai septic tank itu berukuran 4x4 meter di kedalaman 3 meter. Saat ia memeriksa turun ke bawah, ruangan tampak rapi dan tidak ada debu menempel. Lengkap dengan lemari dan kitchen set dalam formasi U berisi kompor listrik, microwave, dispenser. ©
Sejumlah dokumen penting perusahaan dan secangkir kopi dengan ampas tersisa menjadi pertanda jika SJW sebelumnya pernah berada di sini. Sayang, mereka terlambat. Enam titik penggerebekan lain di Senopati, Menteng, Pejaten, Pondok Indah, Kemayoran, dan Fatmawati juga nihil.
Jam 9 pagi ia rapat dengan Metro 1. Siangnya mendapat arahan dari Timor Bandung 1. Kemudian bertemu dengan 6 katim (kepala tim) lain di Bareskrim untuk menyusun strategi selanjutnya. Informasi terakhir, SJW diduga bersembunyi di luar kota dan berencana melarikan diri ke luar negeri.
Tugas baru selesai jelang petang. Ketika mengaktifkan ponsel pribadi, sejumlah panggilan tak terjawab dan pesan masuk mengalir bak air bah.
Ia tak memeriksa pesan satu persatu. Karena jarinya secara otomatis langsung mengklik sederet foto yang dikirimkan oleh Anja. Foto paling menyenangkan yang berhasil melengkungkan ujung bibirnya hingga membentuk seulas senyum, meski sedang dilanda kepenatan. Dan foto paling bermakna di matanya adalah ketika Reka menyerahkan kotak beludru warna hitam ke hadapan Pocut.
Lagi-lagi ia tersenyum dengan penuh kelegaan. You're doing well, buddy (kau melakukan yang terbaik, nak).
***
Raka
Weekend ini benar-benar padat. Ia bahkan mangkir dari jadwal pentas biola Shaina di sekolah musik. Karena harus menghadiri grand opening sejumlah outlet terbaru di beberapa Mall. Terpaksa meminta Nura, suster Shaina untuk menemani pentas putrinya itu.
"Aduh, maaf, Pak, tapi sabtu ini sudah ada acara dengan tunangan saya." Suara Nura melalui sambungan ponsel terdengar sangat keberatan.
"Acara penting?"
Nura tak menjawab.
Ia mendesis seperti orang kepedasan padahal tidak. "Ya udah. Kamu pindahin acara ngedate sama tunangan ke pentasnya Shaina."
__ADS_1
"Tapi, Pak ...."
"Saya kasih bonus dua kali lipat. Tolong kamu temani Shaina sampai saya pulang ke rumah."
Mengeluarkan sejumlah uang meski membuatnya merugi jauh lebih baik daripada Shaina gagal tampil lalu mengamuk. Ia benar-benar tak mempunyai pilihan selain mengimingi Nura dengan bonus melimpah.
Dan akhirnya, serangkaian grand opening tuntas pada pukul empat sore. Namun sudah sangat terlambat untuk pergi ke acara pementasan musik Shaina. Juga terlalu awal untuk pulang ke rumah. Sepuluh lembaran merah yang dikeluarkannya untuk Nura hari ini akan sangat mubazir jika ia pulang cepat. Untuk itulah, dimintanya Hadi melajukan kemudi menuju Selera Persada.
Karena saat ini, pekerjaan dan kantor adalah surga terbaik baginya.
"Kamu boleh pulang," ujarnya sambil memberikan tiga lembaran merah kepada Hadi. Sebagai bonus karena bekerja di akhir pekan. "Nanti saya nyetir sendiri."
Begitu Hadi menghilang di balik pintu kaca, ia melangkah menuju kulkas yang terletak di salah satu sudut ruangan. Lalu meraih sebotol minuman berenergi dan meneguknya sampai habis.
