
Jakarta
Reka
Semua berjalan begitu cepat.
Filio yang tiba-tiba membatalkan janji. Ia yang tak mempunyai pilihan selain menelepon ayah. Tak ada niat, apalagi rencana. Dalam satu kedipan sudah duduk di meja yang penuh dengan celotehan riang, mengikuti sesi foto keluarga, lalu piknik ke waterpark.
Hal biasa untuk orang lain, tapi tidak baginya. Ini menjadi piknik keluarga pertamanya selama tiga belas tahun hidup di dunia. Lucu? Sangat. Menyedihkan? Pastinya.
Ia sering membayangkan, seperti apa rasanya keluarga utuh. Orangtua yang saling melempar senyum hangat, adik-adik yang merepotkan, keriuhan berebut mainan, pertengkaran sengit. Suatu kemewahan baginya yang hanya memiliki televisi, game, gadget terbaru.
Dan hari ini impian menjadi nyata. Ia melihat ayah melempar senyum hangat. Merasakan keriuhan menyenangkan. Namun tak ada mimpi yang sempurna. Karena semua keajaiban dirasakannya bersama orang lain, bukan bunda.
"Mas Reka kok ke sini lagi? Pasti karena pingin bareng Sasa, yaaa. Hihihi ...." Sasa yang ceriwis.
"Mas Reka tadi sarapan apa? Kenceng bener berenangnya. Hebat! Hebat!" Umay yang banyak omong.
Dan Icad yang tak pernah bersuara jika tak ditanya lebih dulu. "Masih benci ayahku?"
"Nggak ada alasan untuk benci."
Ia mengangguk. Sebab merasakan hal yang sama. Kebenciannya yang menggunung terhadap ayah perlahan mulai menipis. Meski belum sepenuhnya hilang.
"Mereka bakalan nikah. Ayahku sama ibu kamu."
Icad gantian mengangguk.
"Ayah kamu ke mana?" Tiba-tiba saja ingin tahu.
"Meninggal."
Ia mengerti. Ini alasan mengapa Icad pernah menyebutnya tak bersyukur. "Kapan?"
"Waktu SD." Icad menoleh dengan wajah murung. "Di tengah laut. Nggak ada kuburannya."
Ia tertegun.
"Ibu kamu?" Icad balik bertanya.
"Di Surabaya." Lalu menelan ludah sebanyak dua kali. "Minggu depan mau nikah lagi."
Sekarang Icad yang tertegun.
Ia tak tahu apa yang terjadi. Sudah terlalu malas untuk memaksa keadaan agar berpihak padanya. Bunda tetap akan menikah lagi. Ayah juga. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh anak-anak seperti dirinya hanyalah bersikap masa bodoh. Menganggap semua baik-baik saja. Seolah tak ada yang perlu dikhawatirkan apalagi ditakutkan.
Ayah terlihat bahagia tiap kali berbicara dengan tante Pocut. Begitupun bunda bersama pakde Pram. Ia hanya tinggal menjalani hari hingga semua tak lagi terasa asing.
Kamu bisa, Reka.
"Hari ini seru nggak?" Suara ayah terdengar penuh semangat.
Ia mengangguk.
"Ayah senang kalian bisa ngobrol."
Ia berubah mengernyit.
"Kamu sama Icad." Ayah tersenyum sambil menepuk bahunya. "Makasih, ya."
Ia memandang lurus ke depan. Menembus kemacetan jalan raya di tengah gelapnya malam. Memandangi pendaran warna warni lampu mobil yang menyemarakkan suasana.
Kebencian terhadap ayah kini kian menipis. Terutama sejak mendengar Icad berkata, "Di tengah laut. Nggak ada kuburannya."
Kenyataan mengecewakan tentang keluarga yang tak pernah dimiliki membuatnya sadar, jika perasaannya kepada ayah dan bunda ternyata sama besar. Tak ada yang lebih atau kurang sedikitpun. Ia menyayangi dan mencintai keduanya. Sungguh.
Jadi, jika pada akhirnya ia memilih tinggal di Jakarta bersama ayah daripada mengikuti bunda ke Stockholm. Maka ia harus melakukan hal yang sama untuk bunda. Kali terakhir sebelum mereka terpisahkan jarak.
