
Jakarta
Pocut
"Belum kelihatan juga?" Mamak mengikutinya berdiri di teras.
Ia menggeleng sambil memperhatikan ujung gang yang berhiaskan lampu bohlam berwatt rendah. Suasana temaram membuatnya harus memicingkan mata tiap ada orang melintas. Sangat berharap itu adalah Icad. Tapi ternyata bukan. Padahal jam sudah menunjukkan pukul 22.40 WIB. Jauh melewati batas waktu normal bagi anak seusia Icad berada di luar rumah.
Petang tadi, ketika mulai gelisah karena pesan dan panggilan teleponnya tak kunjung diangkat oleh bu Nurti (ibu Kioda). Sebab ingin bertanya mengapa Icad tak kunjung pulang ke rumah. Tiba-tiba Tama menelepon dengan suara tergesa.
"Icad pulang terlambat. Nanti kuantar ke rumah."
Ia mengernyit tak mengerti. "Kenapa? Apa ada masalah?"
"Kamu nggak usah khawatir. Icad baik-baik saja."
Tama tak memberinya kesempatan bertanya. Langsung menutup panggilan secara sepihak. Pun ketika ia memberanikan diri untuk mengirim pesan seusai maghrib, sebab kekhawatiran kian bertambah. Tama tak membalas. Bahkan sampai beberapa menit lalu, Tama belum juga membuka pesan darinya.
Apa yang terjadi? Mengapa Tama bisa memberinya informasi tentang Icad? Apakah sekarang Icad sedang bersama Tama? Mengapa Icad bisa bersama Tama? Mungkinkah Icad terjebak tawuran seperti dulu? Lalu dibawa ke kantor polisi dan bertemu dengan Tama?
Semoga tidak. Sungguh sangat berharap tebakannya keliru. Karena Icad sudah berjanji padanya tak terlibat lagi dalam masalah. Tapi sekarang? Ia benar-benar tak bisa berpikir jernih saking merasa cemas.
"Mama ...." Rengekan Sasa membuyarkan seluruh prasangka. "Mau bobo sama Mama ...." Wajah mengantuk Sasa mengintip dari balik tirai kamar. Mengucek mata dengan rupa cemberut.
Ia menghela napas panjang. "Mama sedang menunggu abang pulang, Sa," gumamnya tak mampu menyembunyikan rasa gelisah.
Mamak mengusap punggungnya. "Temani dulu. Biar Mamak yang menunggu Icad pulang."
Dengan hati berkecamuk tak karuan, direngkuhnya bahu Sasa masuk ke dalam kamar. Namun saat ia merapikan tirai agar menutup sempurna, Umay yang sudah terlelap tiba-tiba menggeliat bangun. "Abang belum pulang? Lama amat?"
"Sebentar lagi," jawab mamak. "Kita tunggu sama-sama ...."
Membuat Sasa yang sudah bersiap untuk tidur sambil memeluk erat Sparkle memandangnya heran. "Abang belum pulang, Ma?"
Ia menggeleng. Berusaha mengalihkan kegelisahan dengan menepuk-nepuk bantal yang akan dipakai.
"Kenapa abang belum pulang, Ma?" Sasa kembali bertanya. Sepasang mata yang awalnya mengantuk kini telah membulat sempurna.
Ia kembali menggeleng. "Mama juga nggak tahu, Sa."
"Padahal udah malam banget ya, Ma?" Sasa mentapnya khawatir. "Apa udah mau pagi?"
Ia menghela napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Tak ingin menjawab pertanyaan Sasa.
"Apa abang tersesat?" Sasa masih menatapnya. "Lupa jalan pulang ke rumah?"
Ia tersenyum kecut. "Abang nggak tersesat, Sa. Ada hal yang menyebabkan abang belum bisa pulang sampai sekarang. Mama khawatir karena tadi om Tama nel ...."
"Om Tama?" Mata Sasa semakin membola. "Oh ... aku tahu ... aku tahu ...." Sasa mengangguk-angguk sambil menjentikkan jari telunjuk ke pipi. "Abang lagi pergi sama om, kan?"