"Keberadaan konglomerat SJW yang menjadi otak intelektual pembunuhan hakim agung masih sumir. Kepolisian harus bekeja keras untuk menangkap the untouchable. Agar tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga penegakan hukum di negeri ini tak jatuh ke dalam jurang." Suara merdu news anchor yang membuka talk show interaktif langsung terdengar ketika ia menekan tombol on.
Ia kembali membuka kulkas untuk meraih botol minuman berenergi yang kedua. Lalu duduk di atas sofa dan meminumnya secara perlahan. Memusatkan perhatian pada jalannya talk show interaktif yang mengusung tema tentang hukum kita tajam ke bawah namun tumpul ke atas.
Ia sedang mengganti chanel ke program olahraga luar negeri karena siaran langsung talk show terjeda iklan, ketika ponsel yang tersimpan di atas meja menggelepar-gelepar.
"Yap?"
"Di mana, Mas?"
Ia langsung tertawa mendengar Tama memanggilnya dengan sebutan mas. Rasanya seperti baru kemarin, ketika ia berseragam SMA dan Tama masih duduk di bangku SMP.
"Kantor."
"I'll be there in (aku akan kesana dalam) ... ten minutes (sepuluh menit)."
Tut Tut Tut Tut Tuuuuuuuut
Ia menjauhkan ponsel dengan kening berkerut karena Tama menutup panggilan secara sepihak tanpa basa-basi terlebih dahulu.
"Woiiii!" Tak sampai sepuluh menit kemudian, ia sudah berseru riang menyambut kemunculan Tama. "Cepet banget."
"Dari kantor," jawab Tama yang mengajaknya berfist bump (adu kepalan tangan).
"Weekend masih tugas?" Ia berjalan ke arah pantry untuk membuat segelas minuman. "Teh kopi?"
"Tugas nggak mengenal hari, Mas," seloroh Tama. "Yang dingin aja, deh."
Langkahnya urung menuju pantry. Berbelok mendekati kulkas dan membukanya. Lalu meraih tiga botol minuman sekaligus. Air mineral, soda, dan minuman berenergi.
"Thank you." Tama mengambil botol air mineral dari tangannya. "Mas sendiri ngapain di kantor? Rajin amat."
Ia tertawa sumbang. "This is my paradise (ini adalah surgaku)."
Tama yang baru saja menghabiskan sebotol air mineral tergelak lepas. Kemudian menunjuk ke atas meja dengan menggunakan dagu. "Ada barang bagus."
"Woooo!" Ia balas tergelak. "Ada yang mau nraktir rupanya." Sambil meraih bungkusan warna cokelat dari atas meja. "Apaan, nih? Buat aku?"
Tama mengangguk.
"Wohoooo!" Ia berseru begitu melihat isinya. Raket tenis keluaran terbaru merk favoritnya. "You know me so well."
Ia terbahak sambil membuka risleting tas dan mengeluarkan raketnya. Kemudian menelusuri permukaan raket menggunakan jari telunjuk. "Nice (bagus). Thank you."
"Tante Iren pernah cerita, sekarang Mas lebih sering main golf daripada tenis," sambung Tama.
Ia mengayunkan raket untuk merasakan sensasinya. Lalu mendecak. "Ah, sesekali itu. Melemaskan otot."
Sedetik kemudian mereka berdua terbahak bersama.
"Bagus. Keren ... keren ...." Ia memasukkan raket ke dalam tas. "Besok mau langsung main, nih. Raket baruuu ...."
Tama tersenyum.
"Gimana Kinan? Lancar?" Seringainya sambil mendudukkan diri di atas sofa.
Tama mengangguk.
"Minta balik?"
Kening Tama mendadak berkerut-kerut. "Siapa minta balik?"
"Kinan ... siapa lagi?" Ia terkekeh. "Kemarin kalian masuk ke perpustakaan dan sejam kemudian baru keluar. Sebelumnya kamu jual saham tanpa planning matang. Am i right (aku bener kan)?"