"Aku mau ke Surabaya."
"Apa?" Ayah terkejut.
"Aku mau ke bunda sebelum bunda pergi."
Ayah mengangguk. "Kita berangkat hari Jum'at sore."
Tapi ia menggeleng. "Aku mau besok."
Lalu menoleh. "Sebelum bunda ke Stockholm. Sebelum aku pindah ke Jakarta."
Ayah mengerut. Tapi sejurus kemudian mengangguk. "Oke. Kamu berangkat dulu diantar Agus. Ayah nyusul hari Jum'at."
Lagi-lagi ia menggeleng. "Aku bisa sendiri. Pergi sendiri, pulang juga sendiri."
Ayah tak menjawab. Bahkan sampai membelokkan kemudi ke halaman rumah dinas.
Namun esok paginya tiba-tiba ayah berkata. "Bunda bisa jemput sore. Jadi pesawatnya yang jam dua."
***
Surabaya
Kinanti
Ia kehilangan harapan. Merasa jika Reka membencinya. Tapi itu terlalu mengada-ada. Karena Reka kembali lebih cepat dari yang diperkirakannya.
__ADS_1
"Reka pulang sendiri ke Surabaya. Kamu bisa jemput jam berapa?" Menjadi telepon dari mas Tama yang paling ditunggu.
"Dia setuju?" Tanyanya dengan suara bergetar menahan rasa haru.
"Setuju apa? Cuma seminggu. Hari minggu balik Jakarta."
Baiklah. Tak apa jika Reka tetap menolak pergi ke Stockholm. Yang penting selama seminggu ini, Reka bersamanya. Menemaninya jelang hari bahagia. Tak akan di sia-siakan kesempatan terakhir ini. Ia berjanji akan menjadi ibu yang baik dan seutuhnya.
"Maafin Bunda." Ia menatap Reka sebelum terlelap. "Membuat Reka mengalami semua ini."
Reka tersenyum. "Bukan salah Bunda."
"Bunda sayang sama Reka."
Reka mengangguk. "Aku tahu. Aku juga sayang Bunda."
Ia baru menangis setelah Reka terlelap. Dadanya terasa sesak dihimpit luapan penyesalan yang tak tertahankan. Memikirkan kemungkinan seandainya memilih jalan berbeda. Apakah akhirnya akan lebih membahagiakan? Tak sepahit ini.
Seandainya saja ia lebih menahan diri. Seandainya ia bisa memiliki kontrol terhadap diri. Seandainya tak bersikap egois. Seandainya waktu bisa berputar kembali. Ia tentu akan mengusahakan yang terbaik agar hal menyakitkan hari ini tak perlu terjadi.
Tapi semuanya sudah terlambat. Waktu tak mungkin terulang kembali. Tak ada pilihan selain meneguhkan hati menjalani hari tanpa penyesalan.
Bisakah?
Harus bisa.
Ia tak boleh gagal lagi. Tak boleh menyia-nyiakan kesempatan. Harus bisa mewujudkan kebahagiaan bersama mas Pram. Seperti apa yang selama ini diimpikannya.
Dan kalimat sakti,
"Saya terima nikahnya Kinanti Putri Sungkawa binti almarhum Sungkawa dengan mas kawin uang 50.000 US Dollar dibayar tunai."
Disusul genggaman tangan Reka yang memandunya bertemu dengan mas Pram di pelaminan. Menjadi awal dari masa depannya. Menjalani kehidupan yang lebih baik dan lebih indah. Kehidupan dirinya yang baru.
***
Reka
Hari terakhir di Surabaya. Ayah mengambil berkas perpindahannya di sekolah. Bunda masih berada di hotel bersama pakde Pram, sebelum esok pagi pergi berbulan madu ke Raja Ampat. Sementara ia memilih untuk menemui Filio.
"Sido pindah (jadi pindah)?"
Ia mengangkat bahu. "Gelem gak gelem (mau nggak mau)."
Tak pernah menyangka jika Filio ternyata mengajak orang lain.
"Apa kita masih bisa ketemu?" Binar memberinya sebuah kotak berwarna biru. "Buat kamu."