"Bukan." Ia menggeleng. "Bukan pergi sama om. Tapi Mama dap ...."
"Kalau gitu ...." Dengan sigap Sasa tiba-tiba bangkit kemudian beringsut turun dari tempat tidur. "Sasa mau ikut nenek nungguin abang pulang, ah ...."
"Sasa?" Ia berusaha mencegah. "Ayo, tidur lagi."
Tapi Sasa sudah keburu keluar kamar sambil bersungut-sungut. "Abang curang lagi, Nek ... pergi sama om nggak ngajak-ngajak ...."
***
Reka
Tiga hari lalu, luapan kemarahan dan kekecewaan membawanya pergi ke Jakarta tanpa pikir panjang. Ia bahkan sudah memiliki rencana apa saja yang harus dilakukan. Termasuk meminta ayah dan bunda kembali bersama. Namun sederet kenyataan sederhana telah berhasil memporak-porandakan perasaan dan hatinya.
Hubungannya dengan ayah memang belum berubah. Masih dingin, kaku, berjarak, seperti orang asing. Namun foto di atas nakas dan dinding ruang tengah rumah dinas menjadi bukti tak terbantahkan. Jika ayah tak pernah melupakannya.
Disusul perjalanan menyenangkan bersama uti. Sambutan hangat tante Anja. Kelucuan bayi gembul Aran. Kenekatannya pergi ke kantor ayah menaiki motor trail untuk memberi shock therapy. Justru semakin membuka sisi lain tentang ayah yang selama ini tak disadarinya.
"Selamat datang di Jakarta, Reka." Begitu sambutan orang-orang tiap kali om Devano memperkenalkannya sebagai anak ayah. Rasa hormat dan segan terpancar jelas.
Seperti inikah sosok ayah di mata orang lain? Begitu terhormat.
Ditambah kemunculan seorang anak berperawakan kurus yang meneriakkan nama ayah. Kepergian bersama om Devano ke suatu rumah di gang sempit. Di mana semua orang meratap dan menangis di depan sebuah peti mati. Serta seorang anak yang berdiri mematung dengan muka datar dan tatapan mata kosong. Tetap bergeming meski si anak kurus yang datang bersamanya berusaha merangkul, memeluk, bahkan membisikkan sesuatu.
Seperti inikah rasanya sakit karena kehilangan? Begitu menyedihkan.
Ia pernah berduka saat mbah uti pergi untuk selamanya. Namun suasana tak setragis dan semengharu biru ini. Usia menua dan sakit yang diderita mbah uti secara tidak langsung telah menyiapkan mereka jika suatu saat harus berpisah.
Kini, hari sudah semakin larut. Semilir angin terasa dingin saat menyentuh kulit. Meski orang ramai berdatangan dan nyanyian pujian tak pernah berhenti.
Ia masih termangu di teras. Duduk bersebelahan dengan anak kurus yang sedari tadi murung dan bermuram durja. Memperhatikan ayah yang sedang memberi arahan pada tiga orang petugas sekaligus.
Rasa bosan karena terlalu lama menunggu membuatnya ingin bertanya. "Tadi itu teman kamu?"
Anak kurus di sebelahnya mengangguk.
"Ayahnya meninggal kenapa?"
Anak kurus di sebelahnya diam tak menjawab. Malah menundukkan kepala dalam-dalam.
Ia ingin kembali bertanya. Tapi keburu ayah datang menghampiri. "Kita pulang sekarang."
Sepanjang perjalanan mereka lalui dalam diam. Termasuk ayah. Di antara mereka bertiga, tak seorangpun yang berminat angkat bicara. Sampai ayah menepikan kendaraan di sebuah pekarangan kosong dengan sejumlah mobil terparkir.
"Kita antar Icad dulu," gumam ayah entah pada siapa.
Pasti, Icad adalah nama anak kurus berwajah murung di sebelahnya.
__ADS_1
Mereka bertiga berjalan dalam diam. Menyusuri aspal yang gelap dan sepi. Kemudian berbelok memasuki sebuah gang yang sempit. Sampai akhirnya berhenti di depan salah satu rumah yang lampunya masih benderang. Menurut penglihatannya menjadi rumah paling asri di sepanjang gang. Dengan sejumlah pot yang berjajar rapi berisi tanaman hias dan bunga.