"Dia minta berapa biar kalian bisa balikan?" Ia kembali menyeringai. "Aduh, Tam, worst step (langkah terburuk) kalau kubilang. Kamu terlalu cinta apa gimana sampai buta begini?"
Kening Tama semakin berkerut. "No no no. Arahnya bukan ke sana."
"Yeah?" Ia masih menyeringai. "Kalau begitu ... apa dia nuntut gono gini di luar nalar? Nafkah bulanan fantastis sampai nggak bisa tercover gaji Kombes?"
Tama mengembuskan napas panjang dengan suara yang cukup keras. "Aku sebenarnya punya beberapa cerita sebelum masuk ke poin utama ...."
Ia mengernyit tak mengerti.
"Tapi, Mas lebih dulu membahasnya. Oke ... kita mulai sekarang."
Ia mengangkat bahu. "Ada masalah?"
Lagi-lagi Tama mengembuskan napas panjang. "Dua tujuanku datang ke sini."
Ia memicingkan mata saat menyadari jika nada suara Tama berubah serius. Sangat serius bahkan sembari merendahkan intonasi. Sesuatu yang tak menyenangkan mulai membayangi.
"Satu ... meminta maaf."
Ia tertawa. "About (tentang)?"
"Aku nggak bermaksud curang. Hanya nggak ada pilihan lain."
"Terdengar menakutkan." Ia menggeleng melihat wajah Tama yang otot-ototnya menegang.
"Kedua ... meminta doa restu." Tama terlihat berusaha keras untuk tersenyum. Namun gagal.
Ia tertawa sumbang. "Perasaanku nggak enak, nih."
__ADS_1
Tama ikut tertawa. Tapi hanya sebentar. "Aku minta maaf karena kita menjadi rival."
"Tunggu ...." Ia mulai bisa menebak jalan cerita. Tapi, apakah mungkin?
"Aku baru melamar Pocut. Secara teknis ... keluarga yang melamar. Karena aku masih di sini." Tama tertawa namun dalam sekejap berubah mengeraskan rahang.
DHUARRRR!
Apa yang selama ini dikhawatirkan menjadi kenyataan.
"Sekaligus minta doa restu dari Mas. Aku akan menikahinya."
Ia menelan saliva dengan getir. Kecurigaannya selama ini terbukti. Jika Tama adalah orang pertama yang lebih dulu mendatangi Pocut. Namun ia terlalu bodoh hingga tak pernah menyadari.
"Aku mau tetap datang sama mama, Om." Ingatannya kembali melayang pada pertemuan dengan om Hasan beberapa hari lalu. "Aku akan memenuhi syarat 100 mayam meski om bilang itu isyarat penolakan dan Pocut tak sepadan dengan besarnya mayam."
Om Hasan berulang kali memperingatkannya bahwa permintaan Pocut tentang 100 mayam terlalu berlebihan. Sebab selain janda, Pocut juga tak berpendidikan tinggi meski memiliki paras seperti bidadari.
"Om nggak bisa, Raka." Om Hasan menggeleng. "Kamu akan mempermalukan dirimu sendiri. Ini jelas penolakan."
"Dari gelagat Pocut yang tak menjelaskan siapa pria pertama ... mengisyaratkan jika pria tersebut bukan orang lain."
"Maksud Om?"
"Mungkin kalian berdua saling mengenal. Kamu dan pria pertama ...."
Waktu itu ia tertawa sumbang. Tak bisa dipercaya meski kemungkinan itu pasti ada. Tapi siapa? Orang yang dikenalnya yang juga menyukai Pocut? Ia benar-benar tak memiliki tebakan jitu dalam masalah ini. Sama sekali tak menyangka jika Tamalah orangnya. Tama adalah pria pertama yang mendatangi Pocut. Fucking true!
Ia menggeleng. "Kamu jual saham untuk Pocut?"
Tama tak menjawab.
"Berani-beraninya bermain di belakangku," gumamnya sambil terus menggeleng. "Keluar."
Otot wajah Tama kembali menegang.