Ia sempat memandang kesal ke arah Filio karena diam-diam mengajak Binar. Tapi Filio malah berpura-pura tak melihatnya.
Namun ia tak bisa menjawab. Karena tak pernah memikirkan hal selain berteman dengan semua orang.
"Kalau aku ke Jakarta ... kita bisa ketemu?"
Ia hanya menunduk tetap tak menjawab.
Tapi Binar berusaha tersenyum. "Makasih, Reka."
Ia menatap Binar tanpa ekspresi.
"Jangan hapus nomerku." Binar masih tersenyum. "Jangan lupa follow Igku."
Begitu mobil yang ditumpangi Binar menghilang di tikungan, ia langsung meninju lengan Filio.
Tapi Filio justru tergelak. "Pisan konco, konco saklawase (sekali teman, selamanya tetap teman)."
***
Jakarta
Tama
Pola komunikasi dan pantauan sinyal orang-orang di sekitar SJW membawanya kembali memimpin operasi penyergapan di apartemen Pakubumi, Jakarta Selatan.
Sapta Utama, anggota dewan dari partai penguasa yang kerap dihantam skandal tentang wanita. Terbukti memiliki peran penting dalam pelarian SJW.
"BANGUN!"
Sapta yang sedang tidur di samping seorang wanita yang tengah hamil tua tak bisa berkutik.
"Lho, ada apa ini?" Sapta hanya terlolong dengan wajah pucat. "Siapa kalian?"
"Kami polisi!" Yanuar menunjukkan surat penangkapan dan Fardhan memasang borgol.
Tapi hambatan datang ketika wanita yang tengah hamil tua tiba-tiba menjerit histeris. "Mau di bawa ke mana suami saya?!"
"Tenang, Bu. Ini penangkapan resmi."
"Saudara Sapta Utama terbukti membantu terd ...."
"NGGAK BISA!" Wanita itu memotong kalimat Fardhan. "SUAMI SAYA NGGAK BERSALAH! KALIAN JANGAN SEENAKNYA MEMBAWA SUAMI SAYA!"
"Bu, tolong tenang." Fardhan berusaha menenangkan. "Ini ada surat penangkapan dan i ..."
"Saya mau telepon pengacara! Saya mau telepon pengacara!" Wanita itu berteriak ke sana kemari berusaha mencari ponsel. "Mana HP? MANA HP?!"
__ADS_1
"Kalau ibu seperti ini bisa dianggap melawan petugas!"
PLAK!
Wanita itu menampar Fardhan. Membuat Yudi dan Sunu yang berdiri di belakangnya langsung siaga.
"Don't (jangan)." Sapta menggeleng ke arah wanita yang menangis histeris. "I'm fine, hun (aku baik-baik saja, sayang)."
"I'M NOT (aku tidak)!" Pekik wanita hamil itu emosional. "I'm not fucking fine (aku nggak baik-baik saja)!"
Dengan isyarat ia memerintahkan Yanuar dan Azis segera membawa Sapta keluar. Sementara Yudi dan Sunu bertugas menenangkan wanita hamil.
"Saya rekam ini! Kalian sewenang-wenang memperlakukan pejabat negara! Suami saya itu anggota dewan! Dia ketua fraksi!"
"Beresin." Ia bergegas menyusul Sapta yang sudah dibawa keluar.
"Mommyyyyy! Huhuhuu!" Namun tangisan seorang gadis cilik yang tiba-tiba muncul di depan pintu kamar membuatnya mengurungkan langkah.
Ia jongkok lalu tersenyum.
"JANGAN SENTUH ANAK SAYA!" Wanita hamil itu tiba-tiba murka dan menerjang ketika ia menutup mata si gadis cilik lalu membimbingnya kembali ke kamar tidur.
Namun gagal karena keburu ditahan oleh Yudi dan Sunu. "Ibu diam! Ini sudah menyerang petugas!"
"Am i dreaming, uncle (apa aku sedang mimpi, om)?" Bola mata gadis cilik itu menatapnya penuh selidik.
Ia tersenyum mengangguk. "It's just a dream (ini hanya mimpi)." Lalu menyelimuti tubuh gadis cilik itu. "Sleep tight (tidurlah yang nyenyak)."