Ia masih mengamati keadaan rumah sederhana di depannya ketika Icad berjalan mendahului sambil mengucapkan salam. "Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam," jawaban penuh kelegaan serempak terdengar begitu mereka bertiga memasuki ruang tamu.
"Alhamdulillah." Seorang wanita cantik langsung menghambur memeluk Icad.
Ia tak tahu mengapa, tapi punggung Icad yang bergetar naik turun dalam pelukan wanita tersebut berhasil membangkitkan kesedihannya. Membuatnya sadar jika merindukan bunda. Setelah tiga hari tak pernah mengangkat panggilan ataupun membalas pesan dari bunda.
Bunda, apakabarnya di Surabaya?
"Silakan duduk." Seorang nenek mempersilakan mereka. Sementara Icad dibawa masuk ke dalam kamar. Setelah sebelumnya sempat memergoki ayah dan wanita yang memeluk Icad saling berpandangan. Seolah sedang berkomunikasi meski tanpa suara.
"Ada kesalahpahaman yang berujung main hakim sendiri." Ayah mulai menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya.
Ia ikut mendengarkan dengan mata memeriksa keseluruhan ruangan. Memperhatikan tv tabung tua yang ketinggalan jaman, lemari kayu tak kalah tua berisi sejumlah piala dan piagam, dan sepasang anak kecil yang tiba-tiba muncul dari ruang belakang sambil berlari.
"Eh, ada O ...." Anak kecil perempuan yang awalnya bersemangat tiba-tiba menghentikan langkah di tengah jalan. Berdiri mematung memandanginya dan ayah secara bergantian.
"Wah?" Ayah tertawa. Jika telinganya tak salah dengar, ini adalah tawa ayah yang paling renyah. "Sasa belum tidur?"
Anak kecil perempuan yang dipanggil Sasa tetap diam mematung. Sejurus kemudian tersipu malu lalu melesat masuk ke dalam kamar. "Mama ...."
Sementara anak laki-laki yang datang bersama Sasa tetap berdiri termangu dengan tatapan heran. Namun akhirnya berjalan mendekat untuk meraih tangan ayah.
"Umay belum tidur juga?" Ayah kembali tertawa.
"Udah." Jawab anak yang dipanggil Umay. "Tapi bangun lagi ...."
Ayah kembali melanjutkan perbincangan dengan nenek. Sementara ia saling melempar tatapan dengan Umay yang mengambil duduk di sebelah nenek.
"Oh iya." Ayah tiba-tiba meraih bahunya. "Perkenalkan ... ini Reka ... anak saya satu-satunya."
Kepalanya tertunduk malu.
"Baru datang dari Surabaya. Mau liburan di Jakarta," sambung ayah. "Reka, ini nenek Aran. Ibunya om Cakra."
Ia beranjak untuk memberi salam. Oh, pantas wajah sang nenek terlihat tak asing baginya. Termasuk wanita yang memeluk Icad. Ia merasa jika mereka pernah bertemu sebelumnya. Tapi di mana?
"Ini Umay." Ayah menunjuk Umay yang lebih dulu menghampirinya mengajak bersalaman. "Adik Icad."
"Icad punya adik dua. Umay sama ...." Terang ayah sambil menoleh ke arahnya. "Satu lagi ...." Kali ini ayah tersenyum memandangi tirai kamar.
"Sasa?" Panggil ayah dengan mata tetap tertuju pada tirai. "Kenapa sembunyi? Sini kenalan sama Mas Reka ...."
Tak lama kemudian, Sasa keluar dari dalam kamar. Namun sambil bersembunyi di belakang tubuh wanita yang tadi memeluk Icad.
"Sini, Sa." Nenek melambaikan tangan meminta Sasa untuk mendekat. "Belum salam, kan?"
Tapi Sasa menggelengkan kepala dan tetap bersembunyi. "Nggak mau."
"Nggak lupa," jawab Sasa dengan suara tak jelas karena menyembunyikan wajah dalam-dalam di balik punggung. "Tapi malu ...."