"Come on (ayolah)." Ia bangkit kemudian beranjak meninggalkan Tama menuju meja kerja.
"Kalau kamu tetap di sini ... kita berdua bisa berubah jadi anak SMP yang lagi rebutan cewek," sambungnya kelu, sambil mendudukkan diri di kursi kerja. Namun dengan posisi membelakangi dan memunggungi Tama.
Begitu suara pintu yang terbuka kemudian menutup kembali terdengar, tanda jika Tama telah beranjak pergi. Ia langsung melemparkan kepala ke sandaran kursi dengan gerakan kasar. Memandangi langit-langit sembari menyesali kebodohan diri.
Seperti ini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan, dan dalam waktu yang sama kalah telak di medan perang. Very badly (sangat buruk).
***
Pocut
Hatinya mendadak berdesir. Dan jantungnya berdebar tak karuan saat memandangi Sasa dan Umay yang sedang mengerubuti Tama di depan pintu.
"Sasaaaa!" Tama mengangkat tubuh Sasa tinggi-tinggi sampai putri kecilnya itu menjerit-jerit kegirangan. "Belum tidur?"
Sasa yang sudah diturunkan ke lantai menggeleng. "Belum ngantuk."
"Umayyyy!" Kali ini Tama mengajak Umay melakukan toss disusul adu kepalan tangan. "Ini gaya kita ...."
Umay tertawa senang.
"OM! OM!" Sasa seperti biasa ingin menjadi pusat perhatian Tama. "Tadi ada banyak tamu lho di sini. Kenapa Om nggak ada? Om tadi ke mana?"
"Om, tadi itu kado dari Om, ya?" Umay menyela ikut bertanya. "Terimakasih banyak, Om."
"OM! OM!" Sasa menarik-narik tangan Tama ingin mendapat perhatian penuh. "Tadi mama dapat hadiah buanyaaaaak banget. Itu dari Om juga, ya?"
Dan hatinya semakin mencelos ketika melihat Icad berjalan mendekati Tama untuk memberi salam. Kemudian menelan ludah dengan gugup kala mata mereka tak sengaja saling bertautan.
Tama tersenyum. Begitupun dirinya. Membalas senyuman Tama meski dengan wajah memanas.
"Cieeeee ... Om senyum-senyum sama mama yaaa ...." Selorohan ricuh Sasa membuatnya tersipu sontak menundukkan pandangan.
"Sini, Om ... sini ...." Sasa menarik tangan Tama. Menyuruh Tama untuk duduk di kursi.
Tapi Tama malah melangkah mendekati mamak. Lalu mencium tangan mamak takzim. "Selamat malam, Bu. Maaf, baru bisa berkunjung semalam ini."
"Tidak apa-apa." Mamak tersenyum. "Tugas lancar?"
Tama tersenyum. "Belum terlalu lancar."
Mamak mengangguk. "Semoga Allah mudahkan semuanya."
"Aamiin. Aamiin."
Kini, ia sedang meletakkan secangkir teh tawar dan sepiring kue lapis legit ke atas meja. "Kenapa teh tawar?"
Tadi, ketika Tama ditawari minuman dan menjawab teh tawar, ia tak sempat bertanya. Karena masih banyak orang di ruang tamu. Sekarang, tinggal mereka berdua. Mamak sedang menemani Sasa menggosok gigi di kamar mandi. Sementara Icad dan Umay mengantarkan kue lapis legit ke tetangga.
Tama tersenyum simpul. "Karena ... yang membuat teh sudah manis."
Ia menggelengkan kepala sambil tak kuasa menahan senyum malu. "Sudah berani sekarang?"
Tama balas tertawa. Namun dengan mata terpaku menatapnya. "Terimakasih sudah menerimaku."
***
Keterangan :
Beceng. : pistol
©. : dikutip dari kompas.com edisi Juni 2016
Bunker. : ruang bawah tanah
Metro 1. : Kapolda
Timor Bandung 1 : Kapolri
***
__ADS_1