Ketika berjalan keluar dan menutup pintu kamar, sang wanita hamil sedang terduduk di atas sofa sambil terisak.
"Suami saya nggak bersalah .... Suami saya nggak bersalah ...."
***
Raka
Ia membutuhkan waktu berhari-hari untuk meluapkan rasa kecewa. Ia bahkan tak pulang ke rumah usai Tama menemuinya di kantor Selera Persada.
"Brengsek!" Ia tertawa sendiri menyadari kebodohan paling memalukan yang baru dialami. Lalu menyesap cocktail yang terasa pahit ketika melewati kerongkongan. Sebab ia sedang membutuhkan sesuatu yang lebih pahit dari kenyataan yang terjadi.
"Orang itu sepupu saya sendiri." Ia menemui om Hasan sambil membawa amarah.
"Sudah kuduga." Om Hasan mengangguk. "Wanita cerdas."
"Seharusnya dulu langsung saya pinang, Om. Itu membuat Tama tak bisa berkutik?"
Tapi om Hasan menggeleng. "Sepupu kamu masih bisa membatalkan pinangan kalau dia membayar denda dua kali lipat. Lalu meminang dengan yang disyaratkan."
"Itu artinya ... tak ada kesempatan?"
Om Hasan menepuk bahunya. "Syarat yang diberikan sejatinya adalah penolakan. Kamu bisa saja memaksa. Tapi tak ada gunanya. Sikap menerima jauh lebih baik."
Ia tak akan merasa kecewa jika tak tertarik terlalu dalam pada Pocut. Dan jika pria itu bukan Tama. Luar biasa ditelikung kerabat sendiri.
"Kenapa nggak temui langsung?" Iren memberinya tatapan penuh iba. "Untuk memastikan sebelum merelakan?"
Ya, tentu. Ia akan menemui Pocut untuk bertanya langsung. Mengapa merahasiakan Tama darinya? Jika sejak awal mengetahui bahwa rival yang dihadapi adalah Tama. Ia tentu akan menyusun strategi terbaik agar tak dikolongin seperti ini.
"Saya minta maaf ...."
Seperti yang sudah-sudah, ia langsung luluh jika Pocut sudah bersuara. Gelegak kemarahan yang menggebu hilang bagai tertiup angin.
"Semoga Pak Raka segera mendapat pendamping terbaik seperti yang diinginkan."
Ia tersenyum. "Apa masih ada yang seperti kamu, Cut? Kalau iya saya pesan satu."
Namun ia tak menemui Tama. Sebab amarah dan kecewa yang dirasakannya jauh lebih besar dari stok maaf yang dipunya. Dan ia bersyukur karena Tama sudah menjual semua saham Selera Persada yang dimiliki. Itu berarti, ia tak harus berhubungan dengan Tama.
Good (bagus).
***
Pocut
Ia hampir tak pernah bertemu dengan Tama. Berita yang beredar telah menjelaskan betapa sibuknya Tama dalam bertugas. Dan ia melakukan semuanya bersama Anjani, Agam, juga Reka.
Beberapa kali ia pergi ditemani Reka. Selama itu pula komunikasi di antara mereka belum banyak mengalami perkembangan yang berarti. Reka masih menjaga jarak dan membangun dinding pembatas yang kokoh.
Namun kehadiran Tama di suatu petang kembali menyadarkannya. Bahwa Tama juga memiliki kesulitan dalam menghadapi Icad. Mereka sama-sama menghadapi benteng penjaga paling tangguh. Dibutuhkan waktu dan kesabaran yang tiada bertepi.
"Dua hari lagi jadwal kita sidang. Siap?" Tama tersenyum.
Ia mengangguk sembari balas tersenyum.
Kemudian Tama mengulurkan tangan. "Kita mulai semuanya?"
Namun ia malah meletakkan cangkir berisi teh tawar ke tangan Tama.
"Aku mau tangan kamu." Tama menyeringai. "Bukan cangkir teh."
Ia tersenyum. "Nanti ... tanggal 14."
Tama tertawa. "Tanggal 14 cepatlah datang."
***
__ADS_1