Semua orang tertawa kecuali anak-anak.
"Kenapa malu?" Ayah bertanya pada Sasa, tapi mata ayah memandang wanita yang dipeluk Sasa. Jika ia tak salah lihat, ayah dan wanita itu saling melempar senyum.
"Malu aja," seru Sasa yang buru-buru mengubah pelukan karena wanita itu mengambil duduk di kursi. Kini Sasa berdiri di belakang kursi sambil menyembunyikan wajah di balik bahu.
"Tadi katanya mau ngambek," kilah Umay. "Kenapa sekarang jadi malu? Sasa emang suka aneh ...."
"Lho ... Sasa ngambek kenapa?" Ayah dan wanita itu kembali saling bertukar pandang.
"Ngambek nggak diajak jalan-jalan sama Om." Umay yang menjawab.
Ayah terkekeh. "Nanti ya, jalan-jalan sekalian sama Mas Reka."
Ia mengernyit. Kenapa ia harus ikut jalan-jalan?
"Sekarang kenalan dulu sini ... sebelum Om pulang ...."
Sasa yang awalnya bersembunyi kini mulai mengintip. Perlahan-lahan sedikit demi sedikit berani menampakkan wajah. Tak lagi bersembunyi. Lalu wanita itu mengusap lembut rambut Sasa. "Sasa salam dulu ...."
Sambil tersipu malu Sasa berjalan mendekat. Memberi salam kepada ayah terlebih dahulu. Baru kemudian mengulurkan tangan padanya.
"Anak pintar." Ayah mengusap puncak kepala Sasa saat sedang bersalaman dengannya. "Sasa, ini namanya Mas Reka ...."
Ia tersenyum tipis. Sedangkan Sasa membelalakkan mata lebar-lebar. "Mas Reka apanya Om? Kok ... wajahnya mirip? Hihihi ...."
Semua yang ada di ruang tamu tertawa. Termasuk dirinya. Entahlah. Rasanya aneh bisa tertawa selepas ini untuk hal yang sama sekali tak lucu. Mungkin ... ia hanya sedang terbawa suasana.
***
Tama
"Ayah lapar," gumamnya sambil membelokkan kemudi ke halaman sebuah restoran cepat saji yang buka 24 jam. Tanpa bermaksud meminta persetujuan Reka.
Tadi, ia tak berlama-lama di rumah Pocut. Selain karena sudah larut, juga agar Pocut bisa segera menenangkan Icad.
Tama. : 'Icad shock.'
Tama. : 'Dampingi dia.'
Ia terpaksa mengirim pesan saat berjalan kaki menuju pekarangan H. Murod. Karena tak memungkinkan untuk bicara berdua.
Kini, ia telah duduk berhadapan dengan Reka. Suasana restoran cukup sepi. Hanya ada satu dua pengunjung yang juga kelaparan di tengah malam seperti dirinya.
__ADS_1
Ia memesan dua porsi besar sekaligus. Sebab benar-benar merasa lapar. Sementara Reka hanya memesan kentang goreng.
Duduk seperti ini bersama Reka akan menjadi kesempatan emas baginya. Setelah di hari pertama tiba di Jakarta, Reka marah-marah dan membanting pintu. Tak memberinya kesempatan untuk bicara.
"Kemarin ... jalan ke mana sama uti?" Ia melahap makanan dalam ukuran besar. Sementara Reka menyedot minuman dengan suara yang sengaja dikeraskan.
"Pabrik," jawab Reka singkat.
"Wah, iya?" Ia tersenyum senang. Mama memang selalu memiliki cara terbaik untuk meraih hati seseorang. "Gimana?"
"Apanya?"
"Pabrik? Seru, nggak?"
Reka mengangkat bahu.
Obrolan ringan yang hanya dijawab singkat dengan satu dua patah kata dengan gaya malas jangan sampai memancing emosi, kalimat Dara mulai berputar mengelilingi kepalanya.
Energi dipakai untuk fokus pada tujuan akhir. Yaitu menyelesaikan masalah. Di luar main goal, abaikan. Itu hanya kamuflase kekecewaan dari seorang anak yang menginginkan perhatian dari orangtuanya.
Tapi pertanyaan Reka selanjutnya tak pernah ia sangka.
"Apa ayah selalu sibuk seperti ini?"
Ia mengernyit. "Bisa ya, bisa nggak. Kenapa?"
Reka menatapnya tajam. "Ini yang membuat ayah nggak pernah di rumah? Ninggalin aku sama bunda sendirian?"
Here we go.
Ia buru-buru menelan suapan terakhir. Lalu meneguk air mineral hingga licin tandas. Bersiap menghadapi kemarahan seorang anak banteng.
"Bisa jadi," jawabnya mengakui kesilapan di masa silam.
"Ini juga yang membuat bunda sering nangis malam-malam? Sampai harus minum obat anti depresan?"
Ia kembali mengernyit. "Tunggu. Kamu tahu bunda minum obat anti depresan?"
"Ayah tinggal jawab. Nggak usah balik nanya."
Ia menghela napas panjang dengan berat. "Mungkin ayah memang penyebab bunda sering nangis malam-malam. Tapi untuk anti depresan ...." Ia menggeleng.
"Ayah nggak mau ngaku kalau udah ngecewain bunda?"
"Reka ...." Ia menelan saliva. "Ayah memang sudah mengecewakan bunda. Tapi untuk masalah seberat anti depresan ... bunda sendiri yang akan cerita. Bukan ayah. Kita harus duduk bertiga."
"Aku marah sama ayah." Reka menatapnya tajam.
Ia mengangguk. "Ungkapkan semuanya, Reka. Jangan ada yang ditutupi. Sudah saatnya kita menyelesaikan semua kerumitan ini."
"Aku benci sama ayah."
Ia kembali mengangguk.
"Aku malu jadi anak ayah."
Separah itukah perasaan Reka terhadapnya?
"Ayah nggak pernah ada di rumah. Selama ini, apa ayah melakukan kewajiban mendidik anak? Nggak pernah. Seumur hidup ... aku nggak pernah merasa dididik oleh ayah. Kalau aku jadi anak nakal, itu salah ayah!"
"Apa aku menerima hak sebagai anak? Mendapat kasih sayang dari ayah? Nggak pernah. Ayah nggak pernah peduli sama aku."
Tenang, Mas. Suara Dara kembali terngiang. Dengarkan semua curahan hati Reka. Jangan memotong pembicaraan. Biarkan Reka meluapkan kemarahan yang selama ini terpendam. Biarkan Reka mengosongkan diri dari hal negatif yang membelenggu.
"Sekarang bunda mau nikah sama pakde Pram! Itu semua salah Ayah!"
Ia mengembuskan napas panjang.
"Aku nggak mau bunda nikah sama pakde Pram!"
"Aku mau Ayah sama bunda. Aku mau kita bertiga sama-sama!" Suara Reka mulai tercekat.
"Apa masih bisa?" Reka menatapnya nanar. "Apa Ayah sama bunda masih bisa sama-sama lagi?"
Ia harus menghela napas panjang sebelum menjawab, "Bunda udah di Jakarta. Besok kita obrolin ini bertiga."
"Aku nanya ... apa Ayah sama bunda masih bisa sama-sama lagi?"
Ia menelan saliva.
"Ayah tinggal jawab!"
Ia menatap Reka dalam-dalam.
"Jadi nggak bisa?" Napas Reka terdengar memburu. "Apa karena ibu-ibu tadi?"
Ia mengernyit.
"Ayah suka sama ibu-ibu tadi, kan? Aku tahu! Ayah nggak usah bohong!"
Ia mendesis tak percaya.
"Apa ayah mau menikah sama ibu-ibu tadi? Sama seperti bunda mau menikah dengan pakde Pram?"
"Jadi sekarang ... Ayah sama bunda mau ninggalin aku sendirian? Gitu?"
"Reka ...." Ia menatap Reka sambil memijat pelipis yang mulai pening. "Ayah belum bisa jawab. Kita harus bahas ini bertiga dengan bunda."
__ADS_1